Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
13. Buat Abang Seorang!


__ADS_3

"Dek.. Tunggu Abang!!" Shila terus berlari dalam kepanikannya, tidak menghiraukan omongan Rival karena di pikirannya hanya ada Arben.


"Bisa dengar Abang nggak? Jalan sama Abang. kamu nggak tau arah disini!!!" Rival menarik pergelangan tangan Shila.


"Arben pasti kedinginan bang, dia pasti lapar" Rival jadi tidak tega melihat Shila terus menangisi Arben


"Percaya sama Abang, Dia pasti baik-baik saja" Rival menarik Shila dalam dekapannya, hujan deras mengguyur tubuh Danki dan istri.


"Semoga kamu bahagia dengan Danki. Tapi hati Abang belum ikhlas kamu menikah dengannya dek? Kenapa juga kamu memutuskan menikah dengan Danki yang sudah punya anak?" gumam Gandhi dalam hati. Masih sulit untuknya melupakan Shila. Dia memang salah tidak memberi Shila kabar saat ponselnya hilang.


--------


Shila sudah menggigil kedinginan. Kepalanya terasa berat.


"Arben kemana ya bang?" tanya Shila mulai lelah, matanya memerah menahan tangis.


"Sabar!! Kamu pulang dek, Abang cari Arben ke bukit"


"Nggak bang, Shila nggak tenang" tolak Shila.


Tak lama sebuah mobil berhenti di hadapan Rival. Mobil itu membawa Arben yang sedang asyik makan p*p m*e.


"Ayo bang, saya antar pulang" sapa Oka.


"Dasar stress.. Abang cari ini bocah kemana-mana ternyata sama kamu???? lihat mamanya sudah seperti apa ini?????" kesal Rival yang masih merangkul Shila karena lemas.


"Lah Abang nggak nanya. Saya stay monitor di kompi bang" jawab Oka santai.


"Okaaaaa!!!!!"


"Siap salah"


***


Rival menutup tubuh Shila yang menggigil, terguyur hujan berjam-jam membuat Shila langsung terserang demam. Sejak tadi hidung Shila pun jadi berair.


Rival jengah sekali melihat putranya tidak berhenti mengunyah makanan.


"Papa.. Aben lapel"


"Itu lumbung belum penuh Ben?? Nasi kuning, singkong rebus, p*p m*e, roti, dan snack kamu yang lain itu pindah ke lumbung sebelah mana?????" gerutu Rival. Arben masih terus merengek. Rival pun mengambilkan Arben makan daripada ocehannya semakin membuatnya pusing.


"Bang.. bagaimana kondisi Shila?" tanya Zein sambil menggendong Abrian.


"Dia demam sekarang" sedihnya ucapan Rival membuat Zein tersenyum, abangnya itu mungkin sudah mulai jatuh cinta lagi.


"Keponakan ku memang ruaarrr biasaaa" ucapnya sangar.


"Papa lusa mau jemput Arben dan Abrian. Mau jalan-jalan katanya"


"Terserah lah Zein" jawabnya lemas.


--------

__ADS_1


"Kalau nggak kuat basah-basahan begini kenapa harus main hujan?" tegur Rival sambil membawakan Shila segelas teh hangat.


"Payung Shila terbang tadi bang" kesalnya.


"Lain kali hubungi Abang" kata Rival sambil menunggui Shila meminum tehnya.


Shila turun dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi. Masuk angin seperti ini membuatnya sangat lemas. Rival menyusul langkah Shila, hatinya merasa cemas.


"Ini baru mabuk air hujan dek, mas pastikan kamu nggak mabuk yang lain" gumam Rival dalam hati sambil terus membantu Shila yang nampak kesakitan.


***


Hari itu Randy dan Naya datang menjemput Arben dan Abrian. Dua bocah itu nampak girang dan bahagia bertemu Oma dan Opanya. Selain sangat menyayangi kedua bocah itu, Randy dan Naya sangat memanjakan mereka.


