Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Jebakan


__ADS_3

"Yaris terima kasih kamu telah membantu kami." Riri mengucapkan terima kasih pada Yaris yang datang mengingatkan Riri kalau pangeran Cu Shang datang mengintai hutan bulan.


"Tak masalah, karena pangeran memang meminta untuk melindungi tuan putri. Dan aku juga memang ingin selalu bersama dengan tuan putri." Yaris menjawab dengan sangat senang.


"Baiklah, ayo kita pindahkan semuanya ke lebah bunga. Karena cepat atau lambat mereka pasti akan kembali lagi kesini dengan rombongannya." Riri meminta Yodon dan Yaris membantunya memindahkan semua bahan obat yang sudah dijemur ke lembah bunga.


"Pangeran menyiapkan tempat untuk tuan putri, mungkin sebentar lagi akan selesai karena Jiyang yang memimpin pembangunannya." Yaris menceritakan pada Riri kalau Altha sedang membangun lorong bawah tanah yang terhubung dengan tempat rahasia yang ditinggalkan oleh nenek Riri.


"Dia menyiapkan begitu baik untuk ku." gumam Riri tersenyum karena dia tak lagi harus bersembunyi dan menghindari Altha karena takut, Karena sekarang Altha bagaikan pelindungnya dan orang yang sangat peduli dengan dirinya.


"Tuan putri, semua sudah dipindahkan. Bagaimana dengan rumah bambu?" Yodon yang selesai beres - beres bertanya mengenai rumah bambu yang ditinggalkan.


"Kakek Gu pasti akan mengerti, untuk sementara biarkan saja seperti itu." Riri menjawab setelah memperhitungkan semuanya.


"Apa tuan putri akan kembali ke istana pangeran? Mereka pasti akan sangat senang melihat tuan putri, karena waktu itu tuan putri pergi begitu saja tanpa memberitahu pada mereka." Yaris bertanya dan juga memberitahu soal para dayang Riri.


"Entahlah, tapi jika memungkinkan aku pasti akan kembali." jawab Riri tersenyum.


...🍁🍁🍁...


Sementara di kediaman pangeran kedua setelah mendapatkan pemberitahuan dan informasi dari bawahan pangeran Cu Shang, pangeran kedua pun memiliki rencana dan ide yang akan dilakukan untuk menjebak pangeran pertama.


"Aku harus bisa memanfaatkan semuanya dengan baik." gumam pangeran kedua.


Malam itu pangeran kedua memanggil selir Yui Lan untuk memintanya memberi sesuatu ke Altha dalam pesta ulang tahun ayahnya nanti, dan dengan itu pangeran kedua akan punya waktu untuk menjalankan rencananya.


"Baik suamiku, aku akan melakukan sesuai dengan perintah mu." jawab Yui Lan dan dia pun pergi dari kamar pangeran Jang Yong.


"Hem, Yui memang yang terbaik karena dia paling bisa diandalkan untuk melakukan sesuatu." gumam pangeran Jang Yong.


Tuan Lan Yu, tuan Sue Liu, dan tuan Du Gong para sekutu pangeran Jang Yong telah berkumpul dan mereka semua mau merencanakan penjebakan yang diperintahkan oleh pangeran Jang Yong.


"Pangeran apa benar kita bisa melakukan ini pada pangeran pertama di acara pesta ulang tahun yang mulia raja?" tanya tuan Lan Yu yang merasa sedikit ragu dengan rencana yang disusun oleh pangeran Jang Yong.


"Tenang saja aku akan mengatur semuanya, kalian cukup memberikan dukungan padaku itu saja.* jelas pangeran Jang Yong dengan percaya diri kalau rencananya kali ini akan berhasil.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


Setelah hari itu Altha sangat sibuk dan dia tak pernah mengunjungi Riri sama sekali, karena persiapan ulang tahun ayahnya dan juga pembuatan lorong rahasia membuat Altha banyak disibukkan hingga hampir tak punya waktu untuk istirahat.


