Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
6. Janji


__ADS_3

Malam ini Rival tidak pulang ke rumah transit. Pastinya ia akan pulang ke rumahnya karena ia telah beristri. Rival gugup karena ia tidak sanggup masuk ke dalam kamar. Hati, sayang, cinta dan jiwanya masih penuh dengan bayangan Yara. Ia pun juga tidak ingin menyakiti hati Shila karena ia tidak mencintai Shila.


"Abang masuklah, biar Shila tidur di kamar anak-anak" ucap Shila menunduk.


"Tolong jangan salah paham dek!! Salahkan Abang yang tidak bisa mengerti perasaanmu. Abang minta maaf. Abang dan Yara berpisah bukan karena bercerai, tapi berpisah karena kematian. Memang Abang akui hati ini belum rela Yara pergi, tapi Abang sadar.. Abang sudah punya kamu. Kamu masa depan Abang, Biar Yara ada di suatu ruang tersendiri di hati Abang, dan kamu yang memenuhi semua ruang kosong itu. Abang akan belajar mencintai mu, Beri Abang waktu. Cukup satu kali dalam hidup ini Abang kehilangan, sekarang Abang inginkan kamu menemani hidup dan mati Abang"


"Iya bang. Shila akan tunggu Abang" ucap Shila.


"Terima kasih dek"


"Sekarang Abang tidur saja di dalam"


"Kita tidur berdua ya! Tapi maaf dek.. Abang belum bisa melakukannya dengan mu" jujur Rival.


"Nggak apa-apa bang, Shila juga belum siap"


***


Adzan terdengar merdu di telinga Rival. Ia bangun menyadari tangannya terlipat di depan dada, Shila juga tidur di sisi dinding, jauh dari jangkauan nya.


Tak lama Shila bangun juga karena mendengar suara Adzan itu.


"Bangun sholat dek!" ajak Rival.


Mereka mengambil wudhu dan sholat pertama berdua pagi ini. Shila takut meraih tangan Rival, tangannya begitu dingin. Rival mengecup kening Shila dengan lembut meskipun belum ada rasa sayang dalam hatinya.


"Dek.. bolehkah Abang ke makam Yara?" tanya Rival.


"Kenapa Abang tanya Shila, mbak Yara Khan istri Abang"


"Kamu istri Abang, sudah seharusnya Abang tanya. Abang tidak bisa menyelami hatimu. Abang tau Yara sudah tidak ada, tapi Abang cemas cinta Abang akan melukaimu"


"Shila tau Abang bisa meletakan Mbak Yara di sisi kanan hati Abang dan... Shila di sisi kiri hati Abang" tunduk Shila.


"Insya Allah dek. Abang akan berusaha adil mencintai kalian"


"Pergilah bang, Shila ikhlas. Abang pasti rindu mbak Yara"


Rival mengusap pipi Shila.


"Abang hanya pergi sebentar. Abang khan harus kerja"


***


"Sayang.. semalam mas malah menikahi Shila. Mas tak tau bagaimana harus menata hati ini. Mas tidak ingin mengkhianati cinta kita, bahkan mas tidak berani menyentuh Shila. Sayang.. apa kamu marah jika suatu saat suamimu ini bisa membuka hati untuk wanita lain??? Mas sangat merindukan saat-saat denganmu" ucapnya seusai mendoakan yara. Air matanya menetes lagi.


"Sekali-kali datanglah dalam mimpi.. mas kangen kamu. Kangen sekali"


---------


"Mau sarapan bang?" tanya Shila.


"Sedikit saja. Abang mau lari pagi"

__ADS_1


Shila segera menyiapkan sarapan pagi untuk Rival. Jam sudah mepet di waktu apel. Rival mondar mandir mencari tasnya, lalu duduk memakai sepatunya. Shila berjongkok memulung makanan untuk menyuapi Rival. Rival menatap Shila. Wajahnya tidak berekspresi.


"Sarapan dulu bang"


Rival membuka mulutnya memakan suapan demi suapan langsung dari tangan sang istri.


"Abang marah?" tanya Shila.


"Nggak ada suami yang marah dapat perhatian istri. Abang berangkat dulu" ucapnya selesai memakai sepatu.


Shila meraih tangan Rival lalu menciumnya. Rival pun melakukan hal yang sama seperti ia memperlakukan Yara dulu. Rival mencium kening, pipi kiri dan kanan, saat tiba di depan bibir.. Rival ragu untuk melakukannya tapi Rival sekuatnya menyadarkan diri.


