Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
77. Me and you


__ADS_3

Ijin share ya readers semua. Ada yang bertanya kenapa kok konflik di novel author terlalu banyak.


Jawabannya adalah...Saya melihat, mengingat, dan meriset suatu kejadian di tambah lagi bukan hanya satu tempat saja yang pernah saya singgahi.


🌹🌹🌹


"Aseemm.. mata keranjang betul dia" gerutu Rival.


"Sabar bang, saya rasa dia sudah kapok Abang tegur tadi" kata Oka.


-_-_-_-_-


Acara bakti sosial sudah usai. Saatnya para anggota beserta istri kembali ke Batalyon.


"Waduuhh.. tinggi begini ya. Shila pasti sulit naiknya apalagi hamil begini" Rival melihat ke arah truk Reo.


"Ada apa bang?" tanya Oka.


"Ini truk yang kita bawa khan Reo semua. Abang nggak nyangka istri Abang bakalan mabuk parah begitu" gumam Rival.


"Nggak apa-apa bang, Shila bisa kok naiknya" kata Shila yakin.


"Ini tinggi lho dek, Abang khawatir"


"Shila lebih baik kena angin bang daripada kena AC mobil" jelas Shila.


"Ya sudahlah. Frans ganti dengan Gandhi!!! Gandhi bawa Reo, Frans bawa mobil ibu pengurus cabang" perintah Rival.


"Ijin Danki.. kenapa di ganti?" tanya Frans yang belum biasa membawa mobil untuk melayani antar jemput para istri pengurus cabang terutama ibu perwira.


"Kamu ugal-ugalan, istri saya bisa pingsan kalau kamu yang bawa truknya" jelas Rival kesal karena Frans banyak bertanya.


"Siap!!!" jawab Frans dan Gandhi kompak.


-_-_-_-_-


Shila naik truk Reo bagai naik roller coaster. Perutnya terasa di aduk tapi tidak separah naik mobil dinas yang bagus milik Batalyon.


"Bagaimana rasanya naik truk di depan?" tanya Rival yang sebenarnya menahan tawa melihat wajah takut Shila. Gandhi pun sebenarnya menahan tawanya, tak mungkin untuknya menertawai istri kesayangan Danki.


"Nyaman bang!" katanya membual.


"Masa???"


"Iya bang" jawab Shila.


"Ya sudah.. besok kemana-mana naik Reo saja ya! Lagipula mobil kita sudah kamu aniaya sampai opname satu minggu" goda Rival.


"Iihh Abang.. Cepat perbaiki" rengek Shila menghentakan kaki.

__ADS_1


"Nggak ada uang lah Abang dek" Rival membuat wajahnya memelas.


"Itu khan penyok dikit bang"


"Sedikit apanya???? Ibarat jidat sudah benjol semua itu" gerutu Rival.


Tiba-tiba Gandhi mendadak mengerem truknya. Refleks satu tangan Rival menghalangi badan Shila yang merosot kedepan, sedangkan satu tangan lainnya tak bisa di kendalikan langsung menepak kepala Gandhi.


"Hati-hati Gandhi!!!!!!" bentak Rival.


"Siap salah Danki. Ada kecelakaan di depan" jawab Gandhi.


Kerumunan orang sudah ramai disana. Banyak darah dimana-mana membuat Shila ketakutan.


"Turun Gan!!!" ajak Rival, truk lain pun sudah berhenti dan beberapa anggota ikut membuka jalan serta menolong korban kecelakaan beruntun itu.


"Abaaanngg.. Shila takut bang" teriak Shila histeris menutup wajahnya.


"Eehh.. nggak sayang. Abang nggak turun!" kata Rival mengurungkan niatnya. Melihat Dankinya butuh waktu berdua. Gandhi cukup tau diri, ia turun ke lokasi kecelakaan.


"Mana Danki mu??" tanya Zein.


"Ijin..Istri Danki ketakutan" Zein melirik dari sana melihat Rival memeluk Shila dan menenangkannya.


Dulu dada bidang itu hanya milikmu kak Yara. Sekarang suamimu itu sudah bahagia bersama Shila. Adikmu ini berusaha berbesar hati melihatnya berduaan seperti itu. Hanya doa untukmu kak Yara.. yang bisa kupanjatkan agar selalu lapang jalanmu di sisiNya.


