
"Tuan putri, yang mulia raja, tabib istana ingin menghadap." lapor seorang pengawal.
Raja Ho mempersilakan tabib itu untuk masuk, dan setelah tabib itu masuk menjelaskan hasil penelitiannya raja Ho terkejud namun putri Sui sudah menduga dari sejak awal. Terlihat raja Ho gemetar karena dia tak pernah menyangka sebelumnya.
"Kirimkan bantuan untuk pangeran Altha dan putri Yourina sekarang, dan siapkan segalanya dengan baik." perintah raja Ho pada prajuritnya.
"Apa tidak menunggu balasan dari raja timur yang mulia? Bukankah tadi anda bilang kalau kita harus menunggu raja timur dulu baru kita akan mengirimkan bantuan." ucap Mentri persenjataan
"Tidak perlu, kita harus melindungi putri Yourina kalau menunggu raja timur kita akan terlambat mengirimkan bantuan, sambil berangkat kita juga bisa menunggu balasan, setidaknya pasukan kita tak akan terlalu terlambat." ucap raja Ho.
"Ayah ijinkan aku ikut bersama dengan kakak Sun." ucap putri Sui pada ayahnya
"Baik, pergilah bersamanya." raja Ho memberi ijin karena dia tak ingin ada apa - apa dengan putri Yourina, jika sampai bantuannya terlibat.
Hari itu juga putri Sun dan putri Sui sedang bersiap - siap untuk berangkat ke perbatasan kerajaan barat yang memakan perjalanan 1 minggu lamanya jika cepat. Dan mereka berdua tak ingin berlama - lama sehingga semua persiapannya selesai mereka berangkat lebih dulu dari pada pasukannya yang akan berangkat dipimpin oleh Yoyo dan Dar Yon yang merupakan pengawal putri Sui Li Shang dan putri Sun Li Shang.
"Tuan putri, tuan putri ada kabar berita yang sangat mengejutkan." teriak dayang dari putri You Li
"Kenapa kau lari - lari dan teriak - teriak seperti orang bodoh." putri You Li memarahi dayangnya.
"Maaf tuan putri, ada kabar yang sangat mengejutkan. Yang mulia raja akan secara khusus mengundang Yourina ke kerajaan ini dan katanya akan mengangkat Yourina sebagai tuan putri utama dari kerajaan ini." ucap dayang putri You Li.
"Apa yang kau katakan?! Bagaimana mungkin seorang pelayan bisa diangkat menjadi putri utama, jika dia bukan keturunan raja." jawab putri You Li dengan kesal.
"Saya tidak tau tuan putri, yang saya dengar memang begitu. Dan sekarang putri Sun Li dan putri Sui Li sedang bersiap untuk menyusulnya." ucap dayang putri You Li lagi dan itu membuat putri You Li semakin kesal.
"Aku harus menemui ayah sekarang juga untuk meminta penjelasan." putri You Li bergegas menuju ke istana ayahnya dan ingin bertemu dengan ayahnya untuk meminta penjelasan dari pernyataan yang baru saja disampaikan oleh dayangnya.
...🍁🍁🍁...
Setelah Altha pergi tak lama kemudian diluar tenda terdengar keributan antara Jiyang, Yodon dan beberapa dari para prajurit yang masih tinggal di barak pasukan itu, dan mendengar hal itu membuat Riri merasa terganggu sampai akhirnya Riri keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Sudah ku bilang aku gak mau membuat keributan dan aku hanya ingin bertemu dengan putri Yourina saja." ucap Choi Yong dengan kesal.
"Untuk apa kau ingin bertemu dengan tuan putri. Kami tak akan membiarkan mu untuk melakukan tindakan tipuan kepada kami." ucap Jiyang tegas.
"Apa kau tak lihat kalau para pasukan telah terkepung sekarang?" ucap Choi Yong dengan tatapan ganas. "Sekali saja aku perintahkan mereka akan langsung membuang botol - botol beracun itu, dan sudah dipastikan mereka semua akan terluka." sambung Choi Yong
__ADS_1
Terlihat Yodon dan Jiyang berfikir karena mereka tak ingin mempersulit para prajurit yang lainnya dan juga melukai mereka, karena tuan putri tak akan mungkin bisa dengan cepat membuat menawar racun dan menolong mereka semuanya sekaligus.
