
Proses pembelajaran berjalan sangat lancar dan Riri juga tabib senior juga ikut berperan dalam prosesnya, bahkan para ahli obat dari selatan sangat menyanjung Riri yang ternyata juga memiliki banyak pengetahuan mengenai obat tradisional yang Riri pelajari dari Petapa Gu selama di hutan bulan.
"Pangeran, saya membuatkan camilan untuk pangeran yang saya buat sendiri." ucap putri You Li pada Altha saat Altha berada di tempat latihan bersama beberapa anak buah Altha.
"Benar pangeran, dan tuan putri membuatnya khusus serta penuh dengan kasih sayang. Dan bahan - bahannya pilihan yang bisa membuat pangeran memulihkan tenaga setelah latihan." sambung pelayan dari putri You Li menjelaskan kalau tuan putrinya begitu sangat perhatian pada Altha.
"Terima kasih putri ketiga." ucap Altha memberikan hormatnya pada putri ketiga dengan baik.
Disaat Riri dan putri Sui saling membantu dalam proses jalur perbatasan kedua kerajaan, putri You Li justru memanfaatkan waktu untuk melancarkan aksinya dalam menjerat pangeran Altha agar masuk kedalam jebakannya dan akan menikahinya sesuai dengan rencana yang telah dipikirkan selama ini.
...🍁🍁🍁...
"Wah aku tak pernah menyangka kalau tabib tangan ajaib yang dulu diculik oleh pangeran Cu Shang ternyata seorang wanita, dan dia juga sangat cantik serta lucu." ahli obat 2
"Benar - benar dia juga sangat baik hati pantas saja pangeran Cu waktu itu begitu sangat terobsesi padanya." ahli obat 1
"Dia adalah wanita yang sangat menarik terlepas dari gelarnya sebagai tabib tangan ajaib." ahli obat 3
"Aku tak menyangka kalau aku bisa bertemu langsung dengan dia bahkan bisa berbincang dengan santai dengannya, dan dia juga sangat mahir dalam menggunakan alat - alat dari peninggalan raja terdahulu." ahli obat 4
"Benar, dia sudah cantik, baik, murah senyum, pintar, dan sangat berbakat dan juga masih sangat muda. Dia sungguh adalah calon istri yang sangat ideal." ahli obat 2
"Kalian semua berkumpul di sini rupanya." sapa Riri pada para ahli obat itu
"Ah tabib tangan ajaib, apakah ada yang bisa saya bantu?" ahli obat 2
"Hem, aku tak mengerti soal bahan obat ini, tadi tabib senior menjelaskan pada ku tapi dia juga bilang kalau obat ini bisa menjadi bumerang karena juga bisa mengakibatkan orang keracunan." jelas Riri pada para ahli obat dari kerajaan selatan itu.
"Oh itu, kami akan menjelaskan." ucap ke empat orang itu bersamaan dan Riri menatap mereka semua heran lalu tersenyum ramah.
"Ya ampun jangan senyum begitu tabib tangan ajaib itu bisa membuat pertahanan ku hancur." ahli obat 4
"Alama,,, dia manis sekali" ahli obat 2
"Bagaimana dengan istriku kalau seperti ini." ahli obat 1
"Bisa - bisa aku hilang akal kalau dekat dengan dia terus." ahli obat 3
Ke empat ahli obat itu semuanya membatin dan mengatakan isi pikiran meraka masing - masing karena senyuman dari Riri untuk mereka.
"Dimulai dari sekarang belajarnya?" tanya Riri yang melihat ke empat orang itu diam melamun sambil menatapnya.
__ADS_1
"Ah iya, iya maafkan kami." ahli obat 3
"Riri kau di sini" putri Sui
"Susu." Riri
"Hormat kepada tuan putri kedua." ke empat ahli obat memberi hormat pada putri Sui.
"Baiklah, terima kasih atas penjelasannya semua." ucap Riri pada ke empat ahli obat itu.
"Ayo." putri Sui membawah Riri pergi karena hari sudah menjelang malam.
Suasana orang yang berlalu lalang keluar masuk dari gerbang perbatasan itu untuk masuk ke kerajaan selatan masih terlihat sangat ramai mereka semua ada yang sekedar berjalan - jalan dan melihat - lihat, ada juga yang sedang berdagang dan menjual kerajinan buatan tangan mereka bahkan beraneka ragam makanan.
Malam itu Riri menginap di tenda para prajurit bersama dangan putri Sui karena putri Sui baru dari pulang ke kerajaannya untuk bertemu dengan ayahnya.
"Tuan putri." sambut semua prajurit sangat antusias saat merek melihat Riri datang.
"Anak - anak ku semuanya." Riri pun juga sangat antusias terhadap mereka.
Setiap hari mereka selalu berlatih dengan sangat giat setiap pagi karena mereka ingin menunjukkan kehebatan mereka pada orang yang dulu berjasa karena menolong dan menyembuhkan mereka semua. Bahkan Riri juga ikut berlatih bersama dengan mereka.
