Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
83. Kapten Rivaldi.


__ADS_3

Arshen bangun pagi dan mau sholat subuh. Disana dia sudah melihat Shila memasak makanan untuk anak-anaknya dengan perut yang sudah nampak besar. Sesekali Shila mengusap peluh di dahinya.


"Kenapa tidak bangunkan asisten mu itu" tegur Arshen.


"Biar saja bang. Dia yang bilang kalau dia kesini hanya untuk mencari pacar. Bibi sangat baik sama Shila. Shila menghargai bibi saja" kata Shila.


"Kamu ini bodoh atau polos. Tidak begitu juga cara pikirnya. Kalau Abang Rival sampai tau, tidak hanya kamu saja yang kena sembur. Raka pun bisa kena maki" kata Arshen.


"Orang tua bibi sakit. Masa iya Shila harus membebani pikiran bibi dengan masalah anaknya juga"


"Terserah lah, tapi Raka tidak tanggung kalau Abang sampai keluar tanduk" Arshen mengingatkan


***


Rival sudah mengintai di sekitar. Pisau lipat sudah menancap di pinggangnya. Bahkan sabuk pistol pun sudah melingkar di perutnya tertutup kaos lusuh mirip gelandangan.


"Angkat tangan!!!!" perintah Rival. Tak lama team nya ikut bergerak maju dan bekerja sama dengan pihak yang berwajib meringkus kelompok perdagangan narkotika.


"Bawa backing anggota kita!!!" Rival mengamankan anggota yang terlibat dalam pengoperasian perdagangan.


Tiba-tiba seseorang datang dan menyerang Rival membawa pisau di tangannya. Duel sengit terjadi dan tanpa di duga pisau itu menancap dan menusuk sisi perut kiri Rival. Rival pun merebut pisau itu dan balik menusuk musuh.


Oka dan team yang baru selesai menghadapi kelompok musuh segera menghampiri Rival.


"Sudah aman bang?" tanya Oka.


"Aman... Cepat seret anggota yang terlibat. Buat laporan dan kita pulang!!!!" tegas Rival.


"Siap!!"


Rival membuka bajunya lalu menyobeknya hingga panjang lalu melilitkan pada luka tusukan di pinggangnya.


"Astagfirullah bang... Ayo kita obati dulu luka abang." Kata Gandhi cemas melihat banyak darah di sekitar pinggang Rival.


"Cckk.. nggak usah berlebihan. Luka kecil saja kamu bingung" ucap Rival santai.


"Bang.. saya tau Abang tidak tenang. Tapi luangkan waktu satu jam saja untuk menangani luka Abang. Saya tau itu luka dalam" tegur Oka.


-_-_-_-_-


Rival sesekali memercing sakit mendapat dua jahitan di pinggang kiri Rival.


"Ini lumayan dalam ya! Jangan beraktifitas berat!!" pesan dokter.


"Iya dok. Terima kasih" kata Rival.


Tak lama mereka kembali ke camp mereka dan bersiap untuk pulang.


***


Pukul delapan pagi di hari selanjutnya, Shila menyuapi Abrian dan lilan puding susu buatannya tadi pagi sambil sesekali mengarahkan beberapa anggota remaja untuk menata pot di sekitar panggung untuk menyambut tamu kunjungan kerja dari markas. Arshen sedang sibuk dengan kegiatannya dan tidak bisa memantau anak-anak Shila.

__ADS_1


Anggota remaja sedang mengambil pot untuk menata panggung sesuai permintaan istri Danki itu. Shila memanjat kursi plastik berpegangan pada tirai karena belum puas dengan bunga yang tertempel di tiang penyangga panggung.


"Aaacchhhhh" Shila terkejut, tirai yang menjadi pegangannya ikut terlepas. Berat badannya yang kian terasa membuat kursi itu patah dan Shila terjerembab jatuh.


"Astagfirullah hal adzim..." Rival menangkap tubuh Shila tepat pada waktunya. Matanya melotot tajam. Aura kesal dan marah nampak jelas disana.


"Kemana pikiranmu dek????? Hamil enam bulan masih berani panjat kursi" bentak Rival yang membuat keterkejutan Shila yang belum usai semakin bertambah kaget. Apalagi wajah Rival yang sangar membuat nyali Shila ciut seketika.


"Ma..maaf bang. Jangan marah!" ucap Shila terbata.


"Bagaimana Abang tidak marah menghadapi kebodohanmu!!! Ini salah satu alasan yang buat Abang tidak tenang meninggalkanmu. Untung saja Abang pulang dan masih sempat menangkap mu. Kalau tadi satu detik saja Abang terlambat. Mau jadi apa kamu sama anak Abang" bentak Rival sekali lagi.


Rival mendudukan Shila di lapangan dan meluruskan kakinya. Rival mengusap perut Shila beberapa saat lalu menatap anggota yang sudah berada di sekitarnya.


"Pada kemana semua kalian???? Bodoh!!! Harusnya kalian bisa berpikir.. bukan karena ini istri saya...tapi lebih pada tanggung jawab kalian menjaga wanita di sekitar kalian, terlebih wanita hamil. Bagaimana bisa tidak ada satu orang pun yang standby di dekat panggung dan sibuk dengan urusan masing-masing!!!!!! Perhatikan safety.. pikir segala kemungkinan. Panggung roboh, banyak alat berbahaya.. paku, martil, gergaji. Ceroboh kalian semua!!!" kesal Rival.


