Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
66. Jangan marah sayang


__ADS_3

Rival sudah menidurkan Abrian di kamar. Lalu masuk ke dalam kamar bersama Shila. Gelas berisi jahe tadi sudah habis Shila minum.


Rival melihat ada lima panggilan tak terjawab dari Naura.


Ada apa dia telepon malam begini?


Rival membawa ponsel itu keluar lalu menghubungi Naura.


"Assalamu'alaikum.. ada apa kamu hubungi Abang?" tanya Rival.


"Wa'alaikumsalam.. Jemput aku donk bang, aku ada di club" rengek Naura.


"Ngapain kamu disana Naura?" kesal Rival.


"Pacarku selingkuh bang!" isaknya.


"Cckk.. ada-ada saja. Tunggu Abang!" perintah Rival.


Rival mencium kening Shila.


"Abang tinggal sebentar ya sayang. Abang sayang kamu"


***


Rival mengedarkan pandangan mencari sosok Naura di sana. Naura tak sadarkan diri di meja bar.


"Beginikah ulah seorang dokter???" kesal Rival tak berguna karena yang di ajak bicara tidak sadar.


-_-_-_-


Shila muntah kesekian kalinya. Ia mencari Rival tapi suaminya itu tidak ada di rumah. Ponselnya tidak di angkat. Shila merangkak hingga meja dapur mengambil ponselnya. Ia mengubungi piketan depan.


"Selamat malam pak. Ini Bu Rival......"


-_-_-_-


Oka dan Zein membuka pintu rumah Rival dengan paksa karena Rival mengunci pintunya dari luar.


"Waduh.. mbak Shila" Oka kaget melihat Shila sudah pingsan di dekat meja makan.


Sesaat tadi Gandhi yang sedang piket menghubungi Oka untuk meminta bantuan.


"Kemana Abang??" tanya Oka.


Gandhi tak banyak bicara, ia langsung membopong Shila ke rumah sakit..


"Kalian berangkatlah. Saya standby disini sama keponakan" kata Zein.


***


Rival memapah Naura sambil menutup panggilan teleponnya setelah menelepon seseorang.


"Ulah macam apa ini Naura. Lihat pakaianmu ini!!" tegur Rival. Naura yang tidak bisa menyangga badannya hanya bisa memeluk Rival.


"Minumkan ini pada dokter Naura agar ia cepat sadar" kata dokter Imanuel.


"Iya dok, terima kasih!"


Saat keluar ruang UGD.. Gandhi masuk menggendong Shila yang sekarang sudah setengah sadar. Rival sangat kaget melihat Shila dalam dekapan Gandhi.


"Kamu kenapa dek?" tanyanya panik, tapi Rival lupa tidak melepas pelukan Naura yang bergelayut manja.


"Abang kenal" tanya Naura. Rival tidak menjawab. Ia sibuk dengan dokter Imanuel yang memeriksa kondisi Shila.

__ADS_1


Disana Naura ingin muntah, ia memeluk erat Rival dan Shila tau itu. Tanpa sadar Shila pun meneteskan air mata. Ia mencengkram kuat tangan Gandhi. Saat Shila muntah baru Rival menyadari tindakannya yang salah. Rival melepas paksa pelukan Naura.


"Sini kamu!!!!!" tegas Oka menarik kasar tangan Naura membawanya keluar.


Oka dan Naura berada di luar ruangan. Oka menunggu Naura hingga tidak muntah, hanya masih merasa mabuk.


"Kenapa kamu??? Hamil????" ledek Oka.


plaaakk...


"Aku bukan wanita gampangan bang" kesal Naura.


"Terus ini kenapa? Mau jadi pelakor kamu??? Kamu liat nggak istri Abang selemah apa tadi?? Mereka baru melewati cobaan berat dan kamu datang mau berbuat onar??" maki Oka.


Naura ingin menampar pipi Oka, tapi Oka bisa dengan mudah menangkap tangan Naura.


"Abang Rival tidak akan mencintaimu. Dia sudah setengah mati mencintai istri cantiknya itu" cibir Oka.


"Kamu ini menyusahkan Abangmu saja" bentak Pak Suherman datang tiba-tiba di belakang Oka bersama dua ajudannya.


"Ijin Komandan.. Selamat malam!" sapa Oka memberi penghormatan.


"Selamat malam. Ada apa kamu disini?" tanya pak Suherman


"Ijin.. Istri Kapten Rivaldi sedang mendapat perawatan di dalam" jawab Oka.


"Kenapa Shila?"


"Ijin Komandan, dehidrasi karena hamil muda Komandan"


"Haiisshh.. " Komandan menggeleng kepala.


"Lho.. kamu bukannya sama Abang? Kenapa bisa bebarengan dengan Shila?" tanya Pak Suherman pada Naura.


"Astaga.. kamu minta Abang menjemputmu saat istrinya sedang sakit???" bentak Pak Suherman.


"Naura nggak tau pa" kata Naura.


"Keterlaluan.. memalukan kelakuanmu ini Naura" tegur keras Pak Suherman.


