
Setelah hari itu pangeran Altha tak mengatakan apa - apa lagi, dia tetap bersikap seperti biasa pada Riri. Dan Riri juga selalu memberikan perhatian pada keseharian dia merawat luka Altha. Sedangkan Altha selalu memanfaatkan Riri, dan dalam perhatian penuh yang diberikan oleh Riri pada dirinya pangeran Altha pun menipu Riri dalam segala hal, termasuk untuk menipu Riri agar mau mengenakan baju merah karena pangeran Altha berbohong kalau baju itu adalah hadiah darinya untuk Riri.
"Hadia? Hadiah untuk apa, dan kenapa harus memberiku hadiah?" Riri yang merasa curiga pun mulai mempertanyakan pada Altha.
"Bukankah sudah ku bilang kalau itu adalah bentuk caraku menghormati mu yang selama ini telah memperhatikan dan merawat ku hingga aku sembuh, dan itu adalah cara untuk mu yang harusnya menghargai apa pemberianku padamu." ucap Altha berusaha menipu Riri dengan kalimatnya yang terdengar begitu meyakinkan.
"Apa an, aku melakukan semuanya dengan tulus dan tak mengharapkan hadiah apa pun dari mu, jadi kau tak perlu terlalu sungkan pada ku sampai harus memberiku sebuah hadiah." Riri berusaha untuk menolak hadiah yang akan diberikan oleh Altha pada dirinya.
"Baiklah kalau begitu kau punya 2 pilihan, kau menerima hadiah ku atau kau harus menerima hadiah dari ku." ucap Altha sambil tersenyum menatap Riri yang terlihat sedang berfikir dalam.
"Eh, itu pilihan apa. Semua pilihannya sama hanya beda di kalimat penyampaiannya saja." Riri merasa kesal pada Altha yang seakan memaksakan kehendaknya untuk memberikan hadiah pada dirinya.
Altha tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Riri, karena Altha memang berniat untuk memaksa agar Riri mau menerima hadiah darinya dengan cara apa pun.
"Kenapa dia begitu bersih keras ingin aku menerima hadiah darinya sih?" Riri berfikir dan bergumam dalam hati sambil menatap Altha yang sedang duduk santai didepannya sambil minum teh setelah tertawa terbahak.
"Sebenarnya ada apa dengan mu dan kenapa aku harus menerima hadiah itu, untuk apa juga memberiku hadiah. Mencurigakan." Riri terus saja memperhatikan Altha seksama.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tak akan melakukan hal yang buruk pada mu." ucap Altha tanpa melihat Riri.
"Memang apa hadiahnya kalau boleh aku tau?" tanya Riri yang mulai merasa penasaran dengan hadiah yang akan diberikan oleh Altha pada dirinya.
"Emmm, enaknya apa hadiah yang harus ku berikan. Kamu ingin aku memberikanmu hadiah apa, dan apa yang kau sukai?" Altha menatap Riri dan berusaha menanyakan pendapat Riri.
"Aku tak tau, terserah kamu mau memberiku hadiah apa kenapa tanya padaku, sudalah aku pergi dulu." Riri berdiri dan keluar dari kamar Altha.
"Tunggu, apa kau tau acara pemberian berkat pada langit dan bumi serta hormat pada leluhur dan juga pada yang lainnya?" Altha berusaha menghentikan Riri dan menanyakan pada Riri ritual pernikahan yang ingin Altha sampaikan dengan cara memberikan kode pada Riri.
"Mana aku tau itu apa, lagian dinegara ku tak ada yang seperti itu, sudalah aku pergi." jawab Riri asal dan meninggalkan dengan terburu - buru menuju tempat latihan dihalaman belakang istana.
"Jiyang dimana Yaris?" teriak Riri begitu sampai ditempat latihan dan memanggil Jiyang yang sedang latihan malam itu serta menanyakan keberadaan Yaris yang mulai sering menghilang.