"Minggir aku bilang." bentak Choi Yong pada Jiyang dan Yodon yang menghadang jalan masuk ke tenda Riri.
"Pangeran ketiga." ucap Riri yang berdiri diluar tendanya dengan tegap dan tersenyum kearah Choi Yong.
"Putri" ucap Jiyang dan Yodon bersamaan.
"Aku telah diturunkan dari posisi pangeran saat dianggap sebagai pemberontak." ucap Choi Yong menatap Riri.
"Tak apa Yaris." Riri menurunkan tangan Yaris yang bersiap untuk melindungi Riri. "Jiyang, Yodon biarkan dia lewat." sambung Riri dan Choi Yong langsung berjalan mendekati Riri.
"Tak ku sangka kau masih saja menghormati ku sebagai seorang pangeran, ada yang ingin ku katakan pada mu dan aku ingin kita bicara berdua saja." ucap Choi Yong setelah berdiri didepan Riri.
"Hm, perintahkan pada mereka untuk menyimpan lagi botol - botol beracun itu dan jangan berbuat apa pun selama kau di sini, maka aku bersedia untuk bicara dengan mu." ucap Riri dengan percaya diri.
Choi Yong tertawa terbahak mendengar itu, dan dia baru mengerti kalau Riri begitu sangat menarik. "Aku baru tau ternyata kau sungguh sangat menarik, mungkin itulah sebabnya pangeran kedua begitu sangat ingin agar kau jadi selirnya waktu itu, dan pangeran pertama begitu sangat tergila - gila pada mu, padahal dulu dia sangat ingin menghancurkan mu." ucap Choi Yong.
"Silakan masuk." Riri mengundang Choi Yong masuk kedalam tendanya setelah Choi Yong memberi isyarat untuk orang - orangnya menyimpan lagi botol racun yang mereka bawa.
...🍁🍁🍁...
Melihat suasana dan keadaan itu Altha baru menyadari kalau itu hanyalah sebuah tipuan karena tujuan pertama orang - orang itu bukanlah daerah kecil ini melainkan membuat agar dirinya pergi menjauh dari barak untuk sementara waktu, karena tujuan mereka adalah barak pasukan.
"Sial, ini hanyalah sebuah tipuan. Tujuan utaman mereka adalah barak dan tempat persenjataan kita. Semuanya kembali sekarang." ucap Altha dan dia langsung memacu kudanya karena khawatir dengan keadaan Riri, walau disana sudah ada Yaris, Yodon dan Jiyang yang pasti bisa menjaga Riri dengan baik.
"Semoga tak ada apa - apa dengan mu Riri, jika sampai mereka melukai mu maka aku tak akan memaafkan mereka." gumam Altha dalam hati sambil terus memacu lari kudanya.
...🍁🍁🍁...
Kembali pada kondisi di barak, semua prajurit bersiap siaga karena mereka berjaga - jaga kalau sampai nanti pangeran ketiga melukai Riri didalam tenda. Terlihat Yaris, Jiyang dan Yodon sangat gelisah dan tak sabar.
"Kenapa tuan putri menyuruh kita keluar, bagaimana kalau pangeran Choi Yong melukainya?" Dae Si merasa cemas menatap terus pintu masuk tenda Riri.
"Sabarlah Dae Si, tuan putri pasti punya rencananya sendiri. Aku percaya tuan putri pasti bisa mengatasi masalah." Dean Si mencobak menenangkan adiknya, karena sejak Dae Si mengikuti Riri dia jadi sangat peduli dan juga selalu khawatir pada Riri.
"Benar, tuan putri pasti punya rencana dan tau apa yang harus dia lakukan karena mengundang pangeran Choi Yong masuk kedalam tenda." sambung Yu Wan
__ADS_1
Disaat suasana di luar sedang siaga dan para pengikut setia Riri merasa cemas dan tak sabar didalam Riri sedang berbincang dengan santai sama pangeran Choi Yong yang menawarkan kerja sama dan saling bernegosiasi.
"Apa maksud dari pangeran ketiga sebenarnya?" tanya Riri yang merasa bingung dengan permintaan dari pangeran Choi Yong.
"Tuan putri, atau aku harus memanggilmu dengan akrab seperti meraka Riri." Choi Yong tersenyum menatap Riri
"Katakan dengan jelas tujuan mu kesini dengan mengusir Altha pergi, soal panggilan terserah kamu bisa memanggilku apa saja." ucap Riri yang sudah menyadari tujuan Choi Yong datang.
