
"Pangeran bolehkah saya masuk." putri Ye Rin datang menemui Altha pagi itu dengan dandanan yang cantik dan juga membawah camilan yang dia buat sendiri.
"Masuklah." teriak Altha dari dalam, "Kenapa putri Ye begitu repot - repot sepeti ini?" Altha menatap Ye Rin yang masuk dan mempersilakan Ye Rin untuk duduk.
"Maaf pangeran, saya datang membawah camilan yang saya buat sendiri, apa pangeran mau mencobanya?" Ye Rin meletakkan camilan yang tadi dibawahnya diatas meja di depan meja kerja Altha.
"Tentu." Altha bangun dan berjalan kearah Ye Rin lalu dengan suka rela memakan camilan itu serta meminum teh yang dituangkan oleh Ye Rin.
Ye Rin yang melihat itu merasa sangat senang karena Altha tak menolak pemberiannya dan juga mau menemaninya minum teh itu pun di ruang baca Altha. Ye Rin merasa kalau Altha sudah mau membuka hati untuknya dan mau menerima dirinya sejak Riri tak ada di kediaman pangeran, karena Altha banyak bercerita dengan Yerin soal cara dia menaklukkan para musuhnya saat ada kerusuhan di perbatasan dan daerah barat.
"Pangeran bolehkan Ye Rin datang setiap pagi untuk mengantarkan camilan untuk pangeran? Itu pun jika pangeran tak keberatan." Ye Rin memberanikan diri untuk menawarkan diri membuatkan makanan untuk Altha agar dia bisa jadi lebih dekat lagi.
Altha menatap Ye Rin dengan diam dan tajam, Ye Rin merasa malu karena ditatap oleh Altha dengan tajam. "Ke-kenapa pangeran menatap saya dengan tajam dan diam seperti itu? Apakah ada yang salah dari kata - kata Ye Rin pangeran? Kalau iya Ye Rin minta maaf." Ye Rin meminta maaf pada Altha dengan nada sedikit takut karena Altha tak menjawab dan hanya diam menatapnya.
"Tidak ada, kalau putri Ye maunya begitu silakan saja aku tak masalah. Silakan putri Ye datang setiap pagi, atau memanggil ku untuk menemani putri." jawab Altha setelahnya dengan nada santai sambil meminum teh.
"Aku ingin lihat siapa orang yang ada dibelakang dia. Asalkan bisa memancing orang dibelakangnya dan orang - orang yang mendukung tindakannya keluar itu sudah cukup bagiku." suara hati Altha saat dia diam menatap Ye Rin.
...🍁🍁🍁...
Pembangunan lorong bawah tanah yang diminta oleh Altha sudah berjalan setengahnya dan pekerja yang dikerjakan oleh Yaris ada sekitar 30 orang yang membantu dan 10 orang petugas ahli. Mereka semua adalah orang - orang yang dulu dibantu oleh Riri selama dalam barak pengasingan dan orang - orang yang pernah dibantu Riri diluar barak pengasingan, karena Yaris hanya percaya pada mereka yang pernah dibantu Riri saja, sebab mereka adalah orang - orang yang akan berdiri di pihak Riri.
"Wah aku tak tau kalau pangeran akan memiliki tempat rahasia seperti ini, dan juga semua Banda yang ada ditempat ini adalah benda - benda yang dulu pernah tuan putri gunakan untuk membantu dan menolong kita."
"Iya benar, aku juga tak menyangka ada tepat seperti ini. Rasanya aku berada di dunia lain yang berbeda."
__ADS_1
Mereka semua sedang berkasak kusuk karena tak menyangka dan juga kaget kalau di tempat seperti hutan ini ada tempat yang sungguh sangat berbeda dengan di dunianya.
"Sudah kalian jangan banyak bicara kita harus cepat karena pangeran ingin kita bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat." Jiyang memerintahkan pada mereka semua.
"Iya, melihat alat - alat ini aku jadi rindu dengan tuan putri Jiyang." ucap rekan jiyang
"Benar aku juga rindu dengan tuan putri, apakah tuan putri baik - baik saja? Kenapa waktu ada perang di perbatasan tuan putri tak datang membantu tapi malah tabib senior yang datang." yang lainnya juga menanyakan hal yang sama dan sedang bertanya - tanya
Orang - orang itu kembali lagi ramai membicarakan Riri yang tak datang membantu saat peran perbatasan. Dan mendengar itu Jiyang juga ikut berfikir akan hal itu karena dia juga tak melihat Riri di kediaman pangeran saat kembali.
"Jiyang katakan apakah tuan putri baik - baik saja?" tanya orang - orang itu pada Jiyang karena Jiyang dan Yaris yang mengikuti tuan putri untuk kembali ke kediaman pangeran.