"Papa mama bawa mereka ya! Kalian baik-baik lah di rumah" ucap Randy melihat Shila yang dalam keadaan flu disana, hidungnya pun memerah.


"Iya pa, hati-hati.. anak Rival aktif sekali" ucap Rival mengingatkan.


"Papa paham. Ada Oma Naya yang tak terkalahkan" lirik Randy pada istrinya. Naya memelototi suaminya itu.


-------


"Nggak ada anak-anak, pakailah untuk beristirahat..manjakan dirimu!" ucap Rival.


"Shila kangen anak-anak bang"


"Belum satu jam nih" kata Rival melihat jam tangannya.


"Kamu tidur aja, Abang mau berangkat ke kantor lagi. Nanti kalau flu nya sudah baikan kita jalan-jalan ya!" bujuk Rival. Shila pun mengangguk.


***


Tiba-tiba terbersit rasa sakit di hati Rival menangkap sorot mata Gandhi yang terus menatap Shila di bawah derasnya air hujan.


Apa perasaan itu masih ada untuk istriku Gandhi?? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi kalau kamu masih ada perasaan terhadap Shila. Dia istriku sekarang.


"Ijin Dan.. setelah ini lanjut tugas apalagi?"


"Istirahat saja. Semua sudah lelah. Kembali ke tempat masing-masing sampai apel siang" perintahnya.


"Siap!"


***


Rival mencari Shila di dalam kamar tapi istrinya itu tidak ada di tempat. Bau sedap makanan menyeruak di hidung Rival. Rasa laparnya pun bangkit.


"Masak apa dek?" raut wajah Rival sumringah seketika melihat gorengan bakwan sudah tertata rapi di piring saji. Tangan Rival ingin mencomot sepotong bakwan tapi Shila menyingkirkan tangan Rival itu.


"Belum cuci tangan bang. Sini Shila suapin Abang" Shila menyuap bakwan itu dengan telaten ke mulut suaminya. Tak tau kenapa ada getaran rasa yang membuat Rival tak bisa berhenti menatap Shila.


"Dek, jujur Abang takut"


"Takut apa bang?" tanya Shila.

__ADS_1


"Takut kamu akan meninggalkan Abang"


"Nggak akan bang, Shila khan istri Abang"


Bukan itu dek. Abang takut kamu akan meninggalkan Abang seperti Yara meninggalkan Abang.


"Rumah sepi dek. Ke kamar aja yuk!" ajak Rival.


"Shila masih masak makan siang bang"


"Sudah..Abang makan kamu aja sampai kenyang" kata Rival.


"Shila flu bang" tolaknya.


"Tularkan sakitmu itu ke Abang" Rival memagut bibir Shila dengan gemas. Rival mematikan kompor dan mengangkat Shila masuk ke dalam kamar.


***


Rival menunduk di meja kerjanya, Sedari tadi ia bersin.


"Pulang saja bang! Sepertinya Abang sakit" tegur Oka"


"Iya sebentar lagi" kata Rival.


"Bukannya kemarin istri Abang ya yang sakit?" tanya Oka.


"Biasalah suami istri tukar virus"


Oka tertegun tapi wajahnya langsung berubah jengkel.


"Abang ini nggak punya perasaan, terus saja Abang komporin bujangan di sini 😒"


***


Sampai di rumah Rival duduk lemas di ruang tengah. Badannya seperti tidak bertenaga. Dia meminta ijin untuk pulang lebih dulu.


"Abang kenapa?" tanya Shila.


"Lemas banget dek badan Abang"


"Abang sih ngeyel. Coba Abang bisa tahan, nggak mungkin Abang ketularan Shila" gerutu Shila membuat Rival semakin gemas.


"Abang yang minta, kamu bikin Abang kebelet terus" jujur Rival.


Shila mengusap pipi Rival.


"Apapun Shila lakukan asal Abang senang" ucap Shila.


"Terima kasih sayang"


"Sama-sama bang"


.

__ADS_1


.


__ADS_2