Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
80. Ingkar janji.


__ADS_3

"Mau berangkat tengah malam atau setelah subuh bang?" tanya Gandhi.


"Setelah subuh saja. Abang mau bawa bekal dulu biar kuat selama penugasan"


"Biar saya bantu bang!" ucap Gandhi yang belum nyambung dengan maksud Dankinya.


"Heh..jangan kurang ajar kamu ya!!! Itu hanya untuk saya sendiri" kesal Rival.


"Siap salah Danki.. saya kira mau siapkan bekal senjata dan yang lainnya" kata Gandhi salah tingkah merasa tidak enak di sambung gelak tawa rekan teamnya.


"Benar khan kata saya, kelamaan jomblo bikin bujang semakin stress saja" cibir Rival.


"Ya sudah bang, kami kembali dulu. Setelah subuh kita berangkat" kata Oka.


"Oke lanjut, saya juga mau cek amunisi dulu" ucap Rival tanpa sungkan seperti biasa dengan gaya khasnya.


"Siap!!!"


-_-_-_-


Rival melihat ketiga anaknya yang sedang tidur. Ada rasa sedih seorang bapak harus meninggalkan anaknya untuk pergi bertugas. Rival pun menciumi anaknya satu persatu.


"Kalau papa pulang, kita main lagi ya" gumamnya lirih.


Langkah kakinya berjalan menuju kamarnya. Shila tidur pulas disana. Rival melepas kaos yang ia kenakan dan membuangnya ke segala arah. Ia menatap Shila, tak tega rasa hatinya membangunkan istrinya meskipun ada rasa ingin berduaan sebentar saja. Perut Shila sudah nampak jelas. Rival mengusap lembut perut yang kian hari kian membesar. Ada tendangan halus bisa ia rasakan disana. Senyum bahagia mengembang di bibirnya.


"Temani mama sebentar saja ya jagoan. Kamu harus tunggu papa pulang. Jangan nakal!!" ucapnya lirih.


Shila menggeliat manja tak sengaja menyentuh dada bidang suaminya. Saat melihat Rival menatapnya, pipinya langsung memerah. Ia menaikan selimut sampai lehernya.


"Kenapa di tutup. Padahal mau Abang buka"


"Boleh ya satu kali saja!" Rival tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang sangat menginginkan Shila.


"Iya bang"


Sampai sekarang Shila masih lebih banyak malu-malu saat berdua dengannya. Padahal dalam hati kadang ingin juga merasakan istrinya lebih agresif padanya.


###


###

__ADS_1


"Shila tau maunya Abang, sabar ya bang! Kalau si adek sudah lahir. Shila pasti penuhi keinginan Abang"


"Iya sayang, Abang ngerti kok. Abang juga nggak mau jagoan kita terganggu" Rival mengusap pipi Shila.


"Ya sudah, bonus buat papanya dedek nih" Shila mencoba menyenangkan Rival untuk 'bekalnya' sebelum berangkat dinas.


Rival terkejut mendapat perlakuan spesial dari Shila, tapi ia juga tidak menolak karena hasratnya masih mengacak kuat jiwa lelakinya.


***


Dalam perjalanan, Rival hanya tidur dan tidak menghiraukan delapan orang rekannya yang sedang bercengkrama di sebelahnya. Yang Rival rasakan saat ini hanya mengantuk dan lelah tak terkira. Sisa waktu sekitar satu jam di rumah masih terasa kurang untuknya.


-_-_-_-_-


"Abang sakit??" tanya Gandhi saat Rival membuka matanya. Nyawa belum sepenuhnya utuh kembali ke raga.


"Nggak" jawab Rival khas suara orang bangun tidur.


Rival memercing merasakan lelah di tubuhnya. Oka memberikan nasi bungkus pada Rival karena Abangnya itu hanya tidur dan belum sempat makan.


"Dehh.. rasanya lututku" keluh Rival memijat pangkal hidungnya.


"Hahaha..di lembur bang semalam" tanya Oka.


