Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Hukuman


__ADS_3

Setelah pertemuan dan pembahasan rencana hari itu banyak orang yang telah sepakat dan setuju kalau mereka akan menjalankan rencana putri Yourina dan mengikuti apa yang akan di sarankan oleh putri Sui untuk memasuki kerajaan selatan.


Altha yang sudah 1 minggu ini tak melihat dan bertemu dengan Riri karena dia sibuk dengan rencananya untuk datang ke kerajaan selatan dan membahas strategi dengan para Mentri dan juga ayahnya, sedangkan Riri selalu sibuk bersama dengan putri Sui hal itu membuat Altha merasa tak sabar ingin segerah bertemu dengan Riri istri yang sangat dia cintai.


Malam itu Altha pulang ke istananya dengan hati yang tak sabar dan langsung menuju ke kamar Riri dan menyuruh Yorgun pergi agar tak mengikutinya, tapi saat sampai di kamar Riri justru orang yang dicarinya tak ada ditempat hanya ada keempat dayang Riri yang sedang menata dan merapikan kamar Riri.


"Pangeran." ucap keempat dayang Riri saat mereka melihat Altha menerobos masuk kedalam kamar.


"Dimana tuan putri?" Altha melangkah masuk dan bertanya dengan cuek.


"Tuan putri sedang bersama dengan putri Sui." jawab Dae Si dengan sopan.


"Hem, apa dia pergi bersama dengan Yaris?" Altha.


"Benar pangeran, tuan putri pergi bersama dengan tuan Yaris dan tuan Jiyang." jawab Dae Si lagi.


"Baik, kalian pergilah istirahat." Altha


"Baik pangeran." keempat dayang Riri pun meninggalkan kamar Riri dan tinggal Altha sendiri.


Sesekali Altha tersenyum saat dia ingat pembahasan di aula waktu itu, dan Altha tau kalau Riri sedang mentertawakan dirinya yang merasa takut sendiri dan cemas karena permintaannya untuk menikah.


"Baiklah tuan putri Sui." Riri


"Kenapa masih saja harus memanggil nama dengan sebutan tuan putri, bukankah kita sudah sepakat untuk menjadi teman. Kalau begitu panggil dengan nama saja Susu." ucap putri Sui pada Riri.


"Baiklah kalau begitu panggil aku Riri." ucap Riri dengan tersenyum.


Saat kedua majikannya ini sedang berteman dan tertawa bersama para pengawal kedua wanita ini hanya berdiri saling menatap, dan Yoyo merasa aneh dengan Yaris saja, karena Yaris terlihat tak peduli dan suka berdiri lebih jauh bahkan bisa dibilang selalu berada diatas pohon namun saat ada apa - apa dengan Riri Yaris lah yang lebih cepat berada disisi Riri sedangkan Jiyang hanya hanya menatap dengan waspada.


"Siapa sebenarnya mereka berdua ini? Bahkan mereka berdua lebih cepat dan waspada dari pada pangeran Altha yang merupakan suami putri Yourina dan anehnya lagi putri yourina juga terlihat lebih dekat dengan kedua pengawalnya ini." suara hati Yoyo bertanya - tanya menatap Jiyang dan Yaris yang muncul saat Riri kembali ke kota dan selalu menempel pada Riri,


"Kalau begitu selamat malam Susu." ucap Riri dan mengakhiri perbincangan mereka.


"Iya, selamat malam Riri." putri Sui.


"Yoyo, apa yang kau lihat kenapa kau menatap mereka begitu tajam" putri Sui menegur Yoyo dan berjalan kembali kedalam kamarnya.


"Tidak, aku hanya bertanya siapa sebenarnya kedua pengawal itu, kenapa mereka terlihat begitu dekat dan perhatian mereka bukankah sangat berlebihan untuk putri Yourina?" ucap Yoyo yang merasa aneh.

__ADS_1


"Itu bukan urusan kita." putri Sui menjawab cuek.


Riri berjalan menuju kamarnya dan dia tak mau kalau Altha sedang menunggu dirinya di sana. Dengan senang Riri berjalan sambil bercerita banyak hal sama Jiyang dan Yaris soal dirinya dan Yodon yang saat ini sedang berada disisi yang mulia raja karena bertugas mengawasi kesehatan yang mulia raja.


"Eh." Riri terkejud saat membuka pintu kamarnya dan menemui Altha disana.


"Putri" Yaris dengan sigap menahan tubuh riri yang hampir saja jatuh.


"Bu - bukankah, kau harusnya sedang bekerja dan menyusun rencana untuk pergi ke kerajaan selatan, kenapa malah ada di sini." tanya Riri yang tak melangkah masuk kedalam kamarnya dan berdiri diambang pintu.


"Aku datang untuk melihat dan akan memberikan hukuman kepada istri yang suka sekali mempermainkan emosi suaminya." jawab Altha tanpa melihat Riri dan enak meminum teh.


"Ah, itu." Riri perlahan melangkah mundur dan Jiyang sama Yaris menatap bingung.


"Jangan coba - coba untuk kabur, karena jika ketangkap aku akan menerkam mu langsung di luar." Altha masih tak menatap Riri.


