
"Putri Youri ayo makan malam sama - sama." ajak pangeran Cu Shang pada Riri saat mereka selesai melihat - lihat pemilihan prajurit.
"Baik, silakan pangeran Shang." Riri menerima dengan baik dan mereka pun makan bersama di peristirahatan taman istana.
"Lihatlah mereka begitu sangat bahagia dan sangat dekat." gumam Altha dalam hati yang sudah hampir tak bisa menahan diri dan ingin segerah menyeret Riri dari hadapan pangeran Cu Shang.
"Pangeran saya ingin berendam dan langsung istirahat, bisakah saya kembali ke kamar duluan?" ucap Riri setelah selesai makan malam bersama dengan pangeran Cu Shang.
"Tentu saja silakan, besok aku akan melakukan tes pada para prajurit, ku harap putri Youri bisa datang menanti." ucap pangeran Cu Shang pada Riri.
"Ya kita lihat besok, kalau sudah selesai merawat semuanya ku usahakan untuk datang. Sekarang saya mohon diri pangeran." ucap Riri dengan sopan dan pergi meninggalkan pangeran Cu Shang.
"Tabib ajaib saya akan membantu anda untuk mandi." ucap pelayan yang melayani Riri selama riri tinggal di istana pangeran Cu Shang.
"Tidak perlu, aku ingin setelah mandi mau langsung istirahat. Kembalilah kalian juga istirahatlah, besok baru kemari lagi." ucap Riri dengan ramah sambil melepas bajunya satu persatu.
"Baik tabib ajaib, kalau begitu kami akan undur diri dulu." 4 pelayan itu pun keluar dari kamar Riri dan kembali ketempat mereka.
"Ha, segar sekali. Aku harus bisa keluar hari ini, tak peduli apa yang akan terjadi pokoknya aku harus keluar. Karena aku gak mau terjebak ditempat ini. Aku aja melarikan diri dari berondong kejam ngapain aku menetap di sini." gumam Riri liri sambil berendam untuk mengelabuhi bawahan pangeran Cu Shang yamg sedang berjaga didepan kamar.
Didalam kamar Riri menyiapkan diri untuk melarikan diri dengan menyamar sebagai prajurit yang berkeliling untuk patroli. "Untung saja aku tadi siang mengambil baju prajurit ini waktu aku merawatnya." gumam Riri sambil tersenyum.
Setelah siap Riri mematikan lampu kamarnya dan bersiap untuk istirahat. "Ah,,, lelah sekali." teriak Riri dari dalam kamar dan dia naik ketempat tidur sambil memasang selimut. Tak lama kemudian ada prajurit yang masuk untuk mengecek Riri, dan setelah tau Riri tidur prajurit itu pun keluar dan menutup lagi pintu kamar Riri, saat itulah Riri bangun dan merapikan tempat tidur lalu menyelinap keluar lewat jendela.
"Depan kamarnya masih saja dijaga dengan ketat." gumam Altha yang mengawasi kamar Riri.
"Kau mau kemana saudaraku?" tanya rekan Altha saat dia melihat Altha beranjak dari duduknya.
"Mau jalan - jalan karena tak bisa tidur." jawab Altha yang berjalan mendekati api unggun.
__ADS_1
Pada pertengahan malam Altha menyelinap masuk kedalam kamar Riri yang dijaga ketat namun Riri tak berada didalam karena kamar itu kosong hanya ada bak besar berisikan air untuk berendam. "Kemana dia pergi? Didepan dijaga begitu banyak orang tidak mungkin kalau dia melarikan diri." gumam Altha berfikir dan meneliti kamar itu, tapi tak menemukan apa pun, bahkan ditempat tidur juga hanya ada bantal yang dipasang menyerupai orang yang sedang tidur.
Altha tersenyum melihat bantal dan selimut itu, "Rupanya dia memang melarikan diri, tak ku sangka tunanganku itu merupakan wanita yang cukup berani. Kau tak cukup sebagai tunangan, aku akan menjadikan mu istriku nanti." gumam Altha yang keluar lagi dan mencari keberadaan Riri, tapi dia tak bisa menemukan Riri.
Disaat Altha mencari keberadaan Riri, didalam gelapnya hutan Riri mendapatkan sial karena dia tak bisa keluar dan tak bisa menemukan jalan untuk keluar dari hutan itu. Riri sudah berkeliling seharian dalam hutan itu namun dia masih saja tak bisa menemukan jalan keluar dan kejebak didalam hutan itu.
"Pangeran lapor, tabib tangan ajaib melarikan diri." lapor prajurit pangeran Cu Shang pagi - pagi karena para pelayan yang biasa melayani Riri tak bisa menemukan Riri didalam kamar itu.
