Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
51. Meluapkan segala rasa.


__ADS_3

"Wanita ****** itu menggoda suami saya!!" teriak Romlah dengan lantang.


"Suami saya menemukannya di muara sungai. Bukannya berterima kasih.. malah menggoda suami saya!" kata Bu Romlah dengan suara cempreng nya.


"Baiklah ibu Romlah yang terhormat. Dimana posisi ibu saat wanita di dalam sana menggoda suami ibu?" tanya Rival.


"Saya menjadi TKW di Arab" jawabnya.


"Di situlah suamimu yang jahanam memperlakukan istri saya dengan buruk, tidak berperikemanusiaan. Kalau anda percaya dengan suami Anda. Tidak ada alasan untuk saya tidak percaya dengan istri saya. Mana ada wanita buta bisa mengganggu suami anda yang terhormat itu, membuat istri saya sampai trauma dan depresi" bentaknya.


"Tidak mungkin.. suami saya sangat mencintai saya" protes Romlah.


"Kalau anda tidak percaya, silahkan tengok si tua bangka sialan itu di penjara. Saya sudah mengirim nya kesana!!" kata Rival tegas.


"Istri???.. mana ada seorang tentara menikahi gadis buta kalau tidak berebut wanita" ejeknya. Rival maju ingin menggampar wanita itu, tapi Gandhi mencegahnya. Romlah mundur dengan ketakutan.


"Ingat bang! Jangan gegabah terbawa emosi" bisiknya mengingatkan.


"Luka yang saya buat untuk suamimu tidak ada apa-apanya di bandingkan luka seumur hidup yang istri saya alami. Kalau anda punya hati, anda pasti bisa merasakan beratnya beban yang harus kami lewati karena ulah suamimu" ucap Rival tajam tapi sekaligus menusuk perasaannya sendiri.


"Oka..buat laporan tambahan di kantor polisi. Katakan dia sudah menganiaya istri saya juga. Suami istri ini harus mendapat ganjaran untuk masuk penjara. Siapapun yang berani mengeluarkan dia dari penjara, akan saya cari dan saya sendiri yang akan mengadilinya" tegas Rival.


"Saya mau lihat kondisi istri saya dulu" perintah Rival pada Oka. Beberapa anggota mengamankan Romlah dan pengikutnya.


"Pak, kita damai saja" teriak Romlah.


"Bapak mau apa akan saya beri. Saya juga punya keponakan yang cantik kalau bapak mau" kata Romlah mulai tawar menawar.


Rival berbalik dan mencengkeram mengangkat dagu Romlah dengan kasar.


"Sayangnya saya tidak tertarik dengan tawaranmu" geram Rival.

__ADS_1


"Tapi wanita itu sudah merusak kakak ipar saya!" kata adik Romlah maju menantang Rival. Rival mendorong Romlah dengan kasar hingga ia tersungkur jatuh, suaranya bagai nangka busuk terlepas dari tangkai.


Suami Shila itu menendang dan memiting adik Romlah itu, Rival memelintir nya hingga adik Romlah itu mengerang kesakitan.


"Lihat nama saya baik-baik ( Rival mengarahkan kepala adik Romlah agar melihat nama dadanya ). Saya Kapten Rivaldi. Jangan ada yang berani menyentuh nyonya Rivaldi lagi atau kamu akan berhadapan dengan saya. Pelanggaran kalian cukup besar dengan menyerang pasukan BKO, juga membela penganiaya" bentak Rival lalu menghajar adik Romlah sekali lagi. Romlah yang ketakutan hanya bisa pasrah adiknya mendapat ganjaran dari perbuatannya. Rival meluapkan seluruh sakit hati yang ia rasakan.


Setelah puas menghajar, Rival pergi dari sana menyimpan rapat semua kepedihan, ia tidak ingin mengingat musibah ini lagi demi rumah tangganya dengan Shila. Sakit dan luka teramat dalam memang ia rasakan. Hinaan menyakitkan ia telan demi Shila istrinya. Ia sadar Shila tidak salah, Shila hanya korban orang tidak bertanggung jawab.