"Untuk itu aku juga bertanya karena aku tak melihat tuan putri di sana, dan pangeran juga tak membicarakannya. Terlebih lagi saat pangeran datang yang menyambut justru putri Ye Rin, putri Youri tak ada ditempat." jelas Jiyang yang juga merasa tak tau apa - apa.
...🍁🍁🍁...
"Oh, jadi kamu sudah mulai dekat dengan dia ya?" pangeran kedua datang menemui Ye Rin dikediaman pangeran Altha seperti biasanya.
"Pangeran kedua." Ye Rin kaget karena pangeran kedua datang tiba - tiba tanpa pemberitahuan.
"Hem, jadi setelah dekat dengan dia kau memanggilku dengan sebutan pangeran kedua, tidak kakak Jang lagi? Apa kau sudah tak merindukan ku dan tak menginginkan diri ku lagi?" pangeran kedua berjalan mendekati Ye Rin. "Apa kau tau kalau aku sangat merindukan mu, dan aku tak suka berbagi dengan orang lain apa lagi itu dia." pangeran kedua mendekap tubuh Ye Rin dengan kuat. "Ingatlah Ye Rin bahwa kau adalah milik ku dan hanya untuk ku seorang. Walau kau dekat dengan dia kau tak boleh bermain hati dengannya karena kau adalah wanitaku." pangeran kedua membawah Ye Rin ketempat tidur dan mereka menghabiskan malam bersama.
"Eh, jadi putri Ye ada hubungan dengan pangeran kedua ya?" gumam Dae Si yang sedang mengawasi kawasan dari putri Ye dikediaman pangeran.
"Berhenti, jangan terlalu mendekat nanti kita akan ketahuan. Sebaiknya kita kembali, setidaknya kita sudah tau kalau mereka punya hubungan yang seperti itu. Ayo." Jiu Li menarik Dae Si untuk menjauh dan Kemabli kekamarnya.
__ADS_1
"Kakak Jang apa yang kau lakukan? Ye Rin mana berani mengkhianati mu." Ye Rin memeluk pangeran kedua setelah mereka menikmati permainan mereka.
"Begitu kah? Katakan apa yang kau ketahui tentang Altha sejauh ini?" tanya pangeran kedua saat dia telah selesai dengan permainan mereka.
"Pangeran pertama memiliki kebiasaan baru yaitu dia sering keluar malam dan menghilang disetiap malam, lalu kembali dipagi hari." jawab Ye Rin menjelaskan.
"Kau tau kemana dia pergi? Apa kau sudah mengintainya dengan baik selama ini dia pergi kemana?" pangeran kedua bertanya dengan lembut sambil mencumbu lagi Ye Rin.
"Em, su.dah. Ah, aku menyuruh orang, ka.kak Jang, hentikan dulu." Ye Rin menahan gerakan pangeran kedua yang sedang menjelajahi tubuh Ye Rin, "Pangeran pertama pergi ke daerah barat dan masuk ke hutan bulan." jelas Ye Rin. Dan mendengar itu pangeran kedua langsung menyuruh orangnya untuk mengintai pangeran Altha di hutan bulan.
...🍁🍁🍁...
Buk. (Riri memukul lengan Altha dengan sangat keras karena Altha sulit untuk dibangunkan)
"Altha bangun, mau sampai kapan kau tidur. Pergilah sudah pagi." Riri memukul lengan Altha yang tak mau bangun walau sudah digoyang - goyang tubuhnya sama Riri.
Altha langsung memeluk tubuh Riri dan menatapnya dengan senyuman, "Hem, kenapa kau begitu kasar membangunkan ku. Apa semalam aku belum memuaskan mu? Atau kau masih kurang, aku bisa melakukannya lagi sekarang." Altha membalikkan tubuh Riri dan melahap bibir Riri dengan rakus.
"Hem! Apa kau sudah gila dasar mesum, pergilah ini sudah pagi dan jangan membuat masalah untuk ku." Riri mendorong kuat tubuh Altha menjauh dari dirinya.
"Kenapa begitu cepat kau mengusir ku, rupanya aku memang belum memuaskan mu ya." Altha menatap dengan jail dan menggelitik Riri.
Riri tertawa terpingkal - pingkal "Hentikan, itu karena kau datang terlalu malam kemaren." jawab Riri sambil memegangi tangan Altha.
"Baiklah, nanti malam aku akan datang lebih awal persiapkan dirimu untuk ku istriku." ucap Altha tersenyum dan mulai memakai bajunya.
__ADS_1
Altha melangkah keluar dari ilusi hutan berniat meninggalkan Riri, namun saat dia berbalik dan keluar dari ilusi tiba - tiba saja ada seseorang yang menegur Altha sehingga membuat Altha terkejud karena dia belum ada persiapan.
"Pangeran Altha." suara seseorang memanggil Altha tepat dibelakangnya.