Transmigrasi LOVE TO DEATH

Transmigrasi LOVE TO DEATH
Pekerja Keras


__ADS_3

Sudah hampir 1 tahun Riri telah bergabung dengan tim penyelamat, karena sejak dia kembali dan bekerja selama 1 tahun Riri memutuskan untuk ikut dalam tim para medis yang dikirim ke pusat bencana, dan dari kejadian itu pula Riri akhirnya memutuskan untuk mengikuti tim penyelamat dan bergabung dengan mereka, sehingga setiap ada bencana Riri dan para timnya akan langsung diterjunkan ke lokasi terjadinya bencana alam.


"Ha, segar sekali airnya." Riri yang menyeka wajahnya dengan air dari sumber pegunungan bergumam dan tersenyum dengan bahagia.


"Wah coba lihat ada siapa ini. Aku tak nyangka kalau dimana pun selalu melihat wajah yang tak asing ini disetiap tindakan." sapa seorang kapten dari regu penyelamat yang berasal dari tentara.


"Wah iya kapten, saya juga selalu melihat wajah kapten." Riri menjawab dengan tersenyum lebar.


"Aku tak mengerti kenapa seorang wanita seperti mu memilih untuk bergabung dengan tim penyelamat padahal kamu bukan berasal dari golongan para medis yang dari tentara." Kapten Suwono bertanya pada Riri.


Riri tersenyum "Awalnya saya juga tak berfikir untuk bergabung, namun setelah saya sendiri mengalami keadaan dalam bahaya dan telah mendapatkan penanganan akhirnya saya berfikir kalau harus ikut bergabung, sebab saya ingin segerah menolong dan menyelamatkan mereka yang terjebak dalam bahaya dengan segerah, kalau pun nantinya pada akhirnya mereka akan kembali pada sang pencipta setidaknya saya telah berusaha untuk menyelamatkan mereka dengan baik." jelas Riri dengan penuh tekad.


"Hem, ya aku sudah dengar kalau kamu dulu pernah terjebak dalam kobaran api dan jatuh koma." Kapten Suwono berkata dengan menepuk bahu Riri. "Kau melebihi dari seorang prajurit, sikap dan cara kerja mu sudah mirip seorang komandan perang dalam medan pertempuran dan semangat mu itu membuat kami para prajurit merasa bangga pada mu." sambung kapten Suwono lagi dengan tersenyum menatap Riri.


"Ya, mungkin saya sudah terbiasa berada di medan yang sulit dan harus berfikir keras dengan cepat akhirnya saya jadi terbiasa dengan semuanya." Riri menjawab juga dengan tersenyum.


"Ya, ya lihatlah dirimu. Siapa yang akan menyangka kalau kamu adalah seorang bidan. Karena dari segala tindakan kamu telah melebihi dari seorang dokter" kapten Suwono berkata dengan sangat serius.


"Sudah saya bilang tadi karena keadaan." Riri menjawab dan tertawa.


Suara tawa Riri dan kapten Suwono terdengar sangat senang, dan mereka menghabiskan sore hari dengan berbincang ringan sambil duduk diantara batu sungai yang dekat dengan sumber mata air dari pegunungan, karena kali ini Riri dan timnya ditugaskan untuk turun ke medan bencana tanah longsor yang ada diluar negeri.


Pagi itu Riri terlihat sangat sibuk dengan beberapa korban lagi yang ditemukan mengalami luka - luka, setelah menangani mereka Riri langsung mengirim mereka ke pusat pengobatan yang lebih bagus di rumah sakit terdekat. Dan pihak rumah sakit yang menerima mereka tinggal melanjutkan penanganan yang telah diberikan oleh Riri sebagai pertolongan pertama.


"Riri apa kamu bisa masuk kedalam? Karena lubang ini hanya bisa dimasuki oleh 1 orang saja dan itu sepertinya seukuran dengan tubuh mu." teriak komandan Sutris yang ingin menolong orang yang tertimbun reruntuhan rumah.