"Tuan putri memanggil ku, Yaris pasti akan datang jika tuan putri memanggil, apakah ada yang bisa aku bantu tuan putri?" ucap Jiyang mendekati Riri.
"Pergi ke kamarku sekarang." ucap Riri lalu pergi menuju kamarnya, dan Jiyang beres - beres untuk pergi ke kamar Riri.
__ADS_1
"Tuan putri." salam Yaris yang ternyata sudah berada didepan kamar Riri menunggunya.
"Ya ampun, kau selalu mengagetkan ku. Ayo masuk dan minum bersama dengan ku." ajak Riri pada Yaris dan Jiyang.
"Jiyang, Yaris apa kalian tau apa yang direncanakan oleh pangeran Altha? Seharian dia terus saja memaksaku untuk menerima hadiah dan dia juga menanyakan soal ritual apa yang aku tak paham maksudnya, apa kah kalian tau apa rencananya?" Riri mulai mengorek informasi dari Jiyang dan Yaris ditengah acara minum bersama itu.
Jiyang menatap Yaris karena dia tau kalau Yaris pasti bisa merasakan apa yang terjadi pada pangeran Altha dan juga pasti tau apa rencana pangeran Altha karena mereka berdua telah melakukan janji darah.
"Kenapa kau menatap ku, aku juga tak tau ada apa karena pangeran tak mengungkapkannya, mungkin Yorgun yang tau karena dia selalu bersama degan pangeran sejak kemaren." jawab Yaris dengan kesal pada Jiyang.
"Sudah - sudah kalian jangan bertengkar, kalau aku tanya pada Yorgun sama saja aku dengan tanya pada dinding dia tak akan mau memberi tau walau dia tau jawabannya. Dia itu kan anak buah yang paling setia pada Altha." Riri menghela nafas dalam "Aku tak tau ah, aku mau istirahat. Kalian di sini sampai aku tidur." Riri pun naik ketempat tidurnya.
"Kau beneran tak tau?" Jiyang masih penasaran dan bertanya pada Yaris.
"Hem, aku tak tau apa yang direncanakan oleh pangeran Altha." jawab Yaris santai dan itu meyakinkan Jiyang kalau Yaris benar - benar tak tau apa pun.
Kedua orang itu menunggui sampai Riri benar - benar terlelap dalam tidurnya baru perlahan pergi meninggalkan Riri sendiri didalam kamarnya. Jiyang kembali ke tempat latihan dan Yaris berdiam di depan kamar Riri diatas pohon.
Keesokan paginya Altha menyiapkan baju untuk Riri dan juga menyiapkan pelayan wanita yang ditempatkan disisi Riri. Dengan sabar kedua pelayan itu menunggu sampai Riri benar - benar terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi tuan putri Yourina, saya adalah pelayan yang akan melayani tuan putri mulai hari ini. Saya adalah Yu Wan dan saya adalah Jiu Li." ucap kedua pelayan yang baru saja diberikan oleh Altha untuk melayani keseharian Riri.
"Silakan tuan putri bersiap kami akan membantu." ucap kedua pelayan itu lagi.
"Ah, sudalah nikmati saja." gumam Riri dalam hati sambil tersenyum dan mengikuti arahan kedua pelayan barunya.
Kedua pelayan baru itu membantu Riri bersiap - siap setelah selesai mandi dan mereka juga menata rambut Riri dengan sangat rapi dan bagus. Riri merasa puas dan senang dengan pelayanan mereka, karena selama ini dia melakukannya sendiri, dan kalau kesulitan dia meminta Jiyang atau Yaris yang sebenarnya mereka berdua tak tau apa - apa soal menata rambut, itu sebabnya selama ini Riri hanya menguncir rambutnya apa adanya.
"Wah, kalian sungguh pintar menata rambut, ini bagus sekali." puji Riri pada kedua pelayannya.
"Terima kasih tuan putri, sekarang silakan kenakan baju tuan putri." ucap mereka berdua kalau membantu Riri memakai baju.
