
"Bang, bisakah Abang bilang lagi, sejak kapan Abang mencintai Shila? Sungguh Shila tidak ingin menjadi yang kedua bang."
"Sejak kedua kalinya Abang menyentuhmu" jawab Rival sambil memejamkan mata dan memeluk Shila.
"Apakah saat itu Abang terpaksa atau ada alasan lain??" tanya Shila lagi.
"Kalau terpaksa tidak. Tapi alasan lain iya. Disamping Abang sadari kalau ada kewajiban Abang. Jujur dinding iman Abang tidak kuat saat melihat mu, Abang nggak munafik ada nafsu pria yang sudah lama Abang tahan.. ingin Abang selesaikan sama kamu. Setelah kita melakukannya barulah Abang menyadari kalau Abang cinta dan sayang sama kamu"
Wajah Shila sedih sekali, banyak pertanyaan dalam hatinya. Tapi ia tidak berani mengungkapkannya.
"Abang nggak tau kenapa Abang mencintaimu. Yang Abang tau, kamulah wanita yang Abang pilih untuk jadi istri Abang. Kamu jodoh dari Allah"
Rival bersandar di dinding, tak melewatkan sedikit pun waktu untuk memeluk Shila. Hatinya belum tenang. Ia mengangkat wajah Shila yang masih bersandar di dadanya. Wajah itu masih basah oleh air mata.
"Maafkan Abang dek. Abang janji ini terakhir kalinya Abang menyebut nama Yara. membuatmu sesakit ini karena Abang. Abang tau benar kamu cemburu"
Shila memalingkan wajahnya.
"Jangan banyak janji lah bang. Wanita tidak butuh janji, tapi bukti"
"Akan Abang buktikan dek" Rival menatap mata Shila penuh kesungguhan.
Rival mengangkat istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Menutup pintu belakang menggunakan kaki. Terlihat sisa pembakaran foto Yara.
Yara sayang..tak ada fotomu bukan berarti kamu tak nampak di hatiku. Tak menyebut namamu bukan berarti aku tak mengingatmu. Biar Tuhan dan aku yang tau segala rasa dalam hatiku untuk kamu juga Shila.
Rival menidurkan Shila di ranjang. Rival menutup rapat pintu kamarnya, ia mengambil sesuatu di dalam lemari, di tumpukan pakaiannya.. Rival ikut naik ke atas ranjang dan menarik selimutnya. Sungguh saat ini ia begitu mencintai wanita ini. Istri yang sedang mengandung buah hatinya.
"Waktu yang sudah berlalu tidak akan bisa kita ubah, seperti sebuah kenangan..yang sudah terjadi kadang sulit untuk kita lupakan. Sekarang hanya tersisa waktu antara kamu dan Abang untuk kita habiskan hingga tubuh tua renta dan maut memisahkan"
Shila kembali meneteskan air mata. Entah kenapa air matanya begitu kurang ajar tidak ingin sedikit saja menutupi perasaannya.
"Dek.. Sebenarnya sudah dari Abang pulang dinas ingin mengatakannya padamu"
"Apa bang?" Shila duduk di ranjang melihat Rival.
"Dinda sayang..Maukah kamu bersabar sekali lagi, menerima apa adanya diri Abang, dalam kelemahan dan keterbatasan yang ada pada diri Abang. Abang tidak punya apa-apa untuk di pertaruhkan. Abang datang di kehidupan mu hanya membawa jiwa raga ini" Rival mengungkapkan isi hatinya selembut mungkin.
Shila sangat terharu mendengar nya. Bagaimana bisa suaminya itu 'melamarnya' dalam keadaan seperti ini. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan, ia pun juga ingin merasakan bahagia.
"Terpaksa bang" jawab Shila.
"Kamu nggak cinta Abang?" tatapan Rival menunjukan hati nya yang sangat terluka.
"Cinta bang. Shila terlanjur hamil juga"
"Jadi kamu terima Abang karena sudah terlanjur???" Raut wajah Rival nampak sangat kecewa.
Shila mengecup kening Rival.
"Gitu aja ngambek bang...." Shila menahan senyumnya.
"Shila mau Abang ajak terlanjur.. karena Shila memang sayang sama Abang"
__ADS_1
"Ya Allah dek, tinggal bilang iya aja apa susahnya sih. Hampir Abang patah hati"
"Terus apa yang Abang ambil tadi?" tanya Shila.
Rival mengeluarkan satu set perhiasan untuk Shila. Ia memakaikan cincin itu ke jari manis istrinya.
"Shila khan sudah punya bang" kata Shila.
"Ini semua Abang rancang sendiri modelnya khusus untuk kamu, dan Abang pesan saat penugasan. Semoga istri Abang suka" kata Rival memakaikan gelang Shila lalu memasang kalung cantik di leher Shila.
Rival menciumi pundak Shila yang wangi hingga ke tengkuknya. Semerbak harumnya begitu menggoda.
