Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Dekat dengan musuh.


__ADS_3

"Pangeran, loh pangeran sudah gak ada? Apa dia sudah pergi?" Yorgun berfikir setelah tak mendapati Altha didalam kamarnya.


"Kapten Yorgun, bagaimana? Apa kata pangeran? Kita berangkat sekarang?" Jiyang yang sudah tak sabar ingin segerah menyelamatkan Riri dari tangan pangeran Cu Shang.


"Hem, sepertinya kita sudah telat. Karena pangeran sudah berangkat dan tak ada jejaknya." jawab Yorgun menghela nafas dalam.


"Hah?! Kenapa pangeran seperti itu? Tidak bisa aku harus berangkat sekarang kalau begitu, aku mau menyelamatkan putri." Jiyang kesal dan uring - uringan karena ditinggal oleh pangeran Altha.


"Jiyang, jangan mengganggu rencana pangeran. Biarkan pangeran berangkat sendiri karena aku sudah melakukan janji darah dengan pangeran." ucap Yaris pada Jiyang yang sudah tak sabar dan ingin berangkat.


"Apa?" Jiyang dan Yorgun kaget mendengar penuturan Yaris, karena pasalnya janji darah yang dilakukan oleh kesatria bayangan adalah janji yang tak akan bisa diputus jika inangnya tak ingin memutuskan janji.


"Tunggu, jadi kamu melakukan janji darah dengan pangeran? Kapan kau lakukan itu dan kenapa aku tak tau?" tanya Jiyang pada Yaris menuntut Yaris untuk memberikan penjelasan.


"Kemarin sebelum pangeran berangkat." Yaris menjawab dengan santai dan mulai menjelaskan.


Jiyang menghela nafas dalam setelah mendengar penjelasan dari Yaris apa yang akan direncanakan oleh pangeran Altha. Dalam hati Jiyang masih merasa khawatir pada keadaan Riri namun dia tak bisa berbuat apa - apa karena pangeran sudah ada rencana sendiri dan akan mengirimkan pesan pada Yaris begitu dia dalam bahaya.


Jiyang dan Yorgun melakukan persiapan untuk membantu pangeran Altha begitu pesan diterima oleh Yaris, dan untuk saat ini mereka hanya bisa menunggu dengan tenang seakan tak terjadi apa pun, karena pangeran kedua juga selalu ingin mencelakai pangeran Altha.


Melalui apa yang telah direncanakan oleh pangeran Altha yang sudah dijelaskan oleh Yaris, Yorgun pergi ke pebatasan dan kabar itu didengar oleh pangeran kedua kalau Altha juga ikut kesana untuk melatih prajuritnya.


...🍁🍁🍁...


Disisi lain selama dalam perjalanan ke kerajaan lain untuk menyelamatkan Riri dari cengkeraman pangeran Cu Shang Altha telah menyamar sebagai rakyat biasa dan berusaha untuk membaur dengan mereka semua.


"Ayo kita jangan sampai telat." ucap seorang pemuda yang berbondong - bondong pergi ke ibu kota kerajaan Shang Ha untuk mendaftar jadi prajurit.


"Kenapa semua orang pergi terburu - buru begitu ya?" gumam Altha yang merasa bingung melihat banyaknya orang yang pergi dengan tergesa - gesa.


"Ada apa ini tuan? Mau kemana semuanya?" tanya Altha pada rombongan para pemuda yang berbondong - bondong ingin memasuki ibu kota kerajaan Shang Ha.


"Oh saudara muda, kami mau pergi ke kerajaan Shang Ha." jawab seorang warga yang ikut dalam rombongan itu.


"Memangnya ada apa di sana, kenapa semuanya mau pergi kesana?" Altha semakin bingung karena begitu sampai diperbatasan kerajaan Shang Ha sudah disebut dengan banyaknya pemuda yang ingin memasuki ibu kota.


