
Selama Riri pindah dan tinggal di istana utama serta tinggal dengan kamar tidur yang berdampingan dengan kamar tidur Altha setiap pagi Altha selalu membawakan teh dan juga sarapan untuk Riri seperti pagi ini Altha datang disaat Riri belum bangun dari tidurnya.
"Selamat pagi, minum teh dulu." ucap Altha menyodorkan secangkir teh begitu Riri terbangun.
"Kenapa setiap pagi kau kesini dan menungguku bangun?" Riri yang merasa aneh pun mulai mempertanyakan sikap Altha dan meminum teh pemberian Altha.
"Ayo cuci wajahmu dan sarapan." ucap Altha tak menjawab pertanyaan Riri kembali duduk lagi dikursi menunggu Riri.
"Yang harusnya dijaga itu kamu, jangan lakukan ini pada ku setiap pagi. Biarkan aku saja yang melakukannya untuk mu, karena aku tak mau kalau nanti aku dikatakan tak bisa merawat pasien ku dan memanfaatkan mu." Riri turun dari tempat tidurnya dan mencuci wajahnya dengan air yang sudah disediakan oleh Altha sebelumnya.
"Siapa yang bangun duluan dia yang akan datang duluan, lagi pula kau juga melakukan hal yang sama dengan ku setiap hari dengan membawakan obat untuk ku setiap hari bahkan sampai 3 kali sehari." Altha menjawab dengan menata makanan diatas meja. "Duduk dan makan sarapan dulu jangan banyak berfikir." sambung Altha tanpa melihat Riri.
"Terima kasih, aku jadi merasa aneh kalau kau setiap hari seperti ini dan juga merasa ini bukan dirimu, bukankah kau membenciku dan juga ingin menghabisi ku waktu itu dengan mengirim aku ke perbatasan dengan tujuan aku akan mati tanpa campur tangan dari mu." Riri mengingatkan Altha tentang dirinya yang dulu yang begitu galak dan dingin serta tanpa ampun pada dirinya.
"Bisakah kau makan dulu dan tak bicara yang aneh - aneh." tegur Altha menatap tajam pada Riri.
"Hem, aku akan makan sekarang." Riri pun makan tanpa suara sampai makanan itu habis.
Altha menatap Riri dengan helaan nafas dalam karena apa yang dikatakan oleh Riri benar adanya, dirinya yang dulu tak akan mungkin melakukan hal seperti ini bahkan dia sangat tak peduli dengan keadaan Riri mau dia baik atau buruk.
"Pelayan, ambil dan bereskan semuanya."Perintah Altha pada pelayan yang berdiri diluar kamar Riri.
"Aku masih ada pekerjaan jadi aku pergi dulu." Altha bangun dari duduknya dan meninggalkan Riri.
"Tunggu" Riri menahan Altha, "Besok jangan lakukan hal ini lagi, aku akan mengunci pintu kamarku karena aku tak mau salah faham dengan sikap mu yang tiba - tiba saja menjadi lembut pada ku." ucap Riri dengan menunduk dan tak berani menatap Altha.
"Kenapa begitu, dan apa salahnya dengan semua itu." Altha bertanya dengan menatap Riri yang tertunduk.
"Tidak, jangan lakukan. Aku jadi seperti diperlakukan seakan aku adalah tawanan istimewa di istanamu." jawab Riri menatap Altha dan mendorong Altha keluar serta menutup pintu kamarnya.
"Tawanan istimewa? Haaaah," Altha menghela nafas dalam lalu beranjak dari kamar Riri.
Sikap Altha yang mulai jadi lembut pada Riri, dan Altha yang memperlakukan Riri seperti tawanan istimewa selama tinggal di istana utama terlihat memang seperti itu, bahkan Altha tak segan untuk membawakan sarapan dan juga air untuk cuci muka Riri. Semua yang melihat pasti juga akan berfikir sama dengan apa yang dipikirkan oleh Riri atau bahkan mereka akan berfikir kalau Altha menyukai Riri.
"Apa caraku salah? Sebenarnya aku harus bersikap bagaimana padanya, aku hanya ingin membalas kebaikannya selama ini pada ku." gumam Altha duduk didepan meja bacanya.
