Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Menjadi tawanan istimewa.


__ADS_3

Setiap hari selama seminggu Riri dengan telaten merawat dan menjaga Altha yang terluka karena merasa berhutang budi sebab Altha telah menghadang anak panah demi dirinya.


"Ayo minumlah obatnya biar lukamu cepat sembuh." setiap hari 3 kali sehari Riri selalu mendatangi Altha untuk mengingatkan pada Altha untuk meminum obat.


"Aku tak apa kenapa masih harus minum obat." Altha yang sudah mulai bosan dan kesal karena selalu disuruh meminum obat dengan rasa yang sangat pahit.


"Sudah habiskan setelah itu aku akan melihat lukamu." Riri menyerahkan cangkir yang berisikan obat pada Altha dan memaksanya untuk minum.


"Ugh, pahit banget." Altha hampir memuntahkan obatnya lagi tapi Riri langsung memberinya air gula untuk menghilangkan rasa pahit.


"Makan ini, ini adalah kembang gula." Riri juga memberikan permen pada Altha.


Riri membawah Altha duduk ditempat tidur karena Riri ingin membuka perban dan melihat luka Altha yang dia jahit. "Bagaimana lukanya, apa masih terasa sakit?" tanya Riri yang mau membuka luka jahitan Altha.


Altha tersenyum melihat dirinya diperhatikan dan dirawat dengan baik oleh Yourina dan mulai muncul gejolak rasa dalam hatinya untuk Yourina yang sebenarnya adalah orang lain, "Ya masih sedikit terasa sakit." jawab Altha kemudian dengan nada manja pada Riri.


"Kalau begitu aku lihat lagi nanti, sekarang aku tutup lagi saja." Riri pun membalut lagi luka Altha setelah dia melihat dan mengoleskan obat.


"Aku merasa lega karena telah berhasil merebut mu kembali dari tangan Cu Shang dan membawah mu kembali ke istana ini lagi." ucap Altha kudian menatap Riri yang sedang merapikan obat - obatan yang tadi digunakan untuk merawat luka Altha.


"Tapi kau tak bisa lepas dari hukumanku sekarang." sambung Altha lagi yang merapikan bajunya.


Riri merasa kaget dengan kalimat Altha barusan, Karen selama ini dia sudah menjalani hukuman dari Altha dengan memperbudak dirinya yang harus merawat dan memenuhi segala kebutuhan Altha. Namun Altha berkata masih harus menghukumnya lagi.


"Apa aku tak salah dengar? Bukannya aku sudah menjalani hukuman selama ini, kenapa masih mau menghukum ku lagi. Terus apa yang aku kerjakan selama ini dong?" tanya Riri merasa tak puas dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Altha.


"Itu adalah hukuman karena aku telah menyelamatkanmu, dan sekarang adalah hukuman karena kau telah bermesraan dengan pangeran Cu Shang selama menjadi tawanannya di sana. Jangan kau kira aku akan membiarkan hal itu." ucap Altha dengan tatapan tajam pada Riri.


"Bagaimana bisa begitu. Aku melakukan itu semua agar aku bisa menipunya dan supaya dia tak mengawasi ku sehingga aku akan memiliki kesempatan untuk kabur dari sana." bela Riri yang merasa tak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Altha.


"Aku tak peduli, yang jelas kau sudah bermesraan dengannya selama kau tinggal di sana dan menjadi tawanannya." Altha duduk dikursi dengan melipat kedua tangannya di dadanya.


"Tidak ini tak adil bagiku, kenapa bisa kamu memperlakukan aku seperti ini dan memutuskan pendapat seenaknya saja." kesal Riri masih tak terima dengan ucapan Altha.


Altha bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Riri yang berdiri didepannya, "Benarkah? Jadi kau tak terima dan menganggap semua yang kau lakukan itu bisa ku terima begitu saja?" Altha terus berjalan mendekati Riri sampai Riri tak bisa bergerak karena terkunci oleh tubuh Altha dan meja yang ada dibelakangnya.


"Apa kau berfikir kalau aku bisa menerima dan membebaskan mu dari hukuman atas apa yang sudah kau lakukan diluar sana dengan pria lain dibelakang ku?" Altha menatap Riri dengan sangat dekat. "Kau pikir aku tak akan memberimu hukuman karen telah menipu dan mengambil uangku serta pergi meninggalkan aku begitu saja yang telah menolong mu, bahkan menderita dan terluka karena ulah mu ini?" ucap Altha semakin dekat dengan wajah Riri.

__ADS_1


Altha menatap Riri dengan sangat dekat dan itu membuat Riri tak bisa berkata - kata lagi karena dia tak tau harus berbuat apa, bahkan jantungnya telah berdebar dengan sangat cepat didekat Altha.


"Ah, pergilah dulu. Baiklah aku akan menerima apa hukuman yang akan kau berikan padaku, katakan segerah." ucap Riri setelah dia berhasil mendorong Altha mundur dan memalingkan wajahnya karena jantungnya tak bisa dikendalikannya.


"Begitukah, jadi kau menerima hukuman apa saja dari ku?" tanya Altha tersenyum melihat Riri yang salah tingkah.


"Iya, iya aku akan menerima apa saja hukuman mu itu puas.!" kesal Riri dan dengan cepat meninggalkan kamar Altha.


"Gadis bodoh. Kenapa kau bisa merubahku sampai seperti ini?" Altha berjalan duduk ditepi tempat tidurnya, "Aku yang dulu membencimu kenapa sekarang jadi begitu peduli dan tak rela kau dengan yang lain, apa karena kau Yourina?" Altha berfikir sejenak, "Aku rasa bukan karena itu, tapi semua karena jiwa yang ada dalam dirimu. Entah siapa jiwa yang telah menempati ragamu, dan aku tak akan pernah melepaskannya." Altha tersenyum lalu merebahkan tubuhnya.