"Mau tau aja" jawab Rival sambil membuka karet nasi bungkus di tangannya.


***


Pagi di hari yang cerah.. Shila berangkat ke Batalyon lagi hampir dua minggu ini sesuai arahan Ibu Danyon. Sebenarnya Shila merasa heran, bukankah seharusnya ia tidak berangkat ke Batalyon karena Rival sudah membayarnya dengan berangkat dinas. Shila tidak mau ambil pusing dan mengikuti setiap permintaan Danyon. Shila tidak menceritakan hal ini karena Rival pasti akan marah besar.


Dinding aula Batalyon di hias indah. Shila berpanas-panasan kesana kemari sambil menyuapi anaknya di temani bibi yang menjaga anak-anak.


"Biar saya Bu yang suapi anak-anak!" kata bibi.


"Bibi bantu saya pegang anak-anak saja. Bibi khan tau kalau mereka tidak saya suapi, tidak akan makan banyak" Shila menyiapkan lagi sesendok nasi ayam kecap ke mulut Abrian.


"Iya Bu" senyum bibi salut dengan Shila yang sayang pada anak-anaknya.


Selesai menyuapi anak-anak, Arben sudah ada di Batalyon. Anak pertamanya itu di jemput Zein dari sekolah. Arben mengambilkan mamanya air minum karena melihat Shila yang menopang tubuhnya pada dinding.


"Pulang yuk ma, nanti Arben bilang om-om disana biar antar kita pulang" kata Arben yang selalu ingat pesan papanya kalau mama sudah lelah, harus segera di ajak beristirahat. Kasihan adik bayi.

__ADS_1


"Mama nggak apa-apa kak. Kakak tunggu mama disana ya. Sebentar lagi kita pulang" senyum Shila.


Baru saja Arben berbalik untuk duduk, Shila pingsan.. pelipisnya terkena tepi meja. Para ibu pengurus terkejut dan menolong ibu Danki.


"Pak Zein.. tolong Bu Rival pak!!!" kata seorang ibu pengurus.


"Ada apa???" tanya Zein.


"Bu Rival pingsan pak!"


"Aduuuhh.. Abang bisa marah nih" gumam Zein panik.


***


Rival mengintai di sekitar pasar induk. Perasaannya begitu tidak enak hingga sulit konsentrasi. Rival mengusap dadanya berkali-kali tapi perasaannya tak kunjung tenang.


"Nanti kita cari celah saja untuk hubungi istri bang. Saya tau Abang cemas" kata Oka.


"Iya, niat saya juga begitu"


-_-_-_-


Pukul delapan Rival menghubungi nomor istrinya, tapi tidak ada balasan disana. Beberapa saat kemudian ada yang mengangkat panggilannya.


"Assalamu'alaikum sayang" sapa Rival.


"Wa'alaikumsalam.. ini Zein bang!" jawab Zein.


"Kenapa kamu yang angkat. Ada apa????"


"Istri Abang pingsan. Kecapekan bang!!" kata Zein.


"Bibi kemana? Kenapa istri Abang sampai kecapekan" tegur Rival.


"Istri Abang pingsan di Aula. Setelah Abang dinas.. esoknya istri Abang membantu Bu Danyon mengatur kegiatan kepengurusan cabang" ucap jujur Zein menjelaskan yang sebenarnya.


"B*****t Danyon itu, Ingkar janji dia sama Abang. Abang pergi biar Shila bisa tenang di rumah. Abang menjaga Shila sebisa Abang, kenapa dia yang mengacaukan semua usaha Abang!!!!"


"Sabar bang!! Nanti saya coba bicara sama Danyon" kata Zein menenangkan.


"Sambungkan lidah Abang!!!!! Kalau dia beraninya mengganggu Shila tanpa sepengetahuan Abang lagi, saat Abang pulang.. Abang akan melepas jabatannya itu!!!!!" bentak Rival yang membuat rekannya ikut melihat ke arah Rival.

__ADS_1


.


.


__ADS_2