
Pagi ini seluruh jajaran beserta istri sudah berkumpul di sepanjang halaman dalam Batalyon menyambut pimpinan pusat.
Para pejabat sedang berjalan masuk. Danyon mendapat apresiasi karena membuat penyambutan yang indah. Begitu pula ibu Danyon dengan sombong mengatakan semua dekorasi untuk kunjungan pertemuan istri anggota adalah hasil kerjanya satu Minggu ini.
Rival merasa geram pada ulah Danyon, bukan karena ia ingin di puji. Tapi bualan Danyon beserta istrinya membuat kepalanya sakit karena menahan marah memuncak dalam dada.
"Ijin mbak. Anggota saya tidak kreatif. Makanya saya sendiri siang dan malam mengerjakan ini semua. Apalagi Bu Rival ini tidak bisa kerja karena sedang hamil" kata Bu Danyon pada istri pejabat pengawas.
Saat ini Rival bukannya tidak berani membalas. Hanya saja ia tau aturan untuk tidak menjatuhkan sesama pemimpin di hadapan para anggota.
Rival tau ibu Danyon berusaha mengucilkan dan menjatuhkan Shila di hadapan ibu pejabat tapi disana Rival masih menyimpan rasa tenang sebab ibu pejabat sangat bijak dan netral pada anggotanya.
"Kenapa ada rancangan Kapten Rivaldi akan di mutasi ke Papua?" tanya pejabat.
"Ijin bang! Pelanggaran disiplin" jawab Letkol Susilo.
"Kamu ada pelanggaran apa Kapten??" tanya pria berpangkat bintang satu itu.
"Siap salah. Ijin menyampaikan.. saya melanggar disiplin karena sudah menghajar Letkol Susilo" ucap Rival tegas dan lantang tanpa takut sedikitpun.
Danyon tersenyum dengan sombongnya.
"Hmm... Begini Kapten Rivaldi.. Kamu tidak bisa di mutasi karena kinerjamu mengatur anak buahmu di wilayah bagian tengah ini mendapat penghargaan, dan untuk itu saya kesini sekalian menyampaikan amanat Panglima dan Panglima sendiri yang akan memberikan penghargaan itu pada kunjungan yang sudah terjadwal selanjutnya"
"Siap.. Terima kasih banyak" Rival sedikit menegakan badannya.
"Ada yang ingin disampaikan??" kata Pak Suwondo menyerahkan sebuah mic ke tangan Rival dan Danki A itu menerimanya.
Rival memberi penghormatan kepada pak Suwondo beserta pejabatnya. Lalu menunduk sesaat sebelum berbicara.
"Ijin Komandan.. Nama saya Rivaldi Alfario. Rekan semuanya mengenal saya sebagai Kapten Rivaldi dan menyapa saya dengan pangkat Kapten Rivaldi. Pagi hari saya berdiri di Batalyon di beri sebuah amanah sebagai pimpinan kecil di antara beberapa rekan semuanya, memakai seragam yang gagah berbaret rapi mengatur jalannya kegiatan setiap harinya. Sore hari saya melepas seragam, bercanda tawa dengan ketiga buah hati saya. Ijin masih tiga komandan, yang satu lagi masih saya titipkan pada istri ( Senyumnya ringan ). Di situlah saya merasa hidup. Ada anak dan istri sebagai sumber kekuatan saya. Melihat istri yang setia mendampingi saya, menjaga anak saya. Itu anugerah yang tidak bisa di ganti dengan uang. Tiba saat malam hari, saya kembali pada diri saya sebagai seorang pria, sebagai seorang ayah, sebagai seorang suami.. menatap lelapnya anak saya yang tidur pulas. Melihat wajah polos istri tercinta, disitulah batin saya menangis. " ucap Rival sendu membuat seisi ruangan terdiam merenung meresapi setiap perkataan Danki.
"Penghargaan itu tidak pantas untuk saya. Karena di balik sebuah penghargaan itu. Ada jerit tangis putra putri saya. Ada untaian rindu dan lara yang tidak terucap dari istri saya"
Rival melangkah maju mendekati Shila yang sedang duduk bersama para istri pejabat. Suami Shila itu Melepas baretnya dan menyandarkan kening pada dekapan hangat di perut sixpack Rival yang hangat.
"Yang saya inginkan tidak banyak. Tidak ingin mendengar anak saya memanggil saya dengan sebutan 'om' dan menghapus semua tetes air mata istri saya" Rival mengusap lembut punggung istrinya yang mulai menangis mendapat dekapan hangat darinya.
