
"Bebas, yeeee,,, akhirnya aku bebas." Riri yang berhasil lari dari Altha merasa sangat lega dan tertawa lepas.
"Wah coba lihat ini, benar - benar sangat menyenangkan." Riri berkeliling di pasar dengan sangat bebas dan senang karena tak harus mengikuti aturan Altha yang selalu melarangnya ini dan itu.
Riri berkeliling disebuah pasar dengan sangat puas, dia juga mencoba dan mencicipi berbagai jenis makanan yang selama ini sangat membuat dia penasaran dengan rasanya. Riri belanja banyak hal karena dia mengambil uang yang dibawah oleh Altha, setelah puas keliling Riri pun datang kesebuah penginapan untuk bermalam dan melanjutkan perjalanannya besok pagi.
Sehari sebelumnya.
Malam itu semua rombongan yang menyewa satu penginapan telah berpesta dengan sangat meriah karena mereka merayakan pelepasan diri mereka dan akan menuju ke jalan yang mereka inginkan.
"Ayo minum lagi." teriak Riri dan dia memberikan minuman lagi kepada Altha lalu memaksa Altha untuk meminumnya.
"Kau mau membuatku mabuk ya?" Altha menarik Riri dan duduk dipangkuannya.
"Iya benar, makanya ayo minum lagi." ucap Riri dan lagi - lagi memaksa Altha untuk minum.
"Aku sudah tak kuat lagi" Altha menjatuhkan kepalanya di bahu Riri yang duduk dipangkuannya.
"Aku akan pergi ke kerajaan Dong Li." teriak orang yang bersama dengan rombongan mereka.
"Ya, kami semua akan pergi ke kerajaan Dong Li dan akan menetap disana selamanya." yang lainnya juga ikut menimpali dengan gembira.
"Ugh." Altha yang sudah mulai mabuk merasa semangat saat mendengar kerajaan Dong Li disebutkan, Altha bangun dan membuat Riri juga ikut bangun.
"Ya, ayo pergi kesana dan bersama - sama menuju kejayaan Dong Li." ucap Altha yang sudah mabuk berat.
"Hem, dia mabuk berat ya?" Riri tersenyum "Akhirnya berhasil. Aku rasa sekarang saatnya bagiku untuk kabur, tapi harus kabur kemana dulu ya?" Riri berfikir sejenak, "Ah, tidak peduli kemana yang jelas jauh dari Altha dan pangeran Cu Shang." Riri mengambil kantong uang yang diselipkan di pinggang Altha.
"Hei, gadis nakal apa yang mau kau lakukan hah?" Altha menahan tangan Riri yang bergerak kesana sini di pinggang Altha untuk mengambil uang Altha.
"Mau ambil ini." ucap Riri dengan tersenyum dan menunjukkan kantong uang Altha.
"Kau gadis nakal, mau mencuri ya?" ucap Altha yang sudah mabuk berat.
"Tidak mencuri, tapi ini adalah bayaran untuk ini berondong kejam ku" ucap Riri dan langsung meraup bibir Altha.
__ADS_1
"Hem, kau benar - benar gadis nakal ya." ucap Altha dan menahan leher Riri lalu membalas ciuman Riri dengan sangat dalam.
"Hah, sudah ya kamu tidur di sini bay - bay" Riri pun mulai keluar dari kerumunan orang - orang itu dan mulai mengenakan pakaian pria untuk menyamar sebagai seorang pria agar tak dikenali.
Sedangkan Altha tergeletak di atas meja karena sudah tak sanggup menahan mabuknya, begitu juga dengan semuanya yang telah mabuk berat.
Kembali kepada Riri yang sedang menikmati istirahatnya disebuah penginapan dengan tidur sangat nyaman dan juga pulas malam itu.
"Cepat cari sampai ketemu karena pangeran tak peduli bagaimana pun caranya, tabib tangan ajaib harus bisa ditemukan." semua pasukan pangeran Cu Shang yang ternyata mencari Riri sampai keluar kota perbatasan.
Mendengar keributan itu Altha sadar kalau Riri telah lari darinya dengan cara menipunya dan memberikannya banyak minuman semalam. Setelah menyadari hal itu Altha merasa kesal dan juga geram.
"Sial, anak itu tak tau bahaya ya, pergi begitu saja tanpa pikir panjang." Altha mengejar Riri dan berniat memberikan hukuman pada Riri yang berani menipu dirinya.
"Haruskah aku memanggil Yaris sekarang? Tapi jika aku memanggilnya sekarang maka akan sangat merepotkan kalau sampai Jiyang mengikutinya. Karena dengan sifatnya itu sudah dipastikan Jiyang tak akan tinggal diam." gumam Altha berfikir dalam saat dia beristirahat diatas pohon besar karena semua uangnya dibawah oleh Riri.
Keesokan harinya Riri pergi meninggalkan penginapan itu dan saat ditengah jalan Riri melihat pasukan pangeran Cu Shang yang sedang menggeledah semua orang yang lewat, melihat itu Riri menghindar dan lari masuk kedalam hutan. Sayangnya ada seorang anak buah dari pangeran Cu Shang yang melihat sehingga semuanya mengejar dengan lari masuk kedalam hutan.