"Apa yang kau katakan?! Cari dan menyebar lah kalian semua." perintah pangeran Cu Shang dengan sangat marah.
Semua prajurit itu pun menyebar untuk mencari keberadaan Riri, mereka ada yang pergi ke desa dan masuk ke hutan. Altha pun ikut mencari kedalam hutan bersama dengan para prajurit yang lainnya.
"Sial, mereka sudah mengetahui kalau aku lari. Sekarang harus bagaiman ini? Lonceng yang diberikan oleh Yaris hilang, aku harus lari kemana lagi sekarang?" Riri merasa bingung, dia terus saja berusaha untuk lari menghindari para prajurit pangeran Cu Shang yang mengejar dirinya yang telah kabur.
"Oh, tidak." gumam Riri saat dia yang berusaha menghindari kejaran dari prajurit pangeran Cu Shang dia justru bertemu dengan prajuritnya pangeran Cu Shang yang berkeliling seorang diri.
"Tabib anda mau kemana?" tanya Altha yang sadar kalau Riri tak mengenalinya karena penyamarannya.
"Baik, kalau begitu ikuti saya." ucap Altha yang menyamar itu dan menarik tangan Riri pergi menjauh dari para prajurit yang sedang mencarinya.
Riri yang tak tau arah dan tak mengerti daerah situ terpaksa mengikuti Altha lari dan menghindari dari kejaran prajurit yang lainnya. Riri terus saja memperhatikan prajurit itu karena Riri merasa sedikit kenal namun tak tau siapa.
"Cepat cari di seluruh hutan ini dan kalian menyebarlahjangan sampai mereka keluar perbatasan." teriak komandan pangeran Cu Shang pada para anak buahnya.
"Sial, mereka akan lari kesini." gerutu Altha yang sembunyi dibalik batu besar disisi air terjun.
"Apa jalan keluar dari hutan ini masih jauh?" tanya Riri sambil berbisik pada Altha yang menyamar.
"Masih, sekitar setengah hari lagi." jawab Altha juga berbisik sambil memeluk tubuh Riri.
__ADS_1
"Hem, terima kasih kamu telah membantuku, tapi siapa namamu?" tanya Riri lagi.
"Ah Song." jawab Altha tersenyum.
"Cepat cari didekat sungai." teriak komandan pangeran Cu Shang lagi.
Mendengar itu Altha dan Riri kaget, karena kalau para prajurit itu sampai mendekat maka mereka akan ketahuan. Melihat kepanikan Riri Altha membawah Riri mendekati air terjun.
"Bisa menyelam?" tanya Altha berbisik.
"Bisa, kenapa Ah Song?" tanya Riri menatap bingung.
"Ayo masuk, hitungan ketiga tarik nafas dan tahanlah sampai kau bisa lama didalam air. Mereka tak akan mencari kita sampai masuk kedalam air." ucap Altha dan Riri mengangguk, setelah hitungan ketiga dengan isyarat tangan Altha mereka berdua menyelam.
"Komandan di sini juga tak ada siap - siapa?" ucap prajurit itu melaporkan pada komandannya.
"Kemana dia pergi? Tak mungkin dia menghilang begitu saja bagai ditelan bumi." gumam komandan pasukan pangeran Cu Shang berfikir dan berdiri tepat diatas Riri dan Altha yang menyelam.
Didalam air Riri kaget karena warna yang dipakai Altha untuk menyamarkan dirinya luntur karena terkena air, dan saat terkejut Riri yang membuka mulut langsung ditarik oleh Altha mendekat serta bibir Riri ditutup dengan bibir Altha, alhasil itu membuat Riri semakin kaget, namun Riri tak bisa berontak karena kalau dia berontak maka persembunyian mereka akan ketahuan, dan terpaksa Riri hanya membuka matanya dan mencekram lengan Altha.
"Cari ketempat lain." ucap komandan pasukan pangeran Cu Shang dan mereka pun berpindah meninggalkan air terjun dan hilir sungai itu.
Melihat mereka semua sudah pergi Altha membawah Riri naik kepermukaan air dan Riri langsung memukul Altha dengan keras. Altha yang menerima pukulan itu hanya tersenyum saja melihat Riri yang kesal.
"Ingat aku adalah penyelamat mu." ucap Altha santai.
"Lepaskan, mau sampai kapan kau memeluk ku dasar berondong kejam." ucap Riri marah.
"Jangan teriak jika kau tak ingin tertangkap lagi." ucap Altha dan Riri langsung diam.
__ADS_1
"Ayo, kita pergi dari sini." ucap Altha dan keluar dari dalam air.