__ADS_1
Pak Suwondo tertegun, ia memang sudah mendengar cerita tentang perjuangan Kapten Rival. Hal ini yang membuat Panglima sangat ingin bertemu langsung dengan Kapten Rivaldi hingga mengutusnya melihat Batalyon sekaligus bertemu dengan Rival.
"Kamu sudah bekerja keras Kapten.. saya salut" ucap Pak Suwondo.
"Bisa saya pinjam profil Riwayat hidup beliau" tanya Pak Suwondo pada seorang staff personil.
"Siap!!!"
-_-_-_-_-
Pak Suwondo membaca profil Riwayat hidup Rival. Mulai dari akademis di sekolah hingga menjadi lulusan terbaik sekolah perwira. Tak ada satupun cela yang pernah Kapten Rivaldi buat. Hanya beberapa catatan kecil saja disana. Tak lupa menyaksikan sebuah video yang di berikan Nathan pada pak Suwondo.
"Maaf Bu Rival hamil anak ke empat?" tanya Pak Suwondo.
"Ijin menjelaskan Komandan. Istri pertama saya sudah tiada. Dari pernikahan terdahulu, kami mendapatkan dua putra. Dengan istri saya ini, saya mendapat seorang putri dan sekarang istri saya sedang mengandung enam bulan" Kata Rival menyahut menjelaskan.
"Oohh begitu. Sehat selalu sampai melahirkan ya Bu Rival" Kata ibu Suwondo.
"Ijin ibu, terima kasih banyak" jawab Shila
"Kapten Rivaldi.. pantas saja Nyonya Rivaldi paham segala tumbuhan bahkan sampai dekorasi. Ternyata Ibu Rival lulusan Sarjana Agribisnis" celetuk Pak Suwondo ikut merasa bangga.
Danyon dan istri saling pandang. Wajah mereka merah padam bagai terbakar. Rasanya mereka kehilangan muka.
"Saya dan para staff pinjam ruanganmu. Ada yang perlu kita bicarakan!!!!" perintah Pak Suwondo pada Danyon.
***
Sore hari setelah acara bersama Pejabat telah usai. Rival masih duduk di lapangan menemani istrinya yang baru selesai mengerjakan tugasnya bersama yang lain.
"Istri Abang capek ya?" Rival mengangkat kaki Shila ke atas pangkuannya lalu memijatnya. Rival melihat kaki Shila terlihat memerah dan lecet.
"Eehh.. Abang. Banyak orang" tolak Shila.
"Mau Abang angkat kakimu, atau rokmu???" tanya Rival.
Shila meninju lengan Rival dengan kencang, sungguh suaminya itu tak tau malu kalau sudah bercanda dengan Shila. Untung saja hanya beberapa orang yang berseliweran disana.
__ADS_1
"Aduuuhh..sakit yank!! Itu ototmu sudah double. Abang bisa patah tulang" pekik Rival sok berlebihan.
"Abang mau bilang Shila gendut?????" Mata Shila langsung melotot mengintimidasi.
"Eeehh.. nggak sayang" Rival sudah lumayan cemas dengan tatapan Shila.
"Itu kenapa Abang bilang otot sudah double???" Mata Shila memerah. Agaknya bumil sedikit tersinggung membicarakan masalah otot ini.
Arshen melintas di belakang Shila. Rival setengah melirik Arshen meminta bantuan jawaban. Seketika Arshen mengangkat tangannya.
"No..No.. Raka nggak ikut-ikutan ya dek!!"
"Oohh..iya, Raka baru ingat semalam Abangmu bilang kalau kamu itu semakin... Aahh...nggak tega Raka bilangnya" Goda Arshen sambil memasang wajah sedihnya, lalu membiarkan Rival menghadapi istrinya sendirian.
Aseeeemmm... Awas kau Arshen. Pengen di bejek nih orang.
"Abang bilang apa?? Shila tambah ngembang kebanyakan fermipan???" kesal Shila mencubit kecil pinggang suaminya.
"Kamu bahenol kok" jawab Rival memelas.
"Abang bohong" Shila mencakar tangan Rival disana sini.
"Aduduuuhh... Abis dah badan Abang di cakar kucing" Rival menertawakan tingkah lucu Shila.
"Memangnya kenapa kalau kamu gendut?"
"Abang nanti ngelirik yang sexy" ucap Shila manja.
Rival tersenyum saja mendengar celotehan istrinya. Shila bukan seseorang yang akan mudah cemburu tanpa alasan.
"Buat apa sih dek Abang ngelirik yang lain. Kamu saja sudah sangat menggairahkan buat Abang mabuk cinta"
Shila tersenyum malu memalingkan wajahnya yang bersemu merah.
"Hhmm..coba di rumah. Abang caplok kamu yank" ucap Rival gemas melihat ekspresi Shila.
.
__ADS_1
.