
"Bunga untuk istri Abang" kata Rival menyerahkan bunga cantik untuk Shila.
"Cantik bang bunganya. Terima kasih banyak Abang" kata Shila.
Rival mendekatkan wajahnya ke pipi Shila.
"Nggak gratis. Abang minta gantinya" bisik mesra Rival.
Riuh tawa para anggota terdengar nyaring di telinga Rival. Sesaat ia baru menyadari microphone di kerah bajunya belum ia matikan. Kini wajah Rival yang berubah memerah karena ketahuan jelalatan pada istrinya itu.
"Bapak-bapak ini seperti tidak pernah jatuh cinta saja" kata Rival mengusir rasa canggungnya.
"Saya belum Dankiii" teriak Oka.
"Kena kutuk kau???" ledek Nathan.
"Iisshhh.. Abang nih, bisanya meledek saja" kesal Oka.
"Dasar jomblo akut" Nathan tertawa melihat ekspresi Oka yang menyesali kejombloannya.
-_-_-_-
Rival mempersilahkan para anggota beserta keluarganya menikmati jamuan yang sudah Rival sediakan. Ia memang sengaja mengadakan syukuran pernikahannya dengan Shila, berharap keluarga kecil mereka akan aman, tentram dan damai tanpa ada halangan apapun lagi.
"Ijin Danki.. semoga bahagia selalu bersama ibu" do'a para anggota.
"Terima kasih banyak" senyum Rival tampak lepas dan bahagia.
Para anggota sedang menikmati jamuannya. Rival mendekati Shila yang terus mengamati bunga pemberiannya.
"Kenapa sayang?" tanya Rival.
"Pegangan bunga ini sampai tengah kenapa seperti gulungan uang ya bang? Ikatannya pun seperti perhiasan" tanya Shila penasaran.
"Ya memang.. Abang lilit uangnya di situ, sama ada satu set perhiasan untuk kamu" kata Rival santai.
"Masa bang????" Mata Shila berbinar terang.
"Astagfirullah.. istri Abang.. kalau masalah duit sama perhiasan matanya mengkilat" Rival tak bisa menahan tawanya lagi.
"Iihh.. Abang" jawab Shila malu-malu.
"Tapi bang, Shila nggak punya apapun untuk Abang. Abang ingin apa?" sesal Shila sedih.
"Abang nggak minta banyak. Abang hanya ingin istri Abang selalu sehat, bahagia, berbesar hati dan senantiasa ikhlas menjalani hidup ini bersama Abang. Doakan Abang agar bisa tenang dan kuat mencari rejeki untuk kamu dan anak-anak" pesan Rival.
"Aamiin..Iya bang" senyum Shila, namun hatinya merasa tersentuh dengan segala perhatian suaminya.
***
__ADS_1
Malam hari Shila menghitung lembaran uang yang ada di bunga milik Shila.
"Ini uang asli bang" tanya Shila masih belum yakin.
"Asli to sayangku" jawab Rival.
"Alhamdulillah bang, semoga usaha Abang di luar selalu lancar ya!" doa Shila.
"Aamiin.." Rival ikut bahagia melihat istrinya bahagia.
Shila duduk di pangkuan Rival dan memeluk suaminya.
"Katanya tadi minta ganti bang?" tanya Shila manja.
"Abang bercanda, tidur sana!!!" kata Rival yang memang tidak tega menyentuh istrinya. Melihat Shila yang masih sangat lemah membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Yakin bang?" tanya Shila.
"Iya sayang" kata Rival yang sebenarnya sangat merindukan istrinya.
Shila tau betul suaminya itu sedang berbohong. Wajah Rival tak bisa menipunya. Shila mendekatkan bibir manisnya di belakang telinga Rival.
Rival merasa bulu kuduknya berdiri bagai tersengat aliran listrik yang kuat, nafasnya seketika tak beraturan.
"Kamu bener nggak apa-apa kalau Abang colek?" suara Rival mulai serak.
"Nggak apa-apa bang"
"Abang nggak tega dek" kata Rival mengangkat tubuhnya ingin menghindari Shila.
"Kalau Shila yang mau gimana bang?" tanya Shila dengan wajah genitnya.
"Darimana istri Abang ini belajar nakal?" gemas Rival yang seketika kalap menciumi Shila.
***
"Pakai rompi PHH, ini salah paham antar dua kelompok warga. Takutnya mereka membawa alat dan senjata" perintah Rival pada anak buahnya.
"Siap!!"
Siang ini ada kerusuhan antar kelompok warga. Para anggota akan ikut menetralkan situasi di tengah kubu yang sedang memanas.
"Saya dengar info kalau mereka memakai senjata api" kata Rival.
"Darimana mereka mendapat pasokan senjata api?" Oka heran.
"Dari perbatasan dan di selundupkan. Pasti lewat jalur lain" jelas Rival.
-_-_-_-
__ADS_1
Baku tembak pun terjadi. Tiba-tiba dari arah bukit ada yang menyerang para anggota. Rival membidik dengan sasarannya.
Tak berapa lama, ada seorang perusuh menembak ke arah mereka.
Oka melihat Naura datang membantu warga yang terluka terkena pecahan kaca, batu, lemparan dan sebagainya.
"Astaga.. si beo itu datang tanpa pengamanan" gumam Oka langsung berlari ke arah Naura.
"Kamu punya nyawa berapa datang tanpa pengamanan?" tanya Oka pada Naura.
"Aku hanya menyelamatkan mereka bang" jawab Naura.
"Abang tau. Tapi tidak sebodoh ini juga, mereka membawa senjata api. Bisa-bisa malah kau yang di selamatkan. Kau sungguh dungu" bentak Oka sambil memakaikan rompinya pada Naura.
blaaaaammm...
Bom molotov meledak di samping Naura, ia kaget hingga memeluk Oka. Tiba-tiba kelompok perusuh itu mengacungkan senjata ke arah Naura. Oka mengalihkan tubuh Naura di belakangnya.
dooorr...
Oka tertembak di bagian lambung kiri.
dooorr...
Rival menembak perusuh itu tepat di kaki hingga terkapar. Rival segera menghampiri Oka dan Naura.
"Bodoh!!!! lihat situasi kalau mau masuk medan perang!!!" bentak Rival pada Naura.
"Iya..iya..Naura bodoh" pekiknya menangis penuh sesal.
"Abaaangg..." pekik Naura melihat Oka. Naura panik dan segera memberi pertolongan pada Oka. Naura nampak sangat gugup bahkan ia menangis.
"Apa yang kamu tangisi?" tanya Oka terlihat biasa saja.
"Jangan banyak bicara bang" kata Naura sambil menghapus air mata dengan lengannya.
"Ini jauh dari nyawa" ucapnya.
"Dek.. Kamu mau nggak jadi istri Abang?" tanya Oka dalam situasi seperti itu.
"Abang ngigau ya" Naura makin terisak.
"Abang nggak bisa bohong lagi dek. Abang punya rasa sama kamu sejak pertama kita bertemu" kata Oka dengan terbata.
"Abang sudah parah" kata Naura tak menghiraukan omongan Oka.
"Jawab Abang dulu" kata Oka menahan rasa sakit.
"Abang bisa diam dulu nggak" teriak Naura menangis kencang sambil memberi pertolongan pertama pada Oka.
__ADS_1
.
.