"Aku tak menyangka kalau kamu memang sangat cerdas dan tak sesuai dengan usia mu." ucap Choi Yong tersenyum, "Aku datang menawarkan sesuatu, aku tau kamu memiliki pemikiran yang bagus dan juga mempunya strategi perang. Karena kamu telah memukul mundur pasukan pangeran Cu Shang saat berada di detik - detik terakhir kemenangannya." Choi Yong menatap Riri.
Choi Yong tersenyum "Tadinya aku ingin agar kamu tak ikut campur dalam urusan perang dengan memberikan ide mu pada Altha. Tapi setelah sampai di sini aku berubah pikiran, aku ingin kamu ikut dengan ku. Selama kamu bersedia bersama dengan ku maka aku menjamin kalau Altha akan selamat dalam peperangan kali ini." ucap Choi Yong penuh dengan keseriusan.
"Maksudmu, jika aku tak bersedia ikut maka kau akan menargetkan Altha begitu?" tanya Riri menatap Choi Yong.
"Kau tau jawabannya." jawab Choi Yong
"Maaf, tapi aku adalah istri dari Altha dan aku tak akan meninggalkan dia atau pun mengkhianatinya." jawab Riri tegas.
"Jangan buru - buru, keputusan mu bisa menentukan hasil akhirnya. Jadi selama kamu bersedia ikut, aku berjanji aku akan membuatmu nyaman dan aman, serta bisa memiliki segalanya sesuai dengan keinginan mu. Dan yang paling penting Altha akan selamat, walau mungkin dia akan menjadi cacat atau yang lainnya yang jelas dia akan tetap hidup." jawab Choi Yong mengancam Riri dengan keselamatan Altha.
Mendengarkan perkataan Choi Yong membuat Riri merasa pusing dan mual, dan rasa mual itu sudah tak sanggup untuk Riri tahan lagi sehingga Riri langsung lari ke sudut tenda dan mulai muntah. Choi Yong hanya menatap Riri bingung dan tak bergerak.
"Maaf pangeran, sebaiknya pangeran pergi saja dulu karena sepertinya aku lagi tak enak badan." ucap Riri pada Choi Yong setelah dia muntah yang tak tau apa sebabnya.
"Baik, pikirkan baik - baik, karena jika tidak aku akan membawamu secara paksa." ucap Choi Yong.
"Pangeran harus ingat kalau aku adalah orang yang tak pernah mau untuk dipaksa oleh siapa pun bahkan jika itu raja sekali pun." jawab Riri dan tetap menolak ajakan dari Choi Yong.
"Baik, jika memang itu adalah pilihan mu, maka kau jangan menyesal karena pada akhirnya kau akan ikut dengan ku." jawab Choi Yong lalu dia keluar dari tenda Riri dan Riri kembali lagi merasa mual.
Semuanya merasa lega dan bersikap siap menyerang saat melihat Choi Yong keluar dari tenda Riri dan tak melihat Riri keluar bersamanya. Sementara Dae Si langsung lari masuk untuk melihat kondisi Riri.
"Tuan putri apa yang terjadi." teriak Dae Si dan membuat semuanya langsung lari masuk kedalam tenda membiarkan pangeran Choi Yong pergi.
"Hem, tak ku sangka ternyata dia bahkan bisa membuat semuanya langsung lari kearahnya hanya dengan teriakkan panik dari seorang pelayan menyebut namanya." gumam pangeran Choi Yong tersenyum dan pergi meninggalkan barak itu.
"Tuan putri apa yang terjadi?" Dae Si bertanya dengan panik.
__ADS_1
"Tuan putri apa si penghianat itu membuat tuan putri sampai seperti ini, aku tak akan membiarkan dia pergi." ucap Jiyang dengan marah dan bersiap mengejar pangeran Choi Yong.
"Kalian berhentilah, aku tak apa. Aku hanya masuk angin saja dan menyuruhnya pergi, karena melihat dia berbicara yang tidak - tidak membuat aku jadi semakin pusing." jelas Riri berjalan ke tempat tidur dengan dipapah oleh Dae Si dan Yu Wan. Sementara Dean Si pergi membuat minuman hangat untuk Riri.