"Sial, kenapa bisa ketahuan secepat ini sih." gerutu Riri yang terus saja lari menghindari kejaran para prajurit - prajurit itu.
"Tabib berhentilah jangan lari lagi, kami sudah menemukan mu tolong jangan lari lagi." teriak kapten pangeran Cu Shang.
"Baik, saya akan langsung melapor sekarang." salah satu prajurit itu pun pergi.
"Tidak jangan mendekat aku gak mau kembali." ucap Riri yang terus lari.
"Tunggu, ayo bertanding jika aku kalah maka aku akan kembali ke kerajaan." ucap Riri pada para prajurit - prajurit itu.
Riri pun melawan mereka dengan kemampuan yang masih belum ada apa - apanya. Namun dengan kegigihannya itu Riri terus saja berusaha untuk melawan dan bertahan hingga Altha muncul membantunya mengalahkan prajurit - prajurit itu.
"Altah?" Riri kaget karena Altha datang tepat waktu dan membantunya.
"Apa yang dikatakan oleh tabib tangan ajaib tadi, Altha? Apakah dia pengeram Altha yang merupakan pimpinan perang kerajaan Dong Li dan musuh dari pangeran Cu Shang?" ucap prajurit itu kaget.
"Ah, tidak aku kelepasan." gumam Riri membungkam mulutnya setelah dia sadar apa yang dia katakan.
__ADS_1
"Akhirnya kalian tau diriku. Apa kalian pikir aku akan membiarkan pangeran kalian merebut dan menculik tunangan ku begitu saja? Tentunya tidak, jadi jangan harap kalian bisa merebutnya dari ku." ucap Altha dan menghajar mereka lagi.
"Dia seorang diri, habisi dia maka kita akan mendapatkan pujian dari pangeran Cu Shang" ucap kapten pasukan pangeran Cu Shang.
"Awas hati - hati." ucap Riri yang berdiri dibelakang Altha. Krena Altha melawan semuanya tanpa meninggalkan Riri dari pengawasannya.
"Aku bantu." ucap Riri dan menerima pedang dari Altha hasil rampasan dari prajurit yang dikalahkan.
Kapten pasukan pangeran Cu Shang merasa khawatir karena hampir pasukan yang dibawahnya tak bisa mengalahkan kemampuan pangeran Altha. "Pemanah bersiaplah." ucap kapten itu pada pasukannya, dan beberapa pemanah pun bersiap melepaskan anak panahnya.
Awalnya Altha bisa dengan mudah menghindari anak panah itu namun tiba - tiba saja salah satu dari pemanah itu membidik anak panahnya kearah Riri. "Awas." Altha menghadang lajunya panah yang hampir saja mengenai Riri dan akhirnya dirinya menggantikan Riri sehingga terkena panah di bahu kirinya.
"Altah." Riri menahan tubuh Altha yang hampir jatuh.
"Sial, tak bisa dibiarkan begitu saja." gumam Altha dan dia pun mengerahkan kekuatan penuhnya untuk melawan semua prajurit itu dan dengan cepat Altha mengalahkan mereka semuanya, lalu melarikan diri dengan Riri.
"Ugh." Altha mulai melemah ditengah perjalanan karena banyaknya darah yang keluar.
"Altha, bertahanlah." Riri mulai khawatir dan membawah Altha masuk semakin dalam lagi kedalam hutan sampai mereka menemukan sebuah gua.
"Altha bertahanlah aku akan mengobati mu." ucap Riri dan melihat luka Altha.
"Sepertinya panah ini menembus terlalu dalam ke tubuhnya." gumam Riri dalam hati, "Maafkan aku Altha." gumam Riri liri namun Altha masih bisa mendengarnya.
"Cabut anak panah itu, tabib tangan ajaib. Bukankah kau sudah banyak membantu dan menolong orang. Apakah kau tak mau menolong ku yang merupakan tunanganmu sendiri." ucap Altha tersenyum dengan wajah pucat-nya.
"Diam lah jangan bercanda,aku juga mau menolong tapi aku bingung." ucap Riri, karena saat ini mentalnya sedang mengalami ciut karena dia tak tega dan juga tak berani melihat Altha kesakitan.
"Cepat lakukan karena aku tak bisa melakukannya sendiri." ucap Altha dan Riri masih saja ragu - ragu.
"Kau akan merasakan sakit nanti." ucap Riri menatap Altha.
"Hem, aku tau. Cepat lakukan sekarang." ucap Altha.
Dengan ragu - ragu Riri memegang anak panah itu dan akan mencabutnya, "Tahanlah ini akan terasa sakit." ucap Riri dan Altha mengangguk.
__ADS_1
Riri menelan salifanya karena dia masih merasakan keraguan didalam hatinya. Riri tak tega dengan Altha, tapi dia harus melakukannya untuk bisa mengobati Altha dan mencegah infeksi yang berlanjut.
"Cepat.!!" teriak Altha dengan keras.