
Setelah tertidur cukup lama akhirnya Riri terbangun dan dia merasakan tubuhnya sakit semua, "Sial brondong mesum itu membuatku berantakan dan merasakan sakit seperti ini, apa dia tak tau kalau bermain dengan anak dibawah umur harus lebih lembut sedikit." Riri menggerutu sambil berusaha untuk bangun.
"Kau sudah bangun. Ayo minum obatnya dulu aku habis menghangatkannya lagi karena kau tidur terlalu lama." Altha mendekati Riri dan menyerahkan obat yang dibawahnya.
"Tertidur? Pingsan yang benar." kesal Riri menatap tajam pada Altha.
"Iya maaf, aku lepas kendali. Ayo minum obatnya." Altha tersenyum sambil menatap Riri lembut dan membantu Riri untuk duduk biar bisa minum obat Dengan nyaman.
"Apakah masih sakit?" Altha menggenggam tangan Riri setelah meletakkan cangkir obat diatas meja setelah diminum habis oleh Riri.
"Jangan tanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah pasti. Apa itu pertanyaan gila, kau tak tau cara main dengan gadis dibawah umur ya." Riri mendengus kesal.
"Dibawah umur? Apa maksudnya itu, kau memasuki tubuh yang sudah berusia 19 tahun, dan di negara ini gadis yang sudah berusia 15 tahun mereka sudah memiliki jodoh dan pada menikah semua." jawab Altha menatap Riri dengan tak terima.
"Apa? Hah,,, pantas saja banyak wanita melahirkan diusia mudah di sini." jawab Riri sambil menghela nafas.
"Apakah Yodon yang membuatkan ku obat?" sambung Riri lagi.
"Iya, aku mengatakan kau pingsan karena kelelahan melayaniku dan menyuruhnya merebus obat untukmu." jawab Altha tersenyum dan Riri seketika melotot menatap Altha sehingga membuat Altha bingung dengan arti tatapan Riri.
"Kau bilang apa tadi?" Riri bertanya dengan nada kaget.
"Kau pingsan karena kelelahan melayaniku." jawab Altha tanpa dosa.
"Altha!? Kau memang sudah gila ya, aku ingin membunuhmu sekarang juga rasanya." Riri marah dan memukul Altha dengan kuat.
"Apa yang salah? Aku mengatakan yang sebenarnya, kenapa kau jadi marah." Altha bingung dengan Riri yang tiba - tiba marah dan memukul Altha serta mendorongnya dengan sangat kuat hingga Altha terjatuh dari kursi.
"Kau benar - benar pria mesum, apa kau tak bisa menggunakan tata bahasa yang benar untuk menyampaikan pada orang lain hah?!" Riri sangat emosi karena Altha telah mempermalukannya didepan Yodon, bagaimana pun kata melayani yang disampaikan oleh Altha adalah sesuatu yang harusnya diungkapkan dengan orang terdekat atau bersangkutan saja bukan orang luar.
Altha bangun mendekati Riri, namun Riri memukulnya lagi. "Hei - hei sudah." Altha menahan pukulan Riri.
"Aduh sakit." keluh Riri saat dia mau bangun dan merasakan daerah intinya nyeri buat digerakkan.
__ADS_1
"Apa sesakit itu?" Altha bertanya dengan tatapan khawatir.
"Telat kau mengkhawatirkannya, awas aku mau berendam di sungai karena tubuhku lengket semua." Riri mendorong Altha dan dia mau berjalan keluar sendiri.
"Aku antarkan." Altha langsung mengangkat tubuh Riri dan membawahnya keluar.
"Hei aku bisa berjalan sendiri, kau suka bertindak sesuka hati ya." Riri memarahi Altha namun Altha tak peduli dia terus saja berjalan keluar rumah.
Melihat Altha yang keluar membawah Riri membuat Yodon yang duduk di teras merasa kaget dan langsung berdiri menatap Altha. "Tidak apa, dia baik - baik saja." jawab Altha tanpa ditanya oleh Yodon karena Altha tau arti tatapan Yodon.
"Katakan dimana arah sungai karena kami mau berendam di sungai." ucap Altha bertanya.
"Kearah lereng bukit, dibelakang rumah ini." Yodon menjawab langsung.
"Hei Yodon, kau sama ber*ngseknya dengan dia kenapa kau tak menolongku dan kenapa kau begitu ceroboh sampai bisa membuat dia masuk ke hutan ini!" teriak Riri kesal pada Yodon.
"Turunkan aku Altha, siapa yang bilang aku mau berendam dengan mu." Riri semakin kesal pada Altha yang selalu bicara sembarangan dan seenaknya sendiri.
"Airnya begitu jernih." gumam Altha yang menatap air sungai yang sangat bening.
Melihat itu Altha tersenyum dan dia pergi lalu kembali lagi, namun bukannya menjauh Altha malah ikutan berendam dan menyelam mendekati Riri yang telah asyik memanjakan dirinya dengan berendam dengan disapu aliran air yang membasahi tubuhnya.