__ADS_1
"Kakak, kenapa kau begitu kejam pada mu, tak bisakah kau mengirimkan pesan pada ku dan mengatakan kalau kau sudah menyelamatkan kakak ipar." teriak pangeran ketiga yang datang dan menerobos masuk ke ruang kaca Altha.
"Apa yang kau katakan, memangnya aku melakukan apa harus lapor dulu pada mu." geram Altha menatap tajam pada pangeran Choi Yong.
Pangeran Choi Yong berjalan dengan wajahnya yang masam dan duduk dikursi samping meja Altha, "Setidaknya kabari aku kalau kakak sudah menyelamatkan kakak ipar," gerutu pangeran ketiga, "Apa kakak tidak tau aku bahkan meminta ijin pada ayah untuk pergi ke perbatasan karena ingin membantu membebaskan kakak ipar." gerutu kesal pangeran ketiga.
"Iya aku juga ingin bertemu dengan ayah besok karena ada yang ingin aku sampaikan pada ayah." pangeran Altha berkata dengan fokus pada berkas diatas mejanya.
"Pangeran, lapor." Yorgun masuk kedalam ruang baca Altha dengan tergesa-gesa.
"Hei, ada apa. Kenapa kau terlihat begitu sangat terburu - buru sekali apa kau melihat hantu?" pangeran ketiga yang kaget dengan kedatangan Yorgun menegur dengan kesal.
"Maaf pangeran ketiga, karena ini sangat mendesak." jawab Yorgun yang terlihat sangat panik
"Katakan pelan - pelan." Altha memerintahkan pada Yorgun untuk menyampaikan laporannya.
"Hamba dengar dari mata - mata hamba kalau pangeran kedua mulai bergerak dan sepertinya dia punya tujuan khusus yang tak diketahui." ucap Yorgun menyampaikan pada Altha.
"Apa kakak kedua benar- benar ingin melawan dan juga berebut dengan mu, karena kemaren dia juga mengajukan diri untuk mencari kakak ipar dan mendesak ayah untuk segerah membatalkan pertunangan antara dirimu dan kakak ipar, lalu mengajukan diri untuk menjadi pengganti mu" jelas pangeran ketiga yang berdiri berdampingan dengan Yorgun.
"Aku berkata yang benar, ayah tak ingin kehilangan kakak ipar, karena bagi ayah kakak ipar adalah harta dari kerajaan ini. Dengan kemampuan kakak ipar ayah tau kalau banyak dari kalangan bangsawan dan juga negara lain yang menginginkan kemampuan kakak ipar ini." jelas pangeran Choi Yong lagi.
"Ini tidak bisa ditunda lagi. Aku akan pergi untuk menemui ayah dan akan melakukan apa yang harusnya aku lakukan sejak dulu." ucap Altha dengan membulatkan tekatnya.
"Pangeran, oh?" Riri yang mau masuk kaget karena melihat wajah ketiga orang didalam ruang baca Altha sangat tegang.
"Oh, kakak ipar kau datang. Kau masih ingat aku, aku datang untuk berkunjung dan juga untuk mengambil janji." ucap pangeran Choi Yong mencairkan suasana.
"Ah, iya. Aku akan mengundang mu nanti sekarang aku harus ketemu sama pangeran untuk memberinya obat dan makanan yang bernutrisi." Riri tersenyum dan berjalan mendekati Altha.
"Ayo, ayo cepat minum obatnya dan makan makanan ini setelah itu lanjutkan lagi obrolan kalian aku tak akan mengganggu lagi." Riri meletakkan baki yang berisi makanan dan obat untuk Altha diatas meja.
"Kalian keluarlah dulu." ucap Altha dan pangeran Choi Yong juga Yorgun keluar.
"Kenapa menyuruh mereka keluar? Ini tak membutuhkan waktu yang lama" Riri menoleh dan menatap pangeran Choi Yong juga Yorgun yang keluar.
__ADS_1
"Duduk dan temani aku minum obat." ucap Altha mengangkat baki dan meletakkannya di meja lain didepan meja kerjanya.
"Selama ini kau sudah merawat ku dengan telaten dan juga sabar, dan selama 1 bulan ini kau sudah melakukannya dengan sangat baik." ucap Altha setelah dia meminum obat yang diberikan oleh Riri.