Keseharian Riri sangat seru dengan para prajurit - prajurit itu hingga dia lupa waktu. Bahkan putri Sui merasa heran dengan Riri yang bisa dengan nyaman tertidur pulas diantara banyaknya pria yang mengelilinginya.
"Hei tenanglah, tuan putri tertidur. Mungkin dia sangat capek mengurusi semuanya." ucap prajurit itu dan mereka menatap tersenyum pada Riri yang terlelap.
"Apa benar dia seorang tuan putri? Dia selalu sembarangan dan sesuka hati. Dia sangat mengerti rakyat dan juga baik hati." gumam tabib senior yang datang dan melihat Riri tidur dengan dijaga oleh puluhan prajurit.
...🍁🍁🍁...
"Kau sudah memasukkan obatnya?" tanah putri You Li berbisik pada pelayannya.
"Sudah tuan putri." jawab pelayan itu dan putri You Li tersenyum lalu berjalan untuk mencari Altha.
"Dimana pangeran Altha sekarang?" tanya putri You Li pada Dae Si yang terlihat baru keluar dari dalam kamar Altha.
"Pangeran ada di taman belakang tuan putri." jawab Dae Si dengan sopan.
Putri You Li langsung berjalan menuju taman belakang untuk bertemu dengan Altha yang saat ini sedang duduk dan terlihat sedang melakukan sesuatu yang tak diketahui oleh putri You Li.
"Selamat malam putri ketiga." sapa Yorgun pada putri You Li yang terlihat datang.
__ADS_1
"Ada apa tuan putri, apa ada yang bisa saya lakukan untuk tuan putri?" tanya Altha seketika, memutuskan telepati-nya dengan Yaris untuk mengetahui keadaan dan kondisi Riri di perbatasan.
"Benar pangeran, mau kah pangeran menemani saya minum teh dan berbincang karena malam ini saya tak bisa tidur." ucap putri You Li dengan gemulai.
"Bukan karena perintah Riri aku tak akan mau meladeni dia." gumam Altha dalam hati dan tersenyum yang dipaksakan.
"Baiklah, mari tuan putri." ucap Altha mengikuti putri Sui.
"Pangeran haruskah ada pengawal? Saya ingin hanya berdua saja dengan pangeran, kamu pergilah." ucap putri You Li pada pelayannya.
"Pergilah Yorgun." ucap Altha pada Yorgun.
"Baik, pangeran." Yorgun pun meninggalkan pangeran Altha dan putri you Li berdua saja.
Malam itu Altha menemani putri You Li berbincang dan juga minum teh, Altha terlihat sangat tak nyaman setelah dia meminum dua cangkir teh yang dituangkan oleh putri You Li. "Kenapa pangeran? Apa ada yang tak nyaman pangeran?" putri You Li mendekat dan menyentuh Altha.
"Tidak apa - apa tuan putri, saya permisi sebentar." Altha langsung menghindar begitu tubuhnya bereaksi pada sentuhan dari putri You Li.
"Tapi pangeran." putri You Li menahan Altha agar tak pergi karena dia tau obat yang di berikan pada Altha mulai bereaksi.
"Tidak apa aku baik - baik saja." Atha berusaha keras untuk menahan dirinya dan menghindari putri You Li.
"Aku tak boleh membiarkan dia pergi." gumam putri You Li dan ingin mengikuti Altha namun dengan cepat Yoyo membuat putri You Li pingsang dan membawahnya kembali kedalam kamarnya. Yang dari tadi sebenarnya Yoyo telah mengawasi putri You Li.
Altha berjalan terlatih dan dia menghubungi Yaris yang saat ini ada bersama dengan Riri di perbatasan. Altha dengan cepat pergi meninggalkan istana untuk bertemu dengan Riri karena reaksi tubuhnya selalu menginginkan dia untuk menjamah seseorang dan orang yang terlintas dalam pikirannya hanya istrinya Riri yang sedang berada jauh darinya.
...🍁🍁🍁...
"Ugh" Altha sudah tak tahan untuk menahan hasratnya. "Sayang." gumam Altha yang melihat Riri tertidur pulas dalam tempat tidurnya. Karena Yaris sudah memindahkan Riri sesuai perintah Altha saat meraka sedang terhubung.
Altha dengan cepat mematikan lampu yang ada didalam tenda itu dan langsung menyentuh Riri, "Uhm." Riri terkejut dan ingin memukul Altha.
"Ini aku sayang, tolong aku." suara Altha terdengar berat dan juga serak karena telah dikuasai oleh hasratnya.
"Kau kenapa?" Riri yang mengenali aroma dan suara dari Altha pun tak menolak sentuhannya.
"Ini adalah hukuman untuk mu karena selalu membawah wanita lain kedalam istana kita" ucap Altha dan memulai aksinya.
"Jangan keluarkan suara seksi mu terlalu keras karena ini di barak dan banyak orang di sini." bisik Altha lalu membungkam bibir Riri dengan ciumannya.
"Kau sangat nikmat sayang." bisik Altha ditengah - tengah permainan mereka.
__ADS_1
"Hem." Riri tak menjawab dan hanya bergumam saja.