"Ya Tuhan.. jadi si Naura ini anak Komandan?? Berarti sepupu Abang Rival donk??? Secara Pak Suherman ini khan om kandungannya Abang Rival" batin Oka.


"Suruh Lettu ini push up pa, dia ngatain aku macam-macam, dia bilang aku hamil.. padahal mabuk minuman" kesal Naura.


Oka terperanjat kaget mendengar kata Naura.


"Benar begitu???" tegas Pak Suherman.


"Siap salah!!!" jawab Oka lantang.


"Hukum pa!!!!!" kata Naura.


"Diam kamu Naura!!!" bentak Pak Suherman.


-_-_-_-


Tak sedikit pun Shila bicara disana, ia hanya meluapkan amarahnya dengan memukul Rival sekuatnya saat Rival menyentuhnya. Shila tak punya tenaga lagi bahkan untuk bersuara.


Rival tau istrinya sudah salah paham tentang Naura.


"Dek.. sayang.. jangan salah mengerti" ucap Rival sedih.


Gandhi merasa geram dengan situasi ini, tapi dia bisa apa. Gandhi memilih untuk keluar dari UGD.

__ADS_1


Shila menarik napasnya menguatkan untuk bicara.


"Kalau Abang tak inginkan Shila, tak apa bang. Shila mengerti. Tapi setidaknya katakan sejak awal. Shila tau Abang kemarin nggak pergi dinas. Abang jalan sama perempuan itu disini khan?"


"Kamu tau Abang disini? kapan?" tanya Rival bingung.


"Jadi benar bang? Abang tidak pergi ke kota sebelah? Abang tinggal dengan perempuan itu???"


"Dengar dek, dia Naura.. sepupu Abang" jujur Rival.


"Sepupu yang mana bang? Dia bergelayut manja di lengan Abang. Sejak kemarin..sampai hari ini, Shila masih melihatnya pakai mata kepala Shila sendiri" kata Shila terisak.


"Nggak sayang.. Abang nggak akan selingkuh" jelas Rival.


"Terus kenapa dia mual juga bang? Apa kemarin Abang mengantarnya kesini untuk periksa kehamilan? Dia juga hamil anak Abang???"


"Astagfirullah hal adzim.. nyebut dek. Abang nggak akan nyentuh perempuan lain selain kamu" kata Rival merasa sangat bersalah.


"Maaf bang, Shila yang tak tau diri ini berharap banyak dari Abang. Abang temani saja Naura Abang itu" ucap Shila mengusir Rival dari ruang UGD.


"Abang nggak akan tinggalkan kamu sendiri" tegas Rival.


"Pergi bang!!!!"


Shila memukul Rival sekuatnya, tangisnya pecah semakin menjadi. Rival menerima semua pukulan tanpa tenaga itu. Semakin lama pukulan itu semakin tak terasa.


"Dek..sayang!!" Rival menepuk pipi Shila. Istrinya itu pingsan lagi sekarang.


-_-_-_-


"Kebodohan apalagi ini!!!! Keahlianmu dari dulu..hanya membuat istrimu selalu salah paham" tegur keras Pak Suherman pada Rival.


"Mbak Shila yang lihat Naura langsung berpikiran buruk pa" kata Naura membela diri.


"Tidak salah paham bagaimana!!! Lihat pakaianmu!!! mini dress terbuka. Bergelayutan, lalu kamu datang mabuk alkohol. Jangan salahkan yang melihat kalau mereka menuduhmu sedang hamil" kesal pak Suherman pada putrinya.


"Ini tanah airmu Naura. Budaya ketimuran. Jangan kamu bawa kelakuan saat kamu berada di Amerika" kata Pak Suherman.


"Naura salah pa. Maaf!!" Oka menatap lekat gadis di hadapannya. Mungkin kalau Naura bukan gadis, pembuat onar dan bukanlah anak Komandannya, pasti ia sudah mengajaknya bertengkar sejak tadi.


-_-_-_-


Para lelaki sedang sibuk berdebat. Hanya Naura wanita yang menunggui Shila di dalam ruang perawatan di sebelah UGD, Shila harus diinfus beberapa jam agar tenaganya bisa pulih.


Saat Shila siuman. Ia melihat Naura dengan santai memainkan ponselnya.


"Sejauh apa hubunganmu dengan suami saya" tanya Shila berusaha tenang.


Naura melihat Shila yang sudah bangun sudah menatapnya.


"Dekat sekali" jawabnya singkat.


Shila ingin sekali menangis kencang, tapi ia cukup tau diri. Rival dan yang lainnya masuk ke ruangan itu, mereka was-was meninggalkan Naura bersama Shila.


Naura berdiri dan mengusap perutnya.


"Ini ada isinya lho" kata Naura. Shila memalingkan wajahnya.


"Mintalah pada Abang agar Abang segera bertanggung jawab" ucap lirih Shila.


Rasanya badan Rival panas dingin melihat kelakuan Naura. Tak terkecuali semua yang ada disana, ikut jengkel dengan ulah Naura.


.

__ADS_1


.


__ADS_2