"Semua yang bisa kau lakukan dan juga perhatianmu disetiap asupan makanan ku telah kau lakukan dengan sangat baik, aku sangat berterima kasih untuk semua itu dan ingin memberikan mu hadiah. Aku akan memberikannya pada waktu yang tepat nanti, jadi kamu harus menunggunya dengan sabar." sambung Altha dengan memakan makanan yang dibawakan oleh Riri.
Riri menatap bingung pada Altha yang bicara dengan sangat lembut pada dirinya, "Apa yang dia katakan sebenarnya, dan kenapa dia jadi begitu sangat mencurigakan hari ini." gumam Riri dalam hati memperhatikan Altha yang sedang makan.
"Tidak - tidak, jangan pikirkan yang tidak - tidak." Riri bergeleng kepala untuk mengusir isi pikirannya yang mencurigai sikap Altha padanya hari ini.
"Tak usah kau pikirkan, karena aku melakukan itu untuk menjaga agar lukanya cepat pulih saja tak ada niatan lain." ucap Riri kudian setelah dia berperang dengan batinnya.
"Hem, aku besok akan pergi ke istana kerajaan untuk bertemu dengan ayahanda, dan mungkin akan memakan waktu beberapa hari, kau tetap di sini. Aku akan menetapkan Jiyang dan Yaris disisi mu." ucap Altha setelahnya dengan senyum yang mencurigakan.
"Setelah aku kembali akan ku berikan hadiahnya untuk mu, jadi tunggulah." lanjut Altha pada kalimatnya yang semakin membuat Riri merasa aneh.
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya Altha dan Yorgun pergi ke istana kerajaan untuk bertemu dengan ayahnya secara pribadi dan tersembunyi, sehingga tak ada seorang pun yang tau apa yang dibicarakan antara Altha dan ayahnya dalam perbincangan itu.
Pangeran kedua yang mengetahui kedatangan pangeran Altha secara khusus untuk menemui ayahnya itu dengan sangat terburu - buru datang untuk menghadap pada ayahnya dan ingin mengetahui apa yang telah diperbincangkan antara Altha dan ayahnya.
"Pangeran kedua tolong berhenti, raja berpesan agar jangan ada yang menggangu untuk saat ini. Dan raja juga berpesan agar pangeran menunggu di aula rapat kalau ingin bertemu." ucap pengawal yang menahan pangeran Jang Yong didepan pintu ruangan ayahnya.
"Cih," pangeran Jang Yong pergi dengan kesal dan menunggu di aula rapat yang ternyata di sana sudah ada beberapa orang Mentri dan juga pangeran kedua.
"Yang mulia raja dan pangeran pertama Altha hadir di aula rapat." teriak seorang pengawal yang berdiri didepan pintu aula rapat. Semua orang yang hadir berdiri menyambut kehadiran raja dan pangeran Altha.
Dalam rapat itu raja menjelaskan dan menyampaikan bahwa dia telah menyetujui apa yang diajukan oleh pangeran Altha pada dirinya dan akan mengambil suara untuk melaksanan penobatan pangeran Altha sebagai putra mahkota serta pernikahan yang sederhana dengan putri Yourina sesuai dengan cara pangeran Altha.
...🍁🍁🍁...
Setelah hari itu pangeran Altha tak mengatakan apa - apa lagi, dia tetap bersikap seperti biasa pada Riri. Dan dalam perhatian penuh yang diberikan oleh Riri pada dirinya pangeran Altha pun menipu Riri untuk mau mengenakan baju merah karena pangeran Altha memberikan sebagai cara untuk bisa mendapatkan hadiah.
"Kenapa aku harus memakai baju ini dan kenapa juga aku harus menurut pada mu?" Riri yang merasa curiga pun mulai mempertanyakan pada Altha.
__ADS_1
"Bukankah sudah ku bilang kalau itu adalah bentuk caraku menghormati mu yang selama ini telah memperhatikan dan merawat ku hingga aku sembuh, dan itu adalah cara untuk mu agar mendapatkan hadiah dariku." ucap Altha berusaha menipu Riri.