...🍁🍁🍁...


"Sial, kenapa bisa begini. Altha, Altha, Altha.! Kenapa dia bisa berlaku seperti ini pada ku." kesal pangeran kedua yang telah menerima kabar dari bawahannya kalau pangeran Altha berhasil menyelamatkan putri Yourina dan sekarang sedang merawat pangeran Altha yang terluka karena menyelamatkan putri Yourina dari tangan pangeran Cu Shang.


"Aku harus melakukan sesuatu, tak bisa dibiarkan begitu saja selama mereka belum menikah aku kan merebutnya." geram pangeran kedua dengan sangat marah.


"Pangeran, putri Yurna ada di sini ingin bertemu." ucap pengawal pangeran Jang Yong.


"Hem," gumam pangeran kedua Jang Yong.


"Yang mulia pangeran Jang Yong, Yurna datang menghadap." ucap Yurna dengan lembut dihadapan pangeran Jang Yong.


"Ta-tapi pangeran,,," kalimat Yurna tertahan oleh jari pangeran kedua.


"Sssstt,,, tak ada tapi yang benar adalah iya dan laksanakan dengan baik." ucap pangeran kedua dengan menatap tajam pada Yurna.


"Pergilah, dan ingat lakukan dengan benar." sambung pangeran kedua dan berpaling berjalan menjauh dari Yurna.


"Hamba sedang hamil anak yang mulia pangeran." gumam Yurna


"Kau pikir aku peduli.!" pangeran kedua melemparkan cangkir mengenai kening Yurna.


"Keluar.!" teriak pangeran kedua dan Yurna langsung berdiri dan keluar dari kamar pangeran kedua.


"Tak berguna." kesal pangeran kedua lagi dan membanting benda yang ada didalam kamarnya.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


"Kenapa ini? Kenapa semua barang - barang ku dibawah pergi, mau dibawah kemana semuanya itu?" tanya Riri yang melihat barang - barangnya diambil dan dibawah keluar dari dalam kamarnya oleh beberapa pengawal dan pelayan.


"Mulai hari ini kau akan tinggal didalam istana utama dan tidak di paviliun lagi." ucap Altha yang berdiri dibelakang Riri.


"Kenapa begitu? Aku sudah merasa nyaman tinggal di sini, aku gak mau beradaptasi lagi dengan tempat yang baru." ucap Riri menolak dengan menatap kesal pada Altha.


"Apa kau tak ingat kemaren kau sendiri yang bilang kalau kau akan menerima hukuman apa saja yang akan ku berikan pada mu, dan hukumannya adalah kau tinggal di istana utama, kau tak boleh jauh dariku. Atau kau lebih suka tinggal dikamar bersama dengan ku." ucap Altha mendekatkan wajahnya pada Riri yang berdiri didepannya.


"Tidak, tidak baiklah. Baiklah di istana utama saja." jawab Riri dengan cepat lalu pergi mengikuti para pengawal yang membawah barangnya.


"Waa,,, ini kamar yang luas sekali. Jiyang apa benar ini kamar untuk ku?" Riri terlihat sangat senang mendapat kamar yang luas dan lebih luas dari kamarnya yang dulu saat di paviliun.


"Hem, pangeran memberikan kamar ini untuk tuan putri. Apa tuan putri suka?" Jiyang menjelaskan dengan sangat senang.


"Suka - suka, kita bisa tinggal di sini bersama aku akan sering mengundangmu dan Yaris untuk tinggal di kamar ini nantinya." ucap Riri asal bicara karena selama ini dia memang selalu ditemani oleh Jiyang dan Yaris, bahkan kedua pengawal itu bisa dengan santai tidur dikamar Riri bertiga sama Riri.


"Tidak boleh, mereka adalah pria dan wanita. Wanita sama pria tak boleh tinggal bersama dalam satu kamar. Aku akan menempatkan pelayan wanita untuk mu nanti" ucap Altha dengan tegas.


"Siapa bilang aku mau, aku sudah biasa tinggal bersama mereka berdua apa salahnya, dasar berondong kolot." ucap Riri mengejek Altha.


"Iya kami juga sudah sering tidur bertiga pangeran selama ini." ucap Jiyang santai dengan tersenyum.


Plak,,, Altha memukul kepala Jiyang seketika.


"Aduh." Jiyang merasa kaget dan juga bingung karena dia merasa tak ada yang salah namun kenapa malah dipukul.


"Hei, apa kau tak bisa halus pada anak ku." teriak Riri memeluk Jiyang dan memegang kepala Jiyang yang dipikul Altha.


"Hais, aku akan memberimu hukuman nanti." ucap Altha menuding Jiyang dan Jiyang jadi semakin bingung.


Selama Riri pindah dan tinggal di istana utama serta tinggal dengan tempat tidur yang berdampingan dengan kamar tidur Altha, setiap pagi Altha selalu membawakan teh dan juga sarapan untuk Riri seperti pagi ini Altha datang disaat Riri belum bangun dari tidurnya.


"Selamat pagi, minum teh dulu." ucap Altha menyodorkan secangkir teh begitu Riri terbangun.


"Kenapa setiap pagi kau kesini dan menungguku bangun?" tanya Riri yang merasa aneh dan meminum teh pemberian Altha.


"Ayo cuci wajahmu dan sarapan." ucap Altha tak menjawab pertanyaan Riri.

__ADS_1


Sikap Altha mulai jadi lembut pada Riri, dan Altha memperlakukan Riri seperti tawanan istimewa selama tinggal di istana utama, bahkan Altha tak segan untuk membawakan sarapan dan juga air untuk cuci muka Riri.


__ADS_2