"Kami semua mau ikut mendaftar menjadi seorang prajurit saudara ku, apa kah kau juga mau ikut dengan kami semua? Karena yang mulia pangeran ingin membentuk pasukan besar untuk melakukan penyerangan pada Pangean Altha dan juga melakukan pertahanan untuk melindungi tabib tangan ajaib yang saat ini sedang mengobati para prajurit yang sedang terluka." jelas pemuda yang ditanya Altha dengan panjang lebar.


"Oh, bagaimana caranya untuk mendaftar?" tanya Altha lagi dan pemuda itu menjelaskan lagi pada Altha.

__ADS_1


"Ikutlah dengan kami, kau dari daerah mana saudara ku? Ku lihat kau memiliki postur yang bagus sebagai prajurit." tanya pemuda itu pada Altha.


"Saya cuma seorang perantau yang tanpa tujuan." jawab Altha asal dengan tersenyum ramah.


"Baiklah kalau begitu ayo ikut saja." ucap para rombongan itu.


"Jadi dia menyiapkan pasukan besar untuk menyerang ya." gumam Altha dalam hati dan mengikuti rombongan itu untuk memasuki ibu kota.


Altha yang menyamar pun telah menerobos masuk kawasan musuh dan mulai berbaur dengan rakyat lainnya. Altha ikut mendaftarkan dirinya menjadi prajurit yang akan disiapkan untuk melawan kerajaannya dan mencari keberadaan Riri di istana itu.


...🍁🍁🍁...


"Tabib tangan ajaib bolehkah aku bicara sebentar dengan mu?" tanya pangeran Cu Shang pada Riri yang sedang sibuk memeriksa pasiennya.


"Oh, pangeran Shang tak perlu sungkan pada saya. Silakan saja, pangeran ingin bertanya soal apa?" jawab Riri dengan ramah.


"Kemarilah, apakah kau tak lelah seharian hanya merawat mereka semua?" pangeran Cu Shang bertanya dengan tatapan lembut pada Riri.


"Tidak pangeran, saya justru suka dengan begitu saya bisa merasa senang saat mereka terlihat sehat dan sembuh." Riri menjawab dengan tersenyum.


"Yourina, bolehkah aku memanggilmu dengan nama?" pangeran Cu Shang bertanya dengan ragu saat mereka duduk disalah satu peristirahatan ditanam istana pangeran Cu Shang.


"Tentu saja silakan pangeran lakukan, apa saja panggilannya saya tak masalah." jawab Riri lagi dengan nada tenang walau dalam hatinya dia sangatlah tak tenang karena Riri sadar kalau pangeran Cu Shang berusaha untuk mendekatinya.


"Pangeran telah menculik saya, namun pangeran Shang memperlakukan saya dengan baik dan tak pernah memaksakan kehendak pangeran, jadi saya tak ada keluhan untuk merasa tak nyaman. Hanya saja sayang ingin bisa lebih bebas lagi dan tak diawasi karena itu membuat saya jadi merasa risih saat harus mandi dengan begitu banyak orang masuk kedalam kamar." jawab Riri menjelaskan pada pangeran Cu Shang.


"Baik, aku akan mengurangi jumlah mereka jika kau merasa tak enak." pangeran Cu Shang merasa bersalah pada Riri.


"Tak perlu mengurangi, cukup berikan pada saya waktu privasi atau waktu sendiri saat saya mandi itu saja." pinta Riri dan pangeran Cu Shang mengiyakan permintaan Riri tanpa ada rasa curiga.


Pangeran Cu Shang selalu baik pada Riri dan dia memperlakukan Riri dengan lembut serta dia tak pernah memaksakan kehendaknya pada Riri. Sehingga hal itu membuat Riri tak perlu melawan dengan keras untuk bisa lepas dari tangannya. Dan Riri hanya perlu berbuat baik serta menghadapi dengan lunak.


"Terima kasih pangeran Shang, kalau begitu boleh kah saya kembali lagi melakukan memeriksa pada meraka yang belum saya periksa?" tanya Riri setelah mengucapkan terima kasih pada pangeran Cu Shang.


"Iya baiklah, silakan dilanjutkan." jawab pangeran Cu Shang dan dia ikut Riri melakukan pemeriksaan pada para prajurit yang sedang terluka.


