
Oka di bawa ke rumah sakit. Naura sendiri yang menangani Oka disana.
"Abang bertahan ya bang!" pinta Naura.
"Abang mau bertahan asal kamu terima Abang"
"Naura bukan wanita baik-baik bang" kata Naura sambil mengarahkan jarum suntik di lengan Oka.
"Jangaan dek, langsung di tangani saja" Oka meronta melihat jarum suntik sudah terlihat menempel di lengannya.
"Ini biar Abang nggak kesakitan" kata Naura jengkel karena Oka seakan mengulur waktu penanganan.
"Nggak, Abang tahan sakit asal nggak di suntik" teriak Oka. Rival sampai harus memegangi lengan Oka agar pria berpangkat Lettu itu tidak kabur.
"Lepas bang.. Jangaaan!!!" teriaknya lagi.
Naura menyerahkan jarum suntik itu pada assisten nya lalu memeluk Oka. Rival melepas tangannya melihat reaksi Oka. Naura pun mencium bibir Oka. Seketika itu Oka langsung tenang bagai terkena obat bius, tak menunggu waktu lama, assisten Naura segera menyuntikan obat tanpa hambatan.
Setelah assisten Naura selesai menyuntikan obat..Naura melepaskan ciumannya.
"Jangan dilepas, Abang masih kesakitan" rengek Oka memelas tanpa memperhatikan sekitar.
"Ya ampun Abaaang" kesal Naura sambil memencet luka Oka.
"Aaawwhh.. sakit dek" Oka mengerang kesakitan.
"Mata keranjang juga kau ya😒" cibir Rival.
***
"Ada yang luka bang?" tanya Shila cemas melihat Rival pulang dengan wajah lelah. Keringat mengucur membasahi pakaiannya.
"Nggak ada sayang. Abang baik-baik saja" senyum Rival menerima segelas teh hangat dari istrinya.
"Shila dengar bang Oka tertembak bang"
"Iya, biar saja. Dia sedang bahagia terkena tembakan" kata Rival.
"Tertembak kok bahagia bang?" tanya Shila bingung.
"Ternyata dia memang naksir dengan Naura" jawab Rival.
"Bukannya mereka suka bertengkar bang?"
__ADS_1
"Iya, tapi type pria macam Oka susah mengungkapkan cinta"
"Sama seperti Abang" senyum Shila mengingat sifat Rival yang kaku.
"Tapi sekarang Abang tergila-gila sama kamu sayang" manjanya Rival memeluk Shila.
***
"Abang serius" tegas Oka.
"Sekali lagi Naura tegaskan bang. Naura bukan wanita baik-baik. Sudah banyak pria yang Naura pacari" kata Naura.
"Terus kenapa. Amal kita di dunia hanya Allah yang bisa menilainya. Abang tidak melihat masa lalumu. Abang berharap menata masa depan sama kamu"
"Abang mau sama bekas orang?" tanya Naura.
Saat itu juga Oka mengingat Rival yang pernah mengalami masa sulit itu. Tiba-tiba ada rasa sakit dalam hatinya. Melukai perasaannya.
Begini ya rasa sakit Abang saat menyelamatkan istri Abang dari masa kelamnya. Saya rasakan sakitnya sekarang bang.
"Abang akan menerimamu apa adanya. Abang tidak akan mundur dengan niat Abang" jawab Oka.
"Lamar Naura pada papa setelah keluar dari rumah sakit. Sanggup???" tantang Naura.
***
Hari ini Oka keluar dari rumah sakit di jemput Gandhi dan Rafael.
Shila juga sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya lagi. Rival masih saja cemas dengan kondisi Shila.
"Abang" senyum Naura menyapa Rival dan langsung mencium pipinya tanpa sempat Rival menghindar. Shila hanya bisa menunduk menyembunyikan rasa kesal.
"Kurangi kelakuanmu ini. Tidak baik dilihat orang" tegur Rival.
"Aku mencium Abangku sendiri" ucap Naura tidak peduli.
"Ini di tempat umum Naura" Shila memperingatkan.
"Oohh.. jadi mbak Shila mau aku sembunyi di dalam kamar bersama Abang?" ketus Naura yang membuat Shila menunduk memegang lengan Rival dengan kuat.
"Jaga bicaramu Naura. Ini mbakmu. Kamu harus bisa jaga perasaannya" Rival mulai bersikap tegas pada Naura.
"Perempuan munafik" Naura berjalan sengaja menabrak lengan Shila hingga Shila hampir jatuh terjerembab jika Rival tidak menahannya.
__ADS_1
Rival menarik paksa lengan Naura agar ia berbalik ke arahnya.
"Lancang!!!!!"
Naura menoleh ke arah Rival. Baru kali ini melihat Abangnya itu sangat marah.
"Abang nggak sayang Naura lagi" kesal Naura berusaha lepas dari genggaman Rival.
"Abang sayang kamu. Tidak ada kakak yang tidak menyayangi adiknya. Tapi tindakan dan ucapanmu sudah lewat batas dan Abang tidak bisa mentoleransi itu!!!!" Mata Rival memerah menahan amarah. Shila sudah menarik tangan Rival agar menjauh dari Naura.
Hati Naura menciut mendengar ketegasan Abangnya.
"Biar saya bicara dengan Naura bang!" entah sejak kapan Oka berada disana.
Oka menarik tangan Naura agar menjauh dari kemarahan Rival. Selain itu Oka juga membantu Rival agar tidak terlalu emosi yang akan berakibat pada kesehatan Rival sendiri.
"Lepas bang! Kenapa Abang bela perempuan itu?" ketus Naura.
"Perempuan yang kamu benci itu adalah istri Abangmu. Abang juga tidak sedang membela siapapun" kata Oka lembut.
"Abang tau khan dia wanita seperti apa???? Naura baca di meja kerja papa kasus mbak Shila"
"Tau.. karena Abang tau.. Abang tidak akan membiarkanmu terperosok seperti orang lain" kata Oka.
"Hmm baiklah.."
"Abang jangan lupa minum obatnya yang teratur. Dua hari lagi ganti perban ya bang!" pesan Naura.
"Abang harus datang kemana untuk ganti perban" tanya Oka.
"Di rumah sakit ini bisa, di klinik juga bisa bang" jawab Naura.
"Abang bisa nggak..dapat perawatan pribadi" bisiknya di telinga Naura.
"Banyak dokter disini bang" Naura menghindari Oka.
"Tapi Abang maunya sama kamu dokter Roro Naura Lituhayu bin Suherman" ucapnya manja.
Naura tersipu malu mendengar kata manja Oka.
"Dek.. kamu belum jawan Abang. Maukah kamu jadi istri Abang?" tanya Oka.
.
__ADS_1
.