
"Riri bagaimana ini sekarang? Kita terperangkap dan terkurung di sini, raja benar - benar tak tau diri dan tak tau malu. Bisa - bisanya dia ingin menikahi mu, rupanya dia melarang pangeran Cun Ya menikahi mu dia sendiri juga ingin menikah dengan mu." Wu Ling berkata dengan kesal. "Benar - benar ya negara barat ini sangat aneh dan benar - benar tak bermoral dan tau berterima kasih." Wu Ling berdecak dan menghentakkan kakinya.
"Tenanglah Wu Ling, pasti akan ada jalannya nanti." Riri berkata dengan duduk termenung.
"Jalan bagaimana? Apa kamu tak lihat kalau kita terkurung dan tak bisa berbuat apa - apa, bahkan diluar kamar kita ada penjaga yang sedang berjaga." Wu Ling berkata dengan tak sabar.
Riri tersenyum menatap Wu Ling yang terlihat tak sabar dan marah. Dan Riri hanya bisa menunggu sampai raja mengumumkan soal pernikahannya dengan dirinya, karena bagi Riri pada saat itu lah dia bisa lari meninggalkan kerajaan ini. Karena pasti Altha akan datang menyerang jika dia mendengar kalau istrinya akan direbut oleh orang lain.
"Riri, kenapa kau begitu tenang sih. Tidak kah kau merasa khawatir dan takut kalau nanti raja bisa berbuat hal yang lebih dari ini." Wu Ling marah dan menggoyang tubuh Riri yang hanya duduk terbengong.
"Kita tunggu saja Wu Ling kamu harus sabar." Riri berkata dengan tersenyum tanpa beban.
"Bagaimana aku bisa sabar, rencana kita sudah gagal dan tak akan ada cara lagi untuk kita Kabir dari tempat ini." Wu Ling berkata dengan kesal dan ikut duduk didepan Riri.
"Apa kau tak merasa khawatir dengan Choi Yong? Dia masih belum menemui kita dari kemarin" Riri bertanya dan memiringkan kepalanya menatap Wu Ling
"Aku tak peduli dengannya lagi." Wu Ling berkata dengan memutar tubuhnya kearah berlawanan dan membelakangi Riri.
"Aku punya rencana saat nanti raja manggil kita dan mengumumkan soal pernikahannya dengan ku, pada saat itu lah kita akan kabur dan tak akan ada yang bisa menghalangi kita. Karena pada saat itu baru usia kehamilan ku memasuki usia genap 4 bulan." Riri berkata dan terlihat sudah memiliki rencananya sendiri.
"Apa yang akan kamu lakukan pada saat itu? Karena pasti para pejabat akan pada datang semuanya, lalu bagaimana kita bisa pergi dari tempat itu?" Wu Ling bertanya dengan penasaran.
"Kau akan tau nanti, sekarang kamu tenang saja dulu sampai utusan raja datang memanggil kita untuk ke aula." Riri berkata dengan tersenyum menatap Wu Ling penuh dengan keyakinan.
...🍁🍁🍁...
"Wah apa ini semuanya? Bagaimana bisa ayah melarang ku untuk mengangkat dia sebagai selir namun ayah sendiri telah merencanakan hal ini." Pangeran Cun Ya merasa sangat kesal pada ayahnya.
"Bicara apa kau ini. Kau bukanlah siapa - siapa, jika memang harus memanfaatkan dia maka harus memanfaatkannya secara maksimal agar benar - benar berguna." Raja Song berkata dengan nada suara tinggi karena dia tak terima diprotes oleh pangeran Cun Ya
Pangeran Cun Ya tersenyum mendengar kalimat dari raja Song, ayahnya sendiri "Memanfaatkan secara maksimal atau memanfaatkannya untuk nafsu ayah sendiri hah?!" Pangeran Cun Ya marah besar.
"Lancang, kau berani berteriak kepadaku apa kau sudah merasa hebat?!" Raja Song pun ikut marah besar. "Jika kau tak terima adakan pertemuan dan kita pilih para Mentri lebih setuju dengan usulan ku atau kau." Raja Song berdiri dan mengarahkan jari telunjuknya tepat diwajah pangeran Cun Ya
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya setelah ada orang yang mengantarkan makanan pagi mereka kembali lagi datang dipertengahan hari untuk memanggil Riri agar hadir dalam aula karena akan ada pertemuan untuk memutuskan siapa yang benar dan berhak atas Riri antara raja Song dan pangeran Cun Ya yang sama - sama ingin mengangkat Riri menjadi selir mereka.