Dan tanpa disadari Riri mengenakan baju warna merah itu dengan sangat senang, dia tak tau apa yang telah menunggunya diluar. Riri tanpa curiga sedikit pun menyelesaikan semua persiapannya dengan sangat senang hati.
"Kau sedang berganti baju?" Altha yang tiba - tiba muncul mengagetkan Riri.
__ADS_1
"Hormat pada pangeran mahkota." salam kedua pelayan Riri.
"Katakan apakah ini kau yang menyiapkannya?" Riri tersenyum dan merasa senang dengan baju yang dikenakannya.
"Apa kau suka? Itu adalah hadiah dariku dan masih ada lagi yang menunggu." jawab Altha tersenyum.
"Benarkah, terima kasih aku sangat suka ini baju yang bagus." Riri tersenyum tanpa curiga karena dia telah merasa senang dengan hadiah baju dari Altha.
"Tapi, kenapa kau juga berpakaian rapi." Riri berkata dengan penasaran menatap Altha yang juga terlihat lebih rapi dari biasanya.
"Karena hari ini aku akan memberikan hadiah spesial untuk mu, bersiaplah aku tunggu diluar." ucap Altha lalu keluar.
"Jadi dia beneran tak tau menahu soal adat dan ritual pernikahan, baguslah kalau begitu." Altha tersenyum dan mulai memanfaatkannya.
"Aku sudah selesai, hadiah apa lagi yang akan kau berikan." Riri yang keluar dari kamarnya bertanya dengan riang.
"Hasil riasan mu dan juga baju itu sangat cocok untuk mu apa kau beneran suka?" Altha menatap Riri yang terlihat sangat ceria dan wajahnya terlihat sangat segar dengan dandanan yang berbeda dari biasanya.
"Suka bajunya bagus dan rambutku juga ditata dengan bagus, cantik tak." Riri menatap Altha dengan wajah imut.
"Cantik, ayo aku berikan hadiah utama mu. tapi kamu harus ingat karena nanti akan ada raja dan juga para menteri jadi kamu gak boleh berbuat kesalahan atau berkata yang aneh karena kamu bisa dihukum penggal dan aku tak akan bisa membantu mu." jelas Altha sambil berjalan ke arah aula istana.
"Apakah untuk mengambil hadiah saja sampai seperti itu? Aneh sekali, aku gak mau kalau begitu." Riri mau berputar balik namun Altha menahannya.
"Sudah terlambat, lihatlah." ucap Altha menunjukkan barisan mentri yang sudah datang.
"Mereka mau ngapain?" Riri merasa ada yang aneh dengan semuanya, namun belum sempat Riri berfikir Altha sudah menariknya masuk kedalam aula.
"Kedua pasangan harap memberikan penghormatan pada leluhur dan juga kepada langit dan bumi sebagai saksi bersatunya antara keduanya." teriak seseorang yang membuat Riri kaget.
"Ayo, ingat jangan melakukan kesalahan ikuti saja." bisik Altha lalu kedua pelayan Riri tadi memberikan sebuah selendang merah dan untaian bunga.
Riri yang merasa kaget serta bingung hanya bisa menahan diri dan melalui semua ritualnya dengan diam dan hati yang sangat marah serta dendam pada Altha yang telah menipunya dengan melakukan semua ritual itu tanpa memberitahukan terlebih dahulu pada dirinya.
"Dia menipuku rupanya, tapi aku tak bisa berbuat apa pun karena di sini ada banyak orang penting serta raja yang hadir." gumam Riri dalam hati, karena mau sekaget apa pun Riri tak bisa mundur lagi dan melalui pesta itu dengan kesal karena merasa terjebak.
__ADS_1
"Kau harus menerima pembalasanku nanti, awas saja kau berondong kejam dan mesum." Riri terus saja menggerutu dalam hatinya sampai semua ritual itu dilakukannya sampai selesai.
"Selamat pada pangeran mahkota, selamat pada putri mahkota, selamat pada yang mulia raja." teriak semua orang memberikan selamat pada Riri dan Altha serta raja.