
"Hah, sejuknya angin pagi ini." Riri membuka jendela kamar penginapannya dan menghirup udara pagi dalam - dalam.
Setelah membereskan bawaannya Riri pun melangkah keluar dari kamar itu dan membayar uang sewanya. Di penginapan itu terlihat sangat ramai orang mulai dari yang muda sampai yang tua dan terdengar mereka ingin melakukan banyak hal mulai berdagang sampai yang hanya main - main.
"Terima kasih tuan muda, datanglah kembali." ucap pelayan penginapan itu pada Riri saat dia membayar uang sewanya untuk semalam.
"Ya, berikan aku beberapa potong roti karena aku mau pergi menempuh perjalanan untuk belajar, dan tolong berikan juga beberapa potong baju untuk ku." Riri berkata dengan memberikan beberapa uang pada pelayan penginapan itu yang ditempat itu memang menjual beberapa baju dan juga makanan.
"Baik, baik tuan muda tunggu sebentar akan saya siapkan untuk tuan muda." pelayan itu membungkus beberapa roti untuk diberikan kepada Riri dan juga 3 steel baju pria dengan ukiran kecil.
Pagi itu Riri meninggalkan penginapan dan berjalan dengan pasti karena dia ingin mempelajari ilmu pengobatan tradisional yang diberikan oleh tabib senior, dengan riang Riri menyusuri pasar itu untuk keluar dari daerah kekuasaan Altha.
"Mumpung ada di sini aku harus belajar banyak ilmu pengobatan siapa tau kalau nanti saat aku kembali ke tubuh asliku aku bisa menerapkan semua ilmu - ilmu ini." Riri bergumam dengan riang sambil berjalan dengan membaca buku tentang pengobatan tradisional.
"Tri,,, tuan putri, tuan putri." Yodon memanggil Riri berkali - kali saat dia berpapasan dengan Riri, namun karena konsentrasi dengan bukunya Riri tak mendengar panggilan Yodon.
Bruk, Riri menabrak Yodon yang tiba - tiba berdiri didepan Riri.
"Aduh, sakit." Riri mendongak dan kaget karena orang yang berdiri didepannya adalah Yodon yang sudah tersenyum menunjukkan giginya.
"Beneran tuan putri, senang sekali bisa bertemu dengan tuan putri di sini, tapi dengan acara apa tuan putri seperti ini?" Yodon terlihat sangat senang bertemu dengan Riri dan dia melihat kanan kiri karena merasa heran dengan tampilan Riri yang seolah sedang menyamar.
"Maaf anda salah orang saudaraku." Riri berusaha menghindar dengan tenang dan berjalan lagi dengan melewati Yodon serta mempercepat langkah jalannya.
"Apa tuan putri mau pergi kesuatu tempat? saya mau kembali ke pasukan karena keadaan saya sudah merasa sangat baik dan juga sehat. Saya sangat senang bisa bertemu dengan tuan putri di sini loh." Yodon terus saja mengikuti Riri sambil bicara dan menunjukkan rasa senangnya.
"Duh kau bisa berhenti bicara gak sih, hah..." Riri menghela nafas setelah menatap Yodon dengan tatapan ingin memukul serta membentaknya.
"Apa tuan putri mau pergi kesuatu tempat?" Yodon menatap Riri bertanya - tanya.
"Kemarilah dan diam lah." Riri menarik Yodon dan membawahnya kesebuah rumah makan.
Riri menatap Yodon sangat lama dan Yodon juga diam tak bicara karena dilarang oleh Riri. "Bagaimana kau bisa mengenaliku, bukankan aku sudah menyamar dan memakai pakaian pria seperti ini?" akhirnya Riri bertanya karena penasaran bagaimana Yodon bisa mengenali dirinya yang sudah menyamar, padahal orang lain tak sadar kalau dirinya seorang wanita.
Yodon tersenyum menatap Riri, dan menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya sendiri, "Ya bicaralah." kesal Riri.
__ADS_1
Yodon pun tersenyum lebar, "Bukankah dulu waktu keluar untuk menyamar tuan putri pergi bersama saya dan menyamar sebagai seorang pria, tentu saja saya mengenali tuan putri kali ini." jawab Yodon dengan bangga.
"Hooo, baiklah. Cepat kembali sana jangan ganggu aku." Riri mulai berdiri mau pergi.
"Tuan putri kabur ya. Bolehkah saya ikut?" Yodon berdiri dan menatap Riri dengan tatapan memohon.
