
"Kamu kenapa ada disini?"
"Shila kesini karena Abang pasti marah"
"Abang berkewajiban mengembalikan kehormatan istri Abang" Ucapnya datar.
"Shila memaafkan mereka bang" kata Shila.
"Silahkan. Abang hanya melakukan apa yang seharusnya Abang lakukan"
"Tuhan Maha pengampun bang"
"Shila.. Abang manusia biasa yang punya perasaan. Abang hanya ingin membuka mata hati mereka. Mereka tak pernah tau apa yang Abang rasakan. Abang ingin menangis sekencangnya menghadapi beratnya cobaan yang tak ada habisnya. Tidak ada suami yang kuat merasakan cobaan semacam ini Shila..termasuk Abang"
"Lalu apa yang membuat Abang bertahan?" Shila menatap mata suaminya.
"Karena Ijab Qabul kita. Itu janji Abang di hadapan Allah" Rasa tanggung jawab dan cinta yang besar untuk Shila akan terus tertanam dalam hatinya.
"Bu, tolong bilang pada bapak agar tidak memutasi suami saya ke Timika" pinta Bu Salim.
"Mohon maaf ibu, kiranya biar pak Salim dan Pak Wisnu saja yang berunding masalah ini. Saya tidak ada kewenangan untuk membicarakan hal ini" jawab Shila dengan santun.
***
Komandan menandatangani permintaan Rival. Ia mengabulkan permintaan itu sebab Rival tidak menginginkan tawar menawar lagi.
"Oke, sudah.. sekarang kita lanjut dengan kegiatan sketsa taktik"
Para anggota sedang belajar taktik untuk latihan gabungan di kota Y dua Minggu lagi.
Tengah hari dengan panas menyengat. Rival duduk di bawah sebatang pohon, bersandar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Nafas tak beraturan mulai ia rasakan. Pelan ia mengusap dadanya.
"Ijin Danki, Ini saya bawakan minum" sapa Dio disana.
Rival tak bergeming. Dio sedikit mengguncang tubuh Rival dan ternyata Danki ambruk dalam keadaan lemas.
***
Para anggota berlarian di koridor rumah sakit. Seorang dokter wanita masuk ke dalam UGD menerima pasiennya.
__ADS_1
"Abang Rival. Kenapa Abang sampai begini bang!!!" tanya dokter memperjelas.
"Cepat tangani..jangan reuni dok!!!" perintah Oka.
-_-_-_-
"Ini memang gejala, istirahat dulu yang cukup ya. Harus di rawat di rumah sakit" kata dokter.
"Saya pulang saja Naura. Istri saya tidak ada yang menemani. Anak-anak masih kecil" pinta Rival.
"Nggak bisa bang, kalau kambuh lagi bisa fatal. Meskipun gejala, bisa bahaya juga bang" tolak Naura.
Arrgghh...hhhh..
Rival mulai kesakitan lagi.
"Abang.. biarpun saya dulu setengah mati suka bergelayutan di lengan Abang.. sekarang Abang pasien saya" teriak Naura. Oka tersentak kaget di buatnya.
"Heh dokter Naura, tugasmu menyembuhkan pasien. bukan malah membuatnya jadi tuli" tegur Oka.
"Diam kau, atau bius ini merambat di tubuhmu"
"Sialan.. baru kali ini tentara di bentak wanita sampai begini" gerutu Oka. Naura hanya melirik tajam ke arah Oka.
-_-_-_-
"Ya sudah lah bang, Abang hati-hati ya di luar kota. Cepat kembali bang"
"Iya sayang.. jaga anak kita, jaga kesehatan juga" pesan Rival yang sangat tidak tega meninggalkan Shila.
-_-_-_-
"Kenapa Abang tidak jujur saja kalau Abang mengalami gejala sakit jantung" tanya Naura duduk di ranjang Rival.
"Heh.. turun. Abang tidak mau gayamu yang seperti ini membuat orang jadi salah paham. Apalagi rok mu itu pendek" tegur Rival
"Istri Abang lagi hamil. Abang nggak mau dia kepikiran dengan kondisi Abang. Kami baru melewati masa yang berat" kata Rival.
"Perempuan tak ada akhlak" cibir Oka.
__ADS_1
"Eehh pak tentara sok ganteng, kalau tidak ingin ku suntik mati lebih baik kau diam saja" kesal Naura.
"Hahaha..coba saja.. siapa yang akan menyuntik siapa" jawab Oka licik.
"Ya ampun... keluarlah kalian semua. Kalian semakin membuat ku menjadi pasien paling gawat darurat" usir Rival.
***
Shila menyuapi ketiga buah hatinya dengan telaten. Meskipun ia mabuk dan pusing, ia masih bisa membuat camilan dan memasak kesukaan putra putrinya.
"Papa kemana sih ma" tanya Abrian.
"Papa kerja sayang, lima hari baru pulang" jawab Shila.
"Oya sayang.. besok mama khan harus ke rumah sakit. Kalau mama belum datang ke sekolah, kakak Arben tunggu mama di sekolah sebentar ya" kata Shila.
"Iya ma"
***
Esok harinya Shila pergi ke rumah sakit. Ia kontrol kesehatan tanpa di temani siapapun. Berjalan di rumah sakit sendirian ia merasa sedikit pusing, apalagi mualnya masih terasa.
Samar disana ia melihat suaminya berjalan dengan seorang wanita. Suaminya berusaha melepaskan tangan wanita yang melingkar di lengannya.
"Ya Allah, apa sebegitu parahnya mualku hingga aku berkhayal Abang jalan dengan wanita lain di rumah sakit" gumamnya dalam hati.
Disana Rival menegur Naura.
"Naura, tolong jaga sikapmu. Abang sudah beristri. Punya tiga anak dan satu lagi masih di dalam perut" tegur Rival pada Naura.
"Tau lah bang, masa tidak boleh" manja Naura.
"Itu dulu Naura. Sekarang beda" tegas Rival.
Naura kesal dan mengibaskan lengan Rival begitu saja.
"Hiiiihh.. Benar-benar sakit jantung Abang nih kalau kamu yang menangani" kesal Rival.
Oka melihat punggung Naura dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
__ADS_1
.
.