SHILA ISTRIMU JUGA


Rival mengecup bibir itu perlahan.


"Abang berangkat ya dek! jangan telat sarapan. Hati-hati jaga anak" pesannya.


"Iya bang"


***


Oka melihat Danki masih berwajah datar saja masuk ruangan yang hanya ada Oka, Pak Willy dan Danki. Tidak ada raut tenang atau bahagia terpancar dari wajah Danki.


"Semalam belum dapat bang?" tanya Oka usil.


"Abang belum siap" jawabnya jujur menyimpan banyak kepedihan.


"Ijin Danki. Mohon maaf kalau saya lancang.. tapi hak istri adalah kewajiban suami" ucap Pak Willy menasehati karena memang pak Willy adalah 'ustadznya' kompi.


"Itu wajar kalau suami istri masih meninggalkan bekas yang mendalam. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Perbanyak istighfar. Coba Danki sholat tahajud meminta petunjuk" saran Pak Willy.


"Akan saya coba pak"


"Pak Danki.. Istri bisa nampak kuat, tapi dalam hatinya siapa yang tau. Istri berhak mendapat kasih sayang agar dia merasa terlindungi. Berikan hak nya, karena kalau suami sampai melihat air mata istri, sungguh sakit tak terkira yang akan suami rasakan"


***


Sepanjang jalan pulang Rival merenungi setiap ucapan pak Willy. Langkah Rival terhenti melihat Shila menggendong Abrian dan menyuapi putranya dengan telaten. Juga mengajarkan Arben banyak hal mulai dari bernyanyi dan bermain bersama Arben.


Kenapa sulit sekali membuka hatiku untukmu dek. Kamu memang tidak melahirkan mereka, tapi kamu ibu mereka juga.


"Assalamu'alaikum.." sapa Rival.


"Wa'alaikumsalam.. ayo kakak Arben cium tangan papa" kata Shila mengajarkan.


"Kenapa wajahmu pucat?"


"Oohh..biasa bang" senyum Shila malu.


"Sini Abrian sama Abang. Kamu istirahat dulu! sakit khan?"


"Arben.. main di dalam! Mama sakit" perintah Rival.

__ADS_1


Tanpa bicara Arben langsung masuk ke dalam rumah.


Rival mengambil Abrian dari gendongan Shila dan tersenyum lebar di hadapan Abrian.


"Istirahat dulu dek, biar Abrian sama Abang"


"Sama-sama saja bang" Shila dan Rival masuk ke dalam rumah bermain dua anaknya.


***


Shila membereskan semua mainan Arben yang berantakan. Rival masih punya rasa tidak tega, sampai jam sepuluh malam Shila masih membereskan rumah. Tanpa pikir panjang Rival segera membantu Shila.


Pekerjaan itu akhirnya selesai juga.


"Sudah malam sekali, ayo istirahat" ajak Rival.


--------


"Apa anak-anak nakal hari ini?"


"Biasa bang.. namanya juga anak-anak"


"Abang tau kamu kewalahan menjaga Arben. Abang sadar anak Abang nakal sekali" kata Rival.


"Tidak ada anak nakal bang! Yang ada anak pintar. Anak Abang.. anak Shila juga sekarang"


"Terima kasih ya dek, kamu mau sabar menghadapi kelakuan anak Abang" Shila tersenyum mengangguk. Senyum Shila membuat jantung Rival berdenyut kencang.


Shila istriku...


Setidaknya itu yang sedang Rival usahakan dalam hatinya. Berusaha sadar kalau dalam hidupnya ia sudah memiliki pendamping hidup.


***


"Oka.. semua berkas sudah siap, buku KUA juga sudah saya dapatkan. Kamu hubungi WO , Lusa aula akan saya sulap. Saya ingin membuat acara kecil-kecilan untuk memperkenalkan istri saya!"


"Siap laksanakan" tak ada penolakan dari Oka daripada Rival mempercepat waktu lagi, itu sangat membuatnya susah.


--------


"Om.. tolong dampingi saya di acara pernikahan saya"


"Haaahh..dasar bocah tengik.. selalu membuatku kaget" ucap om Suherman. Wali Rival.


***


Pagi ini Shila baru saja sholat subuh. Anak-anak juga sudah mandi.


tok..tok..tok..


Shila membuka pintu rumahnya.


"Ijin ibu.. Kapten Rivaldi mengutus kami kesini"

__ADS_1


.


.


__ADS_2