Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
62. Batin seorang suami ( 2 )


__ADS_3

"Apa tujuanmu menikahi Shila??? Kau sudah tau kondisi Shila yang sudah hancur itu khan!!!!!!" geram Arshen, ia sudah kalap melihat kondisi Shila yang kritis. Seorang kakak tidak akan membiarkan adiknya menderita.


Rival bukannya tidak mampu melawan Arshen. Tapi posisi Arshen sebagai kakak iparnya tetap ia hormati.


"Tinggalkan Shila, jangan jadikan Shila sebagai bahan amarah Abang kalau Abang sedang marah. Saya tidak mau Abang memandang rendah Shila saat Abang melihat tubuh Shila. Kalau memang Abang tidak sudi melihatnya, kembalikan pada saya dan tidak perlu terpaksa menerima Shila." bentak Arshen.


Meskipun sekujur tubuhnya terasa sakit, Rival tetap bangun menahan sakitnya dan merangkak menyembah kaki Arshen.


"Saya tidak memandang rendah istri saya. Tidak ada keterpaksaan. Demi Allah saya sudah ikhlaskan semua yang terjadi" ucap Rival.


"Hah.. Sekarang Shila masih istri Abang. Kalau Shila meminta haknya sebagai istri Abang apa Abang mau memberikannya?" cecar Arshen tidak percaya.


"Itu sudah kewajiban saya"


Arshen bertepuk tangan meremehkan.


"Saya salut dengan kebesaran hati Abang"


Arshen meninggalkan Rival disana. Ia keluar dengan keadaan marah. Oka mengikuti Arshen sedangkan Gandhi menenangkan Rival.


"Pria juga manusia bang. Menangis lah yang kuat bang! Buang beban Abang"


Rival bersujud di lantai tangannya mengepal kuat.


"Apa salahku Tuhan??? Mengapa aku terlahir sesial ini? Orang tuaku tiada, istriku menderita. Apa aku harus menyerah????" isaknya.


"Berdosakah Abang jika terus mempertahankanmu Shila" ucapnya teriris perih.


-_-_-_-_-


Abang.. maafkan Shila yang sudah menyusahkan Abang.


Karena Shila Abang pun ikut mendapat pandangan miring dari banyak pihak.


Abang.. maafkan Shila yang sudah mencoreng wajah dan nama baik Abang.


Lebih baik Shila pergi selamanya. Shila tidak ingin Abang terkena dampak masalah karena Shila.


"Tidak bisakah kita bicarakan dulu dek?" sesal Rival sambil melipat kertas yang sempat ia ambil tadi.


***


"Bang.. jangan pisahkan bang Rival dari istrinya.. Bang Rival sudah hampir gila disana menghadapi musibah ini"


"Abang takut dia akan menyia-nyiakan Shila" tegas Arshen.


"Insya Allah tidak akan bang"


-_-_-_-

__ADS_1


"Jangan dekati Shila" pinta Arshen pada Rival.


"Shila masih istri saya" tegas Rival.


"Saya tidak ingin dia semakin terpuruk dalam masalah ini"


"Tinggalkan Shila!!!!!!!"


***


Shila mengerjap membuka mata perlahan. Hanya nampak Arshen, Oka, dan Gandhi.


"Kenapa Raka tolong Shila" tanya Shila berat.


"Kamu berhak bahagia dek" kata Arshen sambil memencet tombol.


Rival menatap Shila dari balik pintu. Air mata bercucuran. Ingin sekali ia memeluk erat, menangis berdua membagi beban rasa. Namun saat ini ia pesimis untuk dapat memeluk Shila istrinya.


Dokter menoleh melihat Rival yang hanya bisa menangis memandangi istrinya dari jauh. Seorang dokter pun ikut trenyuh melihat seorang suami menangisi istrinya seperti itu.


Dokter segera masuk memeriksa kondisi Shila.


"Bu Shila sudah tau?" tanya dokter.


Shila mengangguk perlahan. Ia mual terkena semua pengaruh obat juga memuntahkan sisa obat yang ia telan tadi siang.


"Ada apa?" tanya Arshen.


"Shila hamil" jawab Shila lemah, ia menangis disana.


"Ya Allah dek. Astagfirullah hal adzim... anak siapa??" Arshen mengepal jengkel pada situasi ini.


