
Malam ini Shila benar-benar membuat Rival kelabakan.
##
##
Rival tak sanggup lagi bangkit dari posisinya. Tubuhnya benar-benar lemas dan lelah usai menggempur pertahanan musuh. Tidurnya sangat pulas tanpa beban.
"Ternyata nggak sakit. Aku saja yang terlalu takut sampai Abang marah" gumam Shila.
"Maaf ya bang!!" Shila mencium sekilas bibir suaminya yang sudah tidak sadarkan diri karena sudah puas bermain.
tok..tok..tok..
Shila membuka pintu kamarnya. Ada bibi dan anak-anak yang lelah bermain.
"Pas.. " batin Shila tenang.
"Dek Lilan pengen tidur sama bapak katanya" bibi menurunkan Lilan dari gendongan.
"Bapak masih sakit Bu?" tanya bibi ikut cemas.
Shila menahan tawanya karena Rival tadi hanya akting saja.
"Sudah baikan bi. Sekarang lagi tidur"
"Ya sudah bu, bibi sama Aden mau masuk kamar dulu" pamit bibi.
"Iya bi.. istirahat, sudah malam!" kata Shila.
Lilan berlari menghampiri papanya.
"Papa sakit?" tanya Lilan.
"Papa capek sayang. Jangan ganggu papa ya!" Shila menggendong Lilan yang ingin mengajak papanya bercanda padahal Rival malam ini sudah K.O total.
Lilan meronta ingin mendekat pada Rival sampai menangis di balkon. Rival refleks menutup telinganya.
"Apa sih dek! Abang mau tidur sebentar aja" pinta Rival karena ia tau pasti setelah ini harus begadang menemani Gata bermain.
"Lilan mau sama papa!!" pinta Lilan.
Akhirnya Rival membuang nafasnya dan mengalah untuk bangun.
"Siniiiii.. Mana cantiknya papa??" ajak Rival dengan suara paraunya.
Lilan berlari memeluk papanya dan tidur di tengah satu selimut bersama Rival.
"Sini ma!!" Rival meraih tangan Shila, akhirnya mereka bertiga tidur bersama.
***
Arben terlihat sayang sekali dengan adik-adiknya. Ia menyapa semua adiknya dengan sayang.
__ADS_1
dddrrrttt... dddrrrttt
Rival mengangkat ponselnya. Tak lama raut wajahnya terlihat tidak begitu bahagia.
"Ada apa bang?"
"Abang di pilih satgas Kongo dek"
Betapa terkejutnya Shila karena saat ini Rival dalam kondisi yang tidak begitu sehat.
"Kapan itu bang?"
"Bulan depan untuk persiapan pratugas dek"
Shila tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Ia terlalu cemas dengan kondisi Rival.
"Jangan cemas. Abang nggak akan baik-baik saja" ucapnya saat tau Shila begitu mencemaskan kondisi nya.
"Nanti kita kembali ke rumah mama ya?" ajak Rival sambil merangkul bahu Shila yang belum juga tenang.
***
Anak-anak berlarian di dalam rumah. Riang gembira tanpa beban. Di dinding rumah itu masih terpajang wajah cantik Yara. Rival duduk termenung, ada rasa tidak jelas dalam hatinya.
"Ada apa bang. Sebegitu rindunya sama mbak Yara?" tanya Shila berdiri di hadapan Rival membuat pria itu mendongak.
"Apa kamu ini?? Nggak lah" Rival menepis semua perkataan Shila. Tangannya menarik Shila agar bisa duduk di pangkuannya.
Rival menarik tangan Shila. Istri Rival itu menurutinya.
"Maaf bang..!" Shila menunduk tak berani menatap Rival.
"Abang paham perasaanmu. Istri Rasulullah saja masih suka cemburu dengan istri Baginda yang sudah tiada. Apalagi kamu yang manusia biasa. Apa daya Abang yang juga manusia kecil ini, bukan siapa-siapa. Abang yang harusnya minta maaf. Tidak bisa menjaga hatimu" Rival mengusap rambut Shila, wajahnya menunjukan ketulusan seorang suami.
***
Pagi ini Shila dan bibi pergi ke pasar bersama anak-anak. Rival hanya menunggu mereka karena hari ini ia sangat malas mengikuti Shila berkeliling ke dalam pasar.
Tak lama Shila keluar membawa barang yang baru saja ia beli. Sekitar seratus meter dari sana ada patroli penyambutan Panglima yang mengadakan kunjungan kerja. Banyak tentara berjaga di sepanjang jalan.
"Bu, belum beli kentang. Bapak tadi minta di buatkan sambal goreng kentang" bibi yang mengingatkan Shila. Shila menyerahkan Agata agar bibi membawa Agata pada papanya di parkiran.
-_-_-_-_-
"Shila..." sapa seorang pria berpangkat Praka saat melihat Shila berjalan sendirian sambil menenteng kentang di tangannya.
Istri Rival itu menoleh ke arah pria itu.
"Mas Hasan??"
"Kamu apa kabar? Kemana saja nggak pernah kelihatan?" tanya Hasan.
__ADS_1
"Baik mas"
##
##
Rival melihat dalam kacamata hitamnya. Dari jauh ia melihat Shila berbincang dengan seorang pria berpangkat Praka. Dari gerak geriknya Shila nampak menghindari pria itu, tapi pria itu nampak selalu menghalangi langkah Shila.
"Titip anak-anak dulu Bi!! saya mau beli rokok" pamit Rival.
"Iya pak..!!"
-_-_-_-_-
"Kenapa yank??" Rival berdiri di belakang Shila dengan wajahnya yang penuh penekanan pada pria di hadapan Shila.
Hasan melepaskan tangan Shila.
"Ini yang kamu bilang suamimu?" tanya Hasan seolah mengejek.
"Iya.. ada masalah?" Rival yang menjawab ringan ucapan Hasan.
"Kalau kamu mau sama abdi negara, kebutuhan mu terjamin dek!! Mas pasti bahagiakan kamu!" kata Hasan.
Hasan melirik Rival.
"Pengusaha bisa saja bangkrut dan pengusaha identik dengan wanita di sekitarnya"
"Praka Hasan. Kompi BS. Kenal Pak Willy??" tanya Rival membuat Hasan memandang lekat ke arahnya.
"Itu privasi, jangan sok kenal dengan anggota" ketus Hasan
Pak Willy berlari ke arah Rival.
"Selamat siang. Ijin Danki.. kapan datang ke Jogja" sapa pak Willy setelah memberi hormat.
"Selamat siang ibu Danki"
"Selamat siang pak Will" senyum Rival mengembang sempurna.
"Selamat siang pak Willy. Apa kabar ibu dan anak-anak?" sapa Shila lembut.
"Alhamdulillah anak-anak dan istri semua sehat Bu"
Pak Willy menatap kesal ke arah Hasan. Bisa-bisanya Praka itu sombong di hadapan orang lain.
"Kamu nggak pernah lihat ruang gedung Komandan??? Disana ada foto Kapten Rivaldi Alfario. Jangan jadi apatis di lingkungan sendiri!!!" tegur pak Willy.
"Siap salah..!!"
"Sudahlah pak Will.. Saya lagi liburan.. bukan mau kerja" kata Rival menyudahi aura panas yang terjadi.
Praka Hasan sudah malu setengah mati di hadapan Rival. Ia tidak menyangka ternyata suami Shila adalah seorang perwira.
__ADS_1
.
.