
Sepulangnya dari makam, Shila masih saja bersedih memikirkan kata-kata Rival tadi. Rival melirik istrinya.
"Masa liburan cuma pamer muka cemberut begitu??"
"Iya.. mama diam aja dari tadi. Kalau papa nakal biar Arben yang marah ma" bela Arben.
"Ini anak kecil nyamber aja urusan orang tua" gerutu Rival.
Shila tak bisa menahan tawanya setiap mendapatkan pembelaan dari Arben.
"Mama agak nggak enak badan aja kak" senyum Shila mengembang seperti biasanya.
Rival menyentuh kening Shila. Memang wajah Shila nampak sedikit pucat.
"Kenapa ma? Apa yang sakit? Bulan ini sudah normal apa belum haidnya" tanya Rival sedikit pelan.
"Kayaknya mau haid deh pa.. biasa nih" Shila meremas perutnya yang memang terasa sakit.
"Giliran bulan madu papa malah dapat musibah maaa.. mama!!" bibi pun akhirnya tertawa mendengar Rival berbicara, sebab majikannya itu selalu terlihat tenang dan berwibawa. Ternyata majikannya pun sama seperti pria pada umumnya saat sudah dekat dengan keluarga.
"Maaf pa..mana mama tau" sesal Shila. Memang sejak melahirkan hingga Agata berusia menuju empat bulan, suaminya itu belum menyentuhnya. Bukan tidak ingin, Untuk kali ini memang Rival sangat berhati-hati dan sebisa mungkin mengontrol hawa nafsunya sendiri.
***
Malam hari mereka berkeliling kota Jogja melihat segala pemandangan yang tak pernah membuat bosan.
Bibi sedang makan bersama ketiga anaknya. Anak-anak pun senang mencoba makanan khas Jogja.
"Minum dulu dek" Rival menyuapi wedang ronde di tempat dulu Rival dan Shila pernah berhenti saat mereka belum menjadi seperti sekarang ini. Kalau dulu Rival sempat menolak kehadiran Shila dalam hidupnya, mungkin sekarang kehadiran Shila adalah hal yang sangat ia inginkan.
"Ini lebih pedas bang"
"Biar cepat sembuh donk. Kamu kalau sudah sakit selalu bikin Abang kelabakan" kata Rival sambil menyuapi Shila lagi.
"Dek.. mau ke hotel tempat kita dulu nggak?" tanya Rival tiba-tiba.
"Mau apa bang??"
"Disana khan adem, ada tempat bermain anak-anak, biar mereka senang lah"
"Oohh.. ya sudah ayo bang! baju juga ada di mobil semua" Shila menunjuk baju yang ada di bangku bagian belakang.
__ADS_1
***
Seperti biasa anak-anak memilih bermain karena di hotel ada taman bermain anak-anak. Rival menemani anak-anaknya bermain sebentar. Bibi hanya santai menungguinya di pinggir lokasi bermain. Sesekali melirik Shila yang sedang menggendong Agata.
Tiba-tiba..
eegghh..
Rival memercing memegang dadanya.. Shila kaget setengah mati melihat suaminya yang ia lihat nampak kesakitan.
"Ayo masuk kamar ma!! Bibi sama anak-anak sebentar" ajak Rival.
"Iya Bu, bibi jaga anak-anak. Kasihan bapak" jawab bibi panik.
Shila dan Rival berjalan di lorong kamar. Kamar yang ia pakai saat bulan madu dulu. Shila segera masuk dan menidurkan Agata tanpa melihat kondisi sekeliling kamar. Yang Shila cemaskan hanya kondisi Rival.
"Akhirnya kita bisa berduaan juga"
"Aaaaaahhhhh.." teriak Shila yang terkejut karena Rival tiba-tiba menggendongnya dan membawanya ke atas ranjang.
"Hhussstt diam sayang!!! Susah payah Abang membawamu kesini. Jangan sampai Gata juga bangun"
"Abang kenapa bohong? Jangan main-main bang, Shila benar-benar takut" kesal Shila tangannya terus meninju pangkal lengan Rival.