"Siap salah!!!!!!"


"Kemana Danyon????" tanya Rival.


"Ijin Danki.. sedang cuti ke Bali. Nanti malam baru hadir" ucap salah seorang anggota.


"Apaaaaaa????? Jadi istri saya kerjakan ini hanya untuk menuruti Danyon????????"


Para anggota tak bisa menjawab apapun lagi melihat kemarahan Danki A.


"Pulang kamu dek!!! Jangan urus panggung ini lagi" perintah Rival.


"Atau Abang ledak kan panggung ini!!!!!!!" ancam Rival.


"Pulang!!!!!!!" tatap tajam Rival.


Bahkan perwira lain tak tau harus berkomentar apa. Selama ini memang hanya Rival yang bisa berbuat keras seperti itu menghadapi Danyon yang sangat arogan dan keterlaluan.


-_-_-_-


"Sakit??" tanya Rival ikut ngilu melihat Shila turun perlahan dari mobil. Rival menurunkan juga Abrian dan Lilan dari mobil.


"Agak keram bang" kata Shila.


"Kamu sih"


Dari arah dalam rumah Fitri keluar sampai ke teras melihat Rival dengan wajah tersipu malu. Ia menyapa Rival.


"Mas Rival sudah pulang?"


Rival tak membalas sapaan itu. Amarah yang sudah mereda harus bangkit kembali melihat wajah Fitri.


Saat Rival mengajak Shila berjalan masuk, Fitri berjalan juga di samping Rival membuat Rival kesal. Ingin rasanya ia menegur wanita itu, tapi ia masih menjaga perasaan Shila yang tidak tau apa-apa. Arshen yang sedang bercanda dengan keponakannya pun gemas di buatnya.


"Tunggu Abang di kamar sebentar ya! Abang mandi dulu. Praka Sony mau kesini" kata Rival.

__ADS_1


Rival bergegas mandi. Baru kali ini sejak dalam penugasan Rival menikmati acara mandinya. Saat sudah selesai.. Rival baru ingat kalau dia tidak membawa handuk.


"Dek.. sayang!! tolong ambilkan Abang handuk!!" teriak Rival dari dalam kamar mandi.


"Iya bang!!!" teriak Shila lirih yang mungkin saja tidak terdengar oleh Rival.


Fitri yang mendengar suara itu bergegas mengambil handuk dari lemari di ruang tengah lalu mengetuk pintu kamar mandi.


Tangan Fitri mengulur masuk. Rival yang mengira itu tangan istrinya menarik masuk Fitri ke dalam kamar mandi. Sialnya.. Shila melihat hal itu.


"Abaaangg!!!!" pekik Shila yang membuat Rival sadar dengan kesalahannya.


Rival menyambar handuk di tangan Fitri dan mendorongnya keluar dengan kasar.


"Sialan.. " Rival menghantam pintu kamar mandi dengan kencang membuat Arshen masuk ke dalam rumah.


Tubuh Shila sudah bergetar terpaku menahan tangis. Arshen melihat Rival yang marah masih dengan handuknya yang terlilit di pinggang. Ada bekas luka disana.


Arshen paham situasi ini. Pasti ada salah paham yang terjadi.


"Masuklah dulu bang! Ganti pakaian Abang" Rival masuk menurut kata Arshen. Sekilas ia melihat Shila menahan air matanya karena salah paham.


-_-_-_-_-


"Kamu bisa diam atau tidak????" bentak Rival pada Fitri yang sejak tadi bicara bahwa ia punya bukti perselingkuhan Shila.


"Sumpah bang. Shila nggak selingkuh" Ucapnya terisak mencoba memegang lengan Rival.


"Kamu jangan nangis terus!! Kasihan anak kita dek" Rival sebenarnya kasihan melihat Shila.


"Istri mas ini selingkuh sama dia" tunjuk Fitri pada Arshen.


"Aku??????" Arshen menunjuk dirinya sendiri lalu menggeleng tertawa mendengar tuduhan Fitri. Rival pun menggeleng gemas.


Zein menepuk dahinya ikut kesal dengan ulah Fitri.


"Oya.. suamimu tidak pernah menghubungimu khan mbak Shila?? Mas Rival ini lebih memilih menghubungiku" Fitri menyodorkan ponselnya. Shila menerimanya, Shila menoleh menatap mata Rival meminta kepastian. Meskipun akan menyakitkan.. Rival membiarkan Shila melihat percakapan itu.


Shila melihat satu persatu percakapan itu. Awalnya Shila merasa sangat sakit hati melihat Fitri mengirimkan foto bagian atas tubuhnya pada Rival, suaminya menanggapinya bahkan meminta hal lebih. Lalu foto itu beralih ke hal sensitif. Shila merasa tidak kuat, ia bersandar menghapus air matanya disana. Rival menunduk tidak tega melihat ekspresi Shila yang pilu itu.


"Astagfirullah bang" Shila lemas di buatnya.


"Maaf!! Abang nggak sengaja" sesal Rival menautkan keningnya pada kening Shila.


Shila melanjutkan lagi membaca pesan di ponsel itu, tapi sudah tidak ada jawaban apapun lagi dari suaminya. Bahkan suaminya bernada keras saat foto itu terus di kirim padanya. Jelas sekali Fitri yang banyak menggoda disana.


"Apa yang mau kamu jelaskan?" tanya Shila lebih tenang.


.


.

__ADS_1


__ADS_2