
"Silakan untuk kedua pasangan untuk memasuki aula dan harap memberikan penghormatan pada leluhur dan juga kepada langit dan bumi sebagai saksi bersatunya antara keduanya." teriak seseorang yang membuat Riri kaget.
"Ayo, ingat jangan melakukan kesalahan ikuti saja, kita sudah sampai di sini nanti aku jelaskan." bisik Altha lalu kedua pelayan Riri tadi memberikan sebuah selendang merah dan untaian bunga.
Riri yang merasa kaget serta bingung hanya bisa menahan diri dan melalui semua ritualnya dengan diam dan hati yang sangat marah serta dendam pada Altha yang telah menipunya dengan melakukan semua ritual itu tanpa memberitahukan terlebih dahulu pada dirinya.
"Dia menipuku rupanya, tapi aku tak bisa berbuat apa pun karena di sini ada banyak orang penting serta raja yang hadir, akan kah aku dipenggal jika aku menolak dan berbuat ulah." gumam Riri dalam hati, karena mau sekaget apa pun Riri tak bisa mundur lagi dan melalui pesta itu dengan kesal karena merasa terjebak.
"Kau harus menerima pembalasanku nanti, awas saja kau berondong kejam dan mesum." Riri terus saja menggerutu dalam hatinya sampai semua ritual itu dilakukannya sampai selesai.
"Selamat pada pangeran mahkota, selamat pada putri mahkota, selamat pada yang mulia raja." teriak semua orang memberikan selamat pada Riri dan Altha serta raja.
Altha tersenyum lebar dan menerima ucapan selamat dari para menteri dengan sangat senang. Sementara Riri yang diam menahan amarah untuk Altha, dalam hati Riri rasanya dia ingin mencincang Altha hidup - hidup.
"Selamat kakak, selamat kakak ipar." ucap pangeran ketiga pada Altha dan Riri yang telah menyelesaikan upacara pernikahan mereka berdua.
"Apa ini sebenarnya, dan aku baru tau kalau ini adalah upacara pernikahan yang tak seharusnya aku lakukan dengan orang ini karena ini adalah jaman yang aku tak tau dan tak mengerti sama sekali. Aku harus benar - benar mengakhiri ini semuanya karena aku masih ingin kembali ke duniaku." gumam Riri dalam hatinya hingga dia tak sadar banyak orang ya g mengucapkan selamat untuknya.
"Tak ku sangka kakak begitu terburu - buru hingga mengadakan pesta yang tak ada apa - apanya seperti ini. Apakah ini hanya trik kakak untuk memenangkan hati ayah agar ayah memihak pada mu, tapi urusan tahta masih belum ditentukan walau kedudukan putra mahkota berada ditangan mu." ucap pangeran kedua pada Altha yang merasa tak terima dengan keputusan yang diberikan oleh raja.
Sehari sebelumnya.
"Altha menghadap pada ayahanda." ucap Altha mengucapkan salam pada ayahnya saat dia datang menghadap.
"Katakan, aku dengar dari Baron bahwa kau ingin bicara padaku mengenai hal penting." ucap raja saat dia melihat pangeran Altha datang secara khusus menghadap pada dirinya yang tak pernah sekali pun dilakukan oleh pangeran Altha selama ini.
"Sebelum aku mengatakan apa tujuan ku datang menghadap aku harap ayah dapat mengumpulkan semua mentri dan juga para pejabat lainnya di aula pertemuan." ucap Altha mengusulkan dan itu membuat raja juga Baron pengawal raja merasa heran.
Namun tanpa berkata dan bertanya lebih lanjut raja menyuruh Baron untuk mengundang semuanya ke aula pertemuan dan berkumpul disana, serta raja meminta untuk tak diganggu pembicaraannya selama dia bicara dengan pangeran Altha terlihat sangat serius.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau sampaikan." raja berkata dengan penuh wibawa sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Sebelumnya aku meminta maaf karena kelancangan putri Yourina dipertemuan sebelumnya selaku tunangan dan orang dari kediaman ku." ucap pangeran Altha.
__ADS_1
"Lupakan soal itu, aku sudah tak mempermasalahkan soal itu. Sekarang katakan tujuanmu." ucap raja dengan tenang menatap pangeran Altha.
