
Rival mengecup kening Shila.
"Jangan dulu deh bang" cegah Shila saat Rival sudah tidak bisa menahan hasratnya.
"Kenapa?" kesal Rival saat Shila menolak disaat yang tidak tepat.
"Shila sempat lupa meminumnya" jujur Shila merasa bersalah.
"Kapan??? Kamu keenakan sampai lupa gitu dek. Ya sudah nggak apa-apa" jawab Rival tak mau tau.
"Shila lupa bang. Abang saja ya yang pakai" pinta Shila
"Nggak mau"
"Shila nggak tanggung jawab lho bang kalau Abang ngeyel" ancam Shila.
"Abang yang tanggung jawab. Sudah aahh.. nggak tahan Abang nih"
🌹🌹🌹
🌹🌹🌹
***
Pagi hari Shila menyiapkan bekal makanan untuk mereka berjalan-jalan di danau yang memiliki air terjun cantik.
"Mamaaa.. ayo cepat!!!" ajak Arben.
"Sabar kak. Mama masih siapkan bekal untuk kakak" kata Shila.
"Mama masak apa?" tanya Arben.
"Nasi gulung, martabak tahu, risoles dan puding" jawab Shila bersemangat hari ini.
"Mauuuu" jawab anak-anak kompak.
-_-_-_-
Sepanjang perjalanan mereka bahagia sekali. Si kecil Lilan yang tak kalah gemuk dari kedua kakaknya pun ikut riang gembira.
"Papa nyanyi!!!!" kata kakak Abrian.
"Nyanyi apa??" tanya Rival.
__ADS_1
"Aku sayang mama" jawab Abrian.
"Hmm.." Rival berdehem bernyanyi
*Satu satu Brian sayang mama
Dua dua Brian sayang papa
Tiga tiga sayang adik kakak
Satu dua tiga sayang semuanya*..
"Horeee.. papa pintar" sorak Brian berjingkrak di kursi belakang mobil.
Shila menyetel lagu anak-anak dan mereka bernyanyi. Hanya Lilan saja yang masih bingung nada lagunya dan hanya lipsing saja mengikuti kakaknya.
Lilan berusia sembilan belas bulan sekarang, dan mulai pintar bertingkah. Kedua kakaknya pun sayang pada Lilan.
"Dedek duduk!!" kata Arben. Lilan pun duduk mengikuti Arben dan bersandar di pundak kakaknya itu.
Rival tersenyum mengintip keakraban putra putrinya.
"Mereka akan seperti ini terus khan bang?" tanya Shila terharu.
"Iya, mereka tetap kakak adik sayang" ucap Rival mengusap pipi Shila.
***
"Dedek sini dulu. Biar papa sama kakak memancing ikan di danau" ajak Shila sambil menjepit rambut Lilan.
"Ya Allah dek, segala serangga bisa nempel di rambut anak abang" gerutu Rival saat melihat jepit kupu-kupu dan karet kumbang di rambut Lilan
"Aahh... Abang nih nggak nih nggak berseni. Ini jepit kupu-kupu Shila beli di pasar dusun jauh sana" kesal shila.
"Lebih baik kamu ajari pakai hijab seperti kamu. Biar cantik seperti mamanya. Abang punya anak gadis khawatir setengah mati dek" ucap Rival.
Shila menunduk.
"Iya bang, pakai hijab saja bisa rusak seperti Shila. Apalagi nggak pakai ya bang!" kata Shila sedih.
"Bukan itu maksud Abang sayang" Rival berjongkok mengusap bibir istrinya.
"Ini cambuk untuk Abang agar Abang lebih menjaga pandangan dan hati. Mempertebal iman Abang yang masih suka goyah" jujurnya pada Shila.
__ADS_1
Anak-anak sedang bermain di sekitar mereka, Rival membawa mainan agar Arben, Abrian dan Lilan lebih tenang.
"Selama Shila pergi apa Abang juga mencari pelepas rindu?" tanya Shila hati-hati.
"Nggak. Abang tahan saja rindunya" jawab Rival.
"Kuat bang?" Shila seolah tidak percaya dengan ucapan suaminya.
"Buktinya kuat gitu kok, enam belas bulan. Tapi setengah mati. Tingkat stress tinggi sekali" senyumnya.
Shila mengusap punggung suaminya. Ada rasa kasihan tapi juga bangga pada suaminya.
"Bang, tentara khan suka berjauhan dari keluarga, anak-anak terutama istri. Bagaimana agar tingkat perselingkuhan berkurang" tanya Shila yang sebenarnya juga takut akan hal itu.
"Pertama.. layani suami dengan ikhlas. Jika sedang ada di rumah. Penuhi kebutuhannya termasuk biologisnya, sama seperti suami memberimu kepuasan. Karena tentara sering bertugas. Dalam tugas dia menahan hawa nafsunya. Mengalihkan pikiran pada hal lain yang lebih bermanfaat. Makanya kalau kami ini pulang dari tugas, biasanya lebih ganas karena menahan itu memang susah, berat. Puasa lho dek"
"Kedua.. Jangan memutus komunikasi. Bicarakan hal sekecil apapun dan jika ada masalah selesaikan baik-baik dengan kepala dingin. Perempuan lebih sering terpancing emosi. Makanya pria harus lebih tenang dan logis. Begitu pun sebaliknya, jika laki-laki sedang terpancing emosi, perempuan pun harus bisa jadi air yang mendinginkan suasana panas"
"Ketiga.. setia. Tanpa setia kita tidak mungkin mampu mengalah dan bertanggung jawab dengan keadaan pasangan kita"
"Keempat.. ini penting dek. Iman..., Andaikan iman kita masih rendah, setidaknya kita sadar diri kalau kita punya anak dan istri"
Shila menatap mata suaminya. Mungkin karena banyaknya kejadian dalam hidup Rival, suaminya itu menjadi orang yang berbeda. Ada rasa tenang di hati Shila bisa menikah dengan pria seperti Rival.
Hari semakin siang, mereka menyantap bekal yang dibawa Shila, melanjutkan bermain lagi, lalu pulang saat hari menjelang sore.
"Ayo pulang.. sudah sore" ajak Rival sambil memakai kaosnya.
"Iya pa pulang. Arben capek" rengek Arben.
Lilan sudah menangis karena mengantuk. Abrian berguling di tikar dan bersiap untuk tidur.
"Mama gendong Lilan ya. Papa gendong kak Abrian" pinta Rival pada Shila.
"Arben juga gendong ma" rengeknya.
"Eeehh..kamu sama papa. Mama bisa ambruk kalau gendong kamu. Badan sudah seperti anak gajah begitu" gerutu Rival.
Arben cemberut melipat kedua tangannya di depan dada dengan kesal.
Tiba-tiba ponsel Rival bergetar.
"Arshen" gumamnya dalam hati
__ADS_1
.
.