__ADS_1
"Riri ini?" Wu Ling menatap Riri dan merasa tak percaya kalau apa yang dipikirkan oleh Riri dan diprediksi benar terjadi.
"Ayo kita pergi dan ingatlah kamu jangan jauh - jauh dari selama ada didalam aula mengerti kan?" Riri berbisik pada Wu Ling.
"Iya aku mengerti." jawab Wu Ling walau dia tak tau apa rencana Riri.
"Tabib tangan ajaib telah tiba di aula pertemuan." teriak seorang penjaga.
Saat Riri masuk suasana didalam aula sudah sangat penuh dan berisik, Riri mengedarkan pandangannya dan dia melihat Chun yang berada disana juga. "Hormat kepada yang mulia raja." Riri memberikan hormatnya dengan patuh seolah dia menerima atas pernikahan antara dirinya dan yang mulia raja.
"Baiklah semuanya dengarkan aku, seperti yang dikatakan oleh pangeran Cun Ya kemaren jika kita bisa menikahi tabib tangan ajaib maka kita bisa diuntungkan dan mendapatkan dukungan dibagian pengobatan. Untuk itu aku mengajukan diri untuk menikahinya dan mengangkat tabib tangan ajaib menjadi selir ku, karena posisi yang paling kuat adalah menjadi selir raja." ucap raja Song dengan lantang dan percaya diri, "sekarang katakan siapa yang setuju dengan ku?" sambung raja Song
"Ini tidak mungkin, semuanya sudah tau kalau aku adalah orang pertama yang mengajukan diri." Pangeran Cun Ya bersih keras.
"Mereka benar - benar ayah dan anak yang bodoh, apa mereka tak tau apa yang bisa dilakukan oleh tabib dewa." gumam pangeran San Ya dalam hati sambil menatap percekcokan antara ayah dan anak merebutkan seorang wanita yang tak bersedia bersama dengan mereka berdua.
Riri menatap pangeran San Ya dan pangeran San Ya membalas dengan anggukan serta senyuman yang menandakan kalau pangeran San Ya telah selesai dalam persiapannya yang kemaren diminta oleh Riri.
Sehari sebelumnya.
Saat malam hari pangeran San Ya menyelinap masuk kedalam istana kerajaan dan dia mencari posisi dimana kamar Riri yang banyak dirumorkan telah diperebutkan oleh ayah dan juga adiknya. Dan karena rasa penasaran itu pangeran San Ya yang selalu melanggar aturan itu pun nekad nerobos pertahanan penjagaan pengawal yang diatur oleh yang mulia raja Song.
"Bagus, dibuat tidur saja." Pangeran San Ya langsung membuat pingsan murid tabib istana dan melihat bahan obat yang bisa digunakan untuk membuat orang tertidur, setelah dpat pangeran San Ya membakar bahan obat itu dan asapnya membuat para penjaga itu jatuh dan tertidur semuanya.
"Ya sekarang saatnya, dia pasti juga sedang tidur." Pa heran San Ya nerobos masuk kedalam kamar Riri.
"Siapa." Riri bersiap dan melawan pangeran San Ya.
"Kau?" Riri tertegun setelah melihat kalau itu adalah orang yang dikenalnya.
"Tabib dewa?" begitupun dengan pangeran San Ya, dia kaget karena orang itu adalah orang yang dulu telah menolong dan membantunya. "Tunggu jangan bilang kalau yang mereka bilang tabib tangan ajaib itu adalah dirimu." Abung pangeran San Ya.
"Ya, memang aku." Riri menghilangkan kewaspadaannya karena dia mengenal pangeran San Ya bahkan berteman baik. "Lalu kenapa kau ada di sini? Apa kau ada urusan lain? Atau ingin mencuri di sini." Riri berjalan dan duduk di kursi.
"Hei bisakah kau jangan menilai ku begitu renda, dari awal aku sudah pernah bilang kalau aku ini sebenarnya adalah orang penting, dan aku adalah pangeran pertama kerajaan ini" pangeran San Ya menjelaskan dan ikut duduk.
