
"Bangun ma!!" Suara tangis bayi menambah sesak perasaan Rival dalam kepiluan. Rival menutup telinganya, hatinya terasa sakit.. takut putranya akan kehilangan sosok seorang ibu.
"Kamu dengar itu dek? anak kita mencari mamanya. Abang menagih janjimu untuk selalu setia menemani Abang!! Tegakah kamu membiarkan Abang berjuang sendiri??"
Tak sanggup merasakan kesedihan hatinya, Rival sampai tak merasakan respon Shila yang menggenggam balik telapak tangannya.
"Abang akan selalu mencintaimu sayang"
Diantara kesadarannya yang hampir hilang, Rival masih sempat mengecup kelopak mata Shila yang tertutup rapat.
"Jika jantungmu masih berdetak, Kamu pun masih bisa melihat Abang hidup"
"Rival... Heh.. sadar kamu Val!!"
Para perawat memeriksa kondisi Rival.
"Ini gejala serangan jantung" kata rekan Farhan. Saat itu pula Shila mendengar kalau Rival memiliki gejala sakit jantung.
"Aabaaanngg.." lirihnya menyapa Rival.
"Sabar Shila.. Kami pasti usahakan yang terbaik untuk suamimu" kata Farhan.
***
Shila terus menangis hingga perutnya semakin terasa sakit. Tangannya menggenggam jemari Rival yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri.
"Kenapa Abang bohong sama Shila?" tangisnya setelah tau obat yang ia bawa adalah obat untuk mengurangi rasa sakit suaminya.
"Kenapa Abang terus bekerja sekeras ini demi Shila?? Shila nggak pantas dapat cinta Abang" isaknya.
Mama Naya menenangkan Shila bersama bibi. Arben, Abrian dan Lilan sudah menangisi papanya. Arshen menggendong Lilan yang masih belum bisa diam. Wajah seperti seseorang yang sangat tenang tanpa beban.. padahal hatinya menyimpan banyak beban mendalam.
"Abang.. Bangun bang! Shila butuh Abang! Anak-anak juga sangat membutuhkan papanya"
Shila mencoba bangkit dari tidurnya, tangannya terus menggenggam jemari suaminya, tapi Naya melarang. Shila tetap nekad bangun. Tidak ingin jauh dari suaminya.
Rival mulai sadar. Ia sangat kesakitan memegang dadanya. Hanya Shila yang muncul dalam ingatannya. Rasa hangat dari genggaman tangan Shila membuat alam bawah sadar Rival merespon sentuhan istrinya.
"Astagfirullah.. Shila..sayang" Suara Rival berat tercekat. Randy mengusap kepala Rival agar pikiran dan hatinya kembali tenang.
__ADS_1
"Pa.. bang Rival pasti akan sembuh khan?" tanya Shila dalam ketakutannya.
"Nggak ada sesuatu yang nggak mungkin Shila" jawab Rival.
"Sayang.. " sapa Rival saat pertama kali sadar ada wajah Shila disana.
"Iya bang.. Ini Shila" jawab Shila yang masih belum bisa banyak bergerak karena baru saja operasi, tapi Shila terlalu memaksakan diri untuk setengah duduk.
"Alhamdulillah.. Terima kasih Ya Allah" ucap syukur Rival hampir tak terdengar. Ia bahagia tak terkira hatinya saat ini.
Randy dan Naya ikut senang. Aura kebahagiaan itu juga sampai pada anak-anaknya.
Shila memercing sakit sampai menangis. Efek obat biusnya sudah hilang.
"Sshhh.. Ya Allah" Shila mengucap pelan.
"Kenapa sayang? terlalu sakit ya" tanya Rival sedih, ia sendiri belum sepenuhnya pulih.
"Nggak bang" bual Shila.
Rival bangkit perlahan mendekatkan badannya dengan Shila. Masih ada rasa pusing yang tersisa.
"Jangan bangun bang! Abang masih harus banyak istirahat" cegah Shila.
