Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
86. Kecemasan seorang suami


__ADS_3

Shila tidur tertelungkup di samping ranjang Rival. Nampaknya ia begitu lelah. Sedangkan Rival sudah lebih segar setelah beristirahat.


"Ya Allah dek, kenapa kamu masih disini? Anak-anak sama siapa?" Rival turun dari ranjang dan membetulkan posisi tidur Shila.


"Anak-anak sama mama Naya bang, tadi datang langsung ajak mereka bermain"


"Kapan mama papa datang???" tanya Rival.


"Aacchh.. Aduh bang, perut Shila keram. " Shila langsung mencengkeram seragam Rival membuat suami Shila itu jadi panik.


"Duuhh..sayang!! Kenapa?? Gimana rasanya. Kita ke rumah sakit ya!" ajak Rival.


"Abang nih, apa-apa rumah sakit. Shila bosan bang!"


"Terus mau gimana dek. Abang nggak mau terjadi apa-apa sama kamu" paniknya.


Rival mengangkat Shila dan menidurkan perlahan istrinya di ranjang ruang kesehatan. Rival memegang tangan Shila sambil menghubungi bagian kesehatan lapangan.


"Kenapa kamu ini??" Rival bergumam sambil menelepon seseorang.


"Ke ruang kesehatan sekarang!!" perintah Rival.


-_-_-_-_-


"Masih keram ya Bu? Ibu terlalu capek, harus istirahat dulu. Paling minimal tiga jam harus bisa tidur" Rival menatap petugas lapangan itu meminta jawaban.


"Ada apa?" tanya Rival.


"Ijin Danki, tadi waktu Danki tidur. Ibu mengerjakan tugas untuk mendekorasi panggung. Bantuan ibu Zein dan ibu Nathan di tolak karena tidak sesuai dengan keinginan ibu Danyon. Mungkin tadi ibu sudah sangat lelah, makanya sekarang jadi keram dan lemas"


Rival menatap tajam mata Shila, ia sangat marah karena Shila tidak menurut padanya.


"Shila sudah menolak bang, tapi........"


"Bu Rival, bisa tolong bantu saya menata pot lagi ya. Sepertinya om-om di lapangan salah mengatur" Perintah Bu Danyon yang tiba-tiba muncul di ruang kesehatan masih saja mencari istrinya.


"Astagfirullah... " Rival menggebrak meja sekerasnya hingga meja itu patah.


"Apa Ibu tidak punya kreatifitas untuk membuat dekorasi???? Apa satu Batalyon ini tidak ada orang lain yang bisa di mintai tolong????" bentak Rival.


Danyon masuk ke dalam ruangan dengan marah karena mendengar istrinya di bentak.

__ADS_1


"Rival.. Beraninya kamu bentak istri saya. Apa kamu tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik??" Nada suara Danyon meninggi.


Rival menyunggingkan senyum jengkel. Danyon benar-benar menantang adrenalin nya untuk berkelahi. Tangan Rival sudah mengepal bersiap melayangkan bogem mentah ke arah wajah Danyon tapi Shila menarik tangan Rival mencegah amarah suaminya.


"Jangan bang! Shila nggak mau Abang di asingkan ke Papua"


Rival menoleh ke arah Shila. Istrinya yang polos begitu ketakutan hal itu semakin membuat Rival yakin mengapa Shila tetap mengerjakan semua tugasnya meskipun Shila sangat lelah.


"Berapa lama kamu jadi istri Abang?? Apa kamu belum paham aturan militer dan hal apa saja yang membuat seorang prajurit bisa di mutasi??" Nada tinggi disana sekarang beralih ke Shila.


"Shila memang bodoh bang. Shila dari kampung. Kalau Shila tidak bekerja keras. Shila hanya akan mempermalukan Abang. Ibu Danyon benar, Shila memang tidak pintar.. jadi hanya dengan tenaga Shila bisa mengabdi di organisasi"


DEG..DEG..


Jantung Rival berpacu cepat. Ia sangat kaget mendengar ucapan Shila hingga dadanya sangat sakit seperti terhantam batu besar. Rival menyentuh dadanya, menarik nafas panjang menstabilkan emosinya.


"Bukan sayang.. Bukan itu maksud Abang" Perasaan Rival ikut terpukul karena selama ini Shila menyimpan kesedihannya sendirian.


"Apa yang Abang bicarakan dengan istri saya? Kalian menakuti istri saya demi kepentingan kalian pribadi. Kalian memanfaatkan istri saya yang polos. Apa mau kalian??????" bentak Rival tak tahan lagi dengan kelakuan Danyon dan istrinya.


