
Setelah sekian lama tinggal bersama dengan Choi Yong Riri jadi mulai mengerti sifat asli Choi Yong yang sebenarnya dia baik, dia hanya merasa iri dan merasa kalau dia tak diperhatikan dan selalu di nomer duakan oleh sang ibu semasa ibunya masih hidup. Dan rasa iri itu telah menjadi sebuah penyakit yang membuat Choi Yong jadi tak bisa melihat benar dan salah, sehingga Choi Yong menghalalkan segala cara untuk bisa mengalahkan Altha.
"Aku dengar pangeran Choi menangkap seseorang yang berharga untuk Altha, dimana dia berada." Pangeran Cun Ya bertanya pada anak buah Choi Yong.
"Benar, saat ini pangeran Choi Yong menahannya di istana teratai pangeran Cun Ya." jawab prajurit itu dengan jujur.
"Hm, baiklah. Aku ingin melihatnya ayo pergi untuk melihatnya.* Pangeran Cun Ya bergegas ke istana teratai bersama pengawalnya untuk melihat Riri.
Sementara didalam kamar Riri memaksa Wu Ling untuk membawahnya ke tabib karena dia merasa ada yang aneh pada dirinya, "Wu Ling, aku tau kamu mengetahui sesuatu tolong katakan pada ku apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa Choi Yong melarang ku untuk menemui tabib? Wu Ling aku janji aku hanya bertanya pada tabib aku tak akan melakukan apa pun, aku merasa ada yang aneh pada diriku dan aku ingin lebih memastikannya sekarang." Riri berusaha untuk membujuk Wu Ling agar mau membawahnya bertemu dengan tabib.
"Maafkan aku Riri." Wu Ling berkata dan terus menolaknya, karena Choi Yong telah berpesan untuk tak membawah Riri bertemu dengan tabib apa pun alasannya jika tak ada dirinya.
"Wu Ling kita adalah teman, apakah kamu benar tak mau membantuku?" Riri bertanya dengan sedih. Dan Wu Ling mengangguk.
Riri menghela nafas dalam dan menatap Wu Ling yang selalu setia pada Choi Yong, "Baiklah, baiklah aku tak memaksa lagi." Riri bangun dan merebahkan dirinya ditempat tidur.
Sambil menatap langit - langit kamar itu Riri terus saja menghela nafas, "Andai ada kantong itu, pasti aku akan mengambil alat tes kehamilan untuk lebih memastikannya lagi, karena aku baru sadar kalau aku sudah tak dapat bulanan selama ini" suara hati Riri.
Riri menatap Wu Ling yang sibuk berbenah lalu dia memegang perutnya yang datar. "Apakah plotnya memang seperti ini ya? Aku yakin semua alur ceritanya berubah dari sejak aku mempertahankan hidupku, sekarang akan jadi bagaimana ceritanya? Kenapa aku harus hamil segala, tapi sudah masuk berapa bulan karena aku masih belum merasakan pergerakannya atau aku bukannya hamil melainkan ada penyakit lain." Riri terus saja bergumam dalam hati dan menghela nafas dalam berkali - kali.
"Oh siapakah ini." Pangeran Cun Ya menerobos masuk kedalam kamar Riri.
Riri bangun dan menatap orang yang dengan berani masuk kedalam kamar tidurnya, Riri tak mengenal orang itu dan dia hanya duduk diam sambil menatap pangeran Cun Ya yang berjalan mendekatinya. Sementara Wu Ling langsung mendekati Riri dengan takut.
"Siapa anda dan kenapa masuk tanpa ijin." Riri bangun dan bertanya dengan berani.
"Riri dia adalah pangeran Cun Ya." bisik Wu Ling yang berdiri dibelakang Riri.
"Hm" Riri menatap pangeran Cun Ya dengan bingung.
"Lancang sekali, tak memberikan hormat pada pangeran Cun Ya, malah bertanya dengan kasar." pengawal pangeran Cun Ya berkata dengan keras pada Riri.
Riri tersenyum dan memegang tangan Wu Ling yang memegang lengannya, "Jika kau mengatakan aku lancang hanya karena tak memandang dia, lalu apa yang dilakukan oleh pangeran kerajaan barat dengan menerobos masuk kedalam kamar seorang wanita begitu saja bukan perbuatan yang lancang?" Riri berkata dengan santai.
"Kau belum pernah menerima hukuman ya?!" pengawal itu marah
"Sungguh menarik, aku tak pernah menyangka kalau wanita baj*ng*n itu sungguh menarik seperti ini." Pangeran Cun Ya berkata dan menahan agar pengawalnya tak melanjutkan amarahnya. "Apa kau tau, siapa saja yang masuk kedalam istana ini adalah milik ku dan itu juga termasuk dirimu." sambung pangeran Cun Ya lagi sambil duduk di kursi depan Riri.