"Jangan macam-macam bang!!! Abang belum pulih" cegah Shila karena ia tau suaminya mulai bertingkah. Rival tersenyum nakal.
"Sini..percaya sama Abang" senyumnya kini lebih tulus.
***
Rival membaca surat perintah di meja kerjanya untuk mengawal peterjun gabungan militer dan peterjun olahraga dari Jawa yang akan di pusatkan latihan di Kalimantan selama beberapa hari untuk bulan depan.
Perasaanku nggak enak banget.
Rival keluar ruangan menuju masjid Batalyon. Ia ingin menyegarkan pikirannya.
***
"Arben dan Abrian mau makan siang pakai apa?" tanya Shila.
"Iya..kuning" sahut Abrian.
"Oohh..pesmol. Sebentar ya mama masak dulu... Jangan keluar rumah ya nak..panas!"
"Iya ma" kata Arben dan Abrian.
Shila mulai mencuci ikan dan menguleg bumbu masakan. Shila sangat senang karena apapun yang ia masak selalu habis karena Arben dan Abrian suka makan, apalagi papanya selalu menjadi saingan berat anaknya.
Shila menumis bumbu lalu memasukan ikan di temani lagu yang sangat ia sukai. Sesekali suaranya ikut mengalun merdu. Masakan Shila sudah mau matang dan ia meninggalkan dapur menuju kamar mandi. Usia kehamilan tujuh bulan lebih sudah lumayan membuatnya agak sulit beraktifitas dengan cepat.
Arben dan Abrian berlari ke arah dapur lalu berlari lagi keluar rumah. Shila menuju dapur mematikan kompor. Ia mau memindahkan pesmol ikan matang yang ia masak.
"Mamaaaaaaaaa... Mamaaaaaa" Teriak Arben dan Abrian ketakutan.
"Kenapa sayang" Shila berlari meninggalkan dapur dan berlari ke ruang tamu.
"Astagfirullah hal adzim..." pekik Shila. Ia melihat gorden ruang tamunya sudah terbakar menyambar sofa.
Shila melihat anak-anaknya terjebak di sudut sofa. Shila sangat ketakutan tapi ia harus tenang agar anaknya tidak ikut panik.
"Jangan takut sayang, mama disini"
Shila secepatnya mengambil selimut lalu mengibaskan api yang sudah membakar sampai atap rumah. Ibu-ibu tetangga Shila sudah berteriakan meminta tolong.
Shila membuka gagang pintu rumahnya yang panas terbakar api lalu menutupi tubuh anaknya dan menuntun nya agar berlari keluar. Shila yang sudah merasa lelah mengatur napasnya.
__ADS_1
Di tempat berbeda sudah ada anggota menaiki motor untuk menjemput Rival yang baru keluar dari halaman masjid.
"Ijin Danki. Rumah Danki terbakar"
"Ya Allah.. cepat antar saya pulang"
-_-_-_-_-_-
Rival melihat Arben dan Abrian menangis di luar, mereka di tenangkan para tetangga.
"Mama mana Ben?"
"Mama terbakar sama lidi yang Arben taruh" Rival terperanjat kaget.
"Shilaaaa"
Rival menerobos orang-orang yang menyiram rumahnya dengan air.
"Jangan dulu Danki, apinya besar"
"Lalu apa saya akan membiarkan istri saya di dalam sana?????" bentak Rival.
Rival melihat selimutnya tergeletak di halaman. Ia mengambilnya lalu menutup kepala dengan lengannya dan masuk mencari Shila di dalam rumah. Tak disangka Arshen ikut masuk ke dalam rumah Rival.
"Kamu dimana dek, jawab Abang" Rival mengibaskan asap di sekitarnya.
"Shila disini bang" jawab Shila lirih.
kreeeekk..
Mata Rival melihat rangka kayu atap hampir jatuh di atas tubuh Shila. Ia pun sigap menendangnya.
braaaaakk...
"Ya Allah sayang. Mana yang sakit??" Rival memeluk Shila saat menemukannya meringkuk memegang perutnya.
"Gimana Shila bang??" Arshen ikut panik.
"Kamu??????" Rival kesal melihat Arshen tapi ini bukan saat yang tepat untuk berdebat.
"Bang Rivaaall.. sakiitt" teriak Shila meremas lengan Rival, hingga suaminya ikut memercing sakit.
"Sabar sayang. Kita keluar sekarang" Rival menutup tubuh Shila dengan selimut dan mengangkatnya.
"Biar saya bantu bang" kata Arshen.
"Saya mampu mengurus istri saya sendiri" tegas Rival. Arshen hanya bisa pasrah menunduk.
Rival keluar dan menerobos panasnya api di ruang tamu disusul Arshen di belakangnya. Rival sangat panik melihat Shila mengejang. Tangannya terus memegang kencang lengan Rival.
.
.
__ADS_1