Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Pembuktian.


__ADS_3

Keesokan harinya putri Sui dan Riri pergi ke ibu kota kerajaan untuk melihat kondisi raja dan juga menyelamatkan Altha dari hukuman yang tak seharusnya dia dapatkan.


Dari persiapan yang dilakukan di kerajaan untuk menyiapkan hukuman untuk pangeran Altha semua orang sudah pada berkumpul dari sejak pagi hari. Banyak dari para rakyat yang tak percaya dengan tuduhan yang dijatuhkan untuk pengeram Altha, karena selama ini mereka tau kalau pangeran Altha sangat baik pada rakyat dan selalu mengutamakan mereka.


"Tangguhkan hukuman untuk pangeran Altha."


"Tegak kan keadilan yang sesungguhnya untuk pangeran."


"Pangeran Altha tak mungkin bersalah, ini adalah jebakan."


Teriak semua rakyat yang membela pangeran Altha telah memadati lapangan tempat akan diadakannya hukuman yang akan dijalani oleh pangeran Altha. Sementara Baron menemani yang mulia raja dengan berdiri diam disamping ranjang raja dengan tabib senior dan beberapa murid dari tabib senior.


Sesuai dengan keputusan siang itu semua prosesi hukuman telah disiapkan dengan sangat cermat, semua para Mentri dan jajaran petinggi kerajaan telah hadir termasuk pangeran kedua dan ketiga. Dari jauh terlihat pangeran Altha yang dipandu oleh seorang prajurit untuk menaiki podium hukuman yang disana sudah berdiri 2 orang yang akan menjalankan hukuman pada pangeran Altha sesuai dengan perintah.


"Kenapa dia terlihat biasa saja, tak ada rasa takut sama sekali diwajahnya." gumam pangeran kedua yang menatap bingung pada pangeran Altha yang terlihat sangat tenang walau sebentar lagi akan dijatuhi hukuman.


"Mungkin kakak pertama memang sudah menerima segala kesalahannya. Walau itu tanpa disengaja namun itu tetaplah tindakan yang sangat kejam pada ayahanda." jawab pangeran ketiga yang menatap datar pada pangeran Altha yang sudah bersimpuh dengan tangan dan kaki oleh rantai, dan ikatan lagi pada tangannya kebelakang tubuhnya.


"Bagaimana ini, apa kita akan benar - benar melakukan hukuman pada pangeran pertama?" bisik seorang Mentri yang melihat pangeran Altha dan merasakan keraguan dihatinya.


"Baiklah, pangeran pertama sebelum dilaksanakannya hukuman ini apakah ada pesan yang mau kau sampaikan atau kau ucapkan? Jika ada maka lakukanlah kami akan memberikan waktu untuk mu menyampaikan pesan terakhirmu." ucap Mentri hukum pada pangeran Altha.


Pangeran Altha yang mendengar itu hanya tersenyum menatap semua orang, dia seolah sedang merencanakan sesuatu yang tak diketahui oleh siapa pun. "Berikan aku waktu 5 menit, setelah itu lakukanlah hukumannya." teriak pangeran Altha dan permintaanya dikabulkan.


Semua orang yang mendengar permintaan dari pangeran Altha merasa bingung dan meraka jadi berkasak kusuk. Terlihat pangeran ketiga merasa panik entah apa yang sedang dia pikirkan. Karena dia terus saja menatap pangeran Altha dengan sulit.


"Waktu 5 menit telah berlalu lakukan hukuman pada pangeran Altha sekarang juga." teriak Mentri hukum lagi dan 2 orang yang berdiri di samping kanan dan kiri pangeran Altha telah bersiap.


Mentri hukum mengangkat papan kecil dan menatap pangeran Altha yang tersenyum padanya. Lalu salah satu dari dua orang yang ada bersama dengan pangeran Altha memakaikan kain hitam dan memasang tali dileher pangeran Altha. Terlihat dari jauh pangeran Altha mengangguk pelan saat orang itu selesai memasang tali dilehernya.


"Apa? Jadi pangeran akan digantung? Ini kejam sekali."


"Bagaimana bisa seperti ini."

__ADS_1


"Yang mulia raja juga belum sadarkan diri."


"Hukuman itu pasti akan sangat sakit sekali."


Para rakyat mulai ramai lagi, mereka tak tega melihat hukuman yang diberikan pada pangeran Altha yang selama ini selalu memperjuangkan mereka dan juga banyak memenangkan perang demi kerajaan ini.


"Laksanakan" teriak Mentri hukum dan melemparkan papan kayu itu.


"Ugh." bruk, kedua orang yang berdiri disisi pangeran Altha tiba - tiba saja diserang oleh seseorang dan mereka terjatuh.


"Siapa dia?" semua warga berkasak kusuk dengan ramai saat ada dua wanita yang berdiri didepan pangeran Altha dengan tatapan tajam pada para Mentri.


"Tabib dewa.!" teriak pangeran ketiga kaget dan semua orang juga ikut terkejud, termasuk Altha yang wajahnya tertutup kain hitam.


"Maaf mengganggu proses pemberi keadilan, tapi menurut ku ini belum sepenuhnya benar kalau yang sebagai saksi masih belum sadarkan diri. Sebagai seseorang yang mengerti tentang pengobatan aku ingin memeriksa keadaan yang mulia raja dengan benar dan mendalami kasus ini dengan sebenarnya." jelas Riri didepan semua orang.


"Lancang, bagaimana bisa orang luar mengganggu jalannya pemberian hukuman kepada tersangka pemberontakan. Ringkus dia." teriak seorang Mentri memberikan perintah kepada para prajurit.


"Siapa sebenarnya mereka, dan kenapa mereka ingin menolong pangeran Altha."