"Seorang tamu yang diambil dengan paksa tidak termasuk sebagai anggota keluarga, dan dia lebih terlihat sebagai tahanan saja. Dan seorang tahan tak ada hak untuk mengikuti perintah siapa pun selain dirinya sendiri karena bagi mereka hidup mereka tak ada artinya lagi. Jika mereka tak mati ditangan pengadilan maka mereka akan memilih untuk bunuh diri." Riri berkata dengan tegas tanpa ada rasa takut sedikit pun pada pangeran Cun Ya.
__ADS_1
"Riri" Wu Ling menahan lengan Riri dengan erat.
"Aku tak pernah menganggap mu sebagai seorang tahanan sehingga bisa membuatmu untuk mengakhiri hidup. Kau bebas di sini dan lakukan apa saja sesuka mu, namun jangan harap kamu bisa keluar atau kabur dari tempat ini." Pangeran Cun Ya berkata dengan tegas, "Siapkan dirimu karena nanti aku akan mengundang mu untuk datang ketempat ku." sambung pangeran Cun Ya lalu pergi meninggalkan kamar Riri.
"Riri, kenapa kamu melawannya. Dia adalah pangeran yang paling ditakuti dan juga yang paling kejam." Wu Ling berkata dengan khawatir.
"Jangan takut, jika dia bisa menipu maka aku juga bisa menipunya, jika dia menggigit maka kita juga harus menggigit balik. Dan segala tindakan kasar harus dibalas dengan setimpal dan benar juga." Riri berkata dengan santai.
Setelah menjelaskan pada Wu Ling Riri menuliskan beberapa bahan obat yang harus disiapkan oleh Wu Ling, dan karena pangeran Cun Ya memberikan kebebasan pada Riri maka Riri menggunakannya untuk membuat rencana agar dia bisa lolos melarikan diri dari tempat itu dan juga mencari kelemahan dari pasukan kerajaan barat.
Malam itu Riri datang sesuai dengan undangan dari pangeran Cun Ya dan Riri dijemput khusus oleh pelayan dari kediaman pangeran Cun Ya. Saat Riri tiba disana sudah ada beberapa wanita dan diantaranya adalah seorang wanita cantik yang sedang duduk dengan tenang sambil mengawasi situasi.
"Hormat kepada pangeran Cun Ya." Riri memberikan hormat dengan baik.
"Mari - mari. aku mengundang mu untuk berpesta, karena Choi Yong akan memenangkan perang." Pangeran Cun Ya berkata dengan senyuman yang terlihat bangga.
"Dia hanya memanfaatkan Choi Yong, dan dirinya hanya duduk bersenang - senang dengan beberapa wanita." gumam Riri dalam hati.
"Sudah aku bilang kalau kau adalah milik ku. Kemarilah." Pangeran Cun Ya menarik Riri dan duduk disampingnya.
"Mari berpesta." Pangeran Cun Ya berkata dengan semangat.
"Dia adalah tamu istimewa, dia adalah wanita Altha yang dibawah kemari oleh Choi Yong." Pangeran Cun Ya menjawab dengan bangga.
"Wah bukankah dia adalah tabib tangan ajaib? Ini sungguh luar biasa sekali, tapi bagaimana bisa pangeran membiarkan dia berkeliaran begitu saja di sini, bagaimana jika dia melakukan percobaan pelarian." Mentri Kong Ha bertanya dengan khawatir.
"Jangan takut, aku memang memberikan kebebasan padanya. Tapi dia tak akan bisa lari dari sini jika bukan karena seijin ku. Karena dia telah menjadi orang ku." Pangeran Cun Ya berkata dengan percaya diri.
Riri yang bertugas menuangkan minuman Diam - diam memasukkan obat yang sebelumnya dia buat dengan bantuan Wu Ling, Riri memberikan semua orang yang ada disitu minuman tanpa terkecuali karena Riri gak mau menyisakan satu orang pun untuk tak mabuk dan tak sadarkan diri.
Pangeran Cun Ya tertawa terbahak, "Aku sangat puas melihat pemandangan ini, Altha yang sombong itu akan kehilangan muka karena istrinya yang telah menjadi pelayan dikediaman ku, dan aku akan mengangkatnya menjadi selirku. Aku ingin melihat Altha kalah segalanya."
"Wah - wah pangeran ternyata memiliki pemikiran seperti itu ya, ini akan sangat luar biasa dan kita akan diuntungkan jika sampai pangeran bisa mengangkatnya menjadi seorang selir, karena kita akan memiliki kekuatan di bagian pengobatan." Gong Sa dan para sekutu pangeran Cun Ya lainnya berpendapat sama.