"Pangeran, sepertinya pangeran kedua sedang merencanakan sesuatu. Aku takut kalau hal itu akan berdampak pada pangeran." ucap Yorgun pada Altha yang merasa curiga dengan gerak gerik dari pangeran kedua.


"Aku tau, untuk sementara abaikan saja karena kita belum tau apa yang ingin dia lakukan." jawab Altha dan Yorgun pun diam tak melakukan penyelidikan lagi.


"Pangeran persiapan untuk pesta semuanya telah selesai dan kita hanya perlu menambahkan bunga segar disaat pesta berlangsung saja." lapor dari orang yang diperintahkan oleh Altha untuk menghias aula untuk pesta.


"Baiklah, terima kasih untuk semuanya." jawab Altha dengan sangat puas melihat hasil kerja orang - orang itu.


"Kakak, aku tak menyangka kalau kau menyiapkan semuanya dengan sangat bagus, aku sungguh sangat tersanjung. Bisakah kau juga menyiapkan seperti ini di acara pesta ulang tahun ku nanti." pangeran ketiga memuji persiapan dari Altha.


"Bukan pesta ulang tahun, yang benar adalah pesta pernikahan mu." jawab Altha dengan lembut dan menyentuh kepala pangeran ketiga.


"Jangan membuat ku malu dihadapan bawahan mu." pangeran ketiga menepis tangan Altha.Dan Altha menanggapi dengan senyuman.


Setelah itu Altha sibuk dengan urusan pembangunan lorong bawa tanah yang sedang dia siapkan untuk Riri. Hingga Altha menyerahkan sisa dari dekorasi kepada selir Sui, termasuk persiapan hiasan yang akan terbuat dari bunga segar.


"Wah ini pesta yang sungguh sangat meriah, selamat ulang tahun yang mulia."


"Yang mulia semoga panjang umur."


"Yang mulia selamat ulang tahun dan semoga panjang umur."


Para tamu dari berbagai perwakilan daerah dan para petinggi berdatangan dan memberikan ucapan selama pada yang mulia raja yang saat ini sedang merayakan ulang tahun yang ke 70 tahun.


"Baik - baik, terima kasih atas semuanya dan aku sungguh sangat bahagia. Ayo kita berpesta dan selamat menikmati pesta ini." ucap raja dengan sangat senang.


"Ayah, selamat ulang tahun semoga ayah selalu sehat dan panjang umur selamanya." ucap pangeran kedua yang datang terlambat sambil membawahkan hadiah untuk ayahnya.


"Kau selalu memberikan hadiah yang istimewa disetiap ulang tahunku." jawab raja dengan senang menerima hadiah yang diberikan oleh pangeran kedua.


Pesta malam itu pun berlangsung sangat meriah dan semua orang berbaur jadi satu hingga larut malam. Semua orang sangat menikmati pesta itu hingga banyak dari meraka yang mabuk karena kebanyakan minum.

__ADS_1


Begitu juga dengan pangeran Altha yang tiba - tiba merasa pusing setelah meminum minuman yang diberikan oleh selir Sui kepadanya. Dalam keadaan mabuk dan berusaha untuk menyadarkan dirinya pangeran Altha pergi dari aula perjamuan berniat untuk kembali, namun karena rasa pusing yang amat sangat sehingga pelayan di kerajaan itu membantu pangeran Altha untuk istirahat di kamar kerajaan saja dan kembali besok pagi.


"Terima kasih, tolong kamu panggilkan Yorgun untuk kesini." ucap Altha pada pelayan itu lalu dia tertidur.


Keesokan harinya suasana sudah sangat ramai dan orang - orang sangat gaduh serta berlalu lalang dengan panik. Altha yang merasa terganggu dengan hal itu pun jadi terbangun dan dia kaget karena ditangannya ada sebuah pedang yang berlumuran darah. Altha melempar pedang itu dan menggosok tangannya, dia bingung apa yang terjadi. Meski berusaha keras Altha tetap tak bisa mengingat kejadian semalam.


