Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
97. Tugas negara


__ADS_3

Hai pembaca setia. Terima kasih atas dukungan vote, komentar, like, bintang dan silent reader semua 😍🙏🙏🙏.


Maafkan atas kesibukan Nara beberapa waktu ini. Nara harap pembaca semua memaklumi nya ya?🤗. Nara akan mengusahakan bisa up setiap hari kalau urusan pekerjaan Nara sudah selesai. Terima kasih banyak.


🌹🌹🌹


Pertemuan dengan pak Willy kali ini benar tak disangka. Para anggota menyambut Danki mereka dengan sukacita. Hasan hanya bertampang bingung. Danki membawa anggota yang ada disana kesebuah kafe. Anak-anak Rival mulai akrab dengan om-om anggota disana terutama Arben.


"Sayang mau kemana?" Rival meraih tangan Shila tidak ingin di tinggalkan.


"Abaaangg.. Shila mau ke toilet sebentar" Shila lumayan malu sebab Rival tidak bisa menyembunyikan wajah manjanya.


"Jangan lama-lama!!" bisiknya.


Para anggota ikut tersipu karena Rival dulu jauh dari sikap seperti ini. Terkesan dingin pada Shila, namun sekarang berjauhan sebentar dari Shila pun tak bisa.


"Ijin Danki.. apa benar Danki akan berangkat test ke Kongo??" tanya pak Willy.


"Benar pak. Tapi saya khan ada gejala sakit jantung. Entah lolos atau tidak" ucapnya pesimis.


"Gejala belum tentu positif Dan. Asal bisa mengatur energi.. semua akan baik-baik saja. Saya dulu juga begitu. Nyatanya saya sehat. Jangan banyak pikiran Dan" saran Pak Willy.


"Begitu ya pak. Syukurlah kalau begitu" senyum Rival seperti mendapat kelegaan tersendiri.


"Waahh.. Danki hanya punya satu putri, tapi dapat tiga jagoan" Pak Willy gemas melihat anak-anak Rival yang lucu. Istilah kata, tidak ada produk gagal dari semua keturunan Danki.


"Iya pak, ini gadis kesayangan saya. Cuma satu ini yang buat saya seperti jatuh cinta lagi. Segalanya mirip mamanya" tawa Rival diikuti tawa para anggota. Tidak ada jarak di antara mereka.


Perlakuan Danki membuat para anggota merasakan cinta Danki yang begitu besar pada istrinya.


***


"Maaf ya sayang, liburan kita harus terpotong karena tugas Abang" sesal Rival.


"Nggak apa-apa bang. Bisa beberapa hari saja dengan Abang Shila senang kok" jujur Shila.


"Kalau berduaan..??"


"Iihh.. Abang" Shila tersenyum malu sampai Rival menggelitik pinggang Shila.


"Jangan teriak, nanti anak-anak curiga mamanya di apa-apain" Rival gemas sambil membungkam mulut Shila.

__ADS_1


"Emang iya Khan bang" Shila tertawa menahan geli karena tangan suaminya tidak bisa diam menggodanya.


***


Malam ini mereka sudah sampai di Batalyon. Arben belum tidur juga seperti ketiga adiknya.


"Kakak Arben kenapa belum tidur" tanya Shila pada putranya yang sedang merenung dinruang tamu.


"Arben semalam mimpi lihat mama Yara sama papa bergandengan tangan. Tapi Mama Yara tertutup asap. Mama Shila nangis di bangku tua yang ada di Batalyon" jelas Arben yang kini sudah memasuki pendidikan SD.


"Itu hanya mimpi. Doakan mama dan papa ya" senyum Shila memaksa mengembang. Tapi tak bisa di pungkiri hatinya memang terasa sedih.


"Sudah kak, bunga tidur hanya untuk menemani tidur. Kakak tidur sana!! Temani adik-adik istirahat" perintah Rival.


Arben pergi ke kamarnya, Shila juga beranjak dari duduknya tapi tangan Rival meraihnya.


"Apa kamu terpengaruh juga sama omongan Arben?"


"Nggak bang!!" jawab Shila setenang mungkin.


"Bener nih??" Rival mengangkat dagu Shila agar menatap dirinya.


"Shila takut bang!" terasa sekali pelukan Shila sangat gelisah.