"Tidak boleh kau harus kembali ke pasukan, cepat pergi. Pelayan." Riri membayar minumannya dan keluar restoran.
Setelah keluar dari kota Riri berjalan kearah hutan dan dia tak tau kalau ternyata Yodon tetap mengikutinya dengan diam. Sampai Riri menaiki perahu untuk menyebrang ke perbatasan kota, sementara Yodon masih saja mengikutinya dengan diam.
"Tuan putri." Yodon memanggil Riri lagi saat mereka sudah sampai di perbatasan wilayah negara tetangga.
"Ya ampun, kau?" Riri menarik lagi Yodon dan membuat kesepakatan dengan Yodon agar mereka menjalin hubungan persaudaraan sehingga tak akan ada panggilan tuan putri dan kata - kata formal, karena itu syarat dari Riri kalau Yodon mau mengikutinya.
"Baiklah, saya akan melakukan sesuai dengan yang dikatakan tuan putri." Yodon pun mengikuti Riri dan melakukan perjalanan bersama.
...🍁🍁🍁...
"Ayah, apa yang ayah inginkan dan apa maksud dari semua ini? Aku tak pernah meminta atau pun berfikir untuk melakukan pengangkatan seorang selir dan juga tak pernah terlintas dalam pikiran untuk membagi kasih dengan wanita lain." Altha mengadukan semua rencana dan persiapan yang akan dilakukan untuk mengangkat putri Ye Rin sebagai selirnya.
"Kalau yang dipermasalahkan adalah keturunan aku bisa memberikan banyak keturunan bersama dengan Riri istriku, aku bisa membuat dia hamil bahkan setiap setahun sekali agar kami bisa memiliki banyak keturunan jadi tak diperlukan wanita lain didalam keluarga ku dan dia." bantah Altha dengan kesal pada ayahnya yang mulai seenaknya sendiri menentukan jalan hidupnya.
"Pangeran Altha, tolong pikirkan dengan baik jika seandainya nanti tuan putri tak bisa memiliki keturunan itu akan menyulitkan bagi anda, apa lagi ini sudah 1 tahun lamanya kalian menikah namum tuan putri juga masih belum kelihatan hamil sampai sekarang. Dan saya yakin dengan putri saya, yang mulia pangeran pasti sudah bisa langsung memiliki keturunan dengan beberapa bulan saja karena putri saya Ye Rin sangatlah sehat." jelas Mentri Ye Saun dalam rapat itu dan terlihat beberapa orang lainnya setuju dengan ucapan Mentri Ye.
"Hamil, itu adalah hal yang mudah. Namun bagaimana dia bisa hamil kalau aku tak pernah menyentuhnya, orang - orang tua ini bikin kesal saja." suara hati Altha dengan menatap kesal pada semua orang yang ada di ruang rapat itu.
"Apakah yang tak bisa itu adalah putri Youri atau memang pangeran pertama tak memiliki kemampuan." pangeran kedua berkata dengan mengejek pada Altha.
"Heh, tak perlu memiliki banyak selir untuk menunjukkan kemampuan, cukup 1 orang asal kita mampu membuatnya terus bertahan dan mencari kita demi bisa memberinya kehangatan sepanjang waktu." pangeran Altha menjawab dengan tersenyum.
"Sial, apa dia berusaha untuk menghinaku yang memili 3 selir di istanaku dan akan ku jadikan batu loncatan itu." pangeran kedua dengan tatapan geram menatap pangeran Altha sambil mengepalkan kedua tangannya.
Disaat keadaan dalam ruang rapat istana sedang ricuh dan memanas disisi lain Riri dan Yodon yang sedang melakukan perjalanan melarikan diri menemukan banyak pengalaman baru, mulai dari membantu orang yang tiba - tiba keracunan dan juga melahirkan. Dan sudah ada beberapa orang yang telah sembuh dengan pengobatan Riri.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
"Fiuuuh,,, lelah sekali." Riri meluruskan tubuhnya dengan menarik kuat - kuat tangannya ke atas sambil bernafas lega karena telah selesai mengobati orang yang keracunan makanan.
"Yodon, ayo kita masuk kedalam hutan lagi untuk mencari bahan obat - obatan yang sudah habis." teriak Riri pada Yodon yang sedang merebus bahan obat dibelakang rumah mereka untuk diantar ke rumah beberapa warga yang anggota keluarganya terkena alergi, keracunan dan juga habis melahirkan.
