Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
7. Berperang dengan hati


__ADS_3

"Ada apa ya Bu??"


"Kami di minta Danki merias ibu"


***


Danki di kantor sedang memainkan ponselnya sambil menunggu acara tiba. Seragam kebesaran sudah ia pakai rapi. Aroma maskulin sudah melekat erat di tubuhnya.


"Nggak ada gugupnya sama sekali bang?" tanya Oka.


"Nggak lah.. ini yang kedua.. nggak berasa" jawabnya.


"Bu Danki secantik apa ya nanti" wajah Oka berandai-andai.


"Abang colok kamu kalau berani memandang istri Abang seperti itu"


"Eeehh cemburu dia" ledek Oka.


"Nggak ada cemburu begitu" kilahnya.


***


Rival berdiri di Aula. Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi.


"Tolong ambilkan saya minum!" seorang anak buah mengambilkan Rival minum.


Randy dan Naya datang bersama si kecil Arben dan Abrian yang lucu dan tampan. Mereka langsung berkumpul.


"Semoga bahagia dan cepat dapat momongan Val" ucap Randy.


"Nggak pa, aku nggak akan mengulangi kesalahanku"


"Huuusstt" tegur Naya.


Anak buah Rival memberi minuman pada Rival. Dan Danki segera membuka, lalu meminumnya.


Dari depan gedung semua sudah berjajar. Sepasang kaki turun dari mobil dan berdiri di sana. Rival memperhatikan dari ujung kaki hingga ke atas. Seketika air minum yang masih tersimpan di mulutnya menyembur di udara mengenai pot di taman sekitar gedung.


Rival tersedak hingga wajahnya merah. Ibu perias segera menepuk punggung Rival.


"Lihat bidadari sampai kaget begitu pak Danki!" sontak kelakuan Rival mengundang gelak tawa para anggota. Rival pun masih sulit mengkondisikan wajahnya. Tak bisa di pungkiri hatinya memang terpesona melihat kecantikan Shila yang selama ini tidak pernah sekalipun berdandan di hadapannya.


"Eehhmm.. Kita mulai" tegasnya padahal dalam hati sudah gugup sama seperti saat menikahi Yara dulu. Rival mendekati Shila.


"Pegang lengan Abang!"


"Bang.. Shila gugup"


"Ini resiko jadi istri Abang. Tugas pertamamu, hilangkan gugup itu" ucap Rival lebih santai.


Prosesi di lakukan satu persatu hingga saat tiba Rival berhadapan dengan Om Suherman dan istrinya. Om Suherman menampar pelan pipi Rival sebagai ungkapan rasa sayang.


"Om tau maksudmu, tapi Shila bukan Yara. Kalau kamu perlakuan Shila dengan buruk, Om yang akan menghajarmu!"

__ADS_1


"Rival paham Om"


Rival menatap mata Randy yang bersebelahan dengan Naya.


"Yara sudah tidak ada lagi. Ingat itu Val! Boleh sesekali mengingatnya, tapi jangan menghidupkan dia lagi, karena papa paham perasaanmu. Istrimu sekarang adalah Shila. Shila tidak akan pernah menjadi Yara. Masuk kan dia dalam hatimu Val"


Rasanya Rival tidak kuat mendengar hal itu. Rival berlutut di kaki Randy dan Naya.


"Maafkan Rival pa, bukan maksud Rival menggantikan posisi Yara. Yara tetap ada dalam hati Rival, sampai kapanpun Rival akan mencintainya. Maaf.. Rival sudah mengkhianati cinta Rival untuk Yara"


Randy menarik lengan Rival agar berdiri menatapnya.


"Yara sudah tidak ada, dia istrimu yang sudah bahagia disana. Sekarang kamu punya tanggung jawab atas hidup Shila. Sadar itu Val. Yara tidak akan marah dengan apa yang akan kamu lakukan untuk Shila" tegas Randy.


Naya tak sampai hati melihat raut wajah Rival yang masih setengah ikhlas.


"Menikah itu ibadah, meskipun tujuannya untuk anak, tapi kamu harus melakukan semua kewajiban mu itu sesuai janjimu di hadapan Allah. Cepatlah punya anak agar ikatan batin kalian semakin kuat"


Rival memalingkan wajahnya jika membahas soal itu.