"Takut Abang ketemu Yara??" Rival mengusap punggung Shila, menenangkan istri nya yang terlihat sangat cemas.


"Abang janji, Abang akan kembali demi kamu dan anak-anak. Pikiranmu jangan ngelantur kemana-mana!!" Rival mengangkat Shila sampai ke dalam kamar.


Kamu terlalu cemas sayang! Hidup dan mati hanya milik Allah. Tapi tenanglah Abang masih ingin melihat senyum bahagia mu bersama anak kita hingga tulang kita tak sanggup lagi menopang tubuh renta kita.


***


Semalam istri Rival itu sempat demam. Rival sangat panik dan membawanya ke UGD. Sepertinya Shila terlalu banyak pikiran. Rival lumayan cemas melihat keadaan Shila. Ingin menunda keberangkatan pun tidak bisa. ini adalah tugas negara.


Hari ini tibalah saat Rival harus berangkat menuju tempat pratugas. Perpisahan dengan Shila tadi membuat hatinya ikut terasa pilu dan sakit. Seperti biasanya Shila akan menangis saat ia tinggalkan, wajar seorang wanita bersedih seperti itu saat suaminya akan berangkat betugas. Tapi tidak seperti biasanya tangan Shila berat untuk ia lepaskan. Apalagi Agata baru berusia lima bulan.


"Abang baik-baik saja?" tanya Gandhi yang ikut dalam penugasan kali ini.


"Insya Allah.." Senyum Rival menjawab pertanyaan Gandhi.


flashback on

__ADS_1


Rival mengambil Agata dalam gendongan nya. Pria kecil itu menangis seakan tau papanya akan meninggalkannya.


"Jagoan papa kok cengeng sich? Papa hanya pergi sebentar. Nanti papa pasti kembali lagi" Rival menciumi pipi Agata. Ada rasa sesak dalam dada saat harus meninggalkan anak-anaknya. Arben nampak lebih tegar disana. Rival berjongkok memandangi ketiga anaknya.


"Kakak Arben paling besar. Harus jaga adik-adik juga mama. Nggak boleh kasar sama perempuan. Kakak juga harus jaga mama, Laki-laki harus kuat ya Ben" tegas papa Rival. Arben pun mengerti. Rival mengusap pipi anaknya secara bergantian.


Kini Rival berhadapan dengan mamanya anak-anak. Rival tau Shila menahan air matanya.


"Abang hanya jaga keamanan dek! Bukan mau setor nyawa disana. Baik-baik disini. Abang titip anak Abang sama kamu. Abang janji pasti akan pulang!" Rival setengah memeluk dan menenangkan Shila.


"Duuhh.. lihat ini, saking cintanya sama Abang sampai demam begini" Rival mengusap air mata Shila yang tanpa sengaja menetes di pipi.


"Shila pasti rindu Abang!" kata Shila yang akhirnya buka suara. Shila memang lebih banyak diam dan itu terkadang sangat membuat Rival gundah gulana. di


"Sama.. Abang pasti juga begitu" dalam hati kecilnya sangat tidak tega melihat istrinya menangis, tapi mau bagaimana lagi.. sudah kewajibannya menyelesaikan tugas.


Rival melihat jam tangannya, sudah waktunya ia berangkat.


"Abang berangkat ya sayang!" pamit Rival. Shila mengangguk dengan berat hati


Rival menyerahkan Agata pada bibi. Arshen hanya bisa menatap kesedihan adiknya saat menatap suaminya yang akan pergi memenuhi tugas negara.


"Hati-hati ya bang. Semoga Allah selalu dalam lindungan Allah. Aman damai sampai akhirnya Abang kembali ke tanah air"


"Aamiin.."


"Abang harap kamu sabar dan setia menunggu Abang. Inilah Abang yang tidak bisa setiap saat menemanimu. Jangan cemas, disana Abang akan baik-baik saja dalam doamu dan akan kembali seperti permintaan mu"


Shila menghambur memeluk suaminya, berat rasanya harus di tinggalkan. Rival pun merasakan hal yang sama.


"I love you Beib, Abang sayang banget sama kamu" gumamnya di telinga Shila.


"Shila juga sayang banget sama Abang" bisikan itu berdesir kuat di hati Rival.


"Abang tau" senyumnya sebelum melepas pelukannya.


flashback off


.


.

__ADS_1


__ADS_2