...🍁🍁🍁...


Sedangkan di barak prajurit Altha melalui tahap seleksi untuk menjadi seorang prajurit pilihan. Altha bersama yang lainnya sedang berdiri berbaris mengantri giliran mereka untuk dipanggil.

__ADS_1


"Siapa namamu?" tanya komandan pasukan pangeran Cu Shang pada Altha.


"Ah Song." jawab Altha singkat


"Memiliki kemampuan apa?" komandan pasukan bertanya lagi untuk mengelompokkan prajurit dalam barisan yang sesuai dengan kemampuan mereka.


"Berpedang dan berkuda." jawab Altha lagi dengan tenang.


"Baik masuklah dalam barisan pertama, nanti aku akan menguji mu." jawab komandan pasukan dan Altha pun masuk kedalam barusan pertama bersama dengan 5 orang lainnya.


...🍁🍁🍁...


"Putri Youri, apa kamu ingin pergi melihat memilihan prajurit bersama dengan ku?" tanya pangeran Cu Shang pada Riri saat mereka sedang melihat prajurit yang terluka tak jauh dari barak prajurit pangeran Cu Shang.


"Apa sih maunya orang ini sebenarnya? Sudah ku hindari tapi dia masih saja menempel." gerutu Riri dalam hati dengan bibir yang tersenyum.


"Baiklah pangeran, silakan tunjukkan jalannya." ucap Riri dengan sabar memghadapi pangeran Cu Shang yang dianggapnya mengganggu.


"Sabar Riri, ini demi rencana mu untuk bisa lolos dan keluar dari tempat ini." gumam Riri dalam hati sambil berjalan mengikuti pangeran Cu Shang pergi ke barak prajurit.


"Oh, itu pangeran Cu Shang dan tabib tangan ajaib, aku rasa mereka mau kesini."


"Mereka sangat serasi"


"Iya, aku dengar setelah sampai di kerajaan ini pangeran Cu Shang sangat baik pada tabib tangan ajaib."


Para prajurit sedang berkasak kusuk melihat pangeran Cu Shang dan Riri berjalan bersama mendekati barak prajurit dan melihat proses pemilihan prajurit terbaik untuk pasukan pangeran Cu Shang nantinya.


"Dia,,," Altha yang melihat kehadiran Riri dan senyum ramah Riri pada pangeran Cu Shang merasa kesal dan mengepalkan tangan dengan sangat kuat.


"Lihatlah mereka berdua, mereka begitu dekat dan terlihat sangat akrab. Apakah dia memang lebih suka seperti itu? Tanpa tau apa - apa dia begitu dekat dengan musuh." gumam Altha dalam hati dengan rasa kesal yang mendalam.


Rencana yang sudah direncanakan oleh Riri pun akhirnya berhasil karena dia sangat pandai menyimpan rasa dan berpura - pura baik pada pangeran Cu Shang agar tak dicurigai. Dan malam itu Riri melakukan rencananya, dia pura - pura sedang berendam untuk membersihkan dirinya dengan bersantai yang sebenarnya dia telah berencana untuk kabur dari tempat itu.


"Kenapa ditempat itu banyak prajuritnya?" tanya Altha pada rekannya yang melihat salah satu kamar dijaga beberapa prajurit.


"Itu adalah kamar tabib tangan ajaib." jawab rekan Altha.


"Hem." Altha mengangguk.

__ADS_1


"Sudah ayo, kita latihan lagi karena besok akan melalui tes dari pangeran Cu Shang sendiri." ajak rekan Altha dan mereka pun pergi.


Namun pada pertengahan malam Altha menyelinap masuk kedalam kamar Riri yang dijaga ketat oleh beberapa prajurit, tapi Riri tak berada didalam karena kamar itu kosong hanya ada bak besar berisikan air untuk berendam. "Kemana dia pergi? Didepan dijaga begitu banyak orang tidak mungkin kalau dia melarikan diri." gumam Altha berfikir dan meneliti kamar itu, tapi tak menemukan apa pun.


__ADS_2