"Tidak tau, tapi semoga mereka punya solusi dan cara untuk menyelamatkan pangeran Altha."


Para warga merasa sedikit tenang karena ada orang yang percaya kalau pangeran Altha tak bersalah dan akan menolong pangeran Altha dari hukuman yang tak seharusnya diterima oleh pangeran Altha.


"Kenapa bisa seperti ini, siapa orang itu sebenarnya." pangeran kedua bertanya - tanya melihat ke empat orang yang datang untuk menyelamatkan Altha bersama dengan tabib dewa yang disebut oleh pangeran ketiga.


"Tabib dewa, aku tau kau sangat mementingkan rakyat. Tapi ini adalah urusan kerajaan dan tak ada hubungannya dengan anda. Kakak pertama telah dinyatakan bersalah, walau aku merasa berat tapi ini adalah hukum sesuai dengan kebijakan kerajaan. Jadi ku mohon agar tabib dewa jangan sampai terlibat dan dianggap sebagai komplotan pemberontak." teriak pangeran ketiga menjelaskan dan pangeran kedua hanya diam mencobak membaca situasinya.


"Jangan cepat mengambil kesimpulan pangeran ketiga. Belum tentu apa yang dilihat sama dengan yang sebenarnya. Dan di sini aku bukan orang luar karena aku masih merupakan bagian dari keluarga kerajaan ini, dan aku tak akan membiarkan keluarga ku menerima ketidak adilan." jelas Riri dan dia membuka topeng yang dikenakannya.


"Putri Yourina, dia adalah putri Yourina sang tabib tangan ajaib. Tuan putri telah kembali pangeran pasti selamat."


"Selamat tuan putri Yourina, selamat pangeran Altha."

__ADS_1


"Tegakkan keadilan untuk pangeran."


"Selamatkan yang mulia raja, tunjukkan kebenaran."


Teriak semua orang - orang yang memadati tempat pemberi hukuman. Dan semua orang yang melihat dari luar pagar pembatas itu berteriak dengan lantang untuk memberikan keadilan pada pangeran Altha yang diyakini mereka tak bersalah.


"Tuan putri jangan membuat keributan, yang mulia raja sudah memberikan kesaksian bahwa pangeran Altha bersalah." jelas seorang Mentri pada Riri.


"Biarkan aku melihat dan memeriksa yang mulia, akan ku buktikan kalau Altha tak bersalah." jelas Riri lagi.


Setelah melalui perundingan akhirnya para Mentri mengijinkan Riri untuk melihat kondisi yang mulia raja untuk melakukan pemeriksaan terhadap yang mulia, dengan syarat jika sampai terjadi sesuatu dan terbukti kalau pangeran Altha bersalah maka Riri tak bisa membantah atau mencampuri urusan pemberian hukuman.


Riri mendekati Altha dan membuka penutup kepala Altha serta melepaskan ikatan ditangan Altha, Riri menatap Altha dan tersenyum. "Kenapa kau kemari, bukankah aku sudah bilang pada Yaris agar melindungi mu dan jangan mengekspos dirimu." Altha menatap Riri dan bertanya dengan tatapan bersalah.


"Bagaimana bisa aku meninggalkan mu, karena aku tau kau tak bersalah. Dan pasti ada pembuktian dari kasus yang menimpah mu." ucap Riri membantu Altha untuk berdiri.


"Aku tak ingin kau susah, karena aku sudah memiliki rencana ku sendiri." jawab Altha dengan susah payah berdiri.


"Cara apa. Membuktikan kalau kau benar - benar seorang pemberontak dengan melawan hukum yang diberikan pada mu hari ini dan kabur. Itu bukan penyelesaian yang benar." jawab Riri dengan tatapan tajam pada Altha karena Riri sudah tau rencana yang akan dilakukan oleh Altha hari ini.


Saat Altha telah berhasil berdiri dengan seimbang pengawal putri Sui mendekati Altha dan dengan sekali tebas memutuskan rantai yang terikat di kaki Altha. Sehingga Altha bisa bebas berjalan lagi.


Beberapa Mentri dan dengan pengawalan ketat membawah Riri dan Altha serta rombongannya menuju ke ruangan yang mulia raja untuk bertemu dengan yang mulia raja dan melakukan pemeriksaan terhadap yang mulia raja serta melakukan pengujian untuk kasus yang dihadapi oleh pangeran Altha.


"Silakan sebelah sini." ucap seorang Mentri dan saat Riri melangkah masuk Baron dan tabib senior terkejud karena kedatangan Riri.


"Bagaimana keadaan yang mulia raja tabib senior?" tanya Riri dengan tersenyum dan berjalan mendekati yang mulia raja yang sedang terbaring.


"Saat ini yang mulia dalam keadaan baik, hanya saja tiba - tiba yang mulia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri lagi" jelas tabib senior pada Riri yang sedang melakukan pemeriksaan.


"Yodon lakukan sekarang dan Yaris berikan pedang yang aku minta untuk kau temukan tadi." Riri menatap semua orang yang ada didalam ruangan yang mulia raja.


"Aku akan melakukan pemeriksaan pada sampel darah antara darah yang mulia dan darah yang ada di pedang pangeran Altha, dari sini kita akan tau siapa yang dilukai oleh pangeran Altha pada hari itu." jelas Riri dan dia mengoleskan darah dari pedang dan juga darah yang mulia raja dari hasil itu didapatkan kalau kedua jenis darah itu tak sama dan saling bertolak belakang, hal itu membuktikan kalau darah yang ada di pedang pangeran Altha bukanlah darah dari yang mulia raja, dari situ dapat dipastikan kalau bukan lah pangeran Altha yang telah melukai yang mulia raja dengan pedangnya.

__ADS_1


__ADS_2