
Shila menjemput putranya di sekolah, ia masih memikirkan kejadian tadi.
"Mama kenapa?" tanya Arben.
"Nggak apa-apa sayang"
"Mama kangen papa ya? Sebentar lagi papa pulang" tak tau kenapa anak sekecil Arben bisa sangat menenangkan perasaan Shila.
"Iya sayang, terima kasih ya kamu selalu ada untuk mama" ucap Shila merangkul sayang putranya itu.
***
"Masih sakit nggak bang?" tanya Oka.
"Nggak juga sich"
"Kata si toa ambulans itu asal Abang tidak terlalu banyak pikiran, masih bisa di atasi bang" kata Oka.
Rival tertawa mendengar Oka menyebut Naura sebagai sang toa ambulans.
"Yaa.. bagaimana Abang nggak mikir dalam kondisi seperti itu. Masalah datang silih berganti. Tak ada habisnya. Melihat istri menderita, nggak kuat lah hati Abang lihatnya"
"Alhamdulillah sekarang selesai masalahnya bang, Abang Khan juga dapat hikmah dari semua ini, juga dapat hadiah.. hamilnya istri Abang" ucap Oka menyemangati.
"Iya.. kamu benar" senyum Rival.
"Haaahh..apalah daya yang jomblo ini bang, ngebet kawin tapi jodohnya belum ada" tawanya ngakak.
"Ngebet aja yang di pikirin" Rival ikut tertawa geli disana"
***
"Jadi besok bang pulangnya?" tanya Shila saat Rival meneleponnya.
"Jadi donk, Abang kangen. Kangen kamu..kangen anak-anak" jawabnya.
"Mau Abang bawakan apa?" tanya Rival yang paham biasanya bumil ingin yang aneh-aneh.
"Shila lagi pengen kedondong bang" jawab Shila pelan.
"Ya sudah besok Abang bawakan" janjinya ada Shila.
"Yang benar bang???" tanya Shila berbinar.
"Iya... Abang juga sudah belikan anak2 mainan dan hadiah untuk mereka"
###
###
-_-_-_-
'Ini Danki. Maaf baru datang tengah malam" kata anak buah Rival yang mencarikan kedondong di desa sebelah.
"Nggak apa-apa. Maaf ya saya merepotkan. Ini buat isi bensinmu" kata Rival sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Waduh Danki.. saya ikhlas membantu" tolak anak buah Rival. Ia memang benar ikhlas membantu Dankinya itu.
"Saya juga ikhlas. Anggap saja saya membelinya dari kamu" kata Rival.
Anak buah Rival melihat itu terlalu banyak untuk sekedar buah kedondong.
"Tapi ini terlalu banyak Danki"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, itu rejekimu hari ini. Yang penting istri saya senang makannya" senyum Rival.
***
"Abang nggak mau jalan sama aku dulu?" tanya Naura.
"Nggak Naura. Istri dan anak Abang sudah menunggu" jawab Rival.
"Genit!!" gerutu Oka.
"Eehh.. jangan sembarangan ya, memangnya aku nggak pernah liat matamu yang jelalatan liat pahaku" cecar Naura pada Oka.
"Siapa yang pamer duluan. Mataku juga masih normal" kesal Oka.
Rival pusing mendengar Oka dan Naura ribut sepanjang koridor rumah sakit.
"Silahkan kalian ke Batalyon. Biar Abang bekali ranjau untuk kalian agar bisa saling lempar"
"Siap salah" jawab Oka mendengar teguran Rival.
"hiiihh.. Abang" Naura menekuk wajahnya.
***
"Assalamu'alaikum" sapa Rival saat membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Anak-anak serempak.
"Haduuuhh.. papa kangen kalian" Rival segera mengangkat Lilan dan Abrian dalam gendongannya. Sedangkan Arben memeluk kaki papanya. Nampak bahagia mereka melihat papanya pulang.
"Om ival" kata Lilan.
"Heh.. ini papa. Baru seminggu pergi sudah asal panggil om aja kamu" gerutu gemas Rival menanggapi putrinya
"Mama muntah pa di kamar mandi" jawab Arben.
