
Arben, Abrian, Lilan baru pulang sekolah, di lihatnya tas dan barang yang bertumpuk di ruang tamu.
"Papa?? Papaaaa..!!!" Arben berlari masuk ke dalam rumah.
Rival sedang meminum kopi buatan Shila.
"Pelan-pelan. Papa nggak kemana-mana" kata Rival sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Jangan kemana-mana lagi ya pa" pinta Arben.
"Nggak, papa janji ini yang terakhir" jawab Rival.
-_-_-_-
Rival mengambil sesuatu dari saku celana pendek miliknya.
"Apa ini bang?" tanya Shila.
"Buka saja! Itu untuk mamanya Gata"
Shila membuka kotak kecil itu. Sebuah kalung yang cantik untuknya.
"Yang satu buat gadisnya papa ya!" kata Rival yang selalu mengingat gadis cilik satu-satunya yang ia miliki.
"Iya papa"
"Sini papa bantu pasang" Rival mengambil kalung dari tangan Shila. Rival menelan salivanya dengan kasar. Leher putih bersih milik Shila sangat menggodanya. Lama sekali Rival tak merasakan kehangatan seorang istri hingga rasanya rindu itu tak bisa ia bendung.
"Kenapa berhenti bang?" tanya Shila yang merasa Rival tidak serius memasang kalungnya.
Suami Shila itu mendekat pelan mencium istrinya. Merasa geli dengan ulah suaminya, Shila sedikit menghindar.
"Kamu nggak kangen?"
"Kangen bang" jawab Shila pelan. Rival tersenyum mendengar jawaban istrinya.
Tak ingin membuang waktu, Rival mendorong pelan tubuh Shila. Nafas Rival sudah memburu tak terkendali, tangannya bergeser arah meneliti setiap tempat yang ia rindukan.
"Sabar lah bang" Shila merasa tidak nyaman.
"Nggak bisa, Abang sudah blank nggak bisa kerja. Di pikiran Abang cuma kangen kamu aja" pinta Rival memaksa.
"Shila haid bang, hari pertama.. baru tadi siang" kata Shila yang sebenarnya tidak tega melihat ekspresi Rival.
"Astagaaa.. hhiiiihh" Rival membanting bantalnya dengan kasar.
"Kenapa harus hari ini sih sayang??" kesal Rival mengacak rambutnya dengan gemas.
"Cuma enam hari bang"
__ADS_1
"Lama itu yank" rengek Rival.
"Terus gimana? Abang berani lawan??" tantang Shila.
"Nggak lah"
"Duuhh.. ini nih namanya Danki gagal fight" gerutu Rival langsung menyambar bantal dan menutup wajahnya.
***
Lilan pulang ke rumah dengan menangis. Arben yang tau adiknya menangis segera menghampiri.
"Kenapa?" tanya Arben pada adik perempuannya.
"Kata Ina Abang Arben anak mama Yara, bukan mama Shila. Kita bukan saudara donk bang?" tanya Lilan yang masih duduk di bangku sekolah PAUD. Rival yang tau pertanyaan putrinya membiarkan putra putrinya menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Lilan tetap adik Abang nggak peduli Lilan lahir dari perut mama Yara atau mama Shila tetap papa kita adalah papa Rival" jawaban yang cukup membanggakan dari bocah berumur delapan tahun.
"Tapi Abang Arben sayang sama Lilan khan?" tanya Lilan.
"Nggak.. kamu cengeng. Abang nggak suka adik cengeng" jawab Arben.
"Bang Arben jahat" kesal Lilan sampai menangis
"Jangan nangis dek!!" Arben mengusap air mata Lilan.
"Sini Abang gendong. Abang belikan es krim" ajak Arben sambil membuka celengannya.
***
Abrian dan Agata berebut mainan hingga baku hantam. Lilan ingin melerai kakak dan dan adiknya malah ikut tertendang kaki Abrian hingga menangis. Arben yang baru datang melihat keributan itu tak tinggal diam. Arben menenangkan Lilan dulu lalu menegur ulah kedua adiknya.