Sampai di kamar dilihatnya Shila masih saja menangis bahkan saat ini Sumini membujuknya. Shila tidak ingin di sentuh siapapun dan hanya berteriak ketakutan dan penuh sesal disana.


"Pak..Bu Shila nampak tertekan sekali" kata Bu Sumini.


"Terima kasih Bu. Biar saya yang temani Shila" kata Rival. Bu Sumini pun keluar dari kamar Rival.


"Sayang.. sudah" Rival mengusap rambut Shila yang sudah panjang melebihi bahu.


"Shila tidak merebut suaminya bang. Shila tidak bohong. Dia yang memaksa Shila" ucapnya menggosok seluruh badannya seolah ingin membuang sisa bekas sentuhan si tua bangka itu.


"Shila ingin mati saja bang. Shila malu. Abang pergilah dari sini!!!!!"


Usaha Rival membuat Shila tenang beberapa hari ini seakan sia-sia karena kejadian hari ini. Shila kembali pada keadaan semula saat pertama ia temukan dan hal ini hampir membuat Rival begitu terluka. Tubuhnya lemas menimpa tubuh Shila. Rasa sakit hati, kecewa, cemburu, remuk dan hancur.. ia telan dengan lapang dada dan ikhlas.


"Ya Allah.. sudah!!!!" tangisnya menahan geram tertahan di balik sela leher Shila tak kuat melihat penderitaan Shila.


"Abang nggak sanggup melihatmu terus seperti ini. Terlalu sakit Abang rasakan, Sikapmu ini terlalu menyiksa Abang. Abang tau kamu nggak kuat.. Abang tau semua ini membekas di hatimu. Untuk apa kita menikah kalau kamu tidak mau berbagi lara dan asa sama Abang??" Rival mengunci, menggenggam kedua telapak tangan Shila hingga istrinya diam tidak bisa bergerak lagi.


"Sadar sayang.. istighfar!! Kamu masih punya Abang. Ada anak yang menunggumu di rumah" ucapnya pasrah dalam tangis.


"Astagfirullah hal adzim" ucap Shila lirih.


"Lagi.. sampai hatimu tenang!!"

__ADS_1


Shila mengucapkannya sampai suasana hatinya tidak seburuk tadi.


"Lapangkan hatimu, ikhlaskan walaupun berat dek. Kita mulai lembaran baru. Buang cerita kelam. Abang juga akan membuang semua kenangan masa lalu. Kita hadapi masa depan bersama-sama. Hanya ada Abang sama kamu"


Shila masih menangis dalam dekapan Rival, tak terasa.. ada bayangan yang membuat matanya pedih.. Samar dari bayangan putih, perlahan ia bisa melihat langit-langit kamar yang berwarna putih. Di lihatnya bahu suaminya yang memakai baju loreng masih menindihnya sejak tadi. Tangisnya pun berhenti menjadi rasa malu dan salah tingkah yang semakin menjadi.


"Abang.. Shila sesak" ucapnya untuk menghindar.


Rival bergeser menatap lekat mata Shila. Tanpa sadar Shila memalingkan wajah. Pipinya memerah bagai tomat. Shila masih tidak menyadari bahwa penglihatannya sudah kembali.


"Apa yang salah dari kamu, jantung Abang berdetak kencang menatap matamu, bibir merahmu sangat menggoda Abang dek" gumam Rival yang belum menyadari juga kejadian ini.


Mereka terdiam di ranjang, Rival tidak melepas pelukannya.


"Abang sayang kamu" bisiknya melelahkan lagi air mata Shila.


-_-_-_-_-


"Bagaimana Istri Abang?" tanya Oka.


"Sedikit lebih baik" jawab Rival.


"Bagaimana masalah Bu Romlah?"


"Mereka geram dan marah karena Abang mencambuk suami Bu Romlah" jawab Oka.


"Akan kutembak mati kalau mereka berani protes" kesal Rival.


.


.

__ADS_1


__ADS_2