"Haruskah kita pergi ke hutan lagi? Bukankah bahan obat masih ada yang belum dikeringkan." Yodon berkata sambil teriak dari belakang rumah.
"Jangan malas, kamu ini kenapa masih saja bermalas - malasan. Cepat selesaikan dan ayo kita berangkat mencari bahan obat sambil mengantarkan obat pada mereka semua." Riri mengomel pada Yodon yang sudah mengikutinya dalam pelarian selama 3 bulan ini.
"Iya - iya kak, aku selesaikan ini dulu." Yodon tersenyum karena dia sangat suka melihat Riri yang berperan sebagi kakak untuknya yang dia anggap masih kecil dari dirinya.
"Rasanya sangat menyenangkan kembali lagi ke rutinitas ku yang asli sebagai bidan, wahahah..." Riri terbahak dengan keras karena merasa lega dengan kehidupannya yang saat ini dia jalani.
Selama 3 bulan lamanya Riri dan Yodon tinggal didalam pedalaman hutan bulan yang disana ada rumah seorang tabib yang dulu telah meninggal dan tak ditempati, jadi sekarang ditempati sama Riri dan Yodon. Serta Riri mempelajari buku - buku pengobatan yang ditinggalkan oleh tabib terdahulu.
...🍁🍁🍁...
"Bagaimana perkembangannya, apa sudah ada titik terang." Altha menatap Yorgun dengan tajam.
"Maaf pangeran mereka masih belum menemukan kabar soal tuan putri." Yorgun menjawab dengan takut karena selama ini Altha selalu memberikan hukuman pada semua orang tanpa pandang bulu.
Altha menatap diam pada Yorgun lalu beranjak dan berjalan menuju kedalam kamar Riri untuk berdiam diri di sana. Altha yang menanggung semua rasa rindunya pada Riri membuat dirinya jadi sering murung dan mengurung diri, Altha hanya akan keluar jika berurusan dengan pekerjaan serta panggilan dari yang mulia raja saja.
"Pangeran maaf hamba dengar pangeran ada didalam, bolehkah hamba masuk untuk menemani yang mulia malam ini?" panggil putri Ye dari luar kamar Riri.
Tak terdengar suara sahutan dari Altha, hanya suara membalikkan buku yang sesekali terdengar. penerangan dikamar itu juga tak terlalu terang karena selama ini Riri hanya suka dengan cahaya yang temaram.
"Pangeran, bolehkah hamba masuk? hamba akan masuk sekarang." suara putri Ye kembali bertanya dan akhirnya dia membuka pintu kamar itu hendak melangkah masuk.
"Lancang. Siapa yang mengizinkan mu masuk kedalam sini, keluar.!!" teriak Altha dengan keras sehingga membuat putri Ye berhenti dan menatap takut.
"Maaf pangeran, bukankah hamba adalah calon selir anda yang diatur oleh yang mulia raja kenapa pangeran membatasi jarak diantara kita? Lagi pula putri Yourina juga sudah melarikan diri dan tak bertanggung jawab kenapa pangeran masih memikirkan tentang dia." putri Ye mulai menanyakan tentang keberadaan dirinya yang mulai ingin menguasai kediaman pangeran karena merasa dialah yang telah mengatur semua yang ada di istana pangeran selama ini.
"Pangeran, tolong bukalah sedikit hati pangeran untuk hamba. Setidaknya hamba masih di sini untuk menemani pangeran dan juga ayah hamba akan bisa membantu pangeran dalam menduduki tahta dengan cepat." putri Ye tetap berusaha berkata dan memperjuangkan posisinya namun Altha masih diam tak menjawab dan terus saja membaca sebuah buku.
"Kenapa pangeran harus setia pada orang yang tak setia dan tak bisa menjaga kepercayaan pangeran." sambung putri Ye lagi untuk bisa membuat Altha melihatnya.
__ADS_1
"Kau sudah selesai bicara?" Altha berdiri dan berjalan melangkah mendekati putri Ye yang berdiri diambang pintu, "Dari tadi kau sangat berisik, apa kau tak bisa diam? Aku tak peduli dengan keberadaan mu di sini, karena aku tak pernah menginginkan mu dan juga tak mau repot. Jika kau mau di sini terserah tapi jangan mengganggu ku, karena bagiku kau tak lebih dari seorang pelayan. Sekarang keluarlah dan jangan pernah muncul dihadapan ku lagi." Altha menatap tajam pada putri Ye, dan setelah putri Ye melangkah mundur keluar dari kamar itu altha langsung menutup pintu kamar itu.