"Tidak, tidak aku hanya ingin mencari udara segar. Iya udara segar." jawab Riri yang berdiri tegap diambang pintu.


"Tak ku sangka kucing liar yang ku pelihara telah menunjukkan taring dan cakarnya. Masuklah jangan membuat alasan." Altha menatap Riri dengan tajam.


"Aku mau mencari udara segar dulu.".Riri berbalik badan mau kabur.


"Ahahaha, kalian pergilah aku gak papa." Riri mendorong Jiyang dan Yaris seketika lalu masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.


"Sudah, aku sudah masuk." Riri berbalik dan menatap Altha dengan tersenyum


"Aku tak tau kenapa kau suka sekali mempermainkan emosi seseorang bahkan itu suamimu sendiri." Altha berjalan mendekati Riri yang berdiri didepan pintu.


"Untuk itu aku minta maaf, aku tak bermaksud melakukan itu padu." Riri berkata dan menatap Altha dengan tersenyum.


"Apakah itu membuat merasa senang?" tanya Altha berdiri tepat dihadapan Riri dan memegang pintu.


"Hihi,,, maaf." Riri


"Dan mau sampai kapan kalian berdiri di sini hah?!" Altha perkata pelan pada Riri dan membuka pintu sambil teriak pada Jiyang dan Yaris yang masih berdiri didepan pintu.


"Oh, maaf pangeran. Ayo Yaris." Jiyang menarik Yaris pergi.


"Aku melakukan itu untuk kelancaran rencana ku, setidaknya sekarang rencananya berjalan baik." jawab Riri dan berjalan menjauhi Altha.

__ADS_1


"Kau harus menerima hukuman mu sekarang." Altha berbalik dan dengan cepat mematikan cahaya lilin lalu menerkam Riri.


"Altha,,, hahaha." Riri terbahak saat Altha menyerangnya dan menghujaninya dengan ciuman.


Keduanya telah menikmati dan menghabiskan waktu malam itu bersama setelah 1 minggu tak bertemu karena kesibukan masing - masing. Dan Altha memeluk Riri dengan erat dibalik selimutnya, seolah Altha takut akan kehilangan istri tersayangnya itu.


"Katakan padaku kenapa kau sengaja melakukan itu padaku, dan kenapa kau selalu membuatku takut dengan mengirimi ku wanita dan memintaku menikah. Apa kau begitu suka memainkan ku?" Altha menatap Riri yang ada dalam pelukannya.


"Tidak, aku hanya ingin menguji mu. Apakah kau benar - benar menyukaiku atau hanya tertarik padaku." jawab Riri tersenyum menatap Altha.


Altha mengecup bibir Riri sekilas lalu memeluk Riri erat, "Apa kau meragukan ku? Bukankah aku sudah berjanji padamu bahkan memohon pada dewa agar aku selalu berada disisi mu baik di kehidupan ini mau pun di kehidupan akan datang. Aku akan selalu menemuka mu dimana pun kau sembunyi dan tubuh siapa pun yang akan kau rasuki." jawab Altha penuh dengan keyakinan.


"Kau membuatku takut, bagaimana jika nanti aku tiba - tiba pergi dan menghilang." Riri semakin masuk kedalam pulang Altha.


Altha tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. "Jika itu terjadi aku akan mengikuti mu." jawab Altha lagi yang penuh dengan keyakinan tanpa ada rasa ragu sedikit pun dalam menjawab.


"Altha" Riri


"Hem." Altha menutup matanya


"Bagaimana hasil rencananya, dan kapan kau akan berangkat?" Riri


"Semua lancar dan 3 hari lagi akan berangkat." Altha.


"Tubuhmu sangat berotot Altha." Riri memeluk tubuh Altha.


"Aku tau, dan kulitmu yang menempel pada kulitku membuat ku merasa nyaman, apa lagi daging kenyal yang menyentuh dadaku." jawab Altha sambil tersenyum.


"Altha." Riri mencubit lengan Altha.


"Apa kau ingin aku memiliki selir? Dan mendirikan Harem di istana ini." Altha menatap Riri.


"Tidak, jika itu terjadi maka aku akan mengkebiri kamu agar semua tau rasa dan kau tak akan jadi seorang pria lagi." jawab Riri dan Altha tersenyum mendengar jawaban itu.


"Kau memang kucing liar ku, dan hanya kau yang bisa serta berhak menikmati milik ku." ucap Altha dan menyerang Riri lagi.


"Altha kenapa kau terus melakukannya?" manyun karena merasa lelah.


"Karana ini adalah hukuman atas perbuatan mu yang telah mempermainkan emosiku." menjawab dengan senang menatap wajah Riri yang bersemu merah karena ulahnya. "Aku suka ekspresi mu dan juga reaksi tubuh mu." sambung Altha berbisik ditelinga Riri.

__ADS_1


Malam itu mereka telah meluapkan segala rasa sayang seolah tak ada jarak diantara mereka berdua, dan hubungan keduanya jadi semakin dekat serta tak lagi bisa terpisahkan, bahkan Riri telah lupa pada tujuannya merubah alur dari cerita yang dia masuki karena dirinya telah terpaut pada cinta dan kasih sayang Altha sepenuhnya.


__ADS_2