
Dengan ragu - ragu Riri melangkah mendekati Jie So dan melihat reaksi dari Riri Jie So merasa tak enak hati "Nona apa anda tak apa? Maafkan saya, saya hanya ingin membantu anda saja. Tolong maafkan kesalahan dari anak buah saya yang tadi berbuat kasar pada anda, saya mewakili mereka untuk meminta maaf kepada anda." ucap Jie So dengan sopan pada Riri.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkinkan." Riri bergumam sendiri dan terlihat bingung.
"Nona apa anda baik - baik saja?" Jie So merasa khawatir melihat Riri yang tepak bingung dengan sesuatu, dan dengan canggung Jie So melihat ke sekeliling orang yang melihatnya.
"Ini tidak mungkinkan." Riri menatap Jie So dan melangkah mendekati Jie So lebih dekat lagi, Riri menatap dan mengangkat kedua tangannya ragu - ragu saat berada tepat didepan Jie So.
Melihat itu Jie So merasa bingung dengan Riri, namun dia diam saja dan membiarkan Riri mendekatinya. Jie So menatap Riri mengangkat kedua tangannya dengan bergetar dan pandangan mata yang mulai berkaca - kaca serta menyentuh wajahnya dengan perlahan. Semua orang yang melihat adegan itu merasa kaget melihat Riri yang dengan begitu berani mendekati dan menyentuh wajah dari Jie So yang merupakan pengawal paling ditakuti oleh semua orang.
Tangis Riri langsung pecah saat dia bisa menyentuh wajah Jie So dengan nyata yang berdiri dihadapannya. Riri menggenggam erat krah jas Jie So dengan kedua tangannya dan langsung menenggelamkan wajahnya didada Jie So dengan tangis yang terdengar sangat menyakitkan hati karena menahan rasa rindu yang dalam.
"Nona anda tidak apa?" Jie So bertanya dengan bingung dan khawatir sambil menyentuh lengan Riri dengan lembut.
Tangis Riri semakin pecah lagi saat dia merasakan kalau Jie So menyentuhnya dan suaranya terdengar sangat jelas di telinganya. "Tidak, tidak, tidak. Kenapa ini terjadi, kenapa?" Riri terus menangis dan bergumam sehingga menjadi bahan tontonan banyak orang.
"Kenapa dengan Riri ya? Dia terlihat menangis dengan sangat sedih, apakah orang itu menindasnya? Aku tak pernah melihat Riri menangis dengan sangat sedih seperti itu." Desi dan yang lainnya yang melihat dari jauh merasa kasian dengan Riri tapi mereka tak bisa membantu karena dihalangi oleh beberapa orang pengawal.
"Benar, seperti ada beban yang dia simpan selama bertahun - tahun lamanya. Orang biasanya kuat dan tegas kenapa begitu sangat rapuh seperti itu, apakah orang itu adalah orang yang sudah lama dia carinya?" Alif membenarkan kata - kata Desi.
Dan semua teman Riri yang lain yang melihat hal itu juga merasa bingung melihat seorang Riri yang kesehariannya bagai karang yang tak akan goyah dengan badai apa pun hari ini terlihat sangat rapuh dan butuh untuk dilindungi.
"Nona." pengawal Jie memanggil Riri lagi.
"Ji - Jiyang, Jiyang." Riri memegang lagi wajah Jie So dan memeluk Jie So dengan erat dan menangis tersedu - sedu.
__ADS_1
Hati pengawal Jie bergetar mendapatkan pelukan yang tiba - tiba dari Riri dan nama seseorang yang disebutkan Riri membuat pengawal Jie merasakan keakraban kalau sebenarnya yang disebut oleh Riri adalah namanya, dengan suka rela pengawal Jie membalas pelukan Riri. "Tenanglah nona, tidak apa - apa, tenanglah." pengawal Jie berusaha menenangkan Riri.
Riri yang tak bisa lepas dari pengawal Jie terpaksa membuat pengawal Jie menemani Riri untuk menenangkan dirinya dan membawah Riri untuk duduk di sofa dan berusaha keras untuk menenangkan Riri yang menangis tanpa sebab dan membuat dia merasa bingung kenapa wanita ini menangis setelah melihatnya. Dengan hati - hati pengawal Jie menepuk bahu Riri dengan lembut.
Didalam ruang rapat Yan Sa yang terlihat tak tenang membuat bosnya merasa bersalah karena tadi menahan Yan Sa untuk keluar dan mengirim Jie So yang keluar untuk menyelesaikan masalah. Dan dengan sengaja bos Yan Sa berdiri lalu menatap semua orang yang ada didalam ruang rapat itu sehingga membuat mereka semuanya terdiam dan ciut. Karena aura dari bos yang tak pernah datang setiap pertemuan itu tak disangka sungguh sangat kuat dan mengintimidasi hanya dengan tatapan matanya tanpa ucapan apa pun, seolah tatapan matanya yang bagai elang itu sudah mengatakan segalanya.
"Baiklah, pertemuan hari ini lanjutkan lewat video saja. Setelah selesai semuanya datanglah ke perusahaan untuk melakukan tanda tangan kontraknya, pertemuan diakhiri." ucap bos dari Yan Sa lalu melangkah keluar meninggalkan ruang pertemuan itu.