"Bang Rival" jawabnya lemah.


Arshen sungguh tak mengira Rival sudah melakukannya lagi dengan Shila. Ia pikir Rival akan menolak adiknya seperti bayangannya setelah tau adiknya sudah dinodai orang lain.


"Sekarang apa maumu? tanya Arshen memeluk adiknya.


"Raka bawa Shila pergi. Kasihan Abang kalau harus berkorban demi Shila. Abang tidak salah. Shila yang tidak bisa menjaga nama baik suami" Shila menangis di pelukan Arshen.


"Raka akan membawamu pergi" sementara itu yang bisa Arshen ucapkan agar adiknya itu tenang.


Sedangkan di luar ruangan itu, Rival masih terpaku meratapi setiap ucapan dan tangisan shila. Mulutnya sudah tidak bisa bicara karena pikirannya mendadak berhenti berputar karena terlalu banyak beban pikiran. Namun tidak dengan hatinya yang begitu perih. Tak ada yang menyadari Rival berada disana sejak tadi, tak juga ada seorang pun menemani.


"Apa Abang tidak ada artinya lagi di hatimu Shila???" Rival masuk ke dalam ruang rawat Yara.


"Abang!!" Shila kaget melihat Rival ada disana. Tersimpan rasa takut menghadapi tatapan mata suaminya yang tajam.


"Kenapa kamu lukai anak Abang. Kenapa tidak bicara pada Abang?? Kenapa kamu gegabah mengambil keputusan???" kesalnya membentak Shila menyimpan beribu sesak di dada. Rival mengepal mengangkat tangannya. Refleks Shila menutup wajahnya. Rival menghantam keras bagian kosong di sebelah bantal Shila.

__ADS_1


"Ini hati Shila, kalau rasa cinta ini bisa membunuh Abang. Lebih baik Abang mati saja di tanganmu, tapi jangan kamu sakiti anak Abang. Kamu benar-benar mengecewakan Abang"


Rival pergi dari tempat itu memendam rasa yang tidak tau lagi bagaimana harus mengungkapkannya.


"Ikuti bang Rival" perintah Arshen pada Oka.


Oka mengikuti Rival menenangkan Rival yang sudah marah besar dan bersiap ingin meledakannya. Sedangkan Arshen, ada kecewa juga dalam hatinya.


"Maaf dek. Bukannya Raka mau menyalahkan mu. Tapi kali ini kamu memang salah"


"Raka.. bawa Shila pergi" tangisnya.


Arshen memberi Shila waktu untuk berpikir karena saat ini percuma memberinya pencerahan.


Arshen melihat berita di groupnya.


"Ya Allah.. bagaimana ini" gumamnya.


***


"Bang.. istighfar bang.. Abang juga jangan ikutan down seperti Shila" bujuk Oka.


"Ini sudah sampai batas kesabaran Abang Ka" bentak Rival.


"Saya tau bang. Tapi emosi Abang bisa menghancurkan semuanya" cegah Oka yang melihat Rival berniat ingin melabrak rumah Pak Salim.


"Shila sudah mau mati, dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Shila juga hamil anak Abang. Kamu tau nggak perasaan Abang saat ini. Sakit sekali Oka, kecewa, marah. Abang tidak bisa membayangkan kalau kontrol Shila semakin hilang"


Eegghh..


Kepala Rival mulai berputar. Nafasnya mulai sesak. Ia sudah mau ambruk lagi jika Oka tidak menyangganya.


"Sudahlah bang, saya tau perasaan Abang..saya juga laki-laki bang. Tapi Abang harus ingat.. kesehatan Abang juga penting. Peringatan jangan kambuh lagi. Abang ingat Khan?"


"Tolong jangan katakan apapun. Abang mohon.." pinta Rival.


"Abang masih kuat?" tanya Oka memastikan saat melihat Rival sangat kesakitan.


"Tidak sekuat tadi" jawabnya pelan.


"Ya Allah bang" Oka menggeleng bingung harus berkata apa.


***


Rival menatap kamar rawat Shila. Bukannya Rival tidak mau menenangkan istrinya yang sedang menangis disana. Rival hanya ingin memberi sedikit pelajaran untuk istrinya agar tidak keterlaluan seperti tadi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2