Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
81. Rival curiga.


__ADS_3

"Suamimu sudah tau kondisi mu" kata Zein yang menemani Shila di rumah sakit bersama Mutia.


"Kenapa bang Zein bilang? Abang pasti kepikiran dan marah" kata Shila cemas.


"Itu jauh lebih baik Shila.. daripada Abang Rival tau dari orang lain. Kamu tau khan sifat suamimu itu" kata Zein yang sudah mati kutu kalau berurusan dengan Rival.


***


"Bu, saya mau ijin dulu paling tidak selama satu bulan. Orang tua saya sakit di kampung. Nanti anak saya akan menggantikan tugas saya!" pamit bibi pada Shila.


"Oohh iya bi, nggak apa-apa. Kapan anak bibi mau datang?" tanya Shila.


"Nanti sore Bu" jawab bibi.


-_-_-_-_-


Sore hari ada yang mengetuk rumah Shila. petugas piket jaga mengantarkan seorang gadis ke rumah Rival. Shila memperhatikan gadis itu. Rok yang di kenakan gadis itu begitu pendek dengan baju yang hampir memperlihatkan pusar tertutup dengan cardigan.


"Saya Fitri mbak"


Shila tersenyum menyambutnya.


"Iya.. silahkan masuk"


"Terima kasih banyak ya om, sudah mengantarkan Fitri kesini" ucap Shila berterima kasih pada petugas piket.


"Siap ibu.. sama-sama"


Petugas piket itu pamit sambil melirik Fitri, bukan karena penampilan yang menggoda. Tapi malah kesal sejak awal gadis itu tidak sopan dan tidak tau aturan.


"Silahkan taruh barangmu di kamar ya! Saya mau menyuapi anak-anak makan dulu"


"Iya mbak"


Fitri melihat banyaknya foto di dinding rumah Shila. Begitu melihat foto Rival yang tampan, seketika jantungnya berdesir seolah jatuh hati pada pandangan pertama.


-_-_-_-


Shila bersusah payah memasak, mencuci dan menyetrika pakaian tapi Fitri tidak membantunya sama sekali. Bahkan saat Lilan dan Abrian berlarian, tidak ada sedikit pun upaya untuk membantu Shila. Fitri hanya bermain ponsel merebahkan diri di kamar sambil membayangkan bagaimana tampan dan gagahnya suami Shila itu.


Shila menyapu, mengepel, dan menata kamarnya. Tak menegur kelakuan Fitri. Ia tidak ingin memperpanjang masalah karena bibi sangat baik padanya, ia lebih mementingkan kesehatan bayi dalam kandungannya.


***


Hari ini Rival bisa pegang ponsel, ia sudah rindu anak dan istrinya, disana Rival menelepon istrinya tapi panggilan itu masih belum mendapat respon dari Shila.


"Kemana kamu sayang!!" gumam Rival lalu mengirim pesan untuk Shila di ponselnya.


"Dek"


"Cinta'

__ADS_1


"Sayang"


"Sayang"


"Sayang"


"Sayangnya Abang"


"Adek dimana???"


"Sayang, balas pesan Abang!!!"


"Adek nggak kenapa-kenapa khan disana??"


"Abang kepikiran dek"


"Abang rindu yank"


"Dek.. jangan acuhkan Abang lah"


"Abang salah ya sayang? Maafkan Abang"


"Cinta.. setengah mati Abang rindu nih"


Disana Fitri melihat ponsel Shila bergetar. Ia membukanya. Ada rasa iri dalam hatinya, ternyata suami Shila itu sangat menyayangi istrinya. Fitri cepat membuka nomer ponsel Shila dan menukar dengan nomer yang sempat ia beli di pasar beberapa hari yang lalu. Pesan dari Rival di hapusnya tanpa jejak di ponsel Shila.


Melihat pesannya sudah di baca, Rival menelepon Shila, tapi tidak terjawab.


💀 : Aku ganti nomer mas!" nanti hubungi disini saja


Rival membaca tulisan itu. Rival merasa sedikit aneh dengan sebutan 'mas' dan 'aku' sebab istrinya tidak pernah mengucap dua kata itu.


🤴 : Kamu aneh dek!.


💀 : Aku ngidam aja mas.


🤴 : Oya??? ngidam apa???


💀 : Kamu mas. Mau aku kirim foto sexy nggak?


Rival tertegun mencerna perkataan 'Shila'. Istrinya itu sangat pemalu. Tidak mungkin rasanya Shila menggodanya kalau tidak ia yang memintanya pada Shila.


