
"Muke gile si Abang. Masa iya aku kudu bilang Abang lagi ngasah keris?" keluh Oka bingung.
"Kemana istri Danki A??" tanya Danyon tidak sabar sebab istri Danyon sudah merajuk karena tugas istri Danki belum selesai di kerjakan.
"Ijin Danyon.. istri Danki sedang mendapat tugas dari Danki" jawab Oka tegas.
"Tugas apa??? Apa lebih penting dari tugas kantor yang belum selesai ini???" kesal Danyon.
"Ya penting bang!" ucap Oka lirih hampir tak terdengar.
"Tugas apa???" tanya Danyon sedikit lebih keras sekali lagi.
"Ngasah keris kebanggaan Abang Rival" jawab Oka sesuai ucapan Rival.
"Sempruull" umpat Danyon dengan kesal.
-_-_-_-
"Iiihh..Abang.. Shila malu bang!"
"Biar saja. Sudah..ayo lanjut lagi!!" ajak Rival.
"Tunggu bang. Shila mau aja. Tapi lihat luka Abang. Emangnya nggak sakit ya bang?"
"Nggak.. Lebih sakit kalau nggak selesai dek" ucapnya tidak peduli apa kata Shila.
***
Rival datang bersama Shila karena Shila merengek minta ikut. Shila merasa bertanggung jawab dengan urusan panggung yang belum selesai. Rival mengabulkan permintaan Shila untuk ikut asalkan istrinya selalu ada dalam pengawasannya.
Baru sekarang Rival merasakan perih di bagian perutnya. Ia yakin jahitannya kemarin pasti lepas.
"Kenapa bang?" tanya Shila.
"Nggak apa-apa. Kamu duduk saja dan pantau saja yang sudah kamu setting tadi. Nggak perlu lanjut lagi sisanya. Jangan memaksakan diri. Cepat istirahat kalau capek. Abang ke ruangan Danyon sebentar ya!" ucap Rival panjang lebar.
"Iya Abang"
Setelah Rival pergi, Shila memberikan konsepnya pada seorang anggota remaja agar segera di selesaikan karena jika suaminya tau dia masih mengurus soal panggung ini yang ada suaminya akan marah besar. Shila hanya ingin bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas seperti sikap suaminya selama ini. Walaupun berat, tugas harus diselesaikan dengan tuntas.
__ADS_1
-_-_-_-_-
"Eehh.. kamu sudah kembali rupanya. Kapan datang?" tanya Danyon basa basi.
"Jangan banyak cakap lah kau bang. Kenapa Abang ingkar janji????" tanya Rival langsung pada pokoknya.
"Maaf Val, hanya istrimu saja yang paling telaten. Ini event penting. Saya tidak mau malu karena dekorasinya buruk" jelas Danyon.
"Lantas Abang dan istri yang maju mengaku di hadapan semua orang padahal istri saya setengah mati dalam keadaan hamil membantu Abang dan istri Abang tanpa hitungan????" tegur Rival.
"Heh..lihat pakai matamu itu ( tunjuk Rival ke arah Shila ). Abang tau rasanya menggendong bass drum??? Lelahnya seperti itu bang. Kita laki-laki bisa meletakan beban itu setelah selesai kegiatan. Tapi wanita yang sedang mengandung... Membawanya selama sembilan bulan. Pakailah sedikit otakmu untuk berpikir bang. Jadi laki jangan egois bang!! Jangan bisanya cuma ngisi tapi nggak mau menanggung beban. Kalau Abang nggak bisa membantu, minimal jangan merepotkan" bentak Rival. Suaranya terdengar hingga sampai ke lapangan.
"Maaf Val, maksud saya bukan begitu. Oke saya akan cari tambahan orang untuk membantu istrimu" kata Danyon yang agak memikirkan kata-kata Rival. Sedikit ciut nyalinya menyadari Rival terus menatapnya tajam. Tapi Danyon tetap tidak mau mengerti dan tetap pada pendiriannya agar istri Danki mau membantu istrinya.