"Oke, biarkan mereka.. Kasihan istri Danki" senyum tulus Zein pada Gandhi.


"Duuhh.. bagaimana ini???" Gandhi mengangkat gadis itu ke dalam ambulans yang melintas. Baru kali ini jantung Gandhi berdesir hebat saat berhadapan dengan wanita.


"Tolong jaga dia" pinta Gandhi dengan wajah sendu.


-_-_-_-


"Fokus Gandhiiii!!!!! Ada ibu hamil disini!!!" bentak Rival pada Gandhi yang terlihat sedang terpecah pikirannya.


"Siap salah Danki"


"Kamu kepikiran perempuan yang kamu tolong tadi???" tanya Rival.


Gandhi tidak bisa menjawab. Hanya kacau dan bingung dengan hatinya sendiri yang ia rasakan. Paras manis gadis itu seakan membiusnya.


"Kemudikan dengan benar. Setelah sampai Batalyon saya ijinkan kamu temui gadis itu di rumah sakit" perintah Rival.


"Siap Danki.. terima kasih" Rival bisa menangkap seulas senyum tipis dari wajah seorang Gandhi.


"Ngenes hati saya liat kamu jadi ketua genk jomblo satu barak" ledek Rival.


"Iisshh Abang..parah sekali kasih predikatnya" gerutu Gandhi.

__ADS_1


Rival tersenyum. Sesaat kemudian bibirnya asyik menyanyikan lagu cinta dengan suara merdunya. Shila tertidur dalam pelukannya, belakangan ini Shila akan lebih cepat tidur mendengar suaranya, entah itu lagu ataupun lantunan doa.


***


Sampai di rumah, Shila dan Rival melihat putrinya Lilan sedang bertengkar dengan teman sebayanya. Kedua gadis kecil itu adu mulut.


"Jangan berani sama aku ya! Papaku tentara" kata Jeni.


"Jangan berani sama papaku juga! Papaku pasukan tempur" ketus Lilan tak mau kalah.


"Eehh sudah.. papa kalian semuanya prajurit" Shila menengahi pertengkaran mereka.


Rival menggeleng kepala sambil masuk ke dalam rumah. Sejak Lilan lancar bicara, segala hal bisa menjadi pertengkaran antar kakak adik.


"Eehh turun!!!" Rival mengambil paksa Lilan dari gendongan Shila.


"Gimana sih kamu dek.. Abang nyeri lihatnya! Perut sudah kelihatan begitu kok masih gendong Lilan" tegur Rival.


"Daripada ribut di luar bang!" kata Shila.


"Abang saja gendong Lilan rasanya mau putus urat punggung. Gemuk begini!!!" Rival mencubit gemas hidung Lilan.


"Dek.. mau maem" manja Lilan yang sudah kelaparan pada Shila. Rival tertegun karena ia lupa dan kadang masih salah ucap saat menyapa Shila.


"Ehmm..ambilkan makan ma" kata Rival lembut memperbaiki ucapannya.


"Lilan mau makan sama siapa?" tanya Shila.


"Sama Abang" jawabnya lugu.


Rival menepuk dahinya, tertawa sendiri menanggapi putrinya.


"Ya sudah maem sama papa" ucap Shila membenarkan.


Shila dan Rival saling lirik dan tersenyum geli.


***


"Ma.. acara kunjungan dari pusat khan awal bulan depan. Lalu kunjungan mabes akan dijadwalkan selanjutnya. Kalau mama merasa nggak kuat, lebih baik ijin saja ya" saran Rival pada Shila yang sudah memasuki usia kandungan empat bulan.


"Iya pa, mama sering pusing kalau kena panas" kata Arben yang sekarang sudah lebih pintar dan mengerti keadaan mamanya.


"Tuh ma.. kak Arben saja tau. Kalau mama pingsan bagaimana?" cemas Rival.


"Ya sudah pa, besok mama bilang langsung ke Bu Danyon" kata Shila.


"Hmm..lebih cepat lebih baik ma"


.

__ADS_1


.


__ADS_2