Bu Danyon bersembunyi di balik punggung suaminya mencari perlindungan.


"Kedinasan tidak akan memberangkatkan istri anggota yang sedang hamil" Rival menonjok Danyon sampai terjungkir. Bu Danyon berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang menolong Danyon. Rival yang sudah terlanjur sakit hati mengambil sangkur yang ada di ranjang. Shila mencegahnya agar Rival tidak melakukan hal brutal.


"Jangan bang. Sabar" Shila berlari memeluk Rival dari depan dan mendekapnya erat.


"Minggir dek. Ini urusan laki-laki" Rival sedikit menyingkirkan Shila dari hadapannya. Tapi jelas tenaga Rival yang besar tidak sebanding dengan Shila yang mungkin tidak ada seperempatnya membuat istrinya itu jatuh ke lantai. Sebelah lututnya menghantam lantai.


"Ya Allah dek" Emosi Rival langsung turun ke titik nol melihat Shila menahan rasa sakit. Rival menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Rival sangat ketakutan mengingat kejadian Yara jatuh dengan posisi hampir sama dengan Shila.


Eeegghhh..huuuhh..


"Abang... perut Shila sakit bang"


Rival mengangkat Shila naik ke atas ranjang.


"Iya sayang.. Abang minta maaf ya!! Abang nggak sengaja" air matanya menetes begitu saja. Tangannya gemetar mencari ponsel nya.


-_-_-_-


"Nggak apa-apa Val. Syukurlah masih aman. Bidan sudah memeriksa tidak ada flek dan hal bahaya lainnya" jelas Farhan.

__ADS_1


"Alhamdulillah Ya Allah" seketika Rival merosot lemas sampai Arshen dan Oka harus menyangga tubuhnya.


"Tenang bang, anakmu baik-baik saja" kata Arshen mencoba mendinginkan hati Rival.


"Rasane jantungku Ya Allah.." gumam Rival menguatkan hati.


***


Praka Sony sudah menghilangkan semua bekas perkara di tubuh Rival. Ia pun sudah rapi dengan gaya khasnya. Tidak ada tawa canda anak-anak karena papa dan mama membawa semua cucunya juga kedua anak Zein pergi liburan.


Rival masuk kedalam kamar mengusap wajahnya. Perasaan takut begitu memenuhi rongga hatinya. Bayangan kepergian Yara seketika mengguncang batinnya. Di tatapnya lekat raut wajah penuh kepasrahan sedang memeluk guling hanya diam tidak tau memikirkan apa.


"Om Sony sudah pulang bang?" tanya Shila yang melihat Rival masuk ke dalam kamar.


"Sudah" jawab Rival singkat. Matanya terus menatap Shila. Ada rasa tidak tenang yang sulit ia utarakan.


Rival beringsut masuk ke dalam selimut bersama istrinya. Rasa takut yang bergelayut membuatnya semakin posesif terhadap istrinya.


"Kenapa bang?" tanya Shila yang merasa aneh dengan sikap suaminya.


"Abang mohon jangan tinggalkan Abang!!!" pintanya terdengar ketakutan. Suaminya itu terus mendekapnya erat.


"Shila baik-baik saja bang, nggak akan pernah tinggalkan Abang"


"Jangan bertengkar lagi ya bang" pinta Shila.


Rival mengusap perut Shila dan sedikit menasehati istrinya itu dengan lembut.


"Tolong jangan cegah Abang. Jika kata tak sampai.. hanya amarah yang bisa mengungkapkan rasa. Apapun akan Abang lakukan untuk melindungi kamu. Tutup mata kalau tidak ingin melihat dan tutup telinga mu kalau tidak ingin mendengar. Disini.. didalam dada ini ada jutaan harapan yang tidak pernah kamu tau sayang. Abang marah bukan untuk unjuk kejantanan. Abang hanya memberi peringatan. Lingkup sosial ada batasnya, tapi sebagai seorang istri.. kamu wajib taat apa kata suami, selagi suamimu ini masih dalam jalan yang benar"


"Shila minta maaf bang, selalu membuat Abang cemas" kata Shila.


"Abang maklumi bakatmu!" jawab Rival.


"Bang, Danyon sangat marah sama Abang! Danyon akan melaporkan Abang ke pimpinan pusat besok pagi" suara Shila semakin lirih, ada kecemasan disana.


"Masa bodo. Mau dia mengadu sampai mulut berbusa, Abang nggak peduli. Yang penting anak istri Abang aman dalam dekapan Abang"


.


.

__ADS_1


__ADS_2