Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
28. Nyaris


__ADS_3

"Kamu memikirkan jabatan di saat anak buahmu berjuang mati-matian?? Dimana sikap ksatria mu" tegur Kolonel Rudi.


"Siap salah bang!" jawab Letkol Susilo.


"Sebagai prajurit, kita harus kerja sama. Tidak saling menyalahkan, saling cover kalau ada kesulitan. Kita tidak hidup sendiri yang hanya mengandalkan pangkat dan jabatan. Kita makhluk sosial. Sudah..jangan dibahas lagi. Saya kesini mau menilik sekaligus menyelidiki kasus penyerangan ini" tegas Kolonel Rudi.


"Siap!!!" jawab mereka serempak.


***


"Siapa wanita ini?" tanya Kolonel Rudi.


"Siap tidak tau" jawab Rival.


"Dia masuk ruangan mu khan Val?" tegas Rudi.


"Siap bang, tapi saya tidak tau" jawab Rival.


"Itu khan kenalanmu Oka" kata Arshen.


"Oohh iya bang. Dia Melati" jawab Oka.


"Dalam ruangan Abang ada cctv, kenapa tidak lihat saja" ide Arshen.


"Tidak perlu bang, kita cari bukti lain" cegah Oka.


"Lebih baik kita lihat, siap tau dia memang mengendap dan mencari informasi" kata Rival.


"Ya sudah terserah Abang, yang jelas saya sudah peringatkan Abang untuk tidak cek cctv ini" ucap Oka dengan cemas.


"Hmm" jawab Rival singkat.


-_-_-_-_-


Rival membuka laptop kerjanya, sedangkan Rudi duduk di kursi nya memantau segala kegiatan Rival melalui cctv. Kapten Rival memang sangat bertanggung jawab, disiplin, tegas, tau dimana saat kerja dan santai. Bahkan sering ia pulang telat karena harus menyelesaikan pekerjaan nya lebih dulu.


Beberapa kali disana ada rekaman istri Kapten Rival yang datang ke ruangan untuk menyuapi suaminya saat bekerja. Ada juga rekaman Oka yang seolah bersikap kasar terhadap Azizah.


Saat mereka sedang serius membahas tentang gadis kenalan Oka itu, mata Kolonel Rudi terbelalak melihat adegan plus di ruangan sang Kapten.


"Kapten Rival!!!!!! Kau tau malu atau tidak" bentak Rudi bersandar kaget di kursinya.


"Siap salah bang" Rival menggigit bibirnya dengan gemas antara cemas dan jantung nya berdetak kencang mengingat kelakuannya sendiri, apalagi kalau sudah teringat Shila, rasanya ia bisa on seketika.


Rival gugup dan memencet skip berkali-kali agar rekaman itu hilang.


"Ini ruang kerja, bukan kamar pribadimu!!!!!" Rudi menggebrak meja karena kesal melihat kelakuan anak buahnya.

__ADS_1


"Siap salah"


"Astaga Tuhan.. kamu ini buat darah tinggi Abang naik. Kalau kamu sudah nggak kuat, Ijin saja..ajak istrimu pulang, selesaikan di rumah, bukannya di kantor. Bagaimana kalau anggotamu menghadap. Kamu harus dapat sanksi disiplin" bentak Rudi tegas.


"Siap salah. Siap laksanakan perintah" Rival berdiri dengan sikap sempurna, tapi hatinya mengutuk kebodohannya.


"Saya khan bilang bang, jangan bahas cctv. Abang terlalu percaya diri. Sekarang Abang tanggung akibatnya" sesal Oka.


"Kamu bicara begitu apa kamu tau sesuatu? Kau pun salah. Apa yang kamu lakukan di dalam ruangan Danki bersama seorang wanita??" Letkol Susilo menegur Oka.


Disini baru Oka merasa bahwa dirinya pun sok pintar.


"Kamu pun harus kena tindak bersama abangmu nanti" kata Letkol Susilo.


"Alamak jaaanngg.. Abang.. saya pun kena guling botol" gumamnya lirih. Seisi ruangan menahan tawa. Hanya Rival yang berwajah datar, entah dia harus tertawa atau sedih siang ini.