"Pangeran Altha, pangeran Altha apa anda sudah bangun? Ada orang yang berniat mencelakai yang mulia raja dan sekarang yang mulia raja sedang dalam keadaan kritis karena banyak luka sayatan ditubuhnya, tabib senior sedang melihat dan mengobatinya." teriak seorang pelayan dari luar kamar Altha.


"Biar aku yang melihat." ucap Yorgun yang datang. Dan pelayan itu pun pergi.


"Pangeran." Yorgun yang membuka pintu kamar itu terkejud melihat kondisi Altha yang meringkuk di lantai dengan noda darah ditubuhnya. "Pangeran apa yang terjadi?" Yorgun langsung menutup pintu dan mendekati Altha.


"Aku tidak tau, aku terbangun sudah seperti ini. Aku tidak ingat apa pun." jelas Altha bingung.


Dan pangeran kedua langsung datang menerobos masuk lalu berteriak dengan sangat keras sehingga semua orang datang. Melihat itu pangeran kedua tersenyum samar dan merasa menang karena dia telah berhasil memfitnah pangeran Altha nanti.


"Kakak, jadi semua ini adalah perbuatan kakak? Kenapa, kenapa kakak tega melakukan ini pada ayah kak, padahal selama ini ayah sungguh sangat percaya pada kakak dan juga sangat menyanjung kakak." teriak pangeran kedua dan itu membuat semua orang tak menyangka kalau pangeran Altha tega melakukan hal keji pada ayahnya.


"Tidak, ini semua bukan perbuatan pangeran. Ada orang yang berusaha untuk menjebak dan memfitnah pangeran." jelas Yorgun membela Altha.


"Memfitnah. Jelas - jelas ada pedang dan juga noda darah, bagaimana bisa memfitnah." teriak pangeran kedua lagi menambah opini yang akan membuat orang - orang percaya kalau pangeran Altha lah yang mencelakai yang mulia raja.


Pangeran ketiga mendekati Altha dan menatap Altha serta menggoyangkan tubuh Altha yang terlihat lemas tak berdaya, "Kak, Kenapa, kenapa kakak melakukan ini? Katakan kalau ini tidak benar kak, katakan." pangeran ketiga juga bertanya dan berusaha untuk meyakinkan dirinya kalau itu bukan perbuatan dari kakak pertamanya.


"Choi Yong, kenapa kau masih saja berpihak pada penghianat. Apa kau bersekongkol dengannya?!" kesal pangeran kedua pada adiknya.


Dari semua pertanyaan itu pangeran Altha tak punya jawaban karena dia sendiri juga bingung dengan situasinya saat ini, Altha tak punya pembelaan dan dia juga tak menyangkal. Sikap diam dari pangeran Altha membuat semua orang bingung dan menduga - duga.


"Sudah jangan banyak berfikir, kita harus menahan pangeran pertama dan memberinya hukuman sebagai seorang penghianat kerajaan karena dia telah berani melukai yang mulia raja dan membahayakan nyawa yang mulia raja." pangeran kedua memberikan saran.


"Tidak, pangeran tak bersalah. Ini pasti jebakan." Yorgun masih bersih keras membela Altha.


"Kau bersekongkol dengan dia, maka kau juga akan ditahan bersamanya. Bawah mereka berdua ke aula." teriak kesal pangeran kedua dan para pasukan kerajaan menyeret pangeran Altha dan Yorgun ke aula kerajaan untuk diadili.


"Tunggu, aku mau menerima hukumannya jika ayahanda sendiri yang memberiku hukuman, jadi biarkan ayahanda sadar dan memberikan kejelasan." jawab pangeran Altha ditengah - tengah aula pengadilan.

__ADS_1


Semua orang berkasak kusuk dan membenarkan kata - kata pangeran pertama, karena keputusan ini tak bisa diputuskan dengan begitu saja sebab tak ada saksi. Akhirnya semuanya sepakat dan akan menunggu yang mulia raja bangun untuk bertanya apa yang sedang terjadi.


__ADS_2