
Selepas sholat subuh Lilan kembali tidur lagi. Ia tidak menganggap serius ucapan Hilman karena sebenarnya Lilan sudah punya pacar.
-_-_-_-_-
Hilman menaiki motornya melewati rumah para perwira tinggi.
RIVALDI ALFARIO
Nama yang tertera di halaman gerbang rumah dinas orang tua Lilan. Hilman menelan salivanya susah payah.
"Anak orang berbintang. Maju atau nggak nih?" batin Hilman sedikit ragu.
"Permisi pak, cari siapa ya?" tanya seseorang berbaju loreng dan pastilah itu ajudan sang pemilik rumah.
"Lilan ada pak?" dengan sopan Hilman menanyakan Lilan
"Lilan?? Nggak ada yang namanya Lilan pak" kata seorang Praka disana.
"Anak perempuan pemilik rumah ini"
"Mbak Ariela?" tanya Praka itu memastikan.
Hilman tak paham tapi ia mengiyakan saja dan terserah apa kata nanti, yang jelas ia yakin Lilan tidak membohonginya.
"Silahkan masuk pak!"
"Terima kasih"
#
Hilman berjalan di pelataran halaman rumah itu. Ada seorang pria sedang memangkas rambut dengan mesin dan seorang lagi sedang merapikan tanaman di taman.
Tampak ada juga sosok pria sedang berolahraga pagi. Lilan menggeliat di depan pintu samping dan memperlihatkan tubuhnya yang indah putih bersih. Seketika pria yang sedang memangkas rumput melempar sandalnya hingga mengenai kening Lilan.
"Aawww.." jerit Lilan kesakitan.
"Masuk Lilan!!!!!" bentak pria itu.
"Abaaangg" Lilan menghentak kaki lalu masuk kedalam rumah.
"Bernyali juga kau kesini" Brian menoleh dan menatap Hilman.
"Siap salah Abang!!" Hilman berdiri tegak tak menyangka ada Brian disana.
"Adik ku bukan seperti gadis pada umumnya" tegas Brian.
"Duduk!!!!" kata Arben menunjuk bangku di hadapannya yang sekali lagi membuat Hilman terkejut.
"Siap salah" ucap Hilman lalu duduk sesuai perintah Arben.
"Bang Hilman???" Lilan melotot kaget melihat Hilman yang benar menepati janji.
"Masuk!!!!!!" tegas Arben. Lilan pun masuk ke dalam rumah, ia cukup tau diri untuk tidak melawan Abangnya.
"Sejak kapan kamu ada kontak sama Lilan?" tanya Brian
"Ijin.. Sejak tiga bulan yang lalu" tegas Hilman.
"Lilan belum terbiasa dengan laki-laki. Saya batasi ruang geraknya" Arben menurunkan alat pangkas rumput di punggungnya.
"Bolehkah saya berteman dengan Lilan?" tanya Hilman meminta ijin.
"Nggak!!!!!!" jawab Arben dan Abrian bersamaan.
-_-_-_-_-
"Abangnya Lilan bermaksud baik. Maklum.. Lilan anak perempuan satu-satunya di rumah ini. Jadi Abangnya ketat sekali memperlakukan Lilan" kata Rival yang kasihan melihat Hilman menjadi bahan kegarangan Arben dan Abrian.
"Siap Komandan.. saya mengerti!!!" jawab Hilman
__ADS_1
#
"Abang sungguh-sungguh dek, bukan karena kedudukan orang tuamu. Tapi karena Abang memang sayang kamu" batin Hilman sambil meninggalkan rumah Lilan.
***
"Siapa lagi Priyo?????" Arben melempar ponsel Lilan ke pangkuan adiknya.
"Teman dekat Lilan juga bang" kata Lilan masih dengan mode santai.
"Kamu nggak boleh naik gunung. Apalagi hanya berdua dengan Priyo" tegas Brian.
"Lilan hanya buka puasa saja bang terus pulang"
"Pakai akalmu dek! Mana ada buka puasa di puncak gunung? Mau makan apa??? Daun???" bentak Arben.
"Kecuali memang mau 'naik gunung' " ucap Arben sangat pelan dengan geramnya.
"Iya bang, naik gunung" jawab Lilan dengan lugu.
"Diam kamu dek!!!" Brian ikut membentak Lilan.
Rival dan Shila hanya mendengar perdebatan anaknya sambil menonton TV. Kedua putranya sudah cukup membantu tugasnya untuk menjaga Lilan.
"Arben dan Brian sekeras itu pada Lilan apa tidak masalah Bang?" tanya Shila.
"Tenang saja. Bukannya Raka mu seperti itu juga? Abang hampir di bunuhnya dulu" Rival menarik pelan hidung Shila.
"Iya bang. Waktu Shila kecil Raka juga begitu. Dan saat sudah menikah pun sikapnya tidak pernah berubah"
"Dan Abang akan buktikan kalau Abang pantas menjadi suamimu"
Rival dan Shila tersenyum dan saling menatap.
Ponsel di ruang keluarga berbunyi. Rival melihat ke layar ponselnya.
PAPA RANDY
"Assalamu'alaikum pa........."
***
Papa Randy duduk menatap haru jenazah Almarhumah Naya. Istri tercinta Randy hari ini telah berpulang. Duka menyelimuti seluruh keluarga termasuk Lilan yang begitu dekat dengan Naya.
"Omaaaaa..." teriak Lilan menghambur ke jenazah Almarhumah Naya.
Brian memeluk Lilan dan menenangkan adiknya.
"Sabar.. ikhlaskan, Oma sudah tenang!"
Rival dan Zein merangkul Randy untuk menguatkan papanya.
"Ternyata sesakit ini kehilangan belahan jiwa. Papa kehilangan Yara, tapi sekarang kehilangan Mama Naya juga. Rasanya papa ingin menyusul mama" ucapnya begitu berat.
"Inilah takdir pa, maut yang memisahkan.. tapi di surganya kita akan kekal bertemu bidadari surga kita..seperti Rival yang merindukan Yara, Rival pun ingin bertemu Yara terkadang rasa rindu juga membuat Rival ingin menyusulnya juga." tanpa sadar Rival melupakan kehadiran Shila di sampingnya.
"Mama...!!!" Arben kaget karena Shila sempat terhuyung ke arahnya. Rival pun tak kalah kaget.
"Astagfirullah.. Shila..!!!" Rival mendekap Shila masuk ke dalam kamar.
-_-_-_-_-
Jenazah Almarhumah Naya di usung sampai ke liang lahat. Ini juga hal yang berat untuk Rival karena ia harus melihat makam Yara lagi.
#
Tubuh Randy bergetar melihat jenazah istrinya telah tertutup tanah. Kembali dalam ingatannya tentang ucapan Naya dulu.
"Nggak mas, jangan katakan itu. Aku mau mas tetap bersama denganku. Aku saja yang pergi lebih dulu. Aku nggak sanggup kalau mas pergi meninggalkanku"
__ADS_1
Papan nama Naya tertancap sempurna, makan itu berdampingan dengan makan Yara putrinya.
"Ternyata kamu sungguh memilih untuk meninggalkanku lebih dulu. Apa karena aku sudah tidak segagah dulu? Tidak setampan dulu hingga kamu bosan??" Randy tak sanggup menahan air matanya. Kakinya pun mulai lelah menyangga tubuh yang semakin menua.
"Jangan lelah menunggu aku disana! Nanti kita tidak akan terpisah lagi. Mas sayang kamu Naya ku"
Rival mendengar setiap perkataan Randy yang membuatnya mengingat tentang kepedihannya kehilangan Yara.
Satu persatu pengantar jenazah Naya beranjak pulang.
"Bawa papa pulang untuk istirahat" ucap Rival pada Zein.
#
Rival mendekat ke makan Yara dan menyentuh nisannya.
"Umur mas semakin bertambah, tapi juga semakin berkurang. Lihatlah putramu, kebanggaanmu. Menggantikan seluruh kegagahan yang Abang punya" tangan Rival mengusap rumput yang rapi di atasnya.
"Kamu ada dalam setiap doa dan rindu mas. Semoga kamu bersedia menunggu mas disana setelah mas selesaikan urusan dunia" Rival mengecup nisan itu bagaikan mengecup kening Yara.
Shila yang tadinya kuat, kini berubah menjadi tidak baik-baik saja.
"Ma..mama!!" Arben panik melihat Shila.
"Pa..mama lemas lagi. Kita pulang saja pa!!" saran Brian.
***
Shila demam tinggi, ia terus mengigau ketakutan dan tidak ingin di tinggalkan Rival.
"Papa keterlaluan!! Secintanya papa dengan mama Yara. Harusnya papa bisa mengontrol perasaan papa" tegur Brian.
"Papa terbawa suasana Ben. Itu sebabnya papa tidak ingin ke makam karena papa selalu melukai mama Shila" sesal Rival.
"Papa nggak bisa mencintai dua wanita dalam satu waktu, semua akan terluka termasuk papa. Dan diantara yang baik, pasti ada yang terbaik. Saat ini mama Shila yang terbaik. Mama Shila menemani dan menerima papa dari titik nol hingga papa bisa di masa sekarang ini. Bukan mama Yara tidak baik. Saat ini mama Yara terbaik disana dan mama Shila terbaik disini. Jangan sia-siakan mama Shila pa. Arben tau bagaimana cintanya papa sama Mama" ucapan Arben begitu mengena di hati Rival.
Putranya itu sudah matang dan dewasa. Semua perkataan Arben sesuai dengan apa yang saat ini ia rasakan hanya saja masih sulit ia terjemahkan.
#
Rival menemani Shila hingga istrinya lebih tenang.
"Maksud Abang bukan begitu sayang. Maafkan Abang kalau semua terasa tidak adil untukmu. Kamu harus menerima kepahitan ini karena Abang pernah memiliki hati pada yang lain"
Shila tak sanggup menjawabnya. Rival mendekap erat tubuh Shila.
"Delapan belas tahun pernikahan kita. Tentu mampu mengalahkan semua rasa yang ada. Pahit manis ini kita rasakan bersama. Kamu sungguh terindah untuk Abang. Jangan berkecil hati, mana mungkin Abang tidak mengharapkan mu seperti Abang mengharapkan Yara. Cinta untuk kalian sama besarnya"
"Abaang!!! Jangan marah sama Shila bang"
Rival mengecup bibir Shila sekilas.
Mana mungkin Abang marah memiliki wanita seperti mu. Kamu segalanya untuk Abang.
***
"Kenapa Oma pergi secepat ini" Lilan terisak di dada Brian.
"Ada kelahiran ada kematian, ada pertemuan ada perpisahan. Oma sudah tenang. Jangan di tangisi lagi" ucap Arben.
"Oma..Oma belum melihat cicit Oma lahir"
"Hsstt.. cicit dari siapa??" Arben menegir ucapan Lilan yang mulai ngawur.
"Dari Lilan bang!" mata Arben langsung membulat besar mendengar Lilan.
"Lilan sayang.. kamu tidur aja. Kamu pasti sudah capek" perintah Abrian yang merasa adiknya sudah mengigau karena mengantuk.
.
__ADS_1
.
.