"Baik, baik saya akan mencoba untuk turun dan melihat keadaan orang itu. Ada berapa orang yang berada didalam reruntuhan itu komandan?" Riri bertanya dengan teriak karena suara derasnya hujan


"Ada sekita 2 kalau gak 3 orang didalam." komandan Sutris menjawab dengan suara lantang


"Baik saya akan bersiap - siap" Riri memasang perlengkapan untuk turun ke lokasi timbunan dan dia telah mengikat tubuhnya dengan perlengkapan panjat tebing.

__ADS_1


"Hati - hati lah, jika kamu sudah memastikan keadaan mereka maka beritahu dengan menarik talinya ok" komandan mengintruksikan pada Riri


"Ok, saya turun dulu." Riri pun mulai menuruni reruntuhan itu dengan hati - hati dan benar saja lubang pada cela reruntuhan memang sangat pas dengan ukuran tubuh Riri.


"Dia benar - benar seorang prajurit." gumam komandan Sutris yang melihat Riri turun.


Setelah sekitar 15 menit terasa tali tambang yang terhubung dengan Riri ditarik dan dengan cepat para kru menarik tali itu sehingga tim menariknya naik keatas lagi. Dan dengan hati - hati Riri keluar dari cela lubang lalu menceritakan suasana didalam serta menjelaskan kalau lubang harus diperbesar untuk bisa mengeluarkan mereka karena ada yang tak sadarkan diri dan tak akan bisa diangkat juga hanya dengan 1 orang saja yang masuk.


Setelah perundingan akhirnya diputuskan untuk melebarkan lubangnya dengan melihat kondisi medan saat digali untuk melebarkan cela lubang agar bisa dimasuki oleh setidaknya 3 orang. Dan Riri sudah masuk lagi untuk melindungi para korban dari reruntuhan yang mungkin akan mengenai mereka walau sudah dilakukan secara hati - hati.


"Awas, apa kalian tak apa?" Riri melindungi 2 korban dengan tubuhnya.


"Tidak apa nona, anda jadi tergores." Seorang wanita menatap Riri


"Tidak apa - apa Bu." Riri menjawab dengan senyuman.


"Riri bagaimana?" Kapten Suwono telah masuk dan membawah serta tambang lain untuk mengangkut korban.


"Kapten, tidak apa - apa saya baik - baik saja." Riri menjawab dengan senyuman dan membantu kapten Suwono menaikan korban dengan mengikat tambang pada salah satu korban yang akan diangkat ke atas.


"Tidak apa - apa, ayo angkat dia dulu keatas." Riri menarik tambang dan dengan cepat yang diluar langsung ditarik ke atas.


"Riri kau terluka" komandan Sutris melihat pipi dan kening Riri memiliki luka gores


"Tidak apa hanya luka kecil." jawab Riri dan kembali masuk lagi kedalam untuk menolong 2 orang lagi yang masih ada didalam.


"Dia benar - benar pekerja keras." gumam komandan Sutris tersenyum bangga pada Riri, karena pasalnya dari para tenaga medis hanya Riri yang begitu cekatan dan mau terjun langsung membantu para korban.


...💮💮💮...


Disaat Riri dan para tim penyelamat berusaha keras untuk menyelamatkan para korban ditempat lain ada seseorang yang merasa cemas dan khawatir yang sangat berlebihan, sehingga semua tindakannya hampir selalu salah dan gerak geriknya dapat dilihat jelas dari ekspresinya yang terlihat sangat tegang.

__ADS_1


"Yan, ada apa dengan mu? Ku perhatikan dari tadi kamu tak fokus." tanya tuan Soong atasan Yan Sa


"Ah, maafkan saya tuan Soong." Yan Sa menjawab dengan merasa bersalah.


