
Shila masih menutup rapat wajahnya. Rival membuka pelan bantal yang menutupi wajah Shila.
"Cuma kamu yang bisa buah hati Abang acak-acakan" senyum Rival sambil mengecup kening Shila. Tak tau kenapa rasa sayangnya pada Shila begitu dalam, mungkin bila diibaratkan.. lebih baik ia yang kehilangan nyawanya daripada harus kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
Abang sayang kamu dek, teramat sayang. Tak ada wanita lain di hati Abang selain kamu.
_____
"Mamaaaaa..." Abrian menangis mencari mamanya karena lelah bermain.
"Sstt.. sini sama papa dulu. Mama sama dedek di dalam perut masih bobok" Rival menggendong putranya keluar dari dalam kamar.
"Mau susu pa!" Abrian merengek pada papanya.
"Ayo papa buatkan" Rival menciumi pipi Abrian.
"Lilan gendong papa juga...!!!" sekarang giliran Lilan yang merengek pada Rival, berjingkrakan ingin minta gendong.
"Sama papa dulu sayang. Mama masih bobok tuh.. capek"
Lilan pun menuruti kata papanya. Rival menidurkan Abrian dan Lilan di ruang tengah. Mungkin karena terlalu lelah Rival tertidur pulas disana. Tak disangka Lilan tidak tidur dan malah mengerjai papanya yang sedang tidur.
Lilan kecil mengambil kuteks dan mewarnai kuku papanya dengan berbagai macam warna, menjepit jambul di rambut cepak Rival dengan jepit rambut kupu-kupu berwarna pink. Rival yang cukup lelah hari ini tak menyadari kelakuan putrinya bahkan sampai alisnya berwarna hitam pekat dan bibirnya berwarna merah di lukis dengan spidol permanen pun ia tidak terasa.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Rival terbangun dengan langkah masih membawa kantuk membuka pintu rumahnya.
"Ijin Danki..........." Dio dan Gandhi akan melaporkan bahwa mobil Dankinya sudah di geser ke bengkel. Tapi melihat wajah Rival ia tidak bisa menahan tawanya. Bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal.
"Apa yang kalian tertawakan?????" kesal Rival pada kedua anak buahnya.
"Siap salah" Tapi kedua anak buahnya itu tetap tidak bisa berhenti tertawa.
"Kurang ajar.. sikap tobat kalian!!" kesal Rival masih tidak menyadari apa yang terjadi.
Rival berbalik melihat Shila yang baru bangun tidur, keluar dari dalam kamar. Saat melihat Rival Shila pun tertawa terpingkal-pingkal melihat suaminya sangat 'cantik'.
Perasaan Rival sangat tidak enak melihat mereka menertawai nya seperti itu. Rival berjalan menuju cermin yang ada di ruang tamu.
"Astagfirullah hal adzim... ulah siapa ini" gerutu Rival sangat kesal melihat dirinya sendiri. Tangannya baru akan melepas jepit kupu-kupu di kepalanya tapi tiba-tiba Lilan datang dan menangis kencang, ia tidak ingin jepit itu terlepas dari jambul papanya.
"Waduh dek.. Papa malu kalau pakai begini ini" kata Rival sambil menenangkan Lilan.
"Papa pakai, jangan di lepas" ucapnya masih terus menangis.
"Yaelah.. bisa turun dah pasaran gue" gumam Rival pelan. Dio dan Gandhi diam-diam masih tertawa melihat Dankinya yang 'cantik".
Tak lama Oka datang melihat penampilan Rival dan ikut tertawa geli.
__ADS_1
"Laahh.. mau kemana bang? udah cantik aja" ledek Oka.
"Mau mangkal. Ikut nggak" jawab Rival kesal.
"Jiiaahh.. mangka katanya" Oka terpingkal-pingkal disana.
"Sayang, tolong ambilkan pembersih wajahmu. Hapus donk makeup Abang" pinta Rival pada Shila.
