
Rival merebahkan diri, mengistirahatkan sejenak tubuh lelahnya.
"Jangan terlalu di paksa bang!" kata Gandhi.
"Abang hanya ingin cepat pulang. Jumpa anak istri. Abang cemas dengan keadaan mereka di rumah" ucap Rival yang tidak pernah sedikitpun mengabaikan keluarga kecilnya.
"Mbak Shila sudah lebih baik bang, Ada Abang Arshen menjaganya" kata Oka.
"Kenapa istriku???" tanya Rival yang belum tau tentang kabar hari ini. Rekan satu timnya saling pandang tidak tau apa yang terjadi pada Rival.
Rival mengambil ponselnya mencoba menghubungi Arshen. Ia baru tau kakak Shila sudah kembali ke Batalyon.
"Assalamu'alaikum Arshen"
"Wa'alaikumsalam.. siap Abang.. Ijin arahan"
"Dengar baik-baik.. tolong kamu ke rumah saya sekarang juga, cari tau apa yang terjadi di rumah saya." ucap Rival.
"Siap bang, tadi siang Shila kelelahan. Saya menemaninya sampai sehat. Abang harus tau sesuatu. Di rumah Abang ada seorang gadis. Anak bibi ART Abang tapi dia tidak membantu Shila sama sekali bang. Apa ada yang Abang curigai dari dia??"
"Iya, kamu cek ponselnya juga ponsel Shila. Awasi dia sampai saya kembali. Tolong Arshen..dia mengancam rumah tangga Abang dan Shila"
"Siap!!"
-_-_-_-_-
Malam itu juga Arshen datang ke rumah Rival dan melihat langsung situasi disana. Arshen mendengar Shila menegur Fitri karena pakaian gadis itu terlalu minim tapi Fitri terlihat cuek dengan ucapan Shila.
"Mbak Shila jangan anggap aku ini pembantu ya, Aku disini sesuai perintah ibu dan tujuan ku kesini adalah mencari pacar tentara, bukan jadi pembantu" ketus Fitri dan percakapan itu sempat Arshen kirim ke Rival.
"Iya mbak ngerti, tapi disini banyak tentara dan juga anak mbak khan laki-laki"
"Jangan berlebihan deh mbak, mereka masih kecil" ucapnya sambil menjepit rambutnya.
Arshen yang sudah kesal mengetuk pintu rumah Rival, disana ada seorang gadis memakai pakaian jauh dari kata sopan membukakan pintu untuk Arshen.
"Siapa ya?"
"Katakan pada Bu Rival, kalau Kapten Arshen menemuinya" tegas Arshen.
Fitri langsung berbinar mengira Arshen adalah selingkuhan Shila dan berharap akan menjadikan hal ini sebagai senjatanya untuk mendekati Rival.
"Raka..." Shila sangat bahagia saat melihat tamunya adalah kakaknya.
__ADS_1
"Sudah baikan cantik?" sapa Arshen.
"Sudah.." Jawab Shila tersenyum saat Arshen mengusap pipi Shila.
"Kemana anak-anak?" tanya Arshen.
"Baru saja tidur Raka. Ini khan sudah jam sembilan malam" jawab Shila.
"Ooiya Raka lupa. Ini untuk keponakan Raka" kata Arshen sambil menyerahkan bungkusan besar untuk anak-anak Shila.
Disana Rival melihat Fitri dalam rekaman video yang dikirim Arshen ke ponselnya, orang yang selama ini mengerjai dia. Rival sangat geram, sungguh kesal saat melihat gaya bicaranya pada Shila yang sungguh angkuh dan tak punya tatakrama. Mata Rival berkilat merah menahan marah.
"J****g sialan" umpat Rival marah. Ia langsung menghubungi Arshen saat itu juga.
"Tolong sambungkan dengan istri Abang!!" perintahnya pada Arshen di video call.
"Siap!!!"
"Ini suamimu, sana terima di kamarmu. Raka tunggu disini" bisik Arshen. Shila tersenyum, hatinya terharu menahan rindu.
"Assalamu'alaikum cantik!!!" sapa Rival.
"Wa'alaikumsalam Abang" Shila langsung menangis melihat wajah suaminya.