"Kamu sudah terlalu sibuk sama anak-anak. Abang kapan??"
"Ternyata Abang hanya modus bawa anak-anak kesini?" tanya Shila ketus.
"Jangan marah sayang. Maaf.. Abang kepepet"
"Apanya yang kepepet sich bang?? Di rumah juga bisa" Shila bangkit dari ranjang dan ingin pergi dari sana untuk melihat anak-anaknya.
"Kapan??????" Rival menarik tangan Shila, mungkin terasa sedikit kasar terasa di tangan Shila.
"Shila capek bang" tolak Shila yang tidak memandang Rival.
Seketika Rival berdiri mengibaskan tangan Rival, perasaannya sangat kesal sekali. Campur aduk tidak karuan. Rival berjalan keluar kamar saat merasa hatinya mulai panas.
"Aabaaanngg" Shila memeluk erat punggung Rival. Ada rasa bersalah juga saat melihat suaminya marah.
"Maaf bang" katanya sambil menahan tangis.
__ADS_1
"Abang mau keluar sebentar" ucap Rival datar sebisanya menahan perasaan marah bercampur kesal karena suatu hal yang tidak tersalurkan.
Shila tidak melepaskan pelukannya dan malah semakin erat memeluk Rival.
"Abang nggak akan marah kamu menolak Abang kalau alasannya jelas" tegas Rival.
Tak mendapat alasan dari Shila, Rival melepaskan tangan Shila yang melingkar di perutnya.
"Ya sudah ayo bang" ajak Shila mengalah.
"Abang nggak mood lagi" Rival sudah memegang handle pintu dan bersiap keluar, tapi Shila berdiri di hadapan Rival mencegah agar suaminya tidak keluar.
Shila melepas kancing bajunya satu persatu. Menunjukan lekuk tubuh indahnya. Melepas pengait b*a terkunci di depan. Rival memalingkan wajahnya karena ia masih sangat marah namun ia terkejut istrinya bisa melakukan hal itu. Istri Rival itu berjinjit menggoda suaminya. Tiupan hangat di balik telinganya berdesir lembut di dadanya. Tubuh Shila yang semakin padat setelah melahirkan membuatnya sangat tergoda. Tangan Shila mulai menjalar kemana-mana. Sampai pada satu titik, ia tau suaminya sebenarnya sangat menginginkan nya lagi.
"Mau lanjut marah apa mau lanjut di kasur pa" pertanyaan Shila merontokan satu persatu iman di dadanya tapi Rival terlanjur gengsi.
"Ya sudah kalau nggak mau" Shila pura-pura menutup bajunya lagi.
"Yang punya rumah belum masuk!! Kenapa mama main tutup pintu" Rival mencegah tangan Shila menutup pakaiannya. Sebelah tangannya melonggarkan pengait celananya sendiri.
Shila tak menggubris omongan Rival. Yang ia tau tatapan matanya yang tajam membuat hatinya berdesir dan membiusnya. Kini Shila baru menyadari kalau dia juga merindukan suaminya.
"Darimana kamu belajar nakal seperti ini?? Jangan pernah kamu tunjukan tingkah nakalmu di depan pria lain. Kamu tau khan suamimu ini sangat pencemburu" Rival mengangkat tubuh Shila kembali ke ranjang. Ia mengajaknya menyetarakan rasa.
"Shila juga pencemburu" kata shila jujur.
Rival mengarahkan tangan Shila ke satu titik.
"Abang mau kamu lakukan yang tadi. Abang suka sekali gayamu!!" perintahnya pada Shila. Kelakuan Shila tadi sudah sangat meliarkan pikirannya.
##
##
-_-_-_-
"Awas kalau kamu sampai mengabaikan Abang lagi" ucapnya terengah mengatur nafas. Belum lama ia menyelesaikannya.
Shila masih terus memancing Rival. Desiran dalam dadanya kembali naik turun. Rival menarik tangan Shila.
"Kamu di atas" perintahnya tak mau tau
__ADS_1
.
.