Shila pun masuk ke dalam kamar mengambilkan pembersih wajahnya lalu kembali lagi ke ruang tamu dan membersihkan wajah suaminya.
"Bang.. nggak bisa. Ini permanen lho" kata Shila.
"Haahh.. terus gimana nih" Rival mulai panik melihat wajahnya di pantulan cermin kecil yang ia pegang.
"Pakai minyak tanah saja bang" usul Oka.
"Gila lu ya!!! Abis itu Abang bisa nyembur api sekalian gitu?????" gerutu Rival.
"Terus gimana bang??" Sekarang Oka bpun ikut panik.
"Batalyon saja bang!! Temui Praka Sony untuk menghapus tinta itu" saran Gandhi.
"Oohh..iya benar. Dek.. tolong ambilkan jaket, topi sama masker wajah Abang!!!"
Shila segera mengambilkan apa yang diminta Rival. Suami Shila itu langsung memakai perlengkapannya lalu pergi ke Batalyon.
"Tertawalah hingga kalian puas!!!!!"
"Siap salah Danki" Praka Sony mengulum senyumnya.
"Kuteks sekalian di hapus atau tidak Danki?" tanya Praka Sony.
"Nggak usah..mau saya telan. Ya hapus lah.. Kamu mau lihat saya jadi prajurit paling cantik satu Batalyon ini" Geram sekali rasanya Rival hari ini.
"Makanya bang, kalau ngasuh anak jangan sampai ketiduran. Kalau jadi begini Khan Abang juga yang repot" kata Oka.
"Siaaall.. entah saya harus tertawa atau menangis kalau sudah jadi begini" Rival mengusap wajahnya yang masih menyimpan kesal
-_-_-_-
Rival kembali ke rumah sudah dalam keadaan beres dan tampan. Shila tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya di tengkuk leher Rival.
"Kenapa tiba-tiba manis manja begini" firasat Rival sudah yakin kalau Shila pasti menginginkan sesuatu darinya.
"Abang ganteng deh" kata Shila.
"Hmm..teruuss???"
__ADS_1
"Ayo bang, beli mie Acehnya!!" rengek Shila.
"Tuh khan, Ini nih kalau manja begini pasti ada apa-apanya"
"Abaaangg.. ayolah bang" Shila berjinjit mencium sekilas bibir suaminya.
"Sopir ibu Danki dapat apa???" tanya Rival.
"Abang maunya apa?"
"Dapat ibu Dankinya lah" jawab Rival.
"Nggak boleh. Abang khan mau jadi sopirnya aja" kata Shila.
"Terus???"
"Kalau suaminya Bu Danki ya boleh lah Abang dapat untung dikit"
"Tambah lama, tambah pintar aja ya kamu godain Abang. Dapat hasil cuci otak dimana kamu??" senyum Rival gemas menggigit pelan telinga Shila.
"Ya Khan Abang juga yang ngajarin genit" kilah Shila.
"Kapan Abang genit??? Bisa aja kamu" gigitan lembut mendarat di hidung Shila.
***
Rival bersama anak-anaknya dan juga bibi sudah ada di kedai mie Aceh.
Tak tau kenapa malam itu bau seafood membuat Rival ingin muntah.
"Kalian makan saja ya. Abang tunggu di luar" Rival berdiri dan mengambil rokok di saku jaketnya.
"Mau kemana bang? Abang nggak makan?" tanya Shila.
"Nanti Abang cari yang lain saja. Rasanya Abang mual bau seafood" jujur Rival sambil mengecup kening Shila.
"Maaf ya bang" Shila merasa sangat bersalah.
"Aman baby" senyum Rival melangkahkan kakinya keluar kedai.
"Bapak baik ya Bu, sayang sekali sama ibu. Juga tipe kebapakan sekali" kata bibi.
"Alhamdulillah bi, Abang sayang sama saya juga anak-anak"
.
.
__ADS_1