"Harus bisa" On Suherman dan Randy menegaskan bersamaan.


"Insya Allah.. Rival akan berusaha menjadi sebaik-baiknya suami"


***


"Pak.. foto dulu dengan istri"


Dari kejauhan tatapan mata Om Suherman mengarah tajam ke Rival hingga akhirnya semua sesi foto itu bisa selesai dengan baik.


"Semoga Shila tidak pernah menangis karena ulah Rival" keluh Om Suherman.


"Nanti akan luluh dengan sendirinya" senyum Randy.


--------


Rival dan Shila sudah duduk di satu meja setelah tamu satu persatu pergi. Tersisa lelah yang mereka rasakan. Arben dan Abrian sudah ikut dengan Randy dan Naya. Rival melirik Shila, detak jantungnya kembali kencang. Rival mengusap wajahnya dengan kasar.


Aku harus bagaimana Ya Allah.. Aku manusia biasa.. punya rasa, tapi hatiku masih berat karena dalam jiwa ini sudah tertanam kuat nama Yara.


"Abang kenapa?"


"Dek.. malam ini kita menginap di hotel ya" ajak Rival.


"Kenapa harus kesana mas. Anak-anak bagaimana?"


"Sekali-kali lupakan dulu masalah anak. Abang ingin punya waktu berdua sama kamu" ucapnya walau hatinya sendiri tidak yakin.


"Shila ikut kata Abang" ucapnya menunduk.


Ada senyum tersungging di bibir Rival, tak menyangka istrinya itu begitu penurut.


Maaf kalau hatiku belum bisa mencintaimu dek.

__ADS_1


***


"Abang libur tiga hari. Selama tiga hari kita akan bersama terus"


"Iya bang" tangan Shila membuka kerudungnya perlahan. Rival membantu Shila membuka lilitan jilbab itu. Rambut panjang dan wangi langsung terurai begitu saja. Tidak ada sedikit pun hal yang membangkitkan gairah Rival.


"Shila mau lepas gaunnya bang"


"Lepas saja!" ucap Rival datar, ia ingin menguji dirinya sendiri apa ia bisa merasakan hal yang sama saat berdua dengan Shila. Bukankah kemarin ia sempat on melihat Shila berganti pakaian.


Shila menggapai pengait di punggungnya tapi tidak sampai hingga Rival membukanya.


"Shila tau Abang tidak ingin dengan Shila. Abang tidak perlu memaksa. Shila tak apa bang"


"Kamu istri Abang. Abang tidak memaksa, tapi Abang sedang berusaha, hanya saja kamu jangan menuntut perhatian dari Abang. Kamu tau kalau Abang sangat mencintai istri Abang. Dia segalanya untuk Abang. Maaf Abang memang egois, Kamu tau tujuan awal Abang menikahimu"


"Iya bang. Shila tau. Shila tidak meminta apapun dari Abang. Bisa berlindung di balik nama Abang, sudah cukup untuk Shila"


Rival meninggalkan Shila sendirian dalam kamar. Rival mengambil kunci motornya dan melaju menuju makam Yara.


***


"Hai cinta... apa angin sudah membawa rinduku?"


"Ikhlaskah kamu sayang, jika suatu saat nanti hatiku juga mencintai dan menyayangi Shila. Aku ingat jelas bagaimana rasa cemburumu yang membuatku kelabakan" senyum Rival.


"Sayang.. Shila sangat penurut.. apakah gadis selembut itu juga bisa cemburu seperti mu"


Rival menghapus air matanya sendiri. Tak bisa di pungkiri hingga saat ini rasa cinta Rival pada istrinya itu sangatlah besar.


***


"Sudah siap dek?" Rival mengusap rambut Shila.


"Sudah bang"


Rival mengecup kening Shila.


"Maaf kalau kata-kata Abang tadi menyakiti hatimu"


"Shila menghargai kejujuran Abang"


Rival menarik nafas panjang.


Inikah jodoh yang Engkau kirimkan untuk ku Tuhan?? Kalau ini memang yang terbaik. Hamba ikhlas.


***


Rival mengajak Shila menginap di hotel selama tiga hari. Ia ingin keputusan nya ini membuatnya bisa lebih menerima kehadiran Shila di sisinya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2