"Lanjut investasi sebelum kalian menerima hukuman"


***


"Laksanakan dengan penuh tanggung jawab!!!!!" perintah Kolonel Rudi.


Rival dan Oka push up lalu berguling botol. Rival yang sudah tidak enak badan dan lelah masih harus menyelesaikan sikap tobatnya. Kepala pening berpanas-panasan sempat tak dirasakannya.


Shila berjalan ke arah ruang pengurus istri anggota dan berjalan di sekitar lapangan dekat ruang Komandan. Lapangan yang sepi hanya ada beberapa perwira saja.


Seperti kemarin Rival menguatkan badannya untuk berdiri. Mata sudah berkunang, kepala pening, dada sesak. Ia merasakan badannya mau roboh saja. Tak menyangka di belakangnya ada Shila istrinya.


"Abang!!!" sapa Shila.


"Kamu disini dek??"


"Apa ini karena masalah Shila kemarin bang?" tanya Shila cemas.


"Bukan dek! Ini hukum disiplin saja. Kembali kerjakan tugasmu. Abang masih sibuk" bujuknya. Shila dengan langkah berat meninggalkan Rival. Sesekali ia menoleh ke arah Rival.


Tak lama Rival memegang dadanya, ia ambruk langsung dan tak mengingat apapun.


"Abaaangg!!!" pekik Shila, ia berlari dan memeluk Rival, Shila menidurkan kepala Rival di pahanya.


"Bangun bang. Abang kenapa?" panik Shila, ia menangisi Rival.


"Cepat bawa ke rumah sakit!!" panik Kolonel Rudi.


***


"Kenapa kalian perlakukan suami saya seperti ini???" tangis Shila menjadi saat melihat suaminya dalam ruang tindakan perawatan.

__ADS_1


"Maaf Bu Rival, Saya juga baru tau.. Kapten Rivaldi dapat tindakan seperti ini saja langsung tumbang. Apakah Kapten Rivaldi dengan julukan king cobra itu selemah ini???" tanya Kolonel Rudi.


"Maaf bang, sebenarnya saya sudah menindak Kapten Rivaldi kemarin" jujur Letkol Susilo.


"Ya Allah.. bagaimana sich ini. Kenapa tidak bilang sejak di ruangan?????" sesal Kolonel Rudi.


-_-_-_-_-


"Jadi sekejam itu pembinaan terhadap anggota yang melakukan kesalahan???? Bagaimana kalau tadi suami saya tidak tertolong??? Apa kalian sanggup mengganti nyawanya???? Apa bisa kalian bisa mengganti kasih sayang yang hilang kalau papanya sudah tidak ada lagi?????" teriak histeris Shila dalam ruang perawatan Rival.


Rival duduk di ranjangnya, ia tercengang istrinya bisa seemosional itu. Rival menarik Shila ke dalam pelukannya.


"Huuusstt.. sudah sayang.. Abang khan sudah baik-baik saja" bujuk Rival. Ia terus mengusap punggung Shila.


"Apa Abang tau bagaimana cemasnya Shila tadi???????" Shila meronta ingin lepas dari pelukan Rival.


flashback on


Shila menangis histeris. Tak ada yang menyadari sedari tadi Arshen menenangkan istri Rival itu.


"Dok.. jantungnya lemah" ucap seorang perawat.


"Ada pembengkakan di daerah sekitar sini ( antara dada dan perut )" tunjuk dokter.


Perawat memasang oksigen. Belum ada reaksi dari Rival. Demam yang tinggi membuat dokter harus bergerak cepat.


"Pasien tidak merespon tindakan!" kata perawat tersebut.


"Kita coba lagi!!!" kata dokter.


"Abaaangg.. bangun bang!!!" teriak Shila ingin menerobos pintu ruangan saat samar mendengar pembicaraan dokter.


"Jangan!!! Percayalah suamimu akan baik-baik saja. Dia bukan orang yang lemah" kata Arshen menggenggam tangan Shila.


Oka melihat Arshen dengan tatapan penuh tanda tanya, tapi ia tidak ingin mengotori pikiran nya dengan pemikiran buruknya.


flashback off


"Abang tau, di antara sadar dan tidak sadar.. Abang dengar suara Shila".


.


.



__ADS_1


__ADS_2