***
"Memang kesehatanmu itu kalau liat Shila senang Val. Ini kondisi mu juga pulih dengan cepat" kata Farhan yang melihat Rival jauh lebih baik pagi ini.
"Jelas itu, apalagi yang aku inginkan. Anak istriku adalah nyawaku yang berharga" ucap Rival tersenyum.
"Oya, kemarin saat operasi kamu 'putus' nggak?" tanya Rival.
"Nggak lah, istrimu yang minta dan sudah tertulis di perjanjian" jawab Farhan.
"Astagfirullah.. Shila sungguh keterlaluan" Rival mengusap dadanya karena Shila tidak mau di tubektomi.
Shila kembali ke kamar di antarkan perawat jaga setelah menyusui bayinya. Bayi mungil itu masih harus masuk inkubator.
"Bagaimana dedek hari ini?" tanya Rival, tapi nadanya tidak selembut biasanya.
"Baru mau menyusu bang" jawab Shila.
__ADS_1
"Kenapa kamu tolak tubektomi?"
"Nggak sesuai dengan hati saja bang" Shila tau mungkin suaminya kecewa karena mereka tidak merundingkan hal ini.
"Apa kamu mau merasakan hamil anak Abang lagi??" tegur Rival.
"Nggak bang. Kita hati-hati saja"
"Iya Abang tau, tapi kalau kita sebagai manusia sudah terbuai, pasti lupa segalanya. Dan kamu juga tau bagaimana Abang! Kalau sudah ngambang.. nggak ingat apa-apa lagi" Rival mengakui kalau dirinya memang susah mengendalikan diri.
"Apa Abang saja yang di putus??" tanya Rival padahal ia sendiri tidak yakin.
"Nggak bang, Shila nggak mau. Nanti Abang bisa ngapa-ngapain di luar" kesal Shila yang marah sambil menahan kesakitan bekas sayatan operasi.
"Astagfirullah.. Pikiranmu itu lho, ngawur kalau ngomong. Apa Abang ini gila tebar anak dimana-mana" bentak Rival. Farhan hanya melipat tangan di depan dada mendengar perselisihan suami istri itu.
"Shila masih bisa pakai yang lain Val" sela Farhan.
"Nggak.. dulu Yara juga pakai tapi lepas. Sudahlah biar saja. Jodoh maut dan rejeki sudah Allah yang atur. Memang sudah begini jalannya, pasrah saja"
***
Rival sedang menyuapi Shila makan malam. Shila menatap wajah suaminya yang masih bersemu pucat tapi masih tetap merawatnya dengan baik.
"Abang istirahat saja. Shila sudah nggak apa-apa" kata Shila.
"Abang juga sudah baikan, nggak terasa apa-apa lagi" sambil tangannya terus menyuap makanan ke mulut Shila.
"Shila sudah kenyang bang"
Rival tersenyum lalu melirik putranya yang berada di kamar sebelah hanya berbatas kaca. Rival membuang nafasnya pelan, ada kelegaan terpancar dari wajahnya, ia memejamkan mata bila terbersit ingatan menakutkan tentang istrinya yang hampir saja meregang nyawa. Dalam hati kecilnya beristighfar menyimpan beribu perasaan campur aduk yang luar biasa.
"Terima kasih banyak sayang. Mungkin Abang tidak bisa mengganti pengorbananmu untuk merawat dan melahirkan penerus darah Abang. Entah dengan apa Abang membalas semuanya"
"Tetaplah ada untuk Shila bang! Temani Shila walau Abang sudah menemukan mbak Yara di surga" pinta Shila terdengar pilu.
Rival mengangguk walaupun ia tidak tau apakah bisa ia melakukannya.
"Iya..Insya Allah sayang!" raut wajah Rival berubah pias.
"Kamu dan Yara sama-sama bidadarinya Abang.. Tapi selama kita masih ada di dunia. Kamulah segalanya untuk Abang" ucap Rival lalu mengecup kening Shila menyalurkan segala perasaan yang ada.
__ADS_1
.
.