"Tak masalah, tapi ada apa sebenarnya. Kenapa kamu terlihat sangat cemas apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu saat ini atau Wei menyulitkan mu lagi?" Tuan Soong bertanya lagi karena dia merasa tak biasanya Yan Sa melakukan kesalahan sampai berkali - kali.


"Maaf tuan Soong, saya hanya sedang mengkhawatirkan adik saya, sekarang dia sedang berada di lokasi bencana tanah longsor, tapi ini sudah lewat jam yang seharusnya dia menghubungi saya tapi sampai sekarang dia belum menghubungi saya, dan teleponnya juga tak bisa dihubungi" jelas Yan Sa dengan nada khawatir.


"Hem, sepertinya adikmu itu adalah tipe orang pekerja keras ya, karena jarang ada orang yang dengan suka rela masuk dalam tim penyelamat dan bekerja sama dengan para tentara." Tuan Soong memuji Riri karena dia tau cerita soal Riri dari Sun asisten Yan Sa.


"Saya juga tak tau, karena dia sangat sulit untuk dikendalikan dan keras kepala akhir - akhir ini." Yan Sa menjawab dan menghela nafas dalam.


Tuan Soong tertawa mendengarkan Yan Sa berkata dengan menghela nafas, karena taun Soong berfikir kalau Yan Sa pasti memiliki perasaan yang sama dengan dirinya yang sulit menghadapi putranya yang sulit untuk dikendalikan dan juga keras kepala. "Kau pasti sangat sulit menerimanya ya, sama dengan Wei Ying."


Tuan Soong menatap Yan Sa yang duduk didepannya "Apakah dia tak menyulitkan mu?"


"Tidak sama sekali tuan Soong, tuan muda juga jarang menyuruh saya karena hampir semua pekerjaannya dia kerjakan langsung* jawab Yan Sa dengan senyuman


Tuan Soong bernafas dalam, "Sejak dia kembali dia jadi aneh, dan seolah ada sesuatu yang penting dalam dirinya yang hilang, sudah hampir 2 tahun ini dia berkelana tanpa tujuan yang pasti, tapi aku senang sekarang karena dia memutuskan untuk terjun langsung dalam bisnis keluarga ini. Tapi dia jadi sepeti orang asing, wataknya yang keras dan ekspresi dinginnya jadi semakin dingin bahkan ibunya merasa dia sangat berbeda. Apakah dia tak pernah cerita sesuatu pada mu? Karena kalian sangat dekat akhir - lahir ini."


"Tidak ada tuan, tuan muda tak pernah cerita apa pun pada saya selain masalah pekerjaan" jawab Yan Sa dengan cepat.


"Apa dia tak menyulitkan mu? Karena selama ini kau telah mengerjakan semuanya sendiri untuk dirinya." Tuan Soong menatap khawatir pada Yan Sa.


"Sama sekali tidak tuan Soong." Yan Sa menjawab dan tersenyum.


"Sekarang dimana dia?" tanya tuan Soong yang dari tadi tak melihat putranya


"Tuan muda sedang melakukan rapat video." Yan Sa menjawab sopan.


"Hem baiklah, semoga semuanya berjalan baik dan jangan khawatir berlebihan adik mu pasti baik - baik saja, dan juga jangan bosan bekerja dengan Wei Ying yang keras itu. Kalian sudah berteman sejak lama sekali." Tuan Soong berkata dan menepuk bahu Yan Sa sebelum dia keluar dari ruangan Yan Sa.

__ADS_1


"Baik tuan Soong, terima kasih." Yan Sa memberikan hormat pada tuan Soong.


Seperginya tuan Soong Yan Sa kembali lagi duduk di kursinya dan menatap layar ponselnya yang masih juga tak ada telepon atau pesan dari Riri yang sangat dia khawatirkan. Berkali - kali Yan Sa menghela nafas dalam dan merasa tak sabar dengan perasaan cemas yang mengganggu hatinya itu.


__ADS_2