"Halah nggak perlu, terlanjur sakit hati saya bang." Rival berbalik badan meninggalkan Danyon, tapi Danyon berharga diri tinggi itu menegur Rival.
"Kalau istrimu nggak mau membantu istri saya dalam organisasi, kamu akan saya mutasi ke Papua. Istri saya bisa malu karena ulah istrimu yang mangkir dari tanggung jawab"
Amarah Rival memuncak mendengar setiap ucapan Danyon.
"Abang ancam saya????" Rival melangkah dan berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat di hadapan Danyon.
"Kita lihat bang, siapa yang akan geser sampai Papua. Saya akan buang jabatan saya dan minta pensiun dini kalau saya sampai geser sampai Papua" tegas Rival tanpa ada keraguan sedikitpun.
-_-_-_-_-
"Gandhi... tolong mintakan obat pereda nyeri di unit kesehatan" pinta Rival.
"Kenapa Danki???" Gandhi sedikit melirik pakaian Rival yang terkena noda darah bahkan sampai ke telapak tangan Rival.
"Duh Danki, jangan sampai jahitannya terbuka. Apa Danki melakukan kegiatan berat??" selidik Gandhi cemas melihat Rival.
"Nggak, cuma olahraga sedikit" senyum Danki yang seketika nyetrum di pikiran Gandhi.
"Hahaha.. olahraga berat. Bahaya Danki" Gandhi meledek Rival.
"Abaaangg.. Abang kenapa??? Kenapa banyak darah???" Shila panik melihat suaminya.
"Ini cuma luka kecil sayang. Resiko Abang donk suka main perang-perangan. Lagipula luka ini menunjukan kalau Abang ini gagah" jawab Rival santai.
__ADS_1
Shila mencakup bibir Rival yang banyak bicara dengan kesal karena Shila sungguh sangat cemas.
-_-_-_-
Rival mendapat satu jahitan karena jahitan awalnya terbuka.
Rival memercing sambil menutupi wajahnya dengan lengan. Keringat bercucuran meleleh membasahi dahi.
"Gagah ya bang!! Ayo Taekwondo sama Shila"
"Tadi khan sudah" jawab Rival.
Shila menekan luka Rival karena suaminya itu terlalu los kalau bicara.
"Hwaduuuhh dek" jerit Rival.
"Sakit khan??"
"Nggak..Abang cuma kaget" jawab Rival gengsi.
"Oohh..sini Shila tekan sekali lagi" goda Shila.
"Iyaaa.. sakit dek!!!.. sakit!! Abang nyerah!!" Rival memelas beralih menyembunyikan wajahnya di perut Shila yang besar dengan manja.
"Makanya jangan sok. Abang itu sok kuat sekali. Abang capek khan hari ini" kesal Shila yang sebenarnya kasihan dengan suaminya yang sudah lelah bekerja, berkorban demi membahagiakan anak istri.
"Iya dek, Abang capek sekali"
Tak lama Rival tidur dengan pulas memeluk Shila. Perasaannya begitu tenang tanpa beban meskipun masih ada sedikit masalah yang mengganjal.
"Mbak Shila.. baru ini saya lihat Abang tidur pulas. Setiap hari Abang kepikiran mbak Shila. Ya inilah namanya pengorbanan suami. Makan nggak enak tidur nggak nyenyak" ucap Oka.
"Kenapa Abang kurus sekali om?" tanya Shila pada Oka.
"Pagi Abang bekerja di pasar sebagai kuli, siang Abang ngamen. Malam Abang jadi tukang parkir. Tahan lapar dan haus mencari informasi agar bisa segera pulang" jelas Oka.
Wajah Shila langsung berubah sendu. Ia merasa sangat bersalah melihat suaminya. Shila sedikit menunduk.. dipeluknya Rival yang sedang tidur nyenyak, menciumi wajah Rival yang seakan tidak merasakan apapun karena begitu lelah.
"Abang.. maafin Shila bang..Shila suka nggak nurut sama Abang" Air mata Shila menetes di pipi Rival.
__ADS_1
.
.