"Aku Altha Yong putra pertama dari raja Gusang Yong di kerajaan Dong Li meminta haknya atas pengangkatan sebagai putra mahkota yang dulu telah dijanjikan oleh raja kepadaku.". pangeran Altha bersimpuh dihadapan raja.
"Apa kah kau sudah mau menanggung beban dan juga menjunjung tinggi kerajaan ini?" tanya raja yang sebenarnya dalam hatinya dia merasa senang karena pangeran Altha mau menerima kedudukannya sebagai putra mahkota.
"Aku bersedia, karena hanya dengan itu aku bisa menjaga serta melindungi tunangan ku yang saat ini banyak diincar oleh kalangan bangsawan serta negara - negara lain. Maafkan aku ayah, karena aku melakukan ini dengan kesan aku hanya ingin berkuasa demi kepentingan ku sendiri." ucap pangeran Altha yang masih bersimpuh dihadapan raja.
"Aku tak masalah, asalkan kau mau menerimanya itu sudah cukup bagi ku. Namun apa yang kau inginkan dengan menyuruhku mengumpulkan semua para petinggi di aula pertemuan saat ini?" raja yang tak pernah bisa memahami dan mengerti jalan pikiran pangeran Altha pun mulai menanyakan tujuan dari pangeran Altha.
"Ayah, aku memang putramu. Tapi ingatlah bahwa putramu tak hanya aku saja melainkan masih ada Jang Yong dan Choi Yong putra dari kedua selir ayah yang lainnya. Jika ayah hanya mengangkat ku sebagai putra mahkota karena aku putra istri ayah itu tak akan adil, jadi aku ingin mengambil suara terbesar untuk melakukan pemilihan ini. Dengan begitu tak akan ada lagi orang yang akan mengatakan kalau ayah berbuat tak adil, karena dari kami bertiga semua adalah putra ayah." ucap pangeran Altha menjelaskan panjang lebar pada ayahnya, dan raja merasa kaget karena dia tak berfikir sejauh itu.
"Dan yang paling penting dari tujuanku menghadap pada ayah secara khusus adalah, aku ingin melangsungkan pernikahanku dengan putri Yourina sesegera mungkin. Namun tak perlu diadakan pesta karena aku tak ingin mengundang banyak perhatian, yang ku inginkan hanyalah bahwa aku dan dia resmi menjadi suami istri itu saja." pangeran Altha menatap raja, "Jadi aku berharap ayah mengijinkannya apa yang akan ku rencanakan kedepannya, serta memberiku wewenang untuk melakukan dan memberikan keputusan sesuai dengan apa yang aku inginkan serta aku pikirkan." sambung pangeran Altha lagi dan raja hanya diam menatap wajah serta sorot mata pangeran Altha yang tak memiliki keraguan disetiap kalimat yang dia ucapkan.
"Hem, jadi itu tujuanmu ya." raja berdiri dan berjalan mendekati pangeran Altha yang masih dalam posisi bersimpuh.
"Apa yang kau pikirkan dan kenapa kau ingin melangsungkan pernikahan yang sederhana." ucap raja berdiri tepat didepan pangeran Altha.
"Maafkan aku ayah, aku sudah tau kalau Jang Yong juga menginginkan Yourina dan dia telah mengajukan diri pada ayah sebagai pengganti ku. Dan sebagai tunangannya aku hanya tak ingin orang ku jatuh ketangan orang lain." jawab Altha sambil terunduk.
Pangeran Altha tersenyum "Aku tau harus bagaimana." jawabnya dan raja menepuk bahu pangerann Altha.
"Ayo, kau harus menghadapi dulu mereka semua sesuai dengan keinginanmu." raja berjalan keluar dari ruangannya dan menuju ke aula pertemuan.
Dalam aula pertemuan yang sudah berkumpul banyak orang yang mulia raja menjelaskan apa yang tadi dibicarakannya secara khusus dengan pangeran Altha dan meminta mereka semua yang hadir disana untuk memberikan suara mereka serta alasan mereka tanpa harus melihat dari mana para ketiga putranya itu.
Pangeran Jang Yong yang mendengar itu merasa marah dan juga geram dengan pangeran Altha yang dianggapnya hanya cari simpati serta dukungan dari para petinggi saja.