"Brian.. Gata..!! diam semua!!!" teriak Arben dengan tegas mirip seperti ketegasan papanya.
Tangan Arben langsung menjewer Brian dan Gata.
"Kenapa Lilan sampai tertendang? Kalian nggak ingat kata papa? Nggak boleh nyakitin perempuan atau melukai perempuan. Laki-laki kacangan namanya" bentak Arben.
Rival tersenyum melihat sikap Arben yang semakin dewasa. Ia membiarkan anaknya belajar saling mengasihi dan menyayangi.
***
"Pa, apa papa masih punya foto mama Yara?" tanya Arben.
"Papa nggak punya lagi Ben. Mama Shila yang simpan" jawab Rival.
"Kenapa pa?"
"Kalau kamu sudah dewasa nanti.. kamu pasti ngerti" senyum Rival sambil mengacak rambut putranya.
__ADS_1
"Mama Yara sama mama Shila cantik mana pa?" tanya Arben.
"Semua mamamu cantik. Sangat cantik" jawab Rival sendu terbawa suasana akan pertanyaan putranya.
"Papa lebih sayang mama Yara atau mama Shila?" tanya Arben lagi.
"Sayang semuanya" jawab Rival.
"Itu serakah pa. Cantik semuanya, sayang semuanya. Kata papa segala sesuatu tidak boleh berlebihan kalau nggak mampu, pilih salah satu. Kenapa papa begitu?"
"Dengarkan papa. Kamu nggak akan ngerti sekarang. Kalau kamu dewasa.. kamu pasti paham semua. Sekarang fokus belajar saja. Tapi pesan papa satu. Jangan menyakiti dan membuat perempuan menangis. Kalau sampai itu kamu lakukan. Kamu akan tau rasanya menyesal" kata Rival yang hanya mengangguk meskipun ia tidak begitu paham dengan maksud papanya. Tapi kata itu ia ingat di dalam hatinya.
***
"Sayang.. kamu mau lihat wajah mama Yara khan?" tanya Shila masuk ke dalam kamar Arben saat putranya itu belum tidur.
"Iya ma"
"Ini foto mama Yara. Cantik sekali ya? Mama Yara adalah mama terbaik mu. Jangan lupa doakan mama Yara dalam setiap sholat dan doamu. Seperti papa yang tidak pernah putus mendoakan mama Yara" kata Shila.
"Arben selalu doakan mama Yara. Tapi Arben juga selalu doakan mama Shila. Mamanya Ben. Ben sayang sekali sama mama Shila" kata Arben yang membuat Shila menjadi terharu.
"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah menerima mama" ucapnya terisak.
"Jangan nangis ma. Arben juga sedih kalau lihat mama nangis" Arben menghapus air mata Shila.
-_-_-_-
Yara sayang.. lihat anakmu sudah semakin dewasa dalam didikan Shila. Bukannya mas tidak mau mengunjungi mu. Tapi doa mas yang akan selalu menemanimu. Selalu dan selalu sayang.
Shila masuk ke dalam kamarnya.
"Abang rindu mbak Yara?" tanya Shila.
"Nggak.." jawab Rival.
"Rindu pun tak apa bang. Itu manusiawi" kata Shila.
"Abang sudah titipkan rindu Abang, biar Allah yang menjaga Yara. Tapi Abang titip rindu Abang yang harus selalu kamu jaga. Rindu Abang yang tak kan pernah putus untuk kamu. Jiwa raga Abang hanya milikmu sendiri" Rival membelai sayang rambut panjang Shila yang tergerai indah.
Shila langsung memeluk Rival. Hari ini sungguh penuh rasa haru dalam hatinya.
"Kamu kesayangan Abang, dan kamulah yang tercantik di mata dan hati Abang" ucapnya jujur mengecup kening Shila dan Shila terhanyut dengan kejujuran suaminya.
"Sudah pergi khan musuh Abang?" bisik Rival.
"Sudah bang" jawab Shila tertunduk malu.
.
__ADS_1
.
.