"Kak Brian sama dedek turun main dulu ya sama kakak Arben. Itu papa bawa hadiah. Papa mau lihat mama dulu" kata Rival sambil menurunkan Abrian dan Lilan dari gendongan nya.
Rival berjalan menuju ke kamar mandi.
"Dek!!" Rival mengusap punggung Shila yang nampak kesakitan dan tersiksa dengan rasa mualnya. Shila sedikit mendorong Rival.
"Awas bang, nanti seragam Abang kotor" kata Shila lalu kembali muntah lagi.
"Seragam bisa di cuci dek" ucapnya tak tega.
Setelah beberapa lama, Rival mengajak Shila untuk duduk. Rival mengambil jahe lalu membakarnya sebentar. Rival membuat jahe hangat untuk istrinya.
"Maaf bang, harusnya Shila yang melayani Abang"
"Nggak apa-apa, yang penting kamu cepat sehat" kata Rival.
"Papaaa.. pesawatku patah" protes Arben
"Ban mobilku juga hilang pa" Abrian mengikuti kakaknya.
"Hwaaaaaa... tangannya lepas" Lilan pun berteriak kencang.
"Astagfirullah... papa di demo apa sih nak!!! Sini papa lihat" ucapnya sambil melepas sepatu dan meletakkannya di rak.
Rival bermain dengan putra putrinya, sambil sesekali melihat Shila yang masih merasakan mabuk dan mual awal kehamilan. Shila hanya bisa bersandar pada lengan.
"Abang kupaskan kedondong ya dek?" tanya Rival.
__ADS_1
Shila mengangguk lemas. Rival mengupas kedondong dan beberapa buah yang ia beli.
"Kamu masak nggak hari ini? sudah makan apa belum?"
"Shila masak bang, soto ayam sama perkedel kentang" jawabnya.
"Kamu pasti belum makan. Lemas begitu"
Shila tiba-tiba berlari dan kembali muntah.
"Ya Allah dek.. " Rival mengurut dadanya, sedih juga hatinya melihat Shila.
"Apa mama setiap hari muntah kak?" tanya Rival.
"Iya pa" jawab Arben sambil mengunyah apel.
"Mama sakit begini, siapa yang suapin adik?"
"Ya mama" jawab Arben.
Ya Allah dek.. Abang nggak sanggup ngomong apa-apa lagi. Terima kasih semua pengorbanan dan kasih sayangmu ini.
"Kalian sudah makan?"
"Sudah pa, itu piringnya" kata Arben menunjukan piring yang baru Shila pakai untuk menyuapi anaknya.
Rival tersenyum mengusap pipi Arben. Rival beranjak dan segera membantu Shila.
-_-_-_-
Shila sudah lebih baik setelah minum obat anti mual yang di antarkan Farhan ke rumahnya.
"Jangan sampai dehidrasi. Kalau masih saja muntah harus di rawat" perintah Farhan.
"Iya bro, Terima kasih banyak"
Rival dan Farhan mengobrol dan ngopi di teras. Arben dan Lilan sudah tidur, tersisa Brian yang masih susah tidur. Tanpa disadari Rival dan Farhan, Brian memasukan selang pada knalpot motor Farhan.
"Air darimana bro??" tanya Farhan.
"Dari motormu" jawab Rival santai.
"Astaga.. motor gue Val" pekik Farhan melihat knalpot motornya sudah basah"
Rival menepuk dahinya.
-_-_-_-_-
"Bagaimana? bisa tidak?" tanya Rival pada Rafael.
"Ijin Danki. Masuk bengkel saja" saran Rafael.
" Ya sudah, tolong kalian bawa. Sekalian antar Dokter Farhan pulang" perintah Rival.
"Duuhh.. broo.. maaf ya!" kata Rival merasa bersalah sambil menggendong Abrian.
"Nggak apa-apa. Gue yakin, tingkah elu dulu macam begini"
Rival hanya nyengir kuda menanggapi ucapan Farhan.
.
.
__ADS_1