"Baiklah, sepertinya tak ada masalah dan juga alsan yang akan merugikan semuanya kalau mulai hati ini aku menobatkan putra pertamaku Altha Yong sebagai penerus ku dan juga putra mahkota." ucap raja dengan lantang saat semua suara sudah terkumpul dan semuanya memilih pangeran Altha dengan alsan bahwa pangeran Altha lebih cocok dan juga memiliki kekuatan yang lebih dominan dalam segala hal.
Kembali kesaat ini.
"Kau tak perlu merasa ciut untuk itu, jika kau memang mempunyai kemampuan silakan lakukan saja." jawab Altha sambil berbisik pada pangeran kedua.
__ADS_1
"Kau." pangeran kedua mengepalkan tangannya menatap dengan marah pada Altha yang sedang menatapnya datar.
"Bawah putri untuk istirahat." ucap Altha pada kedua pelayan Riri.
"Tuan putri silakan beristirahat dan menunggu pangeran didalam kamar pengantin." ucap kedua pelayan baru Riri.
Riri berjalan tanpa menolak walau didalam hatinya dia sangat marah dengan sua tindakan yang telah dilakukan oleh Altha kepada dirinya hari ini. Tanpa bicara Riri pergi begitu saja meninggalkan aula setelah dia dan Altha melangsungkan pernikahan.
"Kau tak perlu menunjukkan tatapan tak sukamu seperti itu, karena sejak awal aku tak berencana untuk berpisah dari Yourina. Kau harus ingat aku telah resmi menjadi pasangan pengantin dan suami istri yang tak akan bisa dipisahkan oleh siapa pun, dan ini adalah kepuasan ku." ucap Altha dengan tatapan yang sama tajamnya dengan pangeran kedua.
Setelah sekian lama acaranya pun mulai usai dan semua orang kembali kekediaman mereka masing - masing begitu juga dengan yang mulia raja. Dan acara itu anehnya Altha tak memberitahu kepada keluarga Yourina sehingga tak ada satu pun dari keluarga Yourina yang hadir.
"Pangeran." sapa kedua pelayan Riri saat dia melihat Altha masuk kedalam kamar pengantin.
"Pergilah kalian." ucap Altha dan mereka berdua keluar meninggalkan kamar pengantin.
Riri yang sudah melepas semua atribut mulai dari baju dan juga riasan menatap Altha dengan tajam, dan Altha tau kalau Riri saat ini sedang marah pada dirinya. Tapi Altha tak merasa kesal dan dia tersenyum setelah menutup pintu kamar.
"Hoe." Altha kaget karena tiba - tiba Riri melemparkan dengan bantal.
Amarah Riri yang telah ditahannya dari tadi telah memuncak dan meluap sehingga dia tak lagi bisa menahan diri untuk tak marah dan melampiaskan semuanya pada Altha. Riri tak peduli lagi dan dia tak mau tau siapa Altha, seolah rasa takutnya pada Altha hilang seketika.
"Apa kau gila hah?! Kau telah menipu ku dan telah memanfaatkan ketidaktahuanku pada semuanya. Sekarang aku tak peduli lagi mau dipenggal atau apa pun." teriak Riri dan mengacungkan pedang pada Altha.
"Batalkan semuanya aku tak pernah mau menikah dengan mu." teriak Riri lagi dan mulai mengayunkan pedangnya.
Pimpinan perang tentu saja bukanlah tandingan Riri yang seorang amatir dan baru bisa belajar bermain pedang, tapi Altha terus saja tersenyum melihat tingkah Riri dan usaha Riri untuk melampiaskan segala Rassa kesalnya pada dirinya.
"Dengarkan aku dulu, tenanglah." ucap Altha yang menahan setiap serangan Riri dengan sebuah sumpit.
"Diam.! Aku tak terima kau perlakukan aku seperti ini, dari awal kau tau aku tak ingin menikah dan berhubungan dengan mu." Riri teriak sambil ngos - ngosan karena berkelahi dengan Altha.
Altha tertawa melihat Riri yang terus saja berusaha ingin melukainya dengan pedang karena rasa kesalnya. Altha sadar kalau amarah Riri kini telah memuncak dan dia ingin melampiaskan semuanya pada Altha, namun rencana Riri gagal karena Altha telah mengurungnya dalam pelukan yang dalam serta memulai kurungannya.
__ADS_1
"Ah." Riri terjatuh dalam posisi Altha memeluknya.
"Kau telah terkurung." bisik Altha didekat telinga Riri.