Semua orang yang ada didalam ruang pertemuan itu merasa bingung dan juga tak tau harus berkata apa, karena mereka tak ada yang berani untuk mengutarakan pendapat mereka dan menerima semua keputusan dari bos yang tak pernah mereka temui sebelumya itu.
"Tuan muda." Yan Sa memanggil karena merasa bingung
"Aku tak suka melihat mu tak tenang dari tadi, ayo keluar kita temui Jie So." ucap dari bos Yan Sa dan langsung bergegas menuju lif.
"Baik." Yan Sa langsung mengikuti bosnya dari belakang.
"Riri, kau tak apa? Tolong maafkan aku karena lama tak menemui mu dan tak menghubungi mu selama 1 minggu ini, kenapa kau harus menangis hem." Yan Sa berlutut didepan Riri dan menyeka air matanya.
Dari arah luar Sun akhirnya bisa masuk setelah bos mereka menggerakkan tangannya untuk melonggarkan pengawalan di hotel itu, sehingga semua pengawal yang tadi berdiri tegang itu pun mulai melonggar dan mundur dari kerumunan orang - orang.
"Yan Sa." Riri memegang wajah Yan Sa dan menatapnya dengan lekat sambil menangis.
"Tolong maafkan aku yang begitu sibuk belakangan ini, jangan digosok seperti ini nanti luka di wajah mu akan terbuka lagi." Yan Sa menahan tangan Riri yang terus mengusap kasar air matanya. "Tangan mu terluka, apakah ini terasa sakit?" Yan Sa menyentuh telapak tangan Riri yang lecet saat jatuh tadi.
Riri membantu Yan Sa duduk di sofa bersebelahan dengan Jie So, lalu Riri jongkok dihadapan mereka berdua dan menggenggam kedua tangan orang itu dengan erat. "Yaris, Jiyang, kalian." Riri tersenyum sambil menangis dan menunduk meletakkan tangan Yan Sa dan Jie So di hadinya dengan menggenggamnya erat. Riri menangis seolah dia tak ingin melepaskan kedua orang yang ada didepannya itu.
__ADS_1
"Apakah itu kau." suara berat dari seseorang yang berdiri tepat dibelakang Riri.
Riri tertegun dan dia menelan salifanya mendengar suara dari orang yang sangat dia kenal dan dirindukannya. Tangis Riri berhenti dan dia mengangkat wajahnya lalu berdiri dengan tetap membelakangi orang itu, melihat itu Yan Sa dan Jie So ikut berdiri menatap Riri yang terlihat sedih dan ragu - ragu.
"Itu benar - benar kau." suara orang itu lagi dan memecahkan lamunan Riri dan sedang berusaha untuk menetralkan pikirannya yang sedang kacau karena kemunculan dua orang yang dia kenal dari dunia ingatannya.
"Kau benar - benar datang." suara orang itu membuat Riri memutar tubuhnya perlahan untuk menatap orang yang dari tadi bertanya padanya.
"Ah." Riri hampir jatuh karena kakinya lemas.
"Riri" Yan Sa
"Nona." Jie So
Yan Sa dan Jie So yang berdiri tepat dibelakang Riri langsung dengan cepat menangkap tubuh Riri dan membantu Riri untuk berdiri dengan stabil. Yan Sa dan Jie So saling melihat dan menatap bergantian antara Riri dan bosnya.
"Itukah wajah aslimu? Atau kah kau memasuki tubuh orang lain lagi." tanya bos Yan Sa dan Jie So yang membuat mereka merasa bingung, namun tidak dengan Riri.
"Cantik, sungguh cantik. Sederhana dan apa adanya, aku menyukainya, kau sangat cantik, ,istriku." Bos Yan Sa dan Jie So lalu tersenyum dan meneteskan air mata karena bahagia.
Riri melangkah perlahan mendekati pria yang berdiri didepannya dengan senyuman dan rasa lega dalam hatinya, sementara Yan Sa dan Jie So yang dari tadi memegang lengan Riri melepaskannya perlahan dan menatap dengan bingung serta kaget dengan panggilan dari bos mereka yang diberikan untuk Riri, karena yang mereka ketahui kalau bos mereka ini belum pernah berhubungan dengan seorang wanita sekali pun apa lagi menikah.
"Al," Riri tersenyum dan suaranya bergetar "Altha, Altha." Riri memanggil nama orang yang sangat dia rindukan dan langsung lari menghambur kedalam pelukannya Riri kembali menangis.
"Akhirnya aku menemukan mu. Terima kasih telah menunggu ku. Wei Ying, Soong Wei Ying. Itu namaku Isabel." Ucap Wei Ying memeluk tubuh Riri dengan sangat erat dan posesif dalam dekapannya.
__ADS_1
Pemandangan itu sama persis seperti pemandangan saat Riri dan Altha yang selalu bertengkar saat latihan berpedang dengan Altha dan akhirnya Altha akan memeluknya karena tak ingin Riri lebih marah padanya yang terus menggodanya, dan Jiyang sama Yaris berdiri dibelakang mereka dengan senyuman dibibir mereka berdua sama seperti saat ini.
...The end...