Belum usai Rival berpikir, ada foto syur masuk dalam pesannya. Mata Rival membulat lebar, jantungnya berdetak kencang. Hampir satu bulan menahan rindu, tapi 'Shila' mengiriminya foto hot yang membuatnya jadi panas dingin.


"Astagfirullah.. benarkah ini kamu sayang??? Kamu nggak pernah menggoda Abang sampai begini. Kenapa Abang nggak yakin ini kamu" gumamnya dalam hati yang seketika menurunkan hasratnya di titik rendah.


Rival keluar dari kamar, mengambil air wudhu untuk menenangkan diri. Selain menekan hasratnya yang naik turun, berserah diri adalah cara terbaik mendinginkan hati.


-_-_-_-_-


Malam dingin dan sepi, hingga tengah malam Shila tidak bisa tidur. Shila merasa rindu yang sulit ia uraikan. Tak ada kabar dari suaminya sama sekali.

__ADS_1


"Kapan Abang pulang. Shila rindu Abang" tanpa sadar air matanya meleleh.


Seakan hati mereka bertaut, Rival merasakan kerinduan yang sama hebatnya. Dalam angan hanya ada bayangan Shila berterbangan. Ia teringat kembali tingkah manja Shila yang pemalu dan polos.


"Abang yakin itu bukan kamu sayang, kamu istri Abang dan Abang sangat mengenalmu. Kalau Abang tidak memintamu.. kamu tidak akan mengirim foto-foto seperti itu. Apalagi itu tanpa wajahmu" gumam Rival sambil menutup wajahnya dengan bantal.


***


Rival cemas bukan main, tapi ia berusaha profesional dalam tugasnya. Sudah lewat satu bulan Rival dalam penugasan. Tanpa kontak dengan istri membuat pikirannya sempat terpecah dan kocar-kacir. Kontak yang ia balas pun semakin hari semakin membuatnya gusar. Setiap hari ia mendapat pesan panas dari 'Istrinya' dan membuat batinnya semakin yakin kalau itu bukan Shila.


-_-_-_-


Shila berada di kantor karena dua Minggu lagi pertemuan anggota dan kunjungan pusat akan tiba. Shila menahan rasa lelah sambil menggendong Lilan yang sedang merengek.


"Sini.. Lilan biar ku gendong!!" Seseorang mengambil alih Lilan dari gendongan Shila. Shila menoleh ke arah suara.


"Raka..." Shila menangis memeluk Rakanya dengan sedih. Arshen sengaja tak memberi tau Shila kalau dia sudah datang tadi malam.


"Ada apa? Apa bang Rival menyakitimu?" tanya Arshen.


"Kenapa ya satu bulan ini Abang tidak ada kabar??" tanya Shila sedih.


Arshen mengerutkan kening, pasalnya lewat kabar, Rival masih dalam kondisi stabil dan baik-baik saja. Bahkan ada kabar Rival akan segera kembali dalam beberapa hari.


"Tugas Abangmu berat. Maklumlah sedikit. Abang Rival selalu ada kabar dan baik-baik saja disana" Arshen menenangkan adiknya.


"Oya... mana yang membantu mu??" tanya Arshen yang tau kalau sekarang Shila memiliki ART.


"Di rumah.." jawabnya menyiratkan sesuatu yang Shila pendam sendiri.


"Haahh??? Kamu sibuk jaga tiga anak. Untuk apa dia di rumah???" Arshen lumayan kesal.


"Ceritakan ada apa sebenarnya!!!" tegas Arshen


***


Rival mengangkat beras di punggungnya. Ia menjadi kuli panggul sambil mengintai pergerakan pengiriman narkotika di pasar induk. Siang ia menjadi pengamen di sepanjang jalan lampu merah. Kalau malam ia menjadi tukang parkir di sebuah restoran.


Selepas bekerja.. Rival mengeluarkan hasil pekerjaannya seharian ini dan membiarkannya berserakan di atas meja. Oka yang tau abangnya itu sudah lelah segera menata hasil kerja Rival seharian.


"Dua hari lagi kita harus menyergap mereka di dekat perkebunan. Mereka menyelundupkan narkotika di dalam sayuran" kata Rival.


"Siap bang!! Monitor!!" jawab teamnya.


"Abang sudah makan? Jangan lupa minum obat Abang!" Oka mengingatkan.


"Nanti saja.. Abang nggak lapar" tolaknya dengan nada berat. Wajahnya seperti menahan sakit.


.


.

__ADS_1


__ADS_2