"Bagaimana bisa kau adalah pangeran." Riri menatap tak percaya.
__ADS_1
"Itu memang benar, aku telah difitnah dan dijatuhi hukuman pengasingan selama 10 tahun lamanya, karena dituduh telah menyalah gunakan jabatan dan menyelundupkan senjata di kerajaan ini." Pangeran San Ya menjelaskan panjang lebar pada Riri mengenai riwayat dirinya.
"Baiklah aku percaya, kalau begitu tolong bantu aku untuk kabur dari istana ini karena aku ingin keluar dan bebas dari sini." Riri berkata tanpa basah - basi
"Kau selalu bicara dengan cepat tanpa ada yang ditutupi." Pangeran San Ya berkata sambil menatap Riri.
"Ya begitulah, karena aku gak suka berbelit - belit." Riri menatap pangeran San Ya serius.
"Baiklah, apa rencana mu? Aku akan menyiapkan segalanya dan membawamu kelautan dari tempat ini." Pangeran San Ya setuju tanpa syarat.
Riri pun menjelaskan rencana dan pangeran San Ya menyimak dengan seksama, karena Riri dan pangeran San Ya sebelumnya telah bertemu di hutan bulan saat pangeran San Ya dalam bahaya karna dikejar orang - orang dari permaisuri yang ingin menghabisinya saat dalam pengasingan, namun Riri datang membantu tanpa melihat siapa dirinya dan apa tujuannya.
Saat ini
"Tunggu dulu, kenapa kalian hanya ribut sendiri dan menanyakan pendapat dari tokoh utama pembicaraan kalian ini? Karena aku juga ingin mengajukan permohonan untuk menikahinya karena aku belum punya permaisuri atau selir sama sekali." Pangeran San Ya berkata dengan suara keras didepan aula dan membuat raja serta pangeran Cun Ya terdiam dan menatap kearahnya.
"Wu Ling mendekat lah." Riri bangun dari duduknya dan berbisik pada Wu Ling yang berdiri dibelakangnya
"Baik." Wu Ling melangkah lebih dekat dan menggapai baju belakang Riri.
Pangeran San Ya berjalan mendekati Riri dan mengulurkan tangannya "keluarlah dari tempatmu wanita cantik"
Riri menggapai tangan pangeran San Ya dan berjalan mendekat. Melihat itu raja merasa marah dan pangeran Cun Ya merasa tak puas. Namun pangeran San Ya berdiri dengan santai dan menatap ayahnya dengan berani. "Dia adalah wanitaku karena dia telah memilihku dan bersedia untuk bersama denganku, karena dari semua perdebatan ini pendapatnya adalah yang paling penting."
"Pengawal tangkap pangeran San Ya." perintah raja Song saat melihat pangeran San Ya dan Riri mau melangkah keluar dari aula.
"Sekarang." Pangeran San Ya mendorong Riri keluar aula dan dengan cepat Riri membuat pelindung dan tameng dengan ilusinya. Hal itu membuat semua orang yang menebus batas ilusinya akan sampai dibagian istana lain.
"Kejar mereka dan jangan biarkan mereka lolos." perintah raja Song
Keributan didalam istana itu digunakan Riri untuk melarikan diri, namun karena ada Maslaah dengan perutnya yang tiba - tiba sakit membuat Riri tak bisa lari lebih jauh lagi, dan memilih mencari tempat untuk istirahat dan memeriksa kehamilannya.
"Riri bagaimana, apa yang terjadi kenapa tiba - tiba kamu seperti ini?" Wu Ling bertanya dengan khawatir.
"Ayo kita cari tempat istirahat dulu, dana aku akan mencarikan tabib untuknya." pangeran San Ya berkata pada Wu Ling.
"Apa mau pangeran pertama sebenarnya?" Wu Ling terlihat waspada.
__ADS_1
"Jangan takut, aku dan dia adalah teman lama dan kami telah kenal satu sama lain dengan begitu baik, jadi kamu tak perlu waspada pada ku." pangeran San Ya menjelaskan pada Wu Ling.
"Dia ada di pihak kita Wu Ling..." ucap Riri dan jatuh pingsan.