"Tentu saja, setelah raja wafat aku secara otomatis akan naik sebagai raja baru. Karena tak ada tabib yang bisa mengobati raja jadi aku yakin sebentar lagi pasti akan menemui ajalnya." Pangeran Cun Ya berkata dengan percaya diri.
"Ingin menikahi ku, kalian belum tau siapa aku. Bagaimana bisa dia menikahi ku. Kalian bermimpi saja" gumam Riri dalam hati.
"Silakan nona kesatria" Riri menyodorkan segelas minuman yang dia tuangkan
__ADS_1
"Maaf aku tak minum." tolak wanita itu pada Riri
"Pangeran ku, bukankah waktu itu kamu telah memberiku kuasa untuk melakukan apa saja, sekarang aku ingin dia juga meminum dari gelas yang aku tuangkan karena itu adalah salah satu tata kerama di kerajaan timur." Riri berkata dengan lembut.
"Baik minumlah." Pangeran Cun Ya menyuruh wanita itu minum.
"Bagus semuanya sudah minum tinggal menunggu reaksinya, obat bius itu akan bekerja sebentar lagi." Riri bergumam dalam hati dan mengawasi semua orang yang ada diruangan itu.
Tak lama kemudian semua orang yang ada diruangan itu jatuh pingsan, Riri tersenyum dan menatap mereka semua dengan berpasangan. "Maaf ya aku harus memanfaatkan ini, karena ini adalah ulah mu sendiri, kau bilang apa tadi. Mau mengangkat ku jadi selir enak aja." Riri bergumam didepan pangeran Cun Ya yang sudah tak sadarkan diri dan tersenyum setelah menata mereka semuanya.
Riri keluar dari ruangan itu dan pura - pura mabuk dihadapan prajurit yang sedang berjaga diluar, sesekali Riri terjatuh dan bangun dengan sempoyongan sampai benar - benar tak melihat lagi oleh prajurit yang berjaga tadi.
"Riri, bagaimana kamu membuat ku khawatir. Kenapa kamu nekat sekali, bagaimana jika kamu tadi tak bisa keluar dari sana." Wu Ling memapah Riri dan bernafas lega.
"Mereka hanya memanfaatkan Choi Yong, aku akan membuat mereka menghadapi masalah. Kamu tau dimana istana raja?" Riri berkata dengan nada kesal.
"Untuk apa kamu ingin ke istana raja? Selama aku di sini belum pernah sekali pun masuk istana raja, karena mereka memblok jalan masuk kesana." Wu Ling menjelaskan pada Riri
"Aku ada rencana, dan aku dengar raja sedang sakit, sebagai seorang tabib aku ingin melihatnya." Riri menjelaskan pada Wu Ling. "Ayo kita pergi ke istana raja." Riri menarik tangan Wu Ling.
Setelah sampai didepan pintu istana raja Riri berkata pada penjaga untuk diijinkan masuk dan melihat kondisi kesehatan raja, dan setelah menunggu beberapa lama akhirnya Riri diijinkan masuk oleh permaisuri untuk melihat kondisi raja yang saat ini sedang terbaring sakit.
Keesokan harinya Choi Yong datang menemui Riri setelah dia kembali dari tugas yang diberikan oleh pangeran Cun Ya, dan Choi Yong melihat Riri yang hanya duduk diam tak mau memakan hidangannya yang telah disiapkan dari sejak pagi.
"Makanlah kenapa kau tak makan." tanya Choi Yong pada Riri yang sedang duduk santai didalam kamar.
"Choi Yong, kembalilah. Ayo kita kembali dan berjuang bersama - sama." Riri berusaha untuk membuat Choi Yong kembali kejalan yang benar
Brak (Choi Yong memukul meja didepan Riri dengan sangat keras dan menatap Riri dengan tatapan penuh kemarahan)
"Jika kau tak ingin makan tak usah makan, mati saja." Choi Yong berkata dengan amarahnya dan berjalan keluar.
"Choi Yong, ini semua hanyalah tipuan, mereka hanya memanfaatkan mu saja, saat rencana mereka berhasil dan tak membutuhkan mu maka mereka akan menghancurkan mu muda. Ayo kita kembali Choi Yong" Riri masih bersih keras untuk membuat Choi Yong kembali.
"Itu tak kan pernah terjadi." Choi Yong berkata dengan tegas.
"Kau akan tau mereka hanya bersenang - senang saat kau susah, belum terlambat untuk kembali." Riri berteriak dan Choi Yong tak mendengarkan ucapan Riri.
Saat di persimpangan istana teratai dan istana pangeran Cun Ya terdengar ribut - ribut dan semua orang terlihat sangat sibuk, bahkan kedua selir dari pangeran Cun Ya terlihat sangat marah dan memberikan hukuman kepada beberapa orang wanita yang entah dari mana.
__ADS_1