"Hem, berendam di sore hari memang sangat menyenangkan. Airnya sangat segar." gumam Riri yang suka sekali berenang dan berendam.
Pelan - pelan Altha mendekati Riri dari dalam air, terlihat Riri sedang duduk diatas batu yang ada didalam air dan tinggi air itu sedada Riri. Altha yang didalam air menyeringai dia sangat menikmati pemandangan yang dia lihat, perlahan Altha mendekat dan menangkap kaki Riri yang bergerak - gerak didalam air lalu menciumnya.
"Aaaah.!" sontak Riri kaget dan langsung berdiri dan dengan senyumannya Altha keluar dari air menatap Riri dalam penuh dengan rasa cinta.
"Kau? Apa yang kau lakukan!" Riri mendengus dan mau keluar dari air, karena tadi Riri terlalu menikmati suasana berendam-nya sampai lupa kalau masih ada pria mesum ini.
"Mau kemana, hem?" Altha sudah memeluk pinggang Riri dengan satu tangan dan tangan yang lainnya meraba sesuatu didalam sana.
"Apa yang mau kau lakukan. Kau sudah membuatnya sakit." Riri mendorong tubuh Altha namun yang didorong tak bergeming.
__ADS_1
"Bukankah sudah aku bilang, kau harus siap kapan pun karena aku tak akan pernah menahannya lagi." bisik Altha dengan suara berat yang sudah mulai menahan gejolak dalam dirinya.
"Tolong Altha, kau sudah melakukannya berkali - kali dari pagi. Apa kau masih mau lagi, itu masih sakit." Riri memelas dengan tatapan memohon.
"Aku akan lembut kali ini." bisik Altha dan dia pun memulainya lagi.
"Kau memang benar - benar ber*ngsek, aku akan menghajar mu setelah ini." gumam Riri yang mulai masuk kedalam permainan Altha.
"Hem." Altha hanya menjawab dengan deheman saja karena dia telah menikmati permainannya dengan Riri.
"Sebenarnya siapa kau ini Altha, kau selalu bertindak sesukamu dan seenak mu sendiri sekarang. Dimana Altha yang ku kenal dulu, yang dingin dan suka marah - marah padaku." Riri bertanya dan membiarkan Altha bertindak menguasai dirinya.
"Aku? Aku adalah Pemilik." jawab Altha tersenyum menatap wajah Riri yang memerah, "Pemilik seluruh jiwa dan ragamu, hanya aku pemiliknya istriku Karina Isabela." bisik Altha tepat ditelinga Riri.
"Dasar. Apa kau membawah baju bersih kesini?" tanya Riri setelah mereka selesai dan membersihkan tubuh mereka.
"Tentu saja, saat kau masuk dan berendam aku kembali untuk mengambil baju." jawab Altha dan menyerahkan baju bersih untuk Riri.
Altha dan Riri berjalan menyusuri jalan hutan dan Riri membawah Altha ke sesuatu tempat yang ada dibalik batu besar di aliran sungai itu.
"Ini tempat apa?" Altha melihat sekeliling dan ada tali yang terikat diantara dua pohon.
"Rumah rahasia." jawab Riri dan setelah Riri menarik tali itu terlihatlah rumah dengan taman bunga dibawah lembah.
"Tunggu kenapa ada rumah lain di sini dan kenapa aku yang waktu itu tak bisa melihatnya. Karena aku sudah berkeliling selam 4 hari untuk mencari mu." Altha menatap kagum dan juga takjub.
"Karena dikawasan lembah bunga ini juga dipasang segel ilusi lain sehingga orang luar yang tak diinginkan tak akan bisa menembusnya." jawab Riri berjalan masuk kedalam rumah itu dan menyediakan teh untuk Altha.
Mereka menghabiskan waktu berdua untuk berbincang, dan Altha menanyakan apak alasan Riri menerima serta membawah masuk Ye Rin kedalam istana tanpa bertanya dulu pendapatnya. Semua diceritakan oleh Riri dengan tanpa ada yang dia tutupi lagi dari Altha karena Altha telah tau siapa dirinya yang sebenarnya, terlebih lagi karena Altha bisa menerima tanpa menyangkalnya walau sempat terkejut dan tak bisa menerima.
"Baiklah, aku mengerti soal itu. Sekarang biarkan saja mereka mau berbuat apa karena aku tak akan mau menambah wanita lain lagi, selir dan juga permaisuri ku cukup hanya kamu seorang saja." jawab Altha tak marah dengan alasan Riri membawah masuk Ye Rin ke istana pangeran.
"Jangan pergi lagi dan jangan menghilang." Altha berkata dengan memohon pada Riri.
__ADS_1
"Tak bisa menjamin, jika ada kesempatan tentu dengan pasti aku akan melakukannya lagi." jawab Riri cuek.
"Kau memang kejam Riri. Ingatlah aku adalah pemilik mu dan kau hanya milik ku seorang mulai saat ini sampai seterusnya bahkan selamanya." ucap Altha memeluk Riri dengan erat.