"Kenapa Abang nggak pernah hubungi Shila?" ucapnya sedih.
"Sayang.. Abang kangen" kata Rival menguji istrinya.
"Shila juga bang" kata Shila menunduk malu.
"Kasih sedikit lah buat Abang, nggak tahan nih" goda Rival.
"Jangan bang! Nanti Abang semakin kepikiran. Abang cepat pulang saja ya!" wajah Shila memerah.
"Ya sudah, kasih lihat wajah anak-anak Abang. Abang pengen lihat mereka!!" Rival mengalihkan suasana. Ia sudah yakin kalau Shila tidak akan pernah melakukan hal itu.
Shila membawa ponsel Arshen ke kamar anak-anaknya. Rival bahagia sekali melihat ketiga anaknya tidur lelap.
Arshen mengawasi Shila dari jauh, juga tak mengabari bahwa suami Shila akan segera pulang agar semua menjadi kejutan untuk Shila dan anaknya. Setelah Shila kembali ke kamarnya setelah beberapa menit di kamar anaknya. Arshen ke arah belakang rumah melihat apa yang sedang di lakukan Fitri.
Fitri sedang memakai lulur dan masuk ke dalam kamar mandi, ia meninggalkan ponselnya. Disitulah Arshen melihat nama 'Mas Rival sayang' di ponsel Fitri.
"Wanita sial, kamu tidak akan pernah bisa merusak kebahagiaan adik ku" gumam Arshen kesal.
__ADS_1
Arshen membuka lagi pesan itu dan membaca percakapan syur antara Rival dan Fitri. Bahkan mata Arshen terbelalak melihat beberapa foto seksi Fitri tanpa menampilkan wajah.
"Awas saja kamu Fitri" Arshen menyalin file itu lalu menghapus data pengiriman dan kembali ke ruang depan.
Sedangkan Shila...
Ia masih bercanda tawa dengan Rival. Sesekali Arshen menguping permintaan nakal Rival dan Arshen pun ikut tersenyum mendengarnya, pada akhirnya ia memilih pergi saat mendengar Rival meminta hal yang menjurus ke arah pribadi pada Shila.
###
###
"Cepat pulang! Jangan kurus lagi ya bang. Shila sedih lihatnya!!" ucap Shila manja.
"Iya sayang. Sebentar lagi tugas Abang selesai" kata Rival sambil mengenakan pakaiannya. Shila tidak tau kalau Rival akan kembali pulang tiga hari lagi.
"Sudah kembalikan ke Raka ponselnya. Besok malam Abang cari waktu lagi buat hubungi kamu" kata Rival.
"Shila masih kangen"
"Sabar sayang.. Nanti Abang bayar lunas semua lelahmu menunggu Abang pulang" bujuk Rival.
-_-_-_-_-
Shila melihat Arshen tidak kembali ke mess dan hanya sibuk dengan ponselnya.
"Raka nggak ke Mess?" tanya Shila.
"Nggak, Raka tidur disini. Mumpung nggak ada suamimu" jawab Arshen yang tau Fitri mengintip dari balik ruang tengah.
Shila mengeryit mendengar nada manja Arshen yang terkesan menuju genit.
"Apa sih Raka" ucap Shila malu.
Fitri merekam kejadian itu lalu masuk ke dalam.
***
Rival kembali ke kamarnya dengan mengulum senyum. Nampak gurat bahagia terpancar dari wajah tampan Danki A. Lelah seharian seakan hilang dan tidak terasa setelah melihat anak dan istri walau hanya sebatas video call.
Rekan satu team Rival pun untuk pertama kalinya tenang setelah melihat senyum tulus dan ikhlas Danki, sungguh Danki yang luar biasa. Rela bekerja siang malam walaupun ia tau Danyon telah membuat sia-sia semua pengorbanannya. Danki sungguh bekerja untuk negara, menjauhkan anak bangsa dari jeratan narkotika meskipun dalam hati ia memendam rindu pada keluarga dalam sebuah 'janji palsu'
Rival merebahkan dirinya yang lelah, tapi suasana hatinya sudah tidak setegang hari sebelumnya.
__ADS_1
.
.