
Rival merebahkan diri di lantai koridor sekitar ruangannya. Ia tidak mau di bujuk.. anak buah yang memintanya untuk pindah ke ruangan atau ke unit kesehatan juga harus rela kena semprot Danki A yang hari ini berubah menjadi lebih galak dari biasanya.
"Galak amat lu tong" ledek Nathan langsung duduk di samping Rival.
Rival masih diam tidak ingin menanggapi apapun. Yang ia tau pikirannya hanya ingin segala makanan berasa asam.
"Ijin Danki.. manisan asamnya baru selesai nanti malam. Sekarang yang ada hanya belimbing wuluh. Apa Danki mau?" tanya Gandhi.
"Ya sudah mana" kata Rival dengan pasrah. Gandhi, Nathan dan Dio sampai merasakan asam pada rongga mulutnya saat melihat Rival memakan belimbing wuluh itu seolah tanpa merasakan asam sama sekali.
"Kamu yang makan..aku yang mulas Val..Rival" kata Nathan mengusap wajahnya.
Tak butuh waktu lama Rival sudah kembali seperti sediakala seperti tidak terjadi apapun padahal tadi ia sudah membuat susah beberapa orang karena menurutinya.
"Ayo kurve dulu" ajaknya dengan wajah segar.
"Waahh.. Danki mu ini minta di tendang" kesal Nathan melihat Rival yang sudah sehat lagi.
Gandhi dan Dio mengulum senyumnya melihat para Danki.
***
"Tunggu dek..Abang mau bicara" Oka menghalangi langkah Naura.
"Apa lagi sih bang. Naura bukan gadis baik-baik bang" tolak Naura.
"Nggak ada namanya bukan gadis baik-baik lalu pamer" kata Oka.
"Istri tentara itu bermartabat, tidak suka mabuk, merokok dan punya sopan santun" tegas Naura tapi kemudian air matanya menetes.
"Apa yang sebenarnya menjadi bebanmu? Beratkah itu? Ceritakan sama Abang" pinta Oka.
"Pergaulan Naura di Amerika begitu bebas bang. Kalau Naura menjadi istri Abang. Itu akan sangat memalukan buat Abang" kata Naura.
"Abang tulus sayang kamu. Manusia tidak ada yang sempurna dek. Abang mohon!" Oka membelai pipi Naura.
__ADS_1
"Baiklah bang" jawab Naura pasrah. Ia mau di ajak menikah dengan Oka.
Yeeess.. setidaknya inilah gunanya punya Abang senior sekeren bang Rival. Nggak sia-sia aku nguping dan nyontek kata-katanya. Rayuannya maut banget.
"Kalau begitu sekarang ikut Abang ke Batalyon meminta tanda tangan Abang Rival, lalu kita temui Danyon dan selesai. Kamu sah istri Abang di dalam kantor" kata Oka
"Ayo bang"
***
Rival sedang berduaan di dalam ruamg kerja bersama Shila. Rival meminta Shila mengantarkan makan siangnya di jam istirahat siang.
"Sini makan berdua sama Abang" Rival menepuk pahanya agar Shila duduk di pangkuannya.
"Nggak mau lah bang, Abang nggak ingat kita dulu kena masalah gara-gara hal ini?" tolak Shila.
"Itu dulu.. sekarang beda lah sayang" Rival menarik pinggang Shila hingga duduk di atas pangkuannya.
"Abang kenapa sih genit begini?" Shila heran dengan perubahan sikap suaminya.
"Apa kamu nggak mau hal lebih dari Abang?"
"Mau bang, tapi Shila takut" Shila pun akhirnya membalas kecupan Rival karena suaminya itu nampak sudah tidak tahan dan sulit di kendalikan. Rival mengangkat Rival hingga di sofa. Lalu mengunci pintu ruangannya.
Rival semakin hanyut, seakan tiada beban lagi pada dirinya. Yang ia tau seakan dunia ini hanya miliknya dan Shila walaupun istrinya itu sesekali berusaha menolak kelakuannya.
"Bang!!!!" Naura tiba-tiba langsung membuka paksa pintu ruangan Rival yang slot nya memang sedikit longgar dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu, Oka pun terperanjat kaget belum sempat ia mencegah tangan Naura, tapi pintu itu sudah terlanjur terbuka. Oka langsung menghadap keluar melihat rambut Shila tergerai indah.
"***** keluar kau!!!!!" Rival gelagapan menutup celananya yang sedikit terbuka.
Naura jengkel, ia segera keluar dan menunggu Rival di depan pintu.
"Genit sekali perempuan ular itu" kesal Naura.
"Kenapa kamu langsung masuk??? Jangan sampai Abang dengar perkataanmu barusan" tegur keras Oka.
__ADS_1
"Itu khan ruangan Abang Naura sendiri. Lagipula memang benar Khan, buat apa perempuan itu mengganggu suaminya yang sedang bekerja. Mengganggu konsentrasi saja"
"Tapi itu ruangan pribadi dan kamu tidak sopan. Kamu nggak boleh menduga sesuatu yang kamu tidak tahu pasti. Yang jelas apapun yang mereka lakukan, mereka itu suami istri." jelas Oka.
"Masuk!!!" perintah Rival yang sudah merapikan pakaiannya. sesaat tadi ia merasa sangat jengkel, selain itu ia pun harus menunda hasratnya saat sudah di ujung tanduk.
"Selamat siang.. Lettu Oka Priyanto ijin menghadap" laporan Oka secara resmi.
"Silahkan duduk Lettu Oka beserta calon istri" Rival menyambut Oka secara resmi pula.
"Untuk calon istri Lettu Oka nanti masih lanjut dengan istri saya" jelas Rival sambil mengusap lutut Shila yang duduk di sebelahnya.
"Tidak mau" tolak Naura.
"Bagi calon istri anggota yang tidak mau menghadap istri Danki, tidak akan di loloskan untuk maju menghadap Danyon" tegas Rival tenang.
"Kita batal nikah bang" Naura berdiri dari duduknya di sofa.
"Jangan aneh-aneh dek. Ini prosedurnya" kata Oka.
"Naura tidak sudi berhadapan dengan wanita itu bang. Lihat saja gayanya saat menggoda Abang Rival. Jangan-jangan besok Abang yang akan dia goda" ketus Naura.
"Nauraaaaaaa" bentak Rival sudah hilang kesabaran.
"Abang.. jangan marah-marah bang!" bujuk Shila.
"Kamu jangan memperkeruh suasana dek" Oka berdiri berusaha menenangkan Naura.
"Abang tidak pernah tega mengucapkannya. Bagi Abang ini bukan sebuah aib. Tapi ini adalah teguran. Kalau bukan karena kelakuanmu, semua ini akan Abang simpan rapat dalam hati Abang"
"Shila istri Abang...bukan wanita penggoda seperti apa yang kamu tuduhkan. Shila di nodai orang karena manfaatkan keadaannya yang tidak bisa melihat saat itu. Mudah sekali kamu bicara tanpa menyaring suatu berita. Hari ini.. kamu benar-benar menyakiti hati Abang" Mata Rival memerah, setiap mengingat semua kejadian buruk itu, hatinya terasa sakit sekali.
.
.
__ADS_1