
Please ya silent readers. Jangan mereka-reka cerita dengan sebuah kekesalan. Mungkin sebagian readers ada yang kecewa dengan ceritanya. Tapi tolong percayakan dengan author nya. Tolong petik cerita baiknya saja, dan buang cerita buruknya.
Walaupun ini hanya cerita 1 : 1000 manusia. Kita belajar yang baiknya saja ya 🥰🥰🥰🙏🙏🙏😘😘😘😘
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Shila bersandar di pojok kasur lantai. Suara petir kembali terdengar.
"Aabaaanngg...." pekiknya bersembunyi di dalam selimut. Shila menangis disana.
"Harusnya aku bisa lebih kuat melawannya dan tak menyerahkannya. Harusnya kamu tidak ada disini anak sial!!!!!!!!!!" Shila meraung memukul perutnya yang rata dengan kencang.
Rival bagai terkena serangan jantung. Ia sangat kaget melihat Shila.
Tak sampai hati Rival melihat keadaan istrinya. Ia berlari dan menggenggam kedua tangan Shila. Tanpa suara tanpa kata... Rival menarik Shila ke dalam pelukannya.
"Abang masih disini????" teriak Shila marah.
"Iya.." jawabnya tercekat.
"Sekarang Abang sudah tau maksud Shila. Shila tidak pantas untuk Abang! Pergilah bang!!! Kalau Abang tidak pergi.. biar Shila yang pergi!!!" teriaknya melepas kasar pelukan Rival lalu berdiri.
Rival meraih cepat tangan Shila.
"Abang sudah bilang akan ikhlas lahir batin menyayangimu"
"Maaf!! Shila tidak ingin merepotkan Abang" Shila berjalan meraba sekitarnya hingga sampai ke pintu.
Rival membiarkan Shila berjalan namun ia tetap mengawasi kemana pun istrinya pergi. Bukan tanpa tujuan Rival membiarkan hal itu, bukan pula tak percaya Shila mampu hidup tanpanya seperti beberapa bulan ini. Tapi ini adalah tentang menghargai dan belajar ilmu ikhlas yang mudah di ucapkan, tapi sulit di lakukan.
Shila keluar perlahan menerjang hujan. Semua anggota melihat istri Kapten mereka pergi dalam derasnya hujan. Rival hanya mengarahkan telunjuk ke depan bibirnya agar semua diam. Rival mengikuti Shila dari belakang.
Satu kali Shila hampir terjatuh. Kedua kali ia jatuh tersungkur karena tersandung batu. Rival tetap tenang menghadapi Shila.
Rival berjalan dan berjongkok di hadapan istrinya. Shila menolaknya tapi Rival menggenggam erat tangan itu.
"Jika Allah sudah berkehendak, kita tidak bisa melawannya, bahkan Abang sekalipun tidak mampu menolak" Rival menggendong Shila, wanitanya masih saja berontak.
"Diam!!" kata Rival. Sekali lagi Shila berontak.
"Shilaaaa.." Rival terpaksa membentak Shila agar istrinya mau diam. Itulah kelemahan Shila saat mendengar suara kasar suaminya.
Shila diam dalam pelukan Rival, secara refleks ia bersandar pada bahunya. Rival membawanya ke kamar mandi.
"Tunggu Abang disini!!!"
__ADS_1
Rival mengambil pakaian Shila juga dirinya lalu ke kamar mandi. Shila sudah menggigil kedinginan disana.
"Shila bisa sendiri bang" ucapnya.
"Sama Abang!!!!"
Suami Shila itu menyalakan shower di kamar mandi itu. Rival memeluk Shila dari belakang dan ikut mengguyur badannya. Saat ini hanya air saja yang membatasi tubuh mereka.
"Kalau kamu menuruti pikiranmu, semua tidak akan ada habisnya dek. Abang sudah paham apa yang kamu rasakan, tidak perlu kamu ulang lagi" ucapnya lembut.
"Jangan perlakukan Shila seperti ini bang. Shila terlalu hina untuk Abang sayangi" Shila menangis dalam guyuran air disana.
"Abang tidak masalah. Kalau kamu bisa terima Abang yang juga pernah 'dilihat' orang, Abang pun sanggup menerima semua keadaanmu"
"Shila yang berat bang, Shila tidak terima dengan takdir Shila..juga anak ini" teriaknya kesal dengan dirinya sendiri.
"Anak yang mana?" tanya Rival datar.
"Kalau masalah itu hanya Abang yang boleh melakukannya. Kamu hanya akan lahirkan anak Abang" tegasnya.
-_-_-_-_-
Shila benar-benar mengunci diri di dalam kamar dan tidak ingin bertemu dengan Rival sekalipun. Sehabis mandi ia begitu marah dan terpuruk. Segala usaha Rival nampak sia-sia. Ia kehabisan kata.
"Abang makan dulu lah bang! Sejak Shila ditemukan Abang tidak makan. Kalau Abang tidak jaga diri.. Abang bisa ambruk juga. Shila butuh Abang" bujuk Oka.
"Jangan pernah menyerah bang!"
"Abang tidak akan pernah menyerah mempertahankan istri Abang"
-_-_-_-
Rival membuka kamar secara perlahan menggunakan kunci cadangan lalu menutup lagi pintu kamarnya. Dilihatnya Shila tertidur duduk di sudut kamar.
"Kamu terlalu polos menghadapi dunia ini sayang. Sakit dan kecewamu ini juga Abang rasakan. Kamu tidak sendiri. Ada Abang sayang"
Rival mengangkat tubuh istrinya, dilihatnya wajah istrinya yang polos menjadi bahan hinaan orang. Sakit menjalari seluruh perasaannya yang retak tak bersisa.
"Cukup sayang!!!! Abang hanya mampu di titik ini saja. Abang tidak sanggup lagi melihatmu seperti ini. Abang yang salah, Tanpa sadar Abang yang sudah mencelakaimu hingga kamu seperti ini" isaknya sambil memeluk Shila.
-_-_-_-
Pagi hari Shila terbangun merasakan ada tangan yang memeluknya. Shila begitu kaget dan menyingkirkan tangan itu.
Rival pun ikut terbangun. Melihat Shila begitu ketakutan menutupi tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Ini Abang sayang" Rival meraih tangan Shila.
"Abang jangan lihat Shila. Shila ingin sendiri"
"Sampai kapan kamu akan seperti ini???"
"Sampai Shila mati bang" ketus Shila.
"Terus kamu tidak pikirkan perasaan Abang!!! Abang sudah mau mati melihatmu seperti ini. Entah berapa kali Abang bilang padamu. Abang sudah ikhlaskan apapun yang terjadi. Tapi sungguh Abang tidak kuat menerima penolakanmu pada Abang" ucap Rival memohon.
"Shila ini wanita hina, Shila bekas orang"
"Itu lagi yang kamu bahas??? Terus kenapa kamu mau bekas Yara yang sangat kamu cemburui itu??" tak tau lagi bagaimana menghadapi Shila istrinya.
"Abang selalu membandingkan Shila dengan mbak Yara" teriak Shila langsung memukul ke arah Rival dengan kencang. Rival menangkap tangan Shila.
"Abang terpaksa dek. Ini jalan terakhir Abang agar kamu mau dengar. Bukan itu niat Abang. Abang hanya ingin kamu tau pikiranmu itu terlalu dangkal"
"Shila hamil bang, apa belum cukup alasan untuk Abang tinggalkan Shila?" kata Shila putus asa.
"Siapa yang bilang?? Tua bangka itu????? Dan kamu percaya begitu saja???" bentak Rival.
"Tapi Shila nggak haid bang" kata Shila menutup wajahnya dengan cemas.
"Kamu terlalu banyak pikiran. Percaya Abang.. Abang sudah menghajarnya agar tua bangka itu mengaku"
Shila diam tidak bisa bicara apapun saat ini.
"Ya Allah... Ya Rabb.. Astagfirullah hal adzim" istighfar Rival langsung ambruk di kasurnya memijat pangkal hidungnya.
"Abang.. Abang kenapa bang?" tanya Shila meraba-raba tubuh Rival karena cemas.
"Abang nggak apa-apa dek" jawabnya dengan raut wajah pucat. Ia meremas perutnya yang mulai terasa sakit. Rival mengambil ponselnya memberi pesan singkat pada Oka.
"Abang sakit?" tanya Shila yang perlahan tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
"Nggak, Abang hanya malas bangun saja"
"Shila menggangguk namun tanpa sadar tetap memegangi lengan Rival.
Ya Allah dek.. kalau sakit Abang bisa membuatmu kembali lagi pada Abang.. Abang rela kesakitan setiap hari untukmu.
"Jangan pernah tolak Abang lagi. Abang mohon" pinta Rival.
.
__ADS_1
.