Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
55. Tak mudah menghadapi dunia.


__ADS_3

"Sialan!!!!!" umpat Rival sangat kecewa. Wajahnya merah padam menahan marah.


"Sabar bang!" ucap Gandhi menenangkan.


"Semua orang hanya bisa meremehkan Shila. Abang hanya takut dampaknya akan sampai Batalyon. Abang nggak masalah dengar caci maki mereka. Tapi Shila nggak akan kuat" kesalnya mengacak rambut cepaknya.


"Saya harap Abang tidak terpancing omongan orang. Kasihan Shila bang!"


"Untuk apa Abang dengar omongan orang. Hanya Shila yang Abang cemaskan. Kamu tau sendiri bagaimana reaksinya kemarin" kata Rival dengan marah.


"Aaaaaaaaaarrrrrgggghhhhhhhh" teriaknya meluapkan semua rasa kesal dalam dadanya.


Eegghh


Rival ambruk berlutut, Ia meraba dadanya yang mulai terasa sakit. Wajahnya memercing sakit.


"Shilaaaa.. larane tenan to dek"


"Abang kenapa?" panik Gandhi.


"Dada saya sakit sekali" jawab Rival terbata.


"Kalian bantu saya bawa Kapten ke ruangan"


-_-_-_-_-


"Shilaaaaaa..." Rival menopangkan lengan menutupi wajahnya.


"Bang, apa yang jadi beban Abang? Lepaskan!! Abang mampu mengeluarkan istri Abang dari keadaannya kemarin, tapi Abang sendiri tidak bisa keluar dari lingkaran itu" kata Oka.


"Terlalu sakit untuk Abang ungkapkan" ucapnya. Rival masih dalam posisinya. Seorang Rival tidak mudah menceritakan kesedihannya kepada orang lain. Dia akan menyimpan kepedihannya itu rapat-rapat di relung hatinya yang paling dalam. Dalam sekejap perasaannya menjadi down, jiwanya begitu rapuh dan lemah. Rival berusaha menutupi dan tetap memperlihatkan sikap yang tegar untuk memulihkan perasaannya sendiri. Tidak ingin seorang pun tahu kecuali dirinya sendiri jika hatinya terluka. Dan tidak ada yang bisa menghilangkan luka hati tersebut kecuali dia sendiri. Sungguh sebenarnya perasaannya sedang tersiksa jika terluka.


***


"Istri Abang lagi apa?" senyumnya menyapa sang istri menutup perasaannya yang terluka.


"Nunggu Abang"


"Abang tumben pulang malam?" tanya Shila.


"Banyak pekerjaan sayang" kata Rival langsung memeluk dan mengusap rambut Shila dengan sayang.


"Abang senang memelukmu seperti ini. Abang pengen berduaan sama kamu" ajaknya.


Shila menuruti Rival dan langsung masuk dalam dekapan suaminya.


"Dek.. tetaplah kuat di samping Abang, dan tidak akan pernah tinggalkan Abang apapun yang terjadi. Abang akan selalu ada di sampingmu, melindungimu" pinta Rival posesif.


"Ada apa bang? Shila tidak akan kemana-mana lagi" ucapnya.


"Alhamdulillah" Rival mengecup kening Shila.

__ADS_1


"Ikut Abang sayang" Rival mengajak Shila keluar kamar.


"Gelap sekali bang" kata Shila takut, ia memeluk lengan Rival dengan rapat.


"Ada Abang" bisiknya.


"Sayang.. Abang tau awalnya hubungan kita tidak dilandasi dengan pondasi cinta yang kuat, dua tahun ini kita bersama meskipun dua tahun ini memang tak selamanya kita tersenyum satu sama lain. Kita juga sempat terpisah karena keadaan. Tapi dari situ Abang tau, batin ini tidak cukup kuat kehilanganmu" ucap Rival sendu.


"Ini Abang persembahkan untuk istri Abang"


"MERPATI PUTIH.." ucap Rival memberi perintah


"KORSAAA" jawab lantang seluruh anggota.


Terdengar ada rekaman suara Rival. Nampak satu persatu dari tangan anggota Rival, membawa selembar kertas bertuliskan kata cinta Rival untuk Shila.


🌹🌹🌹


Hai kasih..


Selamat ulang tahunmu yang ke 26.


Shila menutup bibirnya dengan kedua tangannya karena terlalu terkejut mendapat perlakuan spesial dari suami tercinta.


Ia melanjutkan membaca lagi saat sinar cahaya senter membidik menyinari tulisan selanjutnya.


Ini ungkapan rasa seorang suami


Untuk sang pujaan hati.


Atas semua cintamu, sayangmu dan kasihmu untuk anak Abang


Tak lupa keikhlasanmu mengandung


dan melahirkan buah cinta kita


Hai Cinta...


Abang tau dulu sudah terlambat mencintai kamu


Menyakiti hatimu


Tapi bagi Abang tak ingin ada kata terlambat untuk memperjuangkan kamu.


Dalam kesendirian....


*Abang menyadari...


Hanya bayangmu yang ingin Abang lihat*


Hadirmu yang ingin Abang rengkuh.

__ADS_1


Dalam ketidak berdayaan.....


Abang sadar... Abang sangat mencintai kamu Zalfa Arshila.


Bahagia selalu and I Love You


🌹🌹🌹


Shila menangis sejadi jadinya, ia langsung memeluk Rival menyembunyikan wajah cantiknya. Rival ikut menitikan air mata, hanyut dalam suasana..ia sangat menyayangi Shila istrinya.


Shila menengadah menatap Rival yang juga menangis memeluknya.


"Jika Abang menangis, bukan karena Abang terlalu rapuh, tapi itu beban hati yang tertahan di jiwa karena ingin mempertahankan kekasih hati Abang. Abang memintamu sekali lagi sayang"


Rival menekuk lututnya, menyentuh kedua paha istrinya. Menunduk pasrah mengungkapkan perasaan hatinya.


"Maukah adek bertahan hidup dengan Abang? Dalam keterbatasan dan kesederhanaan yang Abang punya? Tidak ada kado dan hal istimewa yang Abang beri, hanya Lillahi Ta'ala Abang akan memenuhi semua kewajiban Abang untuk membahagiakanmu lahir batin segenap jiwa raga Abang"


Shila masih melonggarkan jalan nafasnya hingga anak buah Rival yang menunggu ikut sesak di buatnya. Rival menggenggam kedua tangan Shila dengan gelisah.


"Shila mau bang" ucapnya penuh haru membuat para anggota ikut berjingkrak bahagia. Gandhi pun menghapus air matanya turut bahagia. Ia sudah ikhlas melepas Shila yang pernah singgah di hatinya.


Rival berdiri, bahagia dan lebih longgar bebannya saat ini. Ia tak tahan menghadapi senyum dalam bibir Shila yang menggoda.


"Matikan cahaya!!!!" perintah Rival. Seketika sekitar kebun belakang itu gelap gulita tanpa cahaya. Rival langsung menyambar bibir Shila dengan penuh cinta. Hingga getar rasa tak bisa ia tahan lagi.


"Abang kasih hadiahmu di dalam kamar" bisik mesra Rival di telinga Shila.


"Abang.." ucapnya malu sambil mencubit pinggang Rival.


"Tapi mau khan yank? Nggak akan mengecewakan" ucapnya nakal.


"Iiisshh.. Abang.. nanti lah bang" tolak Shila yang masih menghargai anggota suaminya.


"Iya.. nanti, Abang khan nggak bilang sekarang?" ledek Rival.


Cahaya lampu sudah di nyalakan. Nampak wajah Shila merah merona.


"Eehh.. sudah merah aja itu pipi. Sepertinya sudah pengen Abang peluk nih" goda Rival.


"Abang iihh... Bisa diam nggak sih bang?" ucap Shila sudah terlalu malu.


"Nggak bisa. Abang pengen godain istri Abang" ucapnya lagi.


Tak lama ada ibu Sumini datang bersama keluarganya mengantar makanan pesanan Rival.


Shila pun berjalan dan langsung menyambut tamu daripada harus menghadapi godaan suaminya yang bertubi tubi.


Rival menelan senyumnya kembali. Ia melipat tangannya di depan dada, bersandar pada sebuah pohon.


"Shilaku sayang..hanya ini yang ingin Abang lihat darimu, senyum mu itu sumber kekuatan Abang. Jangan teteskan air mata itu karena Abang tak sanggup lagi melihatnya. Semoga hatimu lekas membaik sayangku" ucapnya dalam hati, padahal perasaannya sendiri jauh